Review Gado-Gado Superhero Tahun 2016 [Bag. 1] : Deadpool, BvS Dawn of Justice, Suicide Squad

Saya pribadi tidak pernah memiliki ekspektasi tinggi terhadap film-film superhero, walaupun hype sealaihim gambreng dll dll. Pokoknya kalau pas saya nonton tidak merasa bosan dan ketagihan, film superhero tersebut saya anggap keren blas. Dan anyway, saya jarang nonton film superhero, kecuali Batman. Sampai sekarang superhero idola saya tetap Batman. Tapi sekarang saya lebih suka nonton film superhero keroyokan (seperti Avengers. Mungkin juga Justice League tapi saya belum nonton JL), bukan stand alone/solo.

Beberapa film superhero (dan antihero/villain) di bawah ini baru saya tonton minggu sekarang. Yuk cekidot .

Deadpool [Tim Miller, 2016]

Kamu pernah nonton film superhero sambil mrenges/mesem/ketawa sekaligus sambil merasa ‘iuuh’ pas lihat adegan gore? Deadpool membuat saya seperti itu (saya tidak terlalu tahan dengan adegan gore) dan ini pertama kalinya saya lihat genre manusia super yang tokoh utamanya menebas semua lawan-lawan manusianya dengan ganas. Yah, sebetulnya Deadpool bukan superhero sih, lebih tepatnya antihero, karena dia sama sekali tidak bertindak demi keadilan atau kebaikan melainkan untuk kepentingan pribadinya sendiri (yaitu balas dendam). Prinsip hidupnya mirip Saito : aku-soku-zan, yang jahat langsung bunuh! (Maksudnya yang menjahati dirinya).

Ya untungnya dibalut humor jadi pembantaiannya terlihat tidak terlalu ekstrim. Jelas, ini ditujukan untuk orang dewasa. Dan visualnya kece, pertarungannya keren, plot ceritanya mudah dipahami dan rapi, serta tentu saja humornya yang ajib dan fresh membuat saya merekomendasikan film ini untuk kamu tonton jika kamu suka action-manusia-super yang berbeda dari biasanya.

Jadi ceritanya, Wade Wilson yang sangat ingin menghabiskan masa-masa bahagia dengan kekasihnya malah divonis penyakit yang membuatnya gak bisa hidup lama. Biar bisa sembuh, dia rela dijadikan bahan eksperimen mengerikan yang ternyata mengubahnya jadi Deadpool, dan terutama mengubah wajah tampannya, padahal dia sudah disiksa sedemikian rupa supaya bermutasi. Karena merasa tertipu, dia melakukan pembalasan dendam dan mencari orang yang sudah mengubah hidupnya tersebut. Eksperimen itu gak hanya mengubahnya jadi manusia super, tapi juga membuatnya punya selera humor yang gila. Ya mana ada kan manusia super naik taksi ke tempat tujuan, ketinggalan senjata, atau pantat kena tembak? Dan masih banyak lagi kegilaan lain.

Visual : check.

Koreografi pertempuran : check.

Plot cerita : check

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : hmmm, body check lah, tapi wajah gantengnya minus setelah dia berubah jadi Deadpool wkwkwk

Kesimpulan : keren, seru, recommended

Batman vs Superman : Dawn of Justice [Zack Snyder, 2016]

Sejujurnya saya bingung gimana menjelaskan cerita film ini. Terlalu banyak cerita ini-itu kesana kemari tapi tidak terangkai dengan baik jadi bikin saya bingung. Sedangkan untuk aspek-aspek lainnya tidak usah diragukan : visual effect maknyuss, score music asoy, pertarungan spektakuler ada, arena megah ada, plus tokoh villain yang spektakuler pula. Pokoknya kolosal banget.

Cuman feel klimaks yang sesuai judul itu gak dapet. Maksud saya gini, saya bayangkan kalau sebuah cerita berjudul ‘Asep vs Ujang’ itu isinya perselisihan dua cowok yang pasti disebabkan sesuatu. Misal ada momen besar dimana mereka berselisih, macam perbedaan pilihan di pilpres kemarin dimana kubu Jokowi vs Prabowo yang sengit sekali, lalu diperburuk dengan hoax sana sini yang makin panas, ditambah lagi ternyata mereka naksir cewek yang sama di kampung sebelah, dan akhirnya setelah perang dingin dilanjut dengan saling ejek dan berakhir dengan perang fisik. Ada semacam event-event yang makin meruncing dan membuat mereka makin panas, ditambah pihak ketiga yang merecoki hingga mereka memutuskan untuk berkelahi sebagai sesama cowok. Itu tentu alur cerita yang tidak terlalu sulit untuk dipahami. Dan keputusan berduel juga bisa dirasakan dengan jelas.

