Bersenang-senang Dengan Cara Manual dan Sederhana

Adik-adik sekalian yang baik hatinya.

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman mencoba 2 kegiatan buat mengisi waktu luang, dan menurut saya ini cukup menyenangkan. Hanya dibutuhkan ketelitian, kreativitas dan perhatian pada hal-hal detil. Sekalian bisa menggerakkan tangan karena yang akan kita lakukan adalah kembali pada keterampilan di masa lampau dimana kita membuat berbagai macam benda-benda hiasan tanpa alat bantu elektronik/gadget. Yang pertama adalah hiasan berbentuk bintang-bintang dari kertas kecil-kecil (yang sudah banyak dijual di tempat aksesoris wanita, serupa kertas origami tapi bentuknya panjang), dan kedua membuat dinding kamar lebih semarak dengan tempelan to do list dan sugesti positif buat penyemangat.

Tidak usah khawatir, mengerjakan hal-hal seperti itu tidak hanya buat abege atau remaja sekolahan saja. Semua bisa melakukannya, tentunya apabila punya waktu luang yang biasanya dihabiskan untuk melamun dan galau tidak jelas. Lebih baik membuat hiasan sederhana dari kertas yang bisa disimpan di kamar atau membantu kita mengingat berbagai macam jadwal pribadi yang sudah kita susun tiap harinya. Semenjak sekolah, saya biasa membuat tempelan-tempelan di kamar. Lalu kebiasaan itu mulai luntur saat bekerja dan tidak punya banyak waktu lagi untuk mengurusi hal-hal yang kelihatannya remeh temeh serta tidak menghasilkan duit =D

Sepertinya saya sudah lupa bagaimana rasanya mengerjakan 2 hal ini, kelihatannya ‘cewe banget’. Tapi sekarang, mari kita coba lagi.

Continue reading

Hal-Hal Baru Itu Menyenangkan

Hal-hal baru itu menyenangkan.

Mungkin, salah satu kesenangan hidup yang paling saya gemari adalah mencoba hal-hal baru. Ketika ada kesempatan yang datang untuk melakukan berbagai hal yang belum pernah saya lakukan, sebagian besarnya selalu ingin dicoba. Karena dengan melakukannya, banyak hal yang bisa diceritakan.

Jadi, kemarin itu saya bekerja di bidang yang sama sekali belum pernah saya coba sebelumnya : jadi tukang wawancara via telpon. Saya belum pernah mewawancarai orang dengan gaya formal, bahasa baku dan logat khas mirip para mbak-mbak di call center atau customer care perusahaan. Pada awalnya, agak sulit juga tapi ternyata dalam beberapa minggu sudah mulai fasih menghapal teks pertanyaan dan memberi respon spontan pada responden. Walaupun hal ini sepertinya akan cepat membosankan di masa depan, tapi ternyata mengobrol dengan responden yang notabene orang asing dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia itu ternyata cukup menyenangkan juga. Asal tidak dikejar-kejar target jumlah kesuksesan wawancara, maka wawancara tersebut akan mengalir begitu saja, bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri sambil mendengarkan nyanyian entah siapa yang ada di telpon tiap harinya.

Apa yang menjadikan wawancara jadi menyenangkan? Buat saya ada beberapa poin yang secara pribadi menjadi pelajaran baru :

Continue reading

TOP 5 MANGAKA TERKEREN DAN KARYANYA (18+)

Kalian suka baca manga (arti sederhananya : komik jepang) ? Di sela-sela kesibukan, walaupun bukan pengisi waktu prioritas tapi membaca manga yang unik itu cukup menyenangkan. Unik dalam persepsi saya di sini adalah topik-topik yang aneh atau tidak biasa, biasanya diusung oleh para penulis manga (mangaka) kontemporer dengan label adult/mature dan PG 18+.

Manga, seperti yang saya baca dari sebuah ebook (Manga For Dummies) memiliki genre yang sangat banyak, tapi menurut saya, manga secara garis besar dipisahkan dalam 2 peruntukkan berdasarkan gender: cerita yang ditujukan untuk kaum perempuan (shoujo/josei) dan kaum lelaki (shonen/seinen). Shoujo/josei biasanya mengambil cerita dari sudut pandang perempuan, dan saya jarang menemukan jenis cerita yang bagus serta mendidik. Sedangkan shonen/seinen sebaliknya, mengambil sudut pandang lelaki, dan ini adalah genre favorit saya, entah kenapa bagi saya genre ini biasanya lebih realistis.

Walaupun dibagi dalam kategori berdasarkan gender, tapi sebenarnya manga ya bisa dinikmati dengan bebas tidak berbatas. Saya juga tidak membaca manga sesuai rekomendasi sesuai gender, biasanya hanya membaca satu-dua untuk perbandingan, lalu fokus pada cerita yang saya sukai tanpa menghiraukan genre. Dan ternyata saya lebih suka pada genre-genre shonen/seinen (shonen : kategori lelaki remaja, seinen : kategori lelaki dewasa).

Continue reading

Kontemplasi Biru

Once we were standing still in time

Chasing the fantasies that filled our minds

You knew how I loved you, but my spirit was free

[Do you know where you're going to. Mariah]

Bertahun lampau, ketika masih berusia sekitar 12 tahun, saya bertemu seorang anak lelaki yang mengenalkan saya pada rasa-rasa terhadap lain jenis. Mungkin orang bilang sebagai cinta monyet, sebuah rasa yang disucikan dari hasrat purba dan keinginan memiliki. Dunia seperti menjelma menjadi tempat paling indah untuk ditinggali dan peningkatan semangat hidup untuk segera menghadapi hari esok dan melakukan banyak hal dengan optimis. Tidak peduli pada rasa dia, tapi yang menjadikan indah adalah rasa yang ada pada diri sendiri. Dan itu saja sudah cukup.

