Berhemat dengan DIY fashion (tapi masih 80%)

Ya DIY-nya (do it yourself) kira-kira sekitar 80%, sisa 20% masih dikerjakan oleh orang lain 😀

Awal mulanya, saya pengen punya banyak kaos dalam satu waktu berhubung sekarang lebih nyaman gaya kasual di tempat kerja (disesuaikan dengan lingkungan, lebih tepatnya). Koleksi kaos saya sedikit sekali, jadi saya ingin punya kaos banyak sekaligus, kaosnya bagus (nyaman, adem, dan enak dipakai), tapi MURAH! Untuk mendapatkan kaos yang bagus, harga kaos di pasaran lumayan juga. Apalagi kaos printing/sablon.

Nah, setelah setahun kerja di pabrik kaos saya jadi punya segudang ide untuk membuat sendiri model-model kaos polos (karena kalau kaos sablon ya biayanya nambah lagi). Lagian sekarang sedang trend kaos polos tuh 😀 . Dengan bikin kaos polos sendiri, biaya untuk mendapatkan kaos bisa ditekan jauuuh lebih murah bahkan lebih dari 100%. Syaratnya cuma 1 : jangan malas untuk menggunakan tangan sendiri dan membeli sendiri bahan-bahan untuk membuat kaosnya.

Membuat kaos sendiri itu gampang banget kok. Apalagi model T-Shirt. Itu sudah style dasar banget, jadi kita gak perlu pusing-pusing menentukan bentuk kaosnya. Tapi kalau mau eksperimen model kaos macem-macem ya lebih bagus, sekalian belajar hal baru dan siapa tau kelak jadi perancang busana kelas internasional 😀

Kalau kamu sudah siap bikin kaos sendiri, mari kita menc oba bikin kaos dengan bentuk yang paling sederhana dulu yaitu T-shirt standar. Berikut ini langkah-langkah dan bahan yang harus kamu siapkan :

  1. Siapkan bahan kaos . Seperti yang pernah saya bahas di sini nih, pilih kaos katun. Bisa cotton combed 30s, 40s, cotton bamboo, atau lacoste katun, atau kaos-kaos katun lainnya yang berkualitas tinggi. Harganya gak terlalu mahal kok. Satuan harganya perkilo, dan untuk satu kaos, kamu cuma butuh kira-kira 0.2 kg kurang. Beli 1 meter sudah bisa buat kurang lebih 2 kaos untuk ukuran S atau M. Harga kaos katun ada di kisaran 91.500 – 104.000/kg di Tasikmalaya. Di Bandung, harga kaos lebih murah sih. Sekalian beli rib-nya. Kain rib ini untuk di bagian leher. Tapi gak pakai rib juga gak apa-apa sih. Ribnya paling butuh cuma 5cm, itu bisa buat 3 atau 4 kaos.
  2. Gunting kain (yang tajam ya, jangan yang mintul, biar gampang guntingnya)
  3. Meteran (buat ukur-ukur badan atau ngukur baju yang akan ditiru)
  4. Kapur kain
  5. Kertas atau karton untuk membuat pola
  6. Kalau kamu malas mengukur badan sendiri dan masih bingung dengan pola kaos, siapkan kaos kamu yang paling pas di badan. Itu bisa jadi standar ukuran kaos yang akan dibuat nanti

Ketika bahan-bahan sudah siap, sekarang kita mulai bikin kaosnya :

  1. Siapkan dulu pola kaosnya. Gak usah bingung, di google banyak sekali pola/pattern kaos standar yang bisa kamu tiru, print dan bikin skala besarnya sesuai ukuran badan kamu. Atau minimal liat dulu contoh-contoh pola di google, lalu jiplak bentuk kaos kamu yang sudah ada di atas kertas/karton. Pola harus dilebihkan 2cm dari ukuran asli badan untuk kebutuhan lipatan jahit dan pengobrasan.
  2. Enter a caption
  3. Bentangkan kain di atas lantai atau meja yang datar. Taruh pola yang sudah jadi di atas kain kaos, lalu jiplak pola dengan menggunakan kapur kain. Kapur ini aman dan bisa hilang saat dicuci.
  4. Guntinglah kain kaos sesuai pola yang sudah digambar.
  5. Obraslah tiap tepi kain kaos
  6. Jahit sampai selesai

Untuk bagian jahit dan obrasnya ini yang saya bilang di atas merupakan 20%nya tidak bisa saya kerjakan sendiri. Alasannya karena saya gak punya mesin obras dan mesin jahit, jadi terpaksa obras dan jahit diserahkan ke tukang jahit. Memang bisa jahit manual pakai benang dan jarum di rumah, tapi lebih lama dan kurang rapi hasilnya. Kurang kuat pula. Tapi tenang, jahit kaos di penjahit rumahan di sini sekitar 10ribu doing, di tukang jahit borongan bisa seharga 3ribuan aja dan rapi hasilnya.