Kalau di Bvs? Sayang sekali tidak. Mungkin karena saya tidak mengikuti film-film sebelumnya, jadi merasa bingung dengan asal muasal konflik mereka, dan alasan dua pahlawan super ini mesti berduel brutal begitu rupa kok kayaknya gak kena. Atau karena saya nonton sambil sesekali diselingi pause karena harus melakukan ini itu di rumah. Tapi hal lain-lainnya oke banget jadi nikmati pertarungan puncaknya saja, badass!

Cerita generalnya sih sederhana, dua pahlawan super dari 2 kota bersebelahan lagi marahan yang diawali dengan adegan hancurnya gedung milik Bruce Wayne (Batman), lalu beberapa kejadian di Metropolis dimana beberapa penjahat diburu makhluk kelelawar dan diberi cap kelelawar. Di sisi lain Superman dituduh penyebab kehancuran di beberapa tempat. Lalu Lex Luthor membuat situasi makin runyam dan kedua pahlawan kita harus berduel.

Visual : check.

Koreografi pertempuran : check.

Plot cerita : bingung

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : absolutely yes wkwkwkwk. Namanya juga superhero, apalagi Superman dan Batman, baju ketatnya itu…ya sudahlah yaa gak usah dibahas wkwkwkwk

Kesimpulan : mayan, enjoyable

Suicide Squad [David Ayer, 2016]

Nah, kalau yang ini plotnya udah straight forward sih sebetulnya. Alurnya sangat-sangat mudah diikuti. Dia berusaha menyelingi dengan humor tapi ya kurang lucu sih, menurut saya. Kebalikan dari BvS di atas, yang saya sayangkan dari sini adalah visualisasi dan spesial efek yang biasa aja, pertempuran yang membosankan, gak ada adegan spektakuler dalam koreografinya, dan villain yang cuma kelas kacangan. Mestinya, karena semua tokoh utama ini adalah penjahat kelas kakap, mereka bertarung dengan badass dan ekstrim seperti Deadpool, atau brutal layaknya BvS. Dan mereka bertarung hidup-mati melawan musuh yang juga super duper kuat hingga pahlawan super macam Batman bakal keok. Tapi semua serba biasa aja dan nanggung. Padahal suasana sudah lebih ceria dan musik pengiringnya sudah oke.

Gak mau kalah sama yang lain, yang saya soroti terutama adalah Harley Quinn dan Joker. Yang laen kelaut aje dah haha *kidding. Harley Quinn sudah tampak gila dan seksi, oke banget lah. Dan Joker, wow, pokoknya wow deh. Walaupun saya jarang liat Joker di film, tapi setahu saya dari film kartunnya, Joker ini penjahat yang hanya mementingkan diri sendiri dan terobsesi hanya pada Batman. Tapi di sini Jokernya seksi, dan dia perhatian banget sama Harley Quinn. Beda banget Jokernya, tapi gak jelek sih, cuma beda. Dan it is fine.

Ceritanya, sebagai antisipasi terhadap kemunculan makhluk yang ingin menguasai kota setelah Superman tiada, Amanda Weller membentuk tim khusus rahasia yang terdiri dari para penjahat kelas megalodon yang sedang dikurung di penjara paling seram di Gotham. Baru aja dibentuk, tiba-tiba salah satu dari mereka berbuat ulah sehingga tim khusus tersebut harus diturunkan untuk membasminya. Tampak bakal spektakuler? Ah, tidak juga, karena sebenarnya lebih mirip penggerebekan tim SWAT di film-film teroris atau aksi pembasmi hantu dalam mengembalikan sang hantu ke dunia asalnya.

Visual : kurang

Koreografi pertempuran : meh

Plot cerita : check, tapi agak berantakan

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : karena ini gerombolan penjahat, jadi poin ini pengecualian. Kecuali untuk Joker.

Kesimpulan : mayan

Overall, film itu buat saya tetaplah soal selera. Sejak Guardian of The Galaxy dan Suicide Squad saya jadi bisa menikmati film manusia super. Akhir –akhir ini yang ditonton ya film macam begini terus =D

Advertisements

[Hikmah Nonton Snowpiercer] Hidup Adalah Konspirasi dan Permainan Tuhan

Minggu lalu saya nonton film Snowpiercer (Bong Jo0 Ho, 2013) dan mendapatkan sebuah pencerahan sehingga saya merenung tentang arti hidup ini *tsah*.

