K e h i l a n g a n

2009 November 19
by eMina

[Rabu, 18 nopember 2009. 22:17. Bandung, sarijadi]

Seringkali kita menganggap bahwa kita memiliki banyak hal yang telah menjadi bagian dari jiwa, hati, pikiran, perasaan, dan bahkan hidup kita. Karena waktu. Mungkin dalam rentang waktu yang pendek atau kejadian sekilas saja, semua  hal itu menjadi amat biasa. Kita tak punya pengetahuan mendetail tentangnya, sehingga keberadaannya tidak mempengaruhi diri kita. Dan, adakalanya, diantara beberapa kejadian itu, kita mengalaminya terlampau sering. Dalam waktu yang cukup lama, sehingga kita bisa memikirkannya dan bisa dengan mudah mengingatnya. Kita mengetahuinya sampai hal terkecil, sehingga semakin kita banyak tahu, kita semakin terikat padanya.  Hal –hal tersebut menempati salah satu ruangan dalam hati kita. Kita pun terisi olehnya, tanpa disadari, terbiasa, menjadi bagian darinya, dan apapun yang terjadi kelak akan sangat mempengaruhi kita.

Itulah mengapa, banyak hal yang menjadi begitu berharga. Segala yang sudah berada dekat dalam kehidupan kita, atau yang kemudian datang dan menjadi bagian dari sejarah kita, saat ini, dan di masa depan.

Itulah mengapa selalu ada alasan untuk tetap hidup.

read more…

S a n d a r a n

2009 November 11
by eMina

Bandung, 11 Nopember 2009

Ada saat –saat dimana saya merasa begitu lemah, dan lelah. Lelah. Teramat lelah menghadapi semuanya. Menghadapi beberapa hal yang kadang bisa membuat saya berhenti di tengah jalan. Berpikir banyak hal, masa lalu dan masa kini, mengevaluasi seberapa tangguhnya saya –yang terus menerus digerus dengan berbagai keadaan. Tidak. Saya tidak berpikir bahwa saya adalah orang  yang paling bermasalah di dunia, atau orang yang paling menderita. Tidak begitu. Hanya saja, kadang ada kelelahan yang begitu kuat mendera jiwa. Dan kadang, sebagian dari kelelahan itu tidak bisa disampaikan pada orang lain.

Tetapi, apa yang menyebabkan kebanyakan kita tetap bertahan? Tetap berdiri tegar sambil menyerukan bahwa kita tak akan pernah menyerah pada kehidupan? Salah satunya adalah, kehadiran orang lain.

Sahabatku yang kucintai karena –Nya, terima kasih. Kali ini engkau lagi –lagi menarikku dari keterpurukan lelah, yang membuatku selalu banyak mengeluh. Tidak. Saya katakan padamu sobat, bahwa saya tak kan pernah lagi mengatakan, ‘saya sudah terlalu lelah’. Saya ingin terus belajar, mencoba tetap kuat, tak ada siapapun yang bisa melakukannya selain diri saya sendiri. Sebab kita mesti terus sabar, mesti tetap kuat, dan mesti selalu tegar.

Saya tak akan menangis lagi. Saya tak akan mengeluh lagi. Melakukannya tentu tidak mudah, tapi mulai saat ini, saya ingin belajar seperti itu, kawan. Sebab saya tahu, saya tak pernah sendirian.

Menjadi tempat sandaran, tidak mudah bukan? Saya bahkan tiba –tiba merasa ternyata belum layak untuk itu. Tapi  pada saatnya nanti, itu akan dialami, dan Allah selalu tahu saat yang tepat bagi kita untuk itu. Untuk memulainya.

A b a d i

2009 November 5
tags:
by eMina

aku melihatmu.