See? Dengan model dan ukuran sesuka hati, warna bisa dikombinasikan sesuka hati pula, kaos polos berbahan bagus banget bisa didapat seharga kurang dari 50ribu lho. Bahkan saya hitung-hitung kemarin bikin long T-shirt misty cuma sekitar 38ribuan aja totalnya. Bahannya udah bagus banget. Kalau beli, kaos harga segitu paling dapat spandek atau PE walau ada sablonnya. Tapi bahan spandek kualitas jelek dan PE itu panas dan berbulu, gak nyaman dipakai.

Mau mencoba? Selamat berkarya!

Note : gambar dicomot dari google. Saya gak sempat foto-foto.

Advertisements

ketika kamu kehilangan rasa takut pada tuhan, dosa, dan neraka

Saya sedang agak kesepian, sebetulnya, jadi saya menulis beginian. Setelah hampir setahun berada di kampung, beradaptasi dan bergaul dengan orang-orang baru sepaket dengan pemikiran-pemikirannya, tiba-tiba saya kangen ngobrol hal apapun tanpa batasan dan tanpa takut dihakimi. Di kampung sini, tentu hal itu tidak bisa dilakukan. Sama sekali tidak bisa. Ya bukannya saya tak pernah mencoba sih. Saya sudah mencoba, sekali, dan hasilnya adalah bahwasanya saya seperti sebentuk alien yang perlu dirukyah, yang otaknya sengklek, aneh, berbahaya, dan makhluk uyuhan yang disesatkan setan.

Tapi ya sudahlah. Tiap pasar memang punya segmen tertentu. Kita tak bisa memaksakan sesuatu yang tidak lazim di pasar konvensional. Untuk bisa hidup selalu hepi dan sehat di manapun, adaptasi dan penyesuaian topik adalah pilihan terbaik.

Tapi ya itu, saya kangen ngobrol dengan beberapa kawan, seperti dulu waktu di Bandung. Mengobrol ngalor ngidul tentang apapun, dan bahkan persoalan ‘apakah tuhan itu betulan ada?’ dan hal tabu lainnya tanpa ada penghakiman. Selama di kampung, saya tidak pernah lagi membahas berbagai hal yang berkecamuk di otak. Rasanya kok sepi ya lama-lama, haha.

Nah, jadi saya menulis saja.

Eh tadi saya mau nulis apa ya? Kok jadi lupa. Kebanyakan intro nih, haha.

Jadi, saya teringat pada sebuah pertanyaan yang ingin saya ajukan pada kalian “apakah kalian pernah tiba-tiba merasa kehilangan hal yang awalnya sangat prinsipil dari dalam otak? Tepatnya, kehilangan rasa takut terhadap tuhan, terhadap dosa, dan juga terhadap ancaman neraka?”

Saya tidak begitu ingat detail awalnya ketika saya merasakan hal tersebut, beberapa tahun lalu. Saya akhirnya tidak terlalu peduli pada pemikiran ‘apakah tuhan itu ada’ atau ‘apakah saya melakukan dosa’ atau ‘apakah saya akan dilempar ke dalam api neraka atau surga’. Saya tidak lagi memikirkannya. Dan saya tidak lagi menjadikan hal tersebut sebagai acuan dalam mengambil keputusan atau untuk memilih/menentukan sikap hidup.

Ide-ide relijius yang begitu kental sudah ditanamkan (saya menyebut di-tanam-kan karena saya tidak memilih sendiri untuk menelan ide tersebut) di otak sejak kecil. Seluruh perilaku saya pun dipengaruhi oleh ide sakral itu, sebagai satu-satunya pedoman dalam menjalani hidup. Satu saja alasannya : karena ide itu satu-satunya ide baik di dunia. Ya, sebutlah itu agama.

