Semacam Catatan Pra Nikah Untuk Sang Teman (Perempuan) 2

Bagian 2, Err, Malam Pertama?

Okai, sudah cukup soal stres mengenai persiapan materi pernikahannya. Saya sendiri hanya bisa mendengarkan apapun yang keluar dari sang teman, karena saya tahu beliau hanya butuh didengar atas segala yang berjubel di kepalanya. Seperti ledakan mendadak bom atom. Saya mengatakan padanya, ‘jadi apa yang bisa saya bantu?’. Beliau seperti kebingungan. Akhirnya saya juga bingung harus mengatakan apalagi. Karena membantu dengan uang jelas saya belum mampu.

Tiba-tiba saya teringat sesuatu, dan ini mungkin bisa menjadi pembicaraan menarik untuk membuat dia lupa sejenak pada level depresinya. Walaupun saya sama sekali tidak punya pengalaman apapun dalam hal rumah tangga atau pernikahan (dan entah kenapa saya selalu menjadi konsultan dadakan persoalan hubungan para kekasih, kegalauan persiapan pernikahan, dan bahkan urusan rumah tangga), dan saya benar-benar dalam posisi soktau saat bertanya pada beliau ‘sudah mempersiapkan malam pertama?’. Pertanyaan ini membuat beliau tertawa terbahak-bahak, terdiam sebentar, lalu menjawab malu-malu ‘belum’.

Nah, ini dia. Salah satu hal yang sering terlupakan.

Continue reading

Semacam Catatan Pra Nikah Untuk Sang Teman (Perempuan), Bag. 1

Tulisan ini akan diposting dalam 2 bagian, karena terlalu panjang.

Bagian 1, Budget Pernikahan

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman perempuan berkata kepada saya bahwasanya beliau sedang begitu gundah dan stres akut menghadapi pernikahannya yang tinggal menghitung hari saja. Saya sering menghadapi curhatan serupa sebelumnya, dan dari penjelasan mereka saya mengambil kesimpulan bahwa mereka bukannya tidak merasa bahagia, namun kerap merasa tertekan dan gugup yang berlebihan menghadapi peristiwa paling penting dalam hidup mereka tersebut. Konon, pernikahan itu adalah salah satu impian seumur hidup kebanyakan perempuan, oleh karena itu segala sesuatunya harus disiapkan dan berlangsung dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Bagi mereka yang pertama kali menghadapinya, kebanyakan justru merasa sangat tertekan karena ‘tuntunan’ kesiapan segala macam yang mesti sempurna tersebut. Katanya, ternyata itu semua tidak semudah yang dibayangkan sebelumnya: melangsungkan akad di depan penghulu, lalu diteriakanlah ‘sah!’, dan bergembiralah semua orang tercinta. Ternyata, para teman ini mengalamai stres berkepanjangan dan kadang perselisihan kecil dengan sang calon suami.

Dari beberapa kasus itu, saya pun berpikir bahwa mungkin hal itu merupakan suatu hal yang biasa menghinggapi para calon pengantin (perempuan). Entah ya, kalau lelaki.

Continue reading

Gambar Yang Menggelisahkan

Di jejaring sosial Facebook, beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang ikut menyebarkan (share) sebuah foto mengerikan yang memperlihatkan seorang balita digantung. Foto tersebut tidak begitu jelas, resolusinya kecil, dan latar belakang gambarnya juga tidak jelas. Hanya ada sebuah tulisan kecil di dalam foto tersebut (mungkin itu sumber gambarnya). Saya penasaran, lalu menelusuri asal mula pengunduh gambar tersebut.  Di sana saya berharap bisa menemukan sumber langsung link gambar tersebut, namun ternyata tidak ada juga. Saya baru tahu soal gambar itu dari komentar-komentar (yang banyak sekali), konon katanya gambar tersebut adalah seorang anak yang digantung oleh kaum syiah di Suriah.Saya bertanya pada pengunduh foto tersebut (fotonya di seting untuk publik), sumber resmi gambarnya.