Kamu berbaring di situ, lemah dan rapuh.  Seperti sudah mati. Tapi aku selalu memastikan bahwa secara biologis kamu masih hidup. Nafasmu masih bisa kurasakan.  Wajahmu semakin tirus dengan lekukan mata yang semakin mengecil. Tubuhmu bagaikan onggokan tulang belulang yang kurasa, jika tertiup angin sedikit saja, tubuh itu akan melanting terbawa angin.

“Ini hari apa?” itu selalu yang kamu tanyakan padaku, setiap harinya. Kamu berusaha membuka mata, perlahan –lahan. Dan aku melihat bola matamu yang hitam semakin kehilangan cahaya.

“Ini hari kamis. Jangan buka matamu dulu, jangan cepat –cepat”aku selalu khawatir bahwa sinar yang terlalu terangpun akan menyakitinya.

“Oh, masih kamis? Bukankah kemarin juga kamis? Kenapa setiap hari aku merasakan hari yang sama?”tanyamu dengan parau.

read more…

C h a n g e

2009 October 30
tags:
by eMina

Seandainya kita bisa duduk bersama di sini, dan mengukir sejarah.  Mungkin kita telah berjalan terlampau jauh, menyusuri berbagai jalan, menembus duri –duri sampai berdarah –darah.  Aku tetap pada jalanku, dan kau juga begitu. Apakah kau sudah memutuskannya begitu? Ketika kau menceritakan banyak hal pada hidupmu, dan aku bangga, karena penting untuk mengetahui akan kau apakan hidupmu. Akan kau arahkan kemana kelanjutan langkah itu.  Kita tidak melewati jalan yang sama, aku tahu itu, dan kau pun tahu, tapi ajaibnya persahabatan adalah bahwa kita masih bisa tetap saling tersenyum tulus. Pada matamu ada ketulusan. Dan walaupun aku selalu bilang bahwa aku ingin selalu yang terbaik buat hidupmu, tapi kau sendirilah –pada akhirnya, yang bisa memilih hidupmu itu.

read more…

Syair Hujan (1)

2009 July 22
by eMina

Syair Hujan

(sebuah cerpen)

Ada sebuah masa dimana aku sangat membenci hujan. Aku membencinya, karena hujan bisa membuatku repot. Tetapi sekarang, aku selalu merindukan hujan.

Bila hujan mulai turun, aku diam memperhatikannya di depan jendela sambil memandang ke arah taman di depan rumah. Tanpa kusadari –di dalam hatiku, aku selalu berharap akan datangnya sesuatu melalui hujan. Tiap jutaan tetes air yang jatuh ke bumi, aku melihat tahun –tahun perjalanan kehidupanku, sebelum semua ini dimulai.

Beberapa tahun silam, pada saat hujan aku berada di taman itu. Tempat yang selalu sama, di dalam hatiku pun tetap seperti itu. hanya tumbuhan dan bunganya yang terus berganti setiap tahun. Saat hujan turun seperti saat ini, slide masa lalu seolah bermunculan dalam rangkaian airnya. Menjelma kembali menjadi kenangan yang abadi di dalam hatiku.

Di sana, dulu ada sebuah kursi kayu. Sekarang kursinya sudah diganti dengan tembok supaya lebih tahan lama. Aku duduk di kursi itu, sendirian pada awalnya. Lalu kamu pun datang menemaniku. Kita membahas apa yang kamu sebut sebagai ‘senyum yang lugu’. Dan katamu, itulah senyumku.

Kita bicara banyak hal sambil tertawa –tawa. Yah, kita masih sangat muda waktu itu. Dan kita sangat senang menceritakan banyak hal. Aku senang mendengarkan ceritamu –karena setiap mendengarkannya maka pikiranku pun mengembara. Imajinasi yang tercipta tanpa bisa kuungkapkan dengan kata –kata. Walaupun raga tak pernah bisa mencapainya, tapi melalui ceritamu aku seperti bisa melihat seluruh pelosok dunia. Aku berpikir bahwa ternyata dunia ini dipenuhi banyak hal baru. Dan, banyak dari hal baru itu amatlah indah. walaupun tidak semuanya begitu.