Agama adalah kontrol dan pengaturan untuk saya dalam bersikap; dan juga ide-ide soal tuhan beserta paket gaib lainnya. Jadilah kamu manusia yang baik menurut agama dan manusia, supaya tuhan sayang dan memberimu imbalan surga selama-lamanya. Dan janganlah kamu berbuat jahat (dosa) menurut agama dan manusia, supaya tuhan tidak marah dan menghukummu dengan siksaan neraka yang sakitnya tanpa akhir. Menelan ide dengan penuh ketakutan, supaya bisa berbuat baik.

Apa yang terjadi kemudian adalah saya sering menyalahkan diri sendiri, melabeli dan menghakimi diri sendiri ketika melakukan suatu hal yang saya anggap dosa (kesalahan). Kecewa terhadap diri sendiri, penyesalan yang berlebihan, dan jijik terhadap perbuatan sendiri, dan secara psikologis menurut saya ini tidaklah sehat.

Saya juga menutup diri untuk belajar hal-hal baru, apalagi yang tidak sesuai dengan ide agama. Karena hal-hal asing itu berbahaya bagi keyakinan (atau iman).

Lalu, setelah saya mulai mencoba memberanikan diri untuk membuka otak pada hal-hal baru yang berbahaya itu, ide-ide relijius itu mulai terkikis. Ada banyak kegelisahan dan pertanyaan yang muncul. Dulu saya merasa sangat terganggu, tapi kemudian saya menikmatinya dan sekarang sih sudah tidak peduli lagi. Ide-ide apapun yang muncul, saya sudah masa bodo.

Saya tak bisa hanya melihat dunia dari sudut pandang saya saja. Kebaikan, keburukan, bisa menjadi sangat relative. Selama apa yang kamu pilih tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, maka sah-sah saja dilakukan. Dalam hal ide-ide relijius, itu bisa menjadi sakral bagi sebagian orang, tapi tidak bagi yang lainnya.

Rasanya ada sebuah kebebasan saat saya memikirkan hal tersebut. Tuhan katanya maha baik, dia harusnya bisa mengijinkan manusia untuk berpikir apa saja. Dan tuhan juga maha penyayang. Hanya itu saja yang saya yakini. Dan keyakinan semacam apapun itu, tidak bisa dipaksakan pada orang lain.

Saya memandang dosa seperti sikap-sikap yang merugikan orang lain. Jadi jika apa yang saya pilih tidak beresiko merugikan orang lain atau diri sendiri, saya merasa tidak melakukan dosa, jadi saya tak perlu menyesal-meratap dan marah pada diri sendiri kan?

Saya tak tahu apakah neraka atau surga itu benar-benar ada. Dan saya tidak peduli lagi dengan keberadaannya. Berbuat baik, ya berbuat baik saja. Banyak orang-orang baik berkualitas tanpa dilatar belakangi gagasan-gagasan relijius. Dan juga sebaliknya, orang yang tampak begitu penuh dengan doktrin reliji sedari kecil malah jadi koruptor atau pedofilia. Jadi semua manusia ya sama saja.

Yang mau menjalankan gagasan agamanya, silakan, karena banyak hal baik juga di dalamnya. Asal tidak dipaksakan kepada orang lain untuk meyakini hal yang sama. Yang tanpa embel-embel tuhan, agama, dll juga silakan. Toh kalian semua bisa menjadi manusia berpotensi dan berakhlak mulia dengan latar belakang ideologi apapun.

Ya sudah. Semua sudah dikeluarkan. Sampai ketemu di tulisan kesepian berikutnya, ya :mrgreen:

BELAJAR DI PABRIK SABLON #2: STANDAR KAIN KAOS

Sebelumnya, saya sudah menulis sedikit soal pabrik sablon sebagai pembuka, di sini. Walau jedanya sangat panjang, sekarang saya akan menambahkan hal-hal yang lebih detil mengenai usaha persablonan pemula, dan kebetulan saya juga sangat pemula, jadi saya akan menulis apa yang sudah saya alami dan pelajari secara langsung selama ini di lapangan. Oya, karena pabrik sablonnya masih manual saja, jadi semua hal yang akan saya tuliskan hanya menyangkut sablon manual.

Dalam dunia sablon menyablon, 2 bahan baku utama yang penting adalah kain kaos dan tinta/obat sablon.

Jadi, kain kaos apa saja yang biasa dipakai?

Kalau disebutkan semua, tidak akan habis satu episode deh, hehe. Lagipula ada banyak kain kaos yang belum pernah saya pegang langsung. Jadi di bawah ini saya kasih list kain kaos yang banyak beredar di pasar Indonesia aja dulu ya

  1. Katun Combed

Di Indonesia, rata-rata standar bahan kaos yang digunakan untuk kualitas bagus adalah katun combed. Saya belum tahu kenapa dinamakan combed.