Saya merasa tersadarkan, bahwa baru kali ini saya ‘bertanya’ terlebih dahulu untuk hal-hal yang berhubungan dengan agama tanpa ikut merasa ‘senasib-sepenanggungan’ pada awalnya. Di komentar-komentar yang bejibun itu, semua telah sepakat-sepaham-se-ideologi merasa benci bersama-sama terhadap salah satu sekte dalam islam. MEMBENCI SELURUH SEKTE-NYA, BUKAN ORANG YANG MELAKUKAN KEKEJIANNYA. Tiba-tiba saya melihat seolah-olah seseorang tengah menyebarkan kebencian yang tidak jelas (dan kebencian itu memang sudah ada dari awalnya), dan dia menambah-nambahkannya dengan foto tersebut yang bahkan tidak dia sertakan info sumber aslinya. Semua pun sepakat, bahwa SEKTE SESAT ITU HARUS DIMUSUHI DAN DIBANTAI.

Pengunduh foto itu pun segera merespon pertanyaan saya dengan mengirimkan beberapa link menyangkut kemelut di Suriah pada saat ini (akhirnya saya tahu ada persoalan seperti itu, saya menemukan salah satu link-nya). Tapi tidak ada satupun link yang memperlihatkan gambar tersebut. Begitupun di link yang di-share teman saya, ada seorang yang memberikan artikel-artikel yang malah memperlihatkan kebenciannya kepada syiah. Bukan link yang saya maksudkan. Saya bertanya-tanya, apa tidak ada link-nya? Kenapa mereka tidak mau mengakui kalau itu barangkali informasi yang masih tidak jelas, tapi semangat sekali mencaci maki ‘aliran’ lain? Dan orang-orang di sekelilingnya pun kebanyakan langsung terprovokasi. Dari sumber yang bahkan tidak jelas !!!

Apakah tidak terpikirkan bahwa mungkin saja itu rekayasa dari pihak yang membenci pihak lainnya? Bukannya saya tidak ngeri melihat fotonya, tapi untuk apa semua itu jika informasinya sendiri tidak jelas? Dan bisa saja memang ada kejadian semacam itu, namun siapa sebenarnya yang melakukannya? Bagaimana jika sebenarnya kita mengenal orang-orang di sekitar kita (atau yang menjadi teman) yang aliran agamanya berbeda (atau bahkan berbeda agama) namun secara personal dia baik-baik saja, sedangkan kita berkoar-koar menyerukan kebencian terhadap apa yang dia yakini? Jadi sebenarnya kita membenci keyakinannya atau orangnya sih? Seringnya yang terjadi, beberapa orang dari keyakinan A melakukan kejahatan lalu rame-rame kita membenci keyakinan A. Atau bahkan aliran (yang dianggap sesat) B tidak melakukan apapun tapi kita rame-rame membenci keyakinan B (dan juga orang-orangnya), apalagi jika aliran sesat tersebut dikabarkan melakukan kekejian.

Ini hanya dalam lingkup satu dunia kecil dalam facebook. Bagaimana jika lingkupnya sudah mengglobal? Pantaslah jika islam masih terkotak-kotakkan.

Saya jadi gelisah. Dulu pun saya begitu, yakin sekali. Sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) termasuk dalam hal bersama-sama membenci pihak yang dianggap sesat (dalam perspektif kita bersama). Dan jangan-jangan, sekarang pun saya masih begitu…

Jika islam itu adalah rahmat untuk seluruh alam dan umat manusia, apa yang kita pahami tentang pernyataan itu jika yang seperti ini masih banyak dan membuat saya semakin tidak mengerti. Jika dalam islam ada pernyataan ‘untukmu agamamu, untukku agamaku’ atau ‘tiada paksaan dalam beragama’ dan ‘islam cinta damai’, kenapa kita harus membenci ?

Sampai saat ini pun saya tetap tidak mengerti.

Continue reading

Dogville : Masyarakat Yang Aneh

Image

Dogville adalah sebuah nama kota kecil (fiktif) di Amerika Serikat (dalam artian sebenarnya, sempit dan kecil) pada tahun 1930an yang hanya dihuni oleh beberapa keluarga saja. Letaknya terpisah dari kota-kota lain, sehingga jarang ada orang asing yang masuk ke kota tersebut. Para penduduk Dogville saling mengenal satu sama lain, dan dalam keseluruhannya, sekilas mereka digambarkan sebagai masyarakat yang rukun, saling tolong menolong, aman dalam keteraturan dengan norma dan etika yang dibangun oleh mereka sendiri.

Semua tampak begitu sempurna dengan kondisi idealnya, sampai ketika seorang perempuan asing berpenampilan ningrat bernama Grace datang ke kota tersebut. Dia datang sebagai seorang pelarian yang mencurigakan yang diawali dengan suara tembakan di kejauhan. Beberapa orang yang diyakini merupakan anggota sebuah gangster mengejar Grace ke kota kecil itu.