Kesenangan itu timbul dari hal-hal yang kecil saja; bila melihat dia, bila bisa bertegur sapa. Hanya itu saja. Tidak pernah memikirkan hal yang lebih dari itu. Pada saat itu, saya tak pernah banyak cerita pada siapapun, dan mungkin memang sudah sewajarnya bila seorang anak perempuan menyukai anak lelaki di dekatnya. Dia menarik karena tampak cerdas (saya kemudian sadar bahwa saya seringkali tertarik pada orang-orang yang cerdas), dan dia laksana arjuna diantara ribuan lelaki kampung yang biasa-biasa saja. Bersinar sendirian, seperti cerita-cerita di sinetron tentang seorang lelaki kota yang bertandang ke sebuah kampung kecil dan menjadi rebutan gadis-gadis kampung yang lugu. Tapi saya terlalu tidak percaya diri dan menyimpan kekaguman itu untuk dinikmati sendiri. Ini persoalan saya dan diri saya sendiri.

Continue reading

Little Red Riding Hood (Bagian 1)

(Cerita ini adalah gubahan seenaknya dari judul dongeng yang sama karya Hans Christian Andersen. Sebagaimana Jin Roh – The Wolf Brigade, sebuah anime psikologis yang juga menyisipkan kisah itu dengan amat cantik. Saya sangat suka cerita –cerita Andersen, terutama Gadis Penjual Korek Api)

Anak perempuan itu bernama Merah. Dia percaya, bahwa sejak lahir dia telah dipersiapkan untuk menguasai dunia. Dia belum tahu kenapa begitu, tetapi dia tetap akan menerimanya. Dia mencintai hidupnya dengan tulus, dan dunianya adalah apa yang bisa dia lihat di sekelilingnya saat itu. Kehidupan memang seperti ini, pikirnya. Jadi dia pun akan menjalaninya seperti yang telah dijalani orang-orang. Dia sangat suka sekolah, dan dia mempercayai para guru.

Suatu hari, saat dia sudah cukup umur untuk bepergian sendiri, dia meminta ijin kepada orang tua dan gurunya untuk melakukan perjalanan panjang mengunjungi neneknya di kota sebelah. Kota yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Sebelum pergi, gurunya memberikan sebuah kain merah yang kemudian disampirkan di atas kepalanya. “Jangan dilepas, ini adalah dirimu. Kau adalah Merah, dengan ini kau akan mudah dikenali” kata gurunya. Kain merah itu adalah identitasnya, dan bersenyawa dengannya seumur hidup.

Lalu, gurunya memberikan sebuah buku tebal, “mapping kehidupan”kata gurunya. “Dengan buku ini kau tidak akan tersesat dalam perjalanan. Di situ ada peta, keterangan –keterangannya, dan segala macam aturan serta petuah menghadapi para penjahat kehidupan. Kau adalah seorang wanita. Di luar sana, banyak pemangsa ganas yang akan mengincarmu”lanjut sang guru. Merah sangat girang, “ah iya, aku butuh ini agar bisa selamat” sahutnya dengan kegirangan khas orang-orang muda.

“Dan ingat satu hal penting, saudariku”gurunya menatapnya tajam. “Ingatlah satu nama yang tidak boleh sekali –kali kau mendekat padanya : serigala”.

Continue reading

P M S

Saya jarang tertarik membicarakan PMS (premenstrual syndrome) secara medis. Yang bisa saya katakan dan percayai tentang PMS adalah bahwa itu adalah sebuah kondisi dimana seorang perempuan menjadi sangat menyebalkan dunia akhirat. PMS bisa dijadikan permakluman atau alasan yang mudah diterima dimana kita bisa marah-marah atau bête tanpa alasan yang jelas atau dengan alasan remeh temeh saja setiap bulannya. Setiap bulan! Dan, PMS itu sangat-sangat-sangat mengerikan. Dia sudah menyebabkan saya kehilangan blog pertama kesayangan (isinmawa) yang saya hapus semena-mena begitu saja pada saat sedang PMS hanya karena sebuah alasan yang tidak masuk akal, bertahun-tahun yang lalu.

Tuh kan, saya menyalahkan si PMS.

Menurut sumber di sini, PMS adalah semacam kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi perempuan. Gejala ini biasanya terjadi pada 2 minggu menjelang menstruasi, makin memburuk pada 2-3 hari sebelum menstruasi dan akan sembuh pada hari pertama perempuan mengeluarkan darah menstruasinya. Sampai definisi ini, saya berpikir ya bener banget! Mungkin kebanyakan perempuan mengalami gejala-gejala tersebut pada waktu yang sama.

Continue reading

Akhirnya, Saya Bisa Membaca Peta

Tidak. Padahal sebenarnya saya bohong :mrgreen:

Ini mungkin bukan hal yang besar, sebenarnya, tapi buat saya pribadi yang tidak bisa membaca peta sama sekali dan sangat super-super malas mempelajari dan memfungsikan gadget, mencoba hal yan g paling sederhana tentang caranya mencari jalan ke tempat kos saya di Bandung tanpa tersesat ini merupakan sebuah pengalaman baru.

Continue reading

Serigala, Kodok, dan Kerudung Merah di Akhir Dunia

Mereka duduk di tepi sungai, menyaksikan dunia yang sepi seolah-olah seluruh kehidupan baru saja berakhir.

Wajah sang serigala tampak pucat, dan gadis itu mencium dahinya pelan-pelan.

“Jika kita mati di sini, mana yang akan kamu pilih? Surga atau neraka?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba lewatlah seekor kodok.

“Lihat! Ada kodok”

Tapi tiba-tiba kodok itu pun mati.

[end]