Katun combed dipilih karena biasanya paling nyaman dipakai. Bahan baku katun combed sebagian besar adalah benang yang terbuat dari kapas. Itulah kenapa harganya lebih mahal sehingga harga jual kaosnya pun pasti lebih mahal dari jenis kaos katun lainnya.

Katun combed juga banyak jenisnya, tergantung ketebalan serat, yang dibedakan dengan angka. Ada combed 20s, 24s, 30s, dan 40s. Agak sulit menyebutkan perbedaannya kalau tidak dipegang langsung. Tapi secara umum, semakin banyak s-nya, maka serat benang semakin tipis tapi kain semakin lebar dan ringan. Semakin tipis serat kain, tidak berarti semakin jelek lho.

Orang awam selalu beranggapan bahwa semakin tipis serat benang, semakin jelek suatu kaos. Memang bisa jadi seperti itu. Tapi setelah dipegang, harusnya kita bisa membedakan bahwa serat benang yang lebih tipis tidak selalu jelek. Combed 20-30s adalah standar kain yang biasa dipakai untuk kaos-kaos dengan harga standar. Kainnya bisa ditemukan dengan mudah di supplier-supplier kain. Tapi combed 40s tidak banyak ditemukan suppliernya, kecuali di kota besar seperti Bandung. Jenis 40s digunakan di level paling mahal dan paling bagus. Kaos-kaos distro dan branded biasa memakai  kain ini. Coba deh pegang kaos distro bermerk terkenal, pasti kaosnya akan terasa ringan, teksturnya sangat lembut dan empuk.

2. Katun Carded

Kaos katun yang kualitasnya di bawah combed. Tekstur agak keras dan berbulu. Tapi ada jenis carded yang bagus, tidak jauh dari combed level biasa. Jenis ini banyak dipakai dalam produksi massa, misalnya untuk merchandise atau seragam yang jumlahnya ribuan.

3. Katun PE (polyester) dan Hi-get

Namanya juga polyester, bahan baku kainnya kebanyakan adalah plastik. Teksturnya kasar, keras, dan berbulu. Apalagi jika sudah dicuci. Jika kalian menemukan kaos sablon yang murraaah banget di toko-toko dengan ciri-ciri di atas jika dipegang, sudah dipastikan itu adalah katun PE. Jenis yang paling murah dari kaos katun. Pengalaman menyablon manual di atas kain PE, jenis ini harus hati-hati karena tidak terlalu tahan pada panas berlebihan. Mudah terbakar, maklum plastik. Hi-get juga tidak terlalu jauh seperti PE. Saya belum pernah pakai hi-get.

Oya, PE juga ada beberapa macam. Ada jenis PE super yang lebih lentur, tapi sensivitasnya terhadap panas sangat berbahaya. Mudah meleleh!

4. Lycra

Orang-orang biasanya menyebut jersey. Tekstur kainnya lembut, jatuh, adem di kulit dan halus banget. Tapi lycra juga tidak semua berkualitas. Ada bermacam-macam lycra. Bahan ini biasanya dibuat khusus untuk teknik printing digital atau DTG. Bisa disablon full badan, kayak motif-motif kekinian atau kaos-kaos superheroes dan desain-desain 3D yang rumit dan campuran warna yang sangat banyak. Cocok juga buat kaos slimfit atau dress bagi wanita.

Harga bahan lycra, sepanjang yang saya tahu dari supplier yang sama, tidak terlalu jauh dari combed 30s. Tapi lebih murah dari combed 40s kualitas distro. Harga jualnya juga biasanya lebih mahal dari kaos biasa.

5. Lacoste

Ada 2 jenis lacoste yang saya tahu: PE dan pique. PE, seperti halnya di kaos katun, juga adalah verse jelek dari lacoste (agak tebal dan tidak terlalu halus). Sementara pique lebih halus dan ringan. Bentuk lacoste itu mirip kaos yang berlubang-lubang kecil sekali. Saya jarang menemukan kaos bahan lacoste di toko-toko sih, biasanya kaos-kaos seragam yang khusus dibuat sendiri ada yang berbahan lacoste. Soal harga, bahan lacoste lebih murah dari katun combed.

6. Dryfit

Pernah melihat/memegang kaos-kaos seragam sepakbola, sepeda atau basket? Tekstur kaosnya berlubang-lubang, tapi tidak sama dengan lacoste juga sih. Biasanya bahan dryfit digunakan untuk fashion cowok dan lebih bernuansa sporty.