Sebelum memulai dongengnya, saya kasih hint dulu tentang sutradaranya. Bong Joon Ho sudah beberapa kali membuat film dan rata-rata sukses secara komersial serta mendapatkan review positif. Mari saya ingatkan: The Host, Memories of Murder, dan Mother merupakan beberapa film beliau. Ketiganya masih dibuat dalam skala lokal korea, dan dua diantaranya (Memories of Murder & Mother) sudah saya tonton. Kesimpulan saya; Pak Jong Ho ini demen menyelipkan gory ke dalam film-filmnya. Tapi tenang saja, gory-nya tidak membuat film beliau jadi terkesan murahan. Tapi memang pas sesuai dengan porsinya.

Nah Snowpiercer ini film skala Hollywood yang dibintangi oleh Chris Evans (si kapiten ameriki itu lho) dan Tilda Swinton (yang ini sih kece banget, I love her). Saya sempat mikir, emang Om Evans bisa maen film ginian setelah tampang dan body-nya mendominasi di kapiten ameriki series? Jawabannya, ya dia bisa! Aktingnya tidak bagus-bagus amat sih, tapi lumayan keren. Dia tampak berbeda sekali di sini.

Jadi film Snowpiercer ini soal apa?

Cerita dimulai dengan kondisi kehidupan umat manusia di masa depan yang sudah berubah drastis akibat sebuah zat kimia berbahaya yang mencemari bumi. Suhu bumi menjadi dingin ekstrim, membeku, dan tidak bisa ditinggali. Seluruh kehidupan musnah. Dan seperti biasa, ada survivor yang kemudian membangun kehidupan baru di dalam kereta super panjang.

Kereta?

Ya, kereta. Tapi ini bukan kereta biasa. Tentunya kereta super canggih yang belum ada di jaman kekinian. Tapi masih tetap ada masinisnya, yang tidak lain adalah pembuat kereta itu sendiri, seorang konglomerat ambisius.

Para penumpang kereta dibagi ke dalam kelas-kelas seperti saat ini; ada kelas ekonomi dan eksekutif. Mereka menempati gerbong terpisah. Kelas ekonomi tentu menempati gerbong paling belakang yang butut, berjejalan, dan awalnya tidak mendapatkan makanan. Lalu kebijakan penguasa kereta  berubah; penumpang kelas ekonomi/kelas bawah mendapatkan makanan sampah. Para penumpang ini tidak pernah tahu bagaimana kondisi kehidupan kelas eksekutif dan tidak bisa protes karena pada umumnya mereka merupakan penumpang gelap.

Dari ketimpangan kelas ini muncullah percikan perlawanan yang dipimpin oleh seorang kakek tua cacat (saudara si pemilik kereta yang konon dibuang karena membangkang) dan muridnya yang masih cukup muda. Semangat mereka terpompa dengan adanya pesan-pesan rahasia yang selalu diterima si murid, dan dia meyakini bahwa ada seseorang di belahan gerbong lain yang memberikan semacam kode agar mereka dapat membuat strategi perlawanan.

Mereka membangun kekuatan diam-diam, mempersiapkan segala sesuatu, dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemberontakan melawan tirani penguasa kereta, agar selanjutnya dapat mewujudkan cita-cita besar yaitu kesetaraan bagi semua penumpang kereta.

Tetapi sebuah revolusi besar harus dibayar dengan harga yang sangat besar pula; nyawa dan darah. Dan selama perjalanan panjang menuju gerbong utama (tempat masinis kereta), mereka mempelajari kondisi kehidupan tiap-tiap gerbong yang dilewati; ada ikan-ikan dalam akuarium raksasa, makanan punah, hewan-hewan lain, sekolah, kebun, dan lain sebagainya. Jumlah penumpang yang tewas dalam revolusi itu terus bertambah. Tapi perjuangan harus terus dilanjutkan sampai akhir.

Saya tidak bisa menebak akhir cerita sehingga harus duduk manis mengikuti tiap adegan dan dialog supaya bisa mengerti alurnya. Pada pertengahan cerita, hampir saja saya berhenti nonton gara-gara adegan pembantaian sadis yang cukup ngeri. Gory. Saya pikir, lah apa-apaan ini, kok ada adegan ginian segala kayak film slasher kelas B aja. Tapi setelah film berakhir, barulah saya bisa menerima adegan berdarah-darah itu. Sungguh akhir cerita yang bikin sesak, haha.

