Di jejaring sosial Facebook, beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang ikut menyebarkan (share) sebuah foto mengerikan yang memperlihatkan seorang balita digantung. Foto tersebut tidak begitu jelas, resolusinya kecil, dan latar belakang gambarnya juga tidak jelas. Hanya ada sebuah tulisan kecil di dalam foto tersebut (mungkin itu sumber gambarnya). Saya penasaran, lalu menelusuri asal mula pengunduh gambar tersebut. Di sana saya berharap bisa menemukan sumber langsung link gambar tersebut, namun ternyata tidak ada juga. Saya baru tahu soal gambar itu dari komentar-komentar (yang banyak sekali), konon katanya gambar tersebut adalah seorang anak yang digantung oleh kaum syiah di Suriah.Saya bertanya pada pengunduh foto tersebut (fotonya di seting untuk publik), sumber resmi gambarnya.
Saya merasa tersadarkan, bahwa baru kali ini saya ‘bertanya’ terlebih dahulu untuk hal-hal yang berhubungan dengan agama tanpa ikut merasa ‘senasib-sepenanggungan’ pada awalnya. Di komentar-komentar yang bejibun itu, semua telah sepakat-sepaham-se-ideologi merasa benci bersama-sama terhadap salah satu sekte dalam islam. MEMBENCI SELURUH SEKTE-NYA, BUKAN ORANG YANG MELAKUKAN KEKEJIANNYA. Tiba-tiba saya melihat seolah-olah seseorang tengah menyebarkan kebencian yang tidak jelas (dan kebencian itu memang sudah ada dari awalnya), dan dia menambah-nambahkannya dengan foto tersebut yang bahkan tidak dia sertakan info sumber aslinya. Semua pun sepakat, bahwa SEKTE SESAT ITU HARUS DIMUSUHI DAN DIBANTAI.
Pengunduh foto itu pun segera merespon pertanyaan saya dengan mengirimkan beberapa link menyangkut kemelut di Suriah pada saat ini (akhirnya saya tahu ada persoalan seperti itu, saya menemukan salah satu link-nya). Tapi tidak ada satupun link yang memperlihatkan gambar tersebut. Begitupun di link yang di-share teman saya, ada seorang yang memberikan artikel-artikel yang malah memperlihatkan kebenciannya kepada syiah. Bukan link yang saya maksudkan. Saya bertanya-tanya, apa tidak ada link-nya? Kenapa mereka tidak mau mengakui kalau itu barangkali informasi yang masih tidak jelas, tapi semangat sekali mencaci maki ‘aliran’ lain? Dan orang-orang di sekelilingnya pun kebanyakan langsung terprovokasi. Dari sumber yang bahkan tidak jelas !!!
Apakah tidak terpikirkan bahwa mungkin saja itu rekayasa dari pihak yang membenci pihak lainnya? Bukannya saya tidak ngeri melihat fotonya, tapi untuk apa semua itu jika informasinya sendiri tidak jelas? Dan bisa saja memang ada kejadian semacam itu, namun siapa sebenarnya yang melakukannya? Bagaimana jika sebenarnya kita mengenal orang-orang di sekitar kita (atau yang menjadi teman) yang aliran agamanya berbeda (atau bahkan berbeda agama) namun secara personal dia baik-baik saja, sedangkan kita berkoar-koar menyerukan kebencian terhadap apa yang dia yakini? Jadi sebenarnya kita membenci keyakinannya atau orangnya sih? Seringnya yang terjadi, beberapa orang dari keyakinan A melakukan kejahatan lalu rame-rame kita membenci keyakinan A. Atau bahkan aliran (yang dianggap sesat) B tidak melakukan apapun tapi kita rame-rame membenci keyakinan B (dan juga orang-orangnya), apalagi jika aliran sesat tersebut dikabarkan melakukan kekejian.
Ini hanya dalam lingkup satu dunia kecil dalam facebook. Bagaimana jika lingkupnya sudah mengglobal? Pantaslah jika islam masih terkotak-kotakkan.
Saya jadi gelisah. Dulu pun saya begitu, yakin sekali. Sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) termasuk dalam hal bersama-sama membenci pihak yang dianggap sesat (dalam perspektif kita bersama). Dan jangan-jangan, sekarang pun saya masih begitu…
Jika islam itu adalah rahmat untuk seluruh alam dan umat manusia, apa yang kita pahami tentang pernyataan itu jika yang seperti ini masih banyak dan membuat saya semakin tidak mengerti. Jika dalam islam ada pernyataan ‘untukmu agamamu, untukku agamaku’ atau ‘tiada paksaan dalam beragama’ dan ‘islam cinta damai’, kenapa kita harus membenci ?
Sampai saat ini pun saya tetap tidak mengerti.
Continue reading →