7. Spandek

Untuk spandek ini agak panjang pembahasannya, karena banyak sekali jenis spandek. Spandek korea, misalnya, atau spandek kaos. Tapi rata-rata di pasaran sekarang kedua jenis kaos ini sedang Berjaya. Fashion cewek kualitas menengah ke bawah di dominasi bahan spandek kaos karena harganya murraaaah banget. Bayangkan aja, setelan-setelan yang lagi musim sekarang ini dari mulai jilbab, outer, sampai dress sepaket bisa murah banget. Gila kan? Gimana kualitas bajunya coba?

Jika kalian melihat cewek-cewek memakai dress atau tunik panjang dengan bahan kaos yang mencetak badan dan agak berbulu/tampak kumal jika sudah dicuci, ya itulah spandek. Tapi tentu ada juga bahan spandek yang cukup bagus. Saya sendiri tak suka spandek karena ya itu tadi, mencetak di badan dan terlalu jatuh sehingga model baju jadi tidak karuan dilihatnya, hehe.

8. CVC

Masih bagian dari keluarga katun. Agak sulit menjelaskan bagaimana perbedaan CVC dan combed sih, hehe. Nyaris mirip sekali, tapi kalau dipegang akan terasa beda. Tekstur CVC lebih terasa serat-serat benangnya gitu dan lebih keras dibanding combed. Tapi CVC menawarkan motif yang lebih beragam. Ada kaos-kaos cvc corak yang lucu-lucu. Harganya hampir sama dengan combed standar (bukan 40s).

9. Ada satu lagi kain kaos yang pernah saya pegang, tapi saya belum tahu namanya, hehe. Konon itu adalah bahan kaos distro. Kainnya agak mirip lycra, lembut, empuk, dan jatuh.

Ternyata sudah panjang juga ya, padahal sudah berusaha dipendek-pendekin biar gak cape baca. Tapi semoga sedikit bisa memberikan gambaran bagi para newbie perkaosan dalam memilih jenis kaos saat belanja. Jadi kalian bisa membedakan mana kaos yang emang betul-betul bagus serta berkualitas dari segi bahan saat memegang kaosnya langsung. Tidak tertipu dengan harga terlalu murah atau brand-minded padahal ada kaos bagus tanpa brand yang ternyata lebih murah. Kalau tahu barang bagus, ya berbelanja bakal jadi lebih hati-hati dan hasilnya memuaskan, iya kan?

Filosofi Fashion : Ilusi Tentang Kecantikan dan Penampilan Lebih Menarik

Size really doesn’t matter.

Inner beauty lebih penting.

Begitu kata sebuah pepatah semilyar umat. Tapi apakah betul?

Coba sekarang buka majalah-majalah mode atau cari tulisan tentang fashion dan kecantikan di internet. Kamu akan tahu kalau pepatah itu cuma omong kosong belaka 😀

Pada awalnya, ketika saya melihat artikel-artikel di internet tentang bagaimana kamu bisa berpenampilan lebih baik semisal : yang pendek ingin TERLIHAT tinggi, yang gemuk ingin TAMPAK lebih mengecil, yang kurus ingin TAMPAK berisi, yang gelap ingin TAMPAK lebih terang, dan lain sebagainya, rasanya lama-lama jadi muak juga, haha. Dan itu tidak berlaku buat cewek aja lho, cowok juga sama kok. Tips ini-itu bertebaran di mana-mana. Ingat baik-baik kata yang pakai huruf kapital di atas. Cuma TAMPAK/TERLIHAT. Artinya, itu boongan. Aslinya ya tetap tidak berubah.

Baru-baru ini saya baca beberapa artikel fashion mengenai cara mempermak para perempuan berpostur petite agar terlihat lebih tinggi. Oya, petite ini artinya kecil dan pendek. Saya juga baru tahu ada istilah seperti itu. Saya jadi berpikir, memangnya kenapa kalau kita kelihatan lebih tinggi? Bisa lebih cantik, bagus, dan menarik? Ini sama halnya dengan keinginan agar kulit menjadi lebih putih. Seolah-olah berbadan tinggi itu lebih baik dibandingkan pendek.

That is. Ternyata size is really a matter.