Secara keseluruhan, ini film keren. Saya suka. Ada beberapa hal yang masih dirasa aneh, tapi ya masih bisa ditolerir.

Hikmah yang bisa saya ambil dari film ini, well, saya baru bisa merangkum pola globalnya betul-betul ketika film berakhir. Cerita survive dari bencana global yang menyebabkan dunia kiamat menurut saya hanyalah background saja. Intinya ada dalam kehidupan di kereta itu.

Kereta itu seperti bumi dengan segala keterbatasan lahan dan sumber dayanya. Dalam ratusan tahun ke depan, jumlah manusia itu akan ada berapa banyak? Dengan seleksi alamiah saja, seperti kematian karena tua, sakit, bencana dll jumlah manusia masih saja banyak. Makanya harus ada kontrol supaya jumlah manusia tidak overload. Siapa yang mengontrol? Misal sebut saja Tuhan, atau penguasa antahberantah entahapalah. Dalam skala yang lebih bombastis, bagaimana kalau sebetulnya pada awal mulanya Tuhan mengutus manusia (yang mengklaim dirinya) menjadi Nabi/Rasul sebetulnya untuk menciptakan konflik pada manusia? Mereka mengkotakkan manusia-manusia.  Lalu penciptaan sistem kelas masyarakat, perebutan lahan dan sumber daya. Pecahlah perang. Konflik tiada henti sejak sejarah keberadaan manusia sampai sekarang. Bukan soal benar-salah atau baik-jahat, tapi demi keseimbangan kehidupan di dunia.

Ya mungkin saja mereka berkonspirasi untuk menciptakan keseimbangan itu.

Ya sudahlah, silakan nonton sendiri deh. Siapa tahu kamu mendapatkan pencerahan yang berbeda. Kalau sudah nonton, jangan lupa bagi-bagi hikmahnya yaaa.

Wallaahu’alam.

Rurouni Kenshin Live Action 1, 2, 3

“Peringatan : banyak spoiler, jadi bagi yang belum nonton sebaiknya tidak membaca.

Rating film : 18 tahun ke atas. Walaupun ada dialog cheesy yang terkesan cocoknya buat tontonan anak-anak, tapi dengan begitu banyak pertarungan dan darah, film ini saya kasih rating segitu”

Agak mengesalkan.

Begitulah kesan pertama saya setelah menonton ketiga film Rurouni Kenshin Live Action secara marathon beberapa waktu lalu. Tidak betul-betul jelek sih filmnya, tapi terlalu banyak perubahan cerita membuat saya jadi agak kecewa. Ya kalaupun film ini melenceng dari versi orinisilnya, sebenarnya itu tidak terlalu masalah asal bagus.

Rasa-rasanya sejak punya blog saya belum pernah membahas soal Rurouni Kenshin atau Samurai X ya? Padahal ini adalah anime/manga yang paling saya sukai bahkan masuk dalam ‘great manga of all time’ versi saya, hehe. Itu karena saya suka banget sama  serial Samurai X sejak remaja pada tayangan perdananya di sebuah stasiun tipi swasta. Bayangkan! Sudah lebih dari 15 tahun dan saya tetap suka sama cerita ini.

Banyak hal yang bisa diceritakan dari Rurouni Kenshin. Tapi kali ini saya akan mendongeng tentang film live action-nya saja dulu.

Dari film pertamanya, Rurouni Kenshin, ceritanya sudah mengalami beberapa perubahan yang sangat mendasar. Menurut saya sih itu wajar karena Rurouni Kenshin merupakan kisah berseri yang tentu banyak sekali karakter di dalamnya, sedangkan film lepas sendiri berdurasi kurang dari 2 jam. Penulis naskah pasti harus menguras otak untuk membuat film ini tidak terlalu melenceng dari cerita asli, tetap menampilkan karakter kunci tanpa kehilangan momen-momen bersejarahnya hanya dalam waktu singkat. Mungkin demi efektivitas waktu tersebut, maka beberapa cerita dibuat lain dari aslinya.

Saya sih oke-oke saja dengan perubahan cerita, misal Yahiko Myojin yang tiba-tiba sudah menetap di dojo Kamiyakasshin, Hajime Saito yang sudah muncul duluan sejak awal, dan Jine yang bersekutu dengan Kanryu Takeda padahal di kisah aslinya tidak begitu. Namun yang disayangkan adalah karakternya tidak digali secara maksimal. Bagi saya sebagai pencinta Rurouni Kenshin sejak lama, mungkin ini tidak terlalu mengganggu karena toh saya sudah sangat mengenal karakter-karakter tersebut, saya hanya senang banget bisa melihat mereka dalam cerita yang real. Tapi bagi orang yang pertama kali melihat atau baru tahu soal cerita Rurouni Kenshin, tentu mereka akan heran, lho siapa si tokoh ini yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba begini begitu?