Pertemanan yang manis.

Ketika itu, kamu mengatakan bahwa kita akan selalu berteman. Rumah kita berdekatan, jadi kita akan tetap berteman. Kamu juga mengatakan akan menjaga taman ini untukku. Kamu sangat baik, itulah sebetulnya yang kurasakan. Kamu orang baik, tetapi aku sama sekali tidak tahu, apakah di masa depan nanti kamu akan tetap baik ?

Lalu, hujan tiba –tiba turun dengan cepat. Hujan di waktu itu, di penghabisan musim. Hujannya langsung besar. Suaranya bergemuruh menakutkan. Aku sampai tidak bisa mendengar suaramu. Sepertinya, suaramu menyatu dengan hujan, dan itu merisaukanku.

“Jangan masuk dulu. di sini saja. Kamu tak mau hujan –hujanan? Sudah lama aku tak melakukannya”katamu sewaktu aku hendak berlari ke teras rumah.

“Tidak. Aku takut tersambar petir”

“Ha-ha! Tidak akan. Tidak ada petir kan?”

kurasakan kulit telapak tanganku mulai mengkerut. Aku tak bisa menahan rasa dingin lebih lama jika air itu langsung menyiram tubuhku. “Aku bisa sakit. Kadang air hujan itu terlalu keras dan ada asamnya”

“Hujan tak akan membuatmu sakit. Coba saja rasakan airnya!”

aku tak peduli padanya. Aku berteduh di teras. Rambutku basah sekali. Sebagian bajuku juga sudah basah. Sedangkan kamu malah tertawa –tawa di bawah guyuran hujan itu.

semakin lama kulihat kamu, aku jadi ingin tertawa juga. Kamu seperti burung yang disiram air saja. Bajumu tak karu –karuan. Bibirmu memutih seperti platina, dan itu mengerikan.

“Sialan. Aku lupa menaruh bola plastikku dimana. Dulu, kalau hujan aku bermain sepakbola bersama anak –anak sini di kolam kering. Kamu tahu kolam pak RT di belakang rumahku itu kan?”kamu akhirnya berlari menghampiriku. Kamu berdiri di sampingku sambil menggigil.

“Iya. Kukira kamu sudah lupa caranya main bola itu sejak masuk kuliah di kota”

“Yah, memang. Kadang –kadang kupikir sekarang aku sudah melupakan banyak hal di sini..”kamu tertawa miris.

Begitupun aku. Memang begitulah.

Tapi sebenarnya, diam –diam aku kadang iri padamu. Kamu tahu? Karena kamu sangat cerdas dibandingkan anak –anak lain di sini. Kukira, itulah bakatmu. Saat kami masih memikirkan apakah nanti sore kami bisa bermain bola di kolam kering itu, kamu memikirkan untuk membuat lapangan bermain sendiri bagi kami. Sepertinya pikiranmu telah jauh melampaui anak –anak lain. walaupun kadang itu agak menakutkan –kamu terlalu memikirkan banyak hal. Padahal seharusnya, karena kita masih anak –anak, kita bisa bermain dengan bebas tanpa terbebani hal –hal semacam itu.

Karena kamu pandai, seandainya kamu mau –kamu bisa masuk kuliah dimanapun. Tapi aku tak pernah tahu apa yang kamu pikirkan, dan mengapa kamu memutuskan pilihan –pilihan yang tak kupahami.

Yah, aku tidak akan mengatakan bahwa aku memahamimu sebaik kamu memahami dirimu sendiri. Pada saatnya nanti, kehidupan akan berubah. Dan kamu pun juga pasti begitu. mungkin nanti, aku tidak akan mengenalmu lagi.

Lalu, yang kuresapi adalah suara hujan. Airnya yang jatuh ke genting dan ke benda –benda lain menimbulkan berbagai macam suara. Air ini sepertinya ditumpahkan begitu saja dari langit, banyak sekali jumlahnya, dalam waktu yang bersamaan. Hingga suaranya bergemuruh menyelimuti seluruh langit.