Setelah membaca beberapa tulisan, saya berkesimpulan bahwa fashion dan kosmetik itu 11-12, yaitu dua-duanya memberikan ilusi tentang kecantikan dan ‘penampilan yang lebih menarik’. Hanya ilusi saja. Terutama fashion, dan mereka mengakuinya kok. Dalam salah satu artikel misalnya ada penjelasan begini ‘….memberikan ilusi agar kaki lebih panjang/fake long legs’. Kosmetik juga sama. Segala macam benda yang diusapkan ke wajah itu untuk memberikan ilusi warna wajah yang berbeda. Padahal kan aslinya tidak begitu.

Lalu apakah mengikuti fashion itu salah? Ya tentu tidak juga. Bukan soal salah atau benar, tapi balik lagi ke menata ulang cara berpikir soal fashion itu sendiri sehingga kamu tidak percaya secara buta dalam artian memaksakan diri.

Karena memang bagi beberapa orang, penampilan yang menarik bisa membuat mereka lebih percaya diri. Itu tentu bagus. Walaupun tidak harus selalu berpatokan pada rumus para fashion expert, sebetulnya yang paling mendasar dalam berpenampilan adalah kamu nyaman dan percaya diri dengan apa yang kamu pakai. Rasa nyaman dan percaya diri itu akan terpancar menjadi sebuah kekuatan. Kalau memang ilusi-ilusi yang kamu pilih itu aman, ya tidak apa-apa dilakukan. Sebab fashion itu hanyalah salah satu alternative, bukan mutlak sesuatu yang harus dituruti.

JADI, mungkin kamu tidak perlu selalu sinis dengan tips-tips menyangkut fashion. Mempermak penampilan cewek petite misalnya, saya lebih setuju kalau mengubah alasan atau motivasinya. Kalaupun kamu ingin memilih baju yang pas untuk postur yang pendek, itu bukan untuk terlihat lebih tinggi doang, tapi karena memang pakaian tersebut pas dan seimbang untuk ukuran tubuh kamu. Atau karena kamu ingin bereksperimen mencoba sesuatu yang baru, sebab itu adalah hal yang menyenangkan banget! Atau karena memang kamu merasa lebih nyaman dan percaya diri dengan tipe baju tersebut. Cewek dan cowok selalu ingin terlihat cantik dan tampan. Itu wajar kan.

Fashion itu juga memang seni. Tidak ada salahnya mencari ide untuk jenis atau model pakaian yang cocok. Bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi tentu untuk menyenangkan dan memuaskan diri sendiri. Yang penting juga, jangan sampai menyulitkan diri sendiri dengan pilihan fashion tersebut. Misalnya, ada tips buat para cewek petite bahwa mereka harus menggunakan high heels. Dan celakanya lagi, heels-nya gak boleh tipe wedges, tapi harus yang lancip. Lagi-lagi untuk mengesankan tinggi. Cih. Merepotkan banget. Saya lebih percaya kalau high heels gak bagus buat kesehatan. Kalau maksa, sebaiknya pakai tipe wedges saja.

Oya sedikit bonus, dari hasil bacaan soal tipe baju yang pas untuk cewek petite itu sebetulnya simpel aja sih. Pakailah baju yang mini-mini, hehe. Maksudnya, sebaiknya memakai pakaian yang pendek banget atau panjang sampai mata kaki sekalian, tidak nanggung-nanggung. Tapi kalau kamu mau memakai baju nanggung yang kamu suka? Ya itu sah-sah aja. Ingat ya, trik atau tips dalam fashion itu cuma ilusi, jangan terlalu taklid menganggapnya sebuah aturan saklek.

Yah siapa sangka bermain-main dengan tipe baju itu bisa begini menyenangkan, hehe.

Selamat berpuasa di bulan Ramadhan. Kencangkan ikat dompetmu, jangan sampai tergiur dengan jualan-jualan menjelang lebaran! *langsung browsing olshop*

Ran (1985), Dongeng Megah Tentang Musnahnya Sebuah Cinta .… eh, Klan

Ran adalah sebuah film Jepang-Prancis yang dibuat tahun 1985 dan disutradarai oleh Akira Kurosawa. Ceritanya bercampur aduk mengenai pembalasan dendam, hubungan ayah-anak, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, karma, bahkan keyakinan. Tapi kalau saya intip di wiki sih, salah satu tema film ini adalah nihilisme. Bagaimana tema ini saling berkaitan, sebaiknya kalian tonton sendiri deh ya.