Ketika membaca manganya, saya dikenalkan pada karakter-karakter keren. Mereka yang muncul di cerita memiliki latar belakang kehidupan dan masa lalu yang berbeda-beda. Misal, kenapa Kaoru Kamiya mati-matian membersihkan nama aliran kamiyakasshin, kenapa Sanosuke Sagara membenci pemerintahan Meiji dan bergabung dengan grup kenshin, kenapa Yahiko Myojin berada di dojo Kaoru, dan kenapa Megumi Takani memutuskan untuk menjadi dokter. Semua cerita terjalin dengan baik dan tiap tokoh memiliki ikatan/chemistry yang kuat sehingga membuat mereka jadi bersatu padu menjalin perkawanan.

Itulah yang gak ada di film live action-nya. Daripada menggali latar belakang karakter, sutradara malah membahas hal-hal yang tidak penting banget di filmnya. Saya juga kecewa karena aura permusuhan Kenshin dan Hajime Saito –yang merupakan musuh besar saat zaman bakufu dimana mereka berada di pihak yang berseberangan, tidak muncul di film ini. Pertarungan mereka juga hanya selewat saja. Slogan aku-soku-zan Saito juga sama sekali gak muncul di sini. Padahal itulah yang membuatnya keren bingit.

Nah, di film kedua, yaitu Kyoto Inferno, ternyata masih sama saja dengan film pertamanya. Tidak ada perkembangan karakter. Yang menonjol di sini cuma Makoto Sishio dan Misao Makimachi, saya suka akting mereka yang lumayan bagus dan bisa membawakan karakter aslinya dengan tidak terlalu jauh melenceng. Selebihnya, cuma tempelan aja terutama grup Juppongatana. Padahal mereka grup hebat yang di-hire buat menghancurkan Kyoto, tapi tak ada satupun karakter yang latar belakang hidupnya diceritakan. Saya berpikir, walaupun tidak diberikan porsi besar seperti di manga, seharusnya juppongatana ini tetap dikenalkan dengan motivasi bertarung masing-masing. Pertarungan Usui dan Saito yang menarik juga tidak ada. Padahal Usui itu selevel sama Sojiro Seta si jenius pedang. Tidak ada pertarungan mengharukan antara Sanosuke vs Anji dengan jurus futae no kiwami-nya.

Saya pengen banget bertanya sama si sutradara, itu kenapa Kyoto Inferno dan sequel-nya, Legend Ends melencengnya keterlaluan? Ada drama penculikan Kaoru ke kapal, pertemuan Ito Shibumi dengan Sishio sampai pertarungan final di kapal Sishio, itu sama sekali tidak ada di cerita aslinya. Bukannya menarik, menurut saya ini malah buang-buang waktu saja, sedangkan hal penting lainnya tidak digali. Padahal yang terpenting itu kan sebetulnya bukan menyuguhkan kejutan pada penonton karena ceritanya yang tiba-tiba berbeda, karena toh semua juga sudah tahu cerita Samurai X itu gimana. Padahal pertarungan akhir bisa mengikuti pakem cerita aslinya, sisa waktu bisa digunakan untuk menceritakan soal masa lalu Sojiro misalnya, kenapa dia begitu taklid pada Sishio.

Masa lalu Sojiro dan Sanosuke menurut saya penting sekali digali karena bisa sangat relevan dengan realitas kekinian. Sanosuke yang demen rusuh karena membenci sistem kekuasaan pada saat itu tapi punya harapan yang positif tentang masa depan Jepang, dan Sojiro yang polos termakan dogma Sishio. Sayangnya itu tidak dibahas! Sungguh saya kesal sekali, haha.

Yang paling parah dari ketiganya memang Legend Ends sih (film ketiga), sampe perlu ada drama hukuman mati buat Kenshin segala. Dan di atas semua itu, ketiga film ini betul-betul tidak memperlihatkan adegan simpel Kenshin saat pulang bertarung yang merupakan simbol dari perkembangan mental pengembaranya, yaitu saat Kaoru mengatakan ‘selamat datang kembali” dan Kenshin menjawab ‘aku pulang’. Aaaaak, padahal saya suka sekali momen ini.