Dan, aku merasa sangat aneh, karena suara hujan itu seakan membisikkan sesuatu di telingaku. Angin yang berdesir seperti kata –kata yang ditujukan padaku. ‘Aku –suka –padamu’, begitu bunyinya. Bisikan yang samar –samar, mengalun merdu.

Bisikan apakah yang kudengar itu? apakah aku baru saja bermimpi? Kulihat kamu masih membeku di tempatmu, seperti patung es. Apakah kamu yang menciptakan bisikan itu ?

(Bersambung)

Hujan dan Burung

2009 July 6
by eMina

Hujan dan Burung

Hujan tak pernah memberikan janji. Ia akan terus turun untuk seluruh kehidupan. Cintanya menyebar di seluruh langit dan bumi. Kau pun bisa merasakan cintanya lewat sentuhan tiap tetes airnya.

Dan seorang burung kecil yang rapuh mengira dirinya telah jatuh cinta pada sang hujan.

Gitaris Yang Bersahaja

2009 June 20
by eMina

Apa yang paling menyenangkan saat berhadapan dengan seorang gitaris? Bagi saya, yupe, itulah. Memperhatikan raut muka dan ekspresi -ekspresinya saat menikmati petikan jari tangannya sendiri di gitarnya. Selain tentunya, mendengarkan alunan musiknya dan ikut bernyanyi pelan -pelan.

Seolah -olah, pikirannya sudah menyatu dengan gitarnya, tidak ada lagi di dunia ini, tenggelam dalam pusaran suara yang diciptakannya sendiri. Petikan jarinya mantap, membuat getaran melodi yang sungguh lembut. Hebat.

read more…

s a y a

2009 June 8
by eMina

Saat membuka –buka buku harian jadul, semasa awal –awal kuliah, saya menemukan secarik kertas yang dulu pernah digunakan sebagai media games curhat –curhatan dengan teman satu geng. Di kertas itu, teman –teman saya menuliskan persepsi mereka tentang diri saya. Bukan men-judge atau semacamnya sih, cuma sarana muhasabah diri dan masukan berharga buat Mina agar bisa introspeksi.

Mau tahu apa yang mereka tulis tentang Mina waktu itu ? Seperti inilah :

read more…

J u j u r

2009 May 31
by eMina

Words can’t bring me down Yes, words can’t bring me down So don’t you bring me down today [Beautiful. Christina Aguilerra]

Terkadang kejujuran bisa sangat menyakitkan dan menyedihkan pada awalnya. Termasuk dalam pertemanan.

Kadang kita harus jujur mengatakan apa yang kita rasakan mengenai sikap teman kita yang tidak berkenan bagi kita (dan mungkin bagi sebagian besar orang), walaupun itu pasti tidak enak baginya. Tapi, karena kita sayang padanya, kita harus mengatakan itu –dengan cara yang baik. Agar dia bisa memperbaikinya, dan kita juga memperbaiki diri kita. Jadi, ketika kita mengatakannya, otomatis itu juga berlaku buat diri kita sendiri.

read more…

Sastra Klasik

2009 May 27
by eMina

Saya senang membaca berbagai macam karya fiksi semacam roman, novel, cerpen, dan sedikit puisi serta essay. Berbagai genre. Mulai dari yang klasik sampai kontemporer, walaupun tidak semua karya fenomenal pernah saya baca.

Saya juga tidak bisa mengatakan kalau saya hanya menyukai jenis bacaan tertentu, karena biasanya saya menyukai sebuah fiksi bila sudah membaca beberapa lembar awalnya. Jika tertarik, saya baca. Jika tidak, maka saya lewatkan. Walaupun misalnya buku fenomenal semacam ayat –ayat cinta yang disukai banyak orang, tapi ternyata saya tidak menyukainya.

Pernah membaca sastra (roman atau novel) klasik?

read more…