Seperti halnya film Kurosawa lainnya, tidak ada drama lebay walaupun ceritanya tragis dan menyesakkan. Inilah yang saya sukai dari Akira Kurosawa. Dan buat saya, Ran ini betul-betul megah (walaupun ditonton pada masa kekinian) dengan landscape yang indah, kontras dengan warna-warni kostum tokoh-tokohnnya.

Dengan latar belakang Jepang pada masa feodal dimana para warlord (semacam tuan tanah kali ya) berperang untuk memperluas kekuasaan, dongeng ini bermula dari kejayaan sebuah klan yang memiliki 3 kastil dan merupakan salah satu klan yang paling disegani; Ichimonji. Pemimpinnya yang sudah renta bernama Hidetora Ichimonji, merupakan lelaki berdarah dingin bergengsi tinggi.

Suatu hari, ketika sedang berburu dengan ketiga putranya dan dua pemimpin rekanan klan (Abeya dan Fujimaki), Hidetora bermimpi mengenai hal mengerikan dimana dia berada sendirian di sebuah tempat yang sepi. Dari mimpi itu, akhirnya dia membuat sebuah keputusan fatal yang akan mempengaruhi masa depan klannya.

Kemudian Hidetora mengumumkan bahwa dia ingin pensiun dari jabatanya dan hidup dalam kedamaian tanpa harus dipusingkan dengan urusan klan. Namun karena dasarnya dia tidak mau ada orang yang posisinya lebih tinggi melebihi dia dalam keluarga, dia tetap menjadi semacam Ibu suri (kalau dalam kerajaan sih kayaknya begitu) dengan julukan ‘Great Lord’, sedangkan pemimpin klan atau ‘Lord’ diserahkan pada anak tertua yaitu Taro. Taro akan menempati kastil yang paling prestise yaitu kastil pertama. Sedangkan anak kedua, Jiro, menempati/berkuasa di kastil kedua. Saburo si bungsu dikasih kastil ketiga. Baik Jiro maupun Saburo akan membantu Taro dalam mengurus dan mempertahankan kejayaan klan Ichimonji.

Keputusan yang sekilas tampak bijak. Bahkan Hidetora memberikan wejangan pada tiga anaknya, bahwa jika mereka bersatu maka mereka akan kuat. Seperti perumpamaan anak panah, jika satu batang maka mudah dipatahkan. Tapi jika tiga anak panah digenggam sekaligus, maka sulit dipatahkan.

Taro maupun Jiro memuji kebijakan ayahnya. Tapi Saburo, satu-satunya yang masih jomblo diantara mereka (halah), membantah wejangan ayahnya dengan mematahkan 3 anak panah sekaligus dengan kakinya. “Walaupun sudah bersatu, masih tetap bisa dipatahkan’, begitu kira-kira bantahan Saburo. Tentu saja Hidetora tidak bisa menerima bantahan anaknya. Dia menganggap Saburo selalu berkata dengan kasar dan menentangnya, padahal sebetulnya Saburo mengatakan kebenaran. Karena Saburo tetap menentang dengan lugas dan tegas, apalagi di depan para tamu, Hidetora kehilangan kesabaran dan mengusir Saburo dengan mengatakan bahwa mereka sudah tidak punya hubungan keluarga lagi. Tango, salah satu penasihat yang sangat loyal pada Hidetora pun berusaha membela Saburo, tapi malah ikut-ikutan diusir.

Fujimaki, pemimpin klan yang menyaksikan kejadian tersebut merasa kagum dengan karakter Saburo. Diapun akhirnya meminta Saburo untuk tinggal di kastilnya, bahkan tetap menikahkan putrinya dengan Saburo walau pria itu sudah bukan lagi bagian dari Ichimonji. Sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Saburo meminta Tango untuk mengawasi ayahnya dari jauh supaya dia bisa memastikan kalau ayahnya selalu baik-baik saja.

Setelah mewariskan kekuasaan, semua hal tidak sejalan dengan apa yang diharapkan Hidetora. Atas pengaruh Lady Kaede (istri Taro), Taro berkonfrontasi dengan ayahnya sebagai penguasa tertinggi di Ichimonji yang akhirnya membuat Hidetora hengkang dari kastil pertama. Dia pergi menemui Jiro di kastil kedua, tapi juga diusir oleh anaknya tersebut. Hidetora dan seluruh rombongan ksatria, prajurit loyal, permaisuri dan seluruh pelayannya terlunta-lunta. Sampai kemudian Taro dan Jiro bersekongkol membantai rombongan tersebut di depan mata Hidetora sendiri yang menyebabkan lelaki tersebut menjadi gila. Dia satu-satunya yang selamat dibiarkan pergi.