Tapi over all, sebagai pencinta serial Rurouni Kenshin saya tetap menonton marathon dari awal dan mengoleksinya –setelah mengoleksi manga serta serial animasinya. Yang menyenangkan di film ini adalah adegan pertarungan atau koreografi maen pedangnya yang cihuy banget. Cepat dan keren! Adegan pertarungan di semua film tidak mengecewakan, serba cepat dan mengesankan. Terutama Kenshin vs Sojiro Seta. Menurut saya ini lebih bagus dari film-film action Hollywood yang pernah saya tonton. Tidak ada CGI dan konon Takeru Satoh, pemeran Kenshin, bermain tanpa pemeran pengganti. Keren deh. Udah ganteng, keren pula *eh*

Bagi kalian pencinta serial Samurai X, film ini masih layak tonton tentunya. Mungkin sutradara ingin membuat filmnya serealistis mungkin jadi dibuat banyak perubahan. Tapi ya itu tadi, beberapa adegan melenceng jauh serta karakter yang hanya tempelan belaka menjadikan film ini jadi agak hambar. Sedangkan bagi yang tidak mengenal Samurai X, bolehlah ini ditonton sambil makan popcorn sebagai hiburan di akhir pekan.

Berhemat dengan DIY fashion (tapi masih 80%)

Ya DIY-nya (do it yourself) kira-kira sekitar 80%, sisa 20% masih dikerjakan oleh orang lain 😀

Awal mulanya, saya pengen punya banyak kaos dalam satu waktu berhubung sekarang lebih nyaman gaya kasual di tempat kerja (disesuaikan dengan lingkungan, lebih tepatnya). Koleksi kaos saya sedikit sekali, jadi saya ingin punya kaos banyak sekaligus, kaosnya bagus (nyaman, adem, dan enak dipakai), tapi MURAH! Untuk mendapatkan kaos yang bagus, harga kaos di pasaran lumayan juga. Apalagi kaos printing/sablon.

Nah, setelah setahun kerja di pabrik kaos saya jadi punya segudang ide untuk membuat sendiri model-model kaos polos (karena kalau kaos sablon ya biayanya nambah lagi). Lagian sekarang sedang trend kaos polos tuh 😀 . Dengan bikin kaos polos sendiri, biaya untuk mendapatkan kaos bisa ditekan jauuuh lebih murah bahkan lebih dari 100%. Syaratnya cuma 1 : jangan malas untuk menggunakan tangan sendiri dan membeli sendiri bahan-bahan untuk membuat kaosnya.

Membuat kaos sendiri itu gampang banget kok. Apalagi model T-Shirt. Itu sudah style dasar banget, jadi kita gak perlu pusing-pusing menentukan bentuk kaosnya. Tapi kalau mau eksperimen model kaos macem-macem ya lebih bagus, sekalian belajar hal baru dan siapa tau kelak jadi perancang busana kelas internasional 😀

Kalau kamu sudah siap bikin kaos sendiri, mari kita menc oba bikin kaos dengan bentuk yang paling sederhana dulu yaitu T-shirt standar. Berikut ini langkah-langkah dan bahan yang harus kamu siapkan :

  1. Siapkan bahan kaos . Seperti yang pernah saya bahas di sini nih, pilih kaos katun. Bisa cotton combed 30s, 40s, cotton bamboo, atau lacoste katun, atau kaos-kaos katun lainnya yang berkualitas tinggi. Harganya gak terlalu mahal kok. Satuan harganya perkilo, dan untuk satu kaos, kamu cuma butuh kira-kira 0.2 kg kurang. Beli 1 meter sudah bisa buat kurang lebih 2 kaos untuk ukuran S atau M. Harga kaos katun ada di kisaran 91.500 – 104.000/kg di Tasikmalaya. Di Bandung, harga kaos lebih murah sih. Sekalian beli rib-nya. Kain rib ini untuk di bagian leher. Tapi gak pakai rib juga gak apa-apa sih. Ribnya paling butuh cuma 5cm, itu bisa buat 3 atau 4 kaos.
  2. Gunting kain (yang tajam ya, jangan yang mintul, biar gampang guntingnya)
  3. Meteran (buat ukur-ukur badan atau ngukur baju yang akan ditiru)
  4. Kapur kain
  5. Kertas atau karton untuk membuat pola
  6. Kalau kamu malas mengukur badan sendiri dan masih bingung dengan pola kaos, siapkan kaos kamu yang paling pas di badan. Itu bisa jadi standar ukuran kaos yang akan dibuat nanti

