[Hikmah Nonton Snowpiercer] Hidup Adalah Konspirasi dan Permainan Tuhan

Minggu lalu saya nonton film Snowpiercer (Bong Jo0 Ho, 2013) dan mendapatkan sebuah pencerahan sehingga saya merenung tentang arti hidup ini *tsah*.

Sebelum memulai dongengnya, saya kasih hint dulu tentang sutradaranya. Bong Joon Ho sudah beberapa kali membuat film dan rata-rata sukses secara komersial serta mendapatkan review positif. Mari saya ingatkan: The Host, Memories of Murder, dan Mother merupakan beberapa film beliau. Ketiganya masih dibuat dalam skala lokal korea, dan dua diantaranya (Memories of Murder & Mother) sudah saya tonton. Kesimpulan saya; Pak Jong Ho ini demen menyelipkan gory ke dalam film-filmnya. Tapi tenang saja, gory-nya tidak membuat film beliau jadi terkesan murahan. Tapi memang pas sesuai dengan porsinya.

Nah Snowpiercer ini film skala Hollywood yang dibintangi oleh Chris Evans (si kapiten ameriki itu lho) dan Tilda Swinton (yang ini sih kece banget, I love her). Saya sempat mikir, emang Om Evans bisa maen film ginian setelah tampang dan body-nya mendominasi di kapiten ameriki series? Jawabannya, ya dia bisa! Aktingnya tidak bagus-bagus amat sih, tapi lumayan keren. Dia tampak berbeda sekali di sini.

Jadi film Snowpiercer ini soal apa?

Cerita dimulai dengan kondisi kehidupan umat manusia di masa depan yang sudah berubah drastis akibat sebuah zat kimia berbahaya yang mencemari bumi. Suhu bumi menjadi dingin ekstrim, membeku, dan tidak bisa ditinggali. Seluruh kehidupan musnah. Dan seperti biasa, ada survivor yang kemudian membangun kehidupan baru di dalam kereta super panjang.

Kereta?

Ya, kereta. Tapi ini bukan kereta biasa. Tentunya kereta super canggih yang belum ada di jaman kekinian. Tapi masih tetap ada masinisnya, yang tidak lain adalah pembuat kereta itu sendiri, seorang konglomerat ambisius.

Para penumpang kereta dibagi ke dalam kelas-kelas seperti saat ini; ada kelas ekonomi dan eksekutif. Mereka menempati gerbong terpisah. Kelas ekonomi tentu menempati gerbong paling belakang yang butut, berjejalan, dan awalnya tidak mendapatkan makanan. Lalu kebijakan penguasa kereta  berubah; penumpang kelas ekonomi/kelas bawah mendapatkan makanan sampah. Para penumpang ini tidak pernah tahu bagaimana kondisi kehidupan kelas eksekutif dan tidak bisa protes karena pada umumnya mereka merupakan penumpang gelap.

Dari ketimpangan kelas ini muncullah percikan perlawanan yang dipimpin oleh seorang kakek tua cacat (saudara si pemilik kereta yang konon dibuang karena membangkang) dan muridnya yang masih cukup muda. Semangat mereka terpompa dengan adanya pesan-pesan rahasia yang selalu diterima si murid, dan dia meyakini bahwa ada seseorang di belahan gerbong lain yang memberikan semacam kode agar mereka dapat membuat strategi perlawanan.

Mereka membangun kekuatan diam-diam, mempersiapkan segala sesuatu, dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemberontakan melawan tirani penguasa kereta, agar selanjutnya dapat mewujudkan cita-cita besar yaitu kesetaraan bagi semua penumpang kereta.

Tetapi sebuah revolusi besar harus dibayar dengan harga yang sangat besar pula; nyawa dan darah. Dan selama perjalanan panjang menuju gerbong utama (tempat masinis kereta), mereka mempelajari kondisi kehidupan tiap-tiap gerbong yang dilewati; ada ikan-ikan dalam akuarium raksasa, makanan punah, hewan-hewan lain, sekolah, kebun, dan lain sebagainya. Jumlah penumpang yang tewas dalam revolusi itu terus bertambah. Tapi perjuangan harus terus dilanjutkan sampai akhir.

Saya tidak bisa menebak akhir cerita sehingga harus duduk manis mengikuti tiap adegan dan dialog supaya bisa mengerti alurnya. Pada pertengahan cerita, hampir saja saya berhenti nonton gara-gara adegan pembantaian sadis yang cukup ngeri. Gory. Saya pikir, lah apa-apaan ini, kok ada adegan ginian segala kayak film slasher kelas