Continue reading

Tentang Dunia Maya dan Jejaring Sosial

www.agussiswoyo.net

Sudah lama sekali saya merasa bahwa sedikit demi sedikit kehidupan saya telah berpindah ke dunia maya (cyberworld). Apalagi setelah saya mengenal dan berpartisipasi dalam beberapa forum, blog, kemudian jejaring sosial.

Sebenarnya bisa dibilang saya sangat terlambat mengenal internet dibandingkan yang lain. Bahkan saat kuliah pun –dimana saat ini internet sudah menjadi salah satu kebutuhan dalam pendidikan, saya tidak friendly dengan internet. Saya belum paham apa asiknya, karena tiap ke warnet saya hanya mencari data-data yang dibutuhkan untuk bahan laporan kuliah. Rasanya tidak asik sekali internet itu. Biasanya saya hanya menghabiskan waktu kurang dari setengah jam, membosan setengah mati, akhirnya malas. Makanya, waktu itu saya heran kenapa kebanyakan kawan-kawan saya selalu kekurangan waktu di internet, bahkan 2 jam pun kelihatannya tidak pernah cukup.

Continue reading

This Too Shall Pass

http://cymodonay.tumblr.com/

Dulu saya pernah mengatakan pada diri sendiri, bahwa saya menyesal telah bertemu denganmu. Karena itu membuat saya sering merasa bersedih. Mungkin akan lebih baik jika kehidupan berjalan seperti dulu saja, saat saya tidak pernah mengetahui bahwa di dunia ini ada makhluk sepertimu. Sepertinya, itu akan lebih membahagiakan bagi diri saya.

Tapi, walaupun saya berpikir seperti apapun, pada kenyataannya saya sudah bertemu denganmu –dan kenyataan itu tidak pernah bisa diubah. Karena saya tidak mungkin membuat diri saya sendiri amnesia untuk menghilangkannya. Itu sudah terjadi, dan saya sudah mengalami berbagai hal, baik saya menyukainya ataupun tidak. Dengan menyesali semua itu dan berharap untuk tidak pernah mengalaminya di waktu yang sudah lewat, saya sudah mengeluarkan energi sia-sia bukan? Sedangkan hidup tidak berhenti sedetikpun, dengan atau tanpa saya memikirkan hal tersebut.

Dan sekarang, setelah semua berlalu begitu lama, saya tahu bahwa saya sangat bersyukur bisa bertemu denganmu. Saat pikiran-pikiran telah ditata kembali dalam ketenangan, saya yakin bahwa salah satu bagian penting dalam hidup saya sendiri adalah berterima kasih kepadamu karena telah memberikan masa-masa yang berharga dalam sebagian hidup saya. Saya telah belajar merasakan hal-hal baru, berpikir dengan cara yang berbeda, dan secara keseluruhannya saya telah mendapatkan seorang kawan yang hebat.

Jika pun saya tahu bahwa pernah ada luka sedikit, saya mengakui itu, namun setiap luka pasti sembuh adanya. Saya percaya itu. Dan pada akhirnya, saya merasa baik-baik saja. Semoga kau pun selalu begitu. Ah ya, this too shall pass, isn’t it ?

Menggilai Karakter Fiktif

www.tythaw.blogspot.com

Salah satu hal yang menyenangkan dari menulis fiksi adalah pembuatan dan pembentukan karakter-karakter beraneka ragam dalam cerita yang kita buat sendiri. Kita bisa menciptakan tokoh sesuka hati, yang keren ataupun sebaliknya, tentunya dalam persepsi keren kita sendiri. Dan bahkan, saat membaca karya fiksi orang lain, kita akan menemukan berbagai macam karakter manusia. Dalam pengalaman saya, sebagiannya ada karakter yang akan membuat kita benar-benar menyukainya. Iya ga sih? :D

Dan sepertinya, saya sangat berbakat untuk selalu suka atau tergila-gila (dalam artian benar-benar berpikir untuk bisa menemukan karakter seperti itu di dunia nyata) terhadap suatu karakter manusia fiktif yang memberikan kesan tersendiri saat membaca sebuah kisah fiksi. Barangkali saja memang tipe atau tokoh manusia dengan karakter seperti itu ada atau mendekati miripnya, toh itu dibuat oleh manusia juga dalam imajinasinya.