Ketika bahan-bahan sudah siap, sekarang kita mulai bikin kaosnya :

  1. Siapkan dulu pola kaosnya. Gak usah bingung, di google banyak sekali pola/pattern kaos standar yang bisa kamu tiru, print dan bikin skala besarnya sesuai ukuran badan kamu. Atau minimal liat dulu contoh-contoh pola di google, lalu jiplak bentuk kaos kamu yang sudah ada di atas kertas/karton. Pola harus dilebihkan 2cm dari ukuran asli badan untuk kebutuhan lipatan jahit dan pengobrasan.
  2. Enter a caption
  3. Bentangkan kain di atas lantai atau meja yang datar. Taruh pola yang sudah jadi di atas kain kaos, lalu jiplak pola dengan menggunakan kapur kain. Kapur ini aman dan bisa hilang saat dicuci.
  4. Guntinglah kain kaos sesuai pola yang sudah digambar.
  5. Obraslah tiap tepi kain kaos
  6. Jahit sampai selesai

Untuk bagian jahit dan obrasnya ini yang saya bilang di atas merupakan 20%nya tidak bisa saya kerjakan sendiri. Alasannya karena saya gak punya mesin obras dan mesin jahit, jadi terpaksa obras dan jahit diserahkan ke tukang jahit. Memang bisa jahit manual pakai benang dan jarum di rumah, tapi lebih lama dan kurang rapi hasilnya. Kurang kuat pula. Tapi tenang, jahit kaos di penjahit rumahan di sini sekitar 10ribu doing, di tukang jahit borongan bisa seharga 3ribuan aja dan rapi hasilnya.

See? Dengan model dan ukuran sesuka hati, warna bisa dikombinasikan sesuka hati pula, kaos polos berbahan bagus banget bisa didapat seharga kurang dari 50ribu lho. Bahkan saya hitung-hitung kemarin bikin long T-shirt misty cuma sekitar 38ribuan aja totalnya. Bahannya udah bagus banget. Kalau beli, kaos harga segitu paling dapat spandek atau PE walau ada sablonnya. Tapi bahan spandek kualitas jelek dan PE itu panas dan berbulu, gak nyaman dipakai.

Mau mencoba? Selamat berkarya!

Note : gambar dicomot dari google. Saya gak sempat foto-foto.

ketika kamu kehilangan rasa takut pada tuhan, dosa, dan neraka

Saya sedang agak kesepian, sebetulnya, jadi saya menulis beginian. Setelah hampir setahun berada di kampung, beradaptasi dan bergaul dengan orang-orang baru sepaket dengan pemikiran-pemikirannya, tiba-tiba saya kangen ngobrol hal apapun tanpa batasan dan tanpa takut dihakimi. Di kampung sini, tentu hal itu tidak bisa dilakukan. Sama sekali tidak bisa. Ya bukannya saya tak pernah mencoba sih. Saya sudah mencoba, sekali, dan hasilnya adalah bahwasanya saya seperti sebentuk alien yang perlu dirukyah, yang otaknya sengklek, aneh, berbahaya, dan makhluk uyuhan yang disesatkan setan.

Tapi ya sudahlah. Tiap pasar memang punya segmen tertentu. Kita tak bisa memaksakan sesuatu yang tidak lazim di pasar konvensional. Untuk bisa hidup selalu hepi dan sehat di manapun, adaptasi dan penyesuaian topik adalah pilihan terbaik.

Tapi ya itu, saya kangen ngobrol dengan beberapa kawan, seperti dulu waktu di Bandung. Mengobrol ngalor ngidul tentang apapun, dan bahkan persoalan ‘apakah tuhan itu betulan ada?’ dan hal tabu lainnya tanpa ada penghakiman. Selama di kampung, saya tidak pernah lagi membahas berbagai hal yang berkecamuk di otak. Rasanya kok sepi ya lama-lama, haha.

Nah, jadi saya menulis saja.

Eh tadi saya mau nulis apa ya? Kok jadi lupa. Kebanyakan intro nih, haha.

Jadi, saya teringat pada sebuah pertanyaan yang ingin saya ajukan pada kalian “apakah kalian pernah tiba-tiba merasa kehilangan hal yang awalnya sangat prinsipil dari dalam otak? Tepatnya, kehilangan rasa takut terhadap tuhan, terhadap dosa, dan juga terhadap ancaman neraka?”