Ada satu tokoh penting dalam film ini, yaitu Kyoami. Dia adalah lelaki muda yang agak feminine yang telah berada di keluarga Ichimonji sejak kecil. Tugasnya adalah melawak (semacam stand up comedian) dan Hidetora sangat menyukai lawakannya. Kadang-kadang, lawakannya merupakan bahasa satir untuk mengekpresikan penentangannya pada berbagai hal atau menyindir para pejabat Ichimonji sendiri. Ketika menemani dan menjaga Hidetora dalam kegilaan, Kyoami selalu meladeni pembicaraan pria itu dan berkata ‘man is born crying. He cries, cries and then dies’. Dia juga bilang kalau kehidupan seperti roda yang posisinya bisa terbalik, dulu dia adalah the fool yang membuat tuannya tertawa, sekarang tuannya yang ‘fool’ dan dirinya yang tertawa. Salah satu perkataan Kyoami yang paling saya ingat ‘all men lost their way’.

Kurosawa membuat film ini agak mirip dengan King Lear-nya Shakespeare, tapi tentu dengan citarasa khas dia sendiri dan kultur jepang pada masa feodal.

Hubungan ayah anak, terutama antara Saburo dan Hidetora tidak didramatisir dengan berlebihan, tapi justru membuat saya begitu terharu. Misalnya waktu ayahnya tiba-tiba ketiduran saat menjamu tamu di alam terbuka, Saburo memangkas beberapa tumbuhan untuk ditancapkan di dekat ayahnya, agar kepala ayahnya terlindungi dari sinar matahari. So sweet banget kan. Tidak perlu drama ini itu, tapi satu adegan tanpa dialog ini saja sudah menjadi simbol bahwa sebetulnya Saburo sangat mencintai dan mengkhawatirkan keselamatan ayahnya. Saburo punya feeling kalau keputusan ayahnya adalah keputusan terbodoh sepanjang karirnya, dan memang betul, karena keputusan untuk menyerahkan kepemimpinan pada Taro telah menyebabkan musnahnya klan Ichimonji.

Hidetora sendiri seperti mendapatkan karma dari kekejamannya semasa dia memerintah. Karma itu datang dari Lady Kaede yang ternyata telah menyusun pembalasan dendam sejak dirinya melihat kastil beserta seluruh keluarga besarnya di musnahkan dan dia sendiri dipaksa menikah dengan Taro. Naiknya Taro menjadi pemimpin klan mempermudah jalannya untuk membalas dendam.

Mantan pemimpin klan Ichimonji yang dulu ditakuti, kemudian menjadi gelandangan gila. Dan dalam petualangannya menjadi orang gila, dia melihat dunia dalam perspektif berbeda, dan merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang telah dibantainya. Dia bertemu dengan Tsurumaru, salah satu survivor dari pembantaian di sebuah klan oleh dirinya. Tsurumaru tinggal sendiri di sebuah gubuk di tengah hutan dengan kedua mata buta. Dulu, Hidetora mencongkel kedua matanya saat bocah sebagai bayaran untuk nyawanya. Dia juga berjalan-jalan di reruntuhan kastil yang dulu dia musnahkan, lalu mendapat semacam pencerahan yang membuatnya ketakutan dan kesadaran tentang kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Dia bahkan selalu berlari ketakutan tiap ada orang yang menyebut nama Saburo.

Selain Kyoami, tokoh penting lainnya tentu adalah Lady Kaede yang disebut sebagai si iblis serigala dalam bentuk perempuan karena kekejamannya. Setelah menjadi janda karena kematian Taro (yang dibunuh oleh Jiro, adiknya sendiri), dia mendekati Jiro agar tetap menjadi perempuan nomor satu di kastil Ichimonji. Dia minta dinikahi oleh Jiro dengan syarat Lady Sue (istri Jiro) harus dibunuh. Dan sebetulnya, dia inilah salah satu penyebab runtuhnya klan Ichimonji dari dalam. Klan Ichimonji pun habis tak bersisa.

Film yang luar biasa dan mengesankan. Durasi yang lumayan panjang pun menjadi tak terasa saking asiknya. Skor 5/5 dari saya. Oya, selain Ran, saya rekomendasikan film-film Kurosawa lainnya seperti Seven Samurai, Kagemusha dan Ikiru. Satu lagi : Rashomon (tapi saya belum nonton yang ini). Film yang saya sebutkan itu keren semua lho.