Makanya, saya pikir, orang-orang yang bisa membuat karakter kuat dengan amat keren itu sangat mengagumkan. Selalu ada kesan yang tertinggal untuk mengenang kembali ceritanya. Bahkan bisa ikut bersimpati atas apa yang dirasakan oleh sang tokoh imaji tersebut. Tak jarang pula membuat saya nangis sesegukan atau marah tidak jelas. Ah, apakah ini saya saja yang terlalu lebay dan melankolis ya? Haha.

Ada beberapa karakter yang teramat saya sukai dari dulu sampai sekarang. Mereka muncul dari novel dan film, dan membuat saya bisa mengambil berbagai hal dari mereka. Berikut ini adalah sebagian list-nya (urutan tidak menyatakan prioritas paling disukai) :

Continue reading

Gumam Perempuan

http://www.creativestem.com/artwork/2851

Tahukah kau bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan?

Saya memandang ke jendela, mengintip sebaris putih semburat biru tempelan langit dalam sisa-sisa pagi yang hening. Berpikir lagi, dan nyaris dalam bertahun-tahun kehidupan yang saya lewati setelah melampaui akil balig, bahwa tidak ada yang berubah selama ini. Saya memikirkannya, menuliskannya, tapi seringnya belum bisa melakukannya.

Ah, ya, ini sudah tahun 2012 ya?

Apakah masih panjang hidup kita? Sampai manakah kita?

Mungkin, saya merasa semakin menua. Menjadi perempuan tua, tapi belum bisa melakukan apa-apa. Apakah nantinya saya akan menjadi seorang perempuan tua yang menyebalkan karena tidak pernah merasa mendapat kebahagiaan dan sejarah cinta pada masa mudanya? Haha.

Membayangkan seorang bibi-bibi tua yang belum pernah merasakan cinta masa muda, duduk di kursi serupa boneka sambil memegang kipas, membicarkan hal-hal tidak penting, mengomeli anak-anak muda yang makin bebas merdeka dengan kemudaan yang membuat cemburu, dan memperhatikan para keponakan yang masih belia bersama para kekasihnya. Dengan cara-cara yang amat menyebalkan. Semakin tua semakin menyebalkan. Tidak semakin matang dan arif bijaksana. Para kaum muda pun memandangnya dengan penuh kasihan, dan segera tahu bahwa sang bibi adalah perempuan yang tidak pernah merasakan cinta pada masa seusia mereka.

Itu sesungguhnya adalah kecemburan.

Dan saya tidak sedikitpun ingin menua dengan cara-cara seperti itu.

Setidaknya, hati dan pikiran tidak seperti itu. Menjaga kewarasan saja.

Ah, ya, ini tahun 2012. Masih hidup ternyata kita. Dan masih bisa mengubah beberapa hal, tentu saja. Gambaran itu hanyalah ketakutan belaka. Mari rayakan kembali dengan lebih baik. Tapi, hendak seperti apa?

Ci – : Euh….Ini Soal Makanan

Saya teringat ketika seorang kawan bloger mengatakan dalam obrolan kami beberapa tahun lalu, bahwa salah satu ciri khas Jawa Barat adalah nama kota-kotanya yang berawalan Ci. Misal, Ciamis, Cikoneng, Cimahi, Cibodas, Cisarua, Cisangkan, dan lain sebagainya. Saya pikir-pikir, benar juga ya. Ci memang telah menjadi ciri khas nama kota di daerah Sunda. Ci sendiri merupakan kependekan dari kata dalam bahasa sunda, yaitu cai (artinya, air). Konon menurut Jakob Sumardjo, penggunaan kata ci tersebut erat kaitannya dengan budaya air sebagai salah satu sumber kehidupan.

Ternyata, selain nama kota yang didominasi oleh awalan ci, nama jajanan khas sunda pun (terutama Bandung) ada yang menggunakan awalan ci. Tidak banyak sih-tentunya tidak sebanyak varian jajanan Bandung itu sendiri yang ampun-ampunan. Ci dalam nama makanan tersebut merupakan kepedekan dari aci (tidak jauh berbeda dengan cai ya, haha), atau dalam bahasa indonesianya berarti tepung maizena. Selain jajanan berawalan ci, ada juga beberapa yang merupakan singkatan dari bahan dasar jajanannya itu sendiri.

Continue reading