Saya tidak begitu ingat detail awalnya ketika saya merasakan hal tersebut, beberapa tahun lalu. Saya akhirnya tidak terlalu peduli pada pemikiran ‘apakah tuhan itu ada’ atau ‘apakah saya melakukan dosa’ atau ‘apakah saya akan dilempar ke dalam api neraka atau surga’. Saya tidak lagi memikirkannya. Dan saya tidak lagi menjadikan hal tersebut sebagai acuan dalam mengambil keputusan atau untuk memilih/menentukan sikap hidup.

Ide-ide relijius yang begitu kental sudah ditanamkan (saya menyebut di-tanam-kan karena saya tidak memilih sendiri untuk menelan ide tersebut) di otak sejak kecil. Seluruh perilaku saya pun dipengaruhi oleh ide sakral itu, sebagai satu-satunya pedoman dalam menjalani hidup. Satu saja alasannya : karena ide itu satu-satunya ide baik di dunia. Ya, sebutlah itu agama.

Agama adalah kontrol dan pengaturan untuk saya dalam bersikap; dan juga ide-ide soal tuhan beserta paket gaib lainnya. Jadilah kamu manusia yang baik menurut agama dan manusia, supaya tuhan sayang dan memberimu imbalan surga selama-lamanya. Dan janganlah kamu berbuat jahat (dosa) menurut agama dan manusia, supaya tuhan tidak marah dan menghukummu dengan siksaan neraka yang sakitnya tanpa akhir. Menelan ide dengan penuh ketakutan, supaya bisa berbuat baik.

Apa yang terjadi kemudian adalah saya sering menyalahkan diri sendiri, melabeli dan menghakimi diri sendiri ketika melakukan suatu hal yang saya anggap dosa (kesalahan). Kecewa terhadap diri sendiri, penyesalan yang berlebihan, dan jijik terhadap perbuatan sendiri, dan secara psikologis menurut saya ini tidaklah sehat.

Saya juga menutup diri untuk belajar hal-hal baru, apalagi yang tidak sesuai dengan ide agama. Karena hal-hal asing itu berbahaya bagi keyakinan (atau iman).

Lalu, setelah saya mulai mencoba memberanikan diri untuk membuka otak pada hal-hal baru yang berbahaya itu, ide-ide relijius itu mulai terkikis. Ada banyak kegelisahan dan pertanyaan yang muncul. Dulu saya merasa sangat terganggu, tapi kemudian saya menikmatinya dan sekarang sih sudah tidak peduli lagi. Ide-ide apapun yang muncul, saya sudah masa bodo.

Saya tak bisa hanya melihat dunia dari sudut pandang saya saja. Kebaikan, keburukan, bisa menjadi sangat relative. Selama apa yang kamu pilih tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, maka sah-sah saja dilakukan. Dalam hal ide-ide relijius, itu bisa menjadi sakral bagi sebagian orang, tapi tidak bagi yang lainnya.

Rasanya ada sebuah kebebasan saat saya memikirkan hal tersebut. Tuhan katanya maha baik, dia harusnya bisa mengijinkan manusia untuk berpikir apa saja. Dan tuhan juga maha penyayang. Hanya itu saja yang saya yakini. Dan keyakinan semacam apapun itu, tidak bisa dipaksakan pada orang lain.

Saya memandang dosa seperti sikap-sikap yang merugikan orang lain. Jadi jika apa yang saya pilih tidak beresiko merugikan orang lain atau diri sendiri, saya merasa tidak melakukan dosa, jadi saya tak perlu menyesal-meratap dan marah pada diri sendiri kan?

Saya tak tahu apakah neraka atau surga itu benar-benar ada. Dan saya tidak peduli lagi dengan keberadaannya. Berbuat baik, ya berbuat baik saja. Banyak orang-orang baik berkualitas tanpa dilatar belakangi gagasan-gagasan relijius. Dan juga sebaliknya, orang yang tampak begitu penuh dengan doktrin reliji sedari kecil malah jadi koruptor atau pedofilia. Jadi semua manusia ya sama saja.

Yang mau menjalankan gagasan agamanya, silakan, karena banyak hal baik juga di dalamnya. Asal tidak dipaksakan kepada orang lain untuk meyakini hal yang sama. Yang tanpa embel-embel tuhan, agama, dll juga silakan. Toh kalian semua bisa menjadi manusia berpotensi dan berakhlak mulia dengan latar belakang ideologi apapun.

Ya sudah. Semua sudah dikeluarkan. Sampai ketemu di tulisan kesepian berikutnya, ya :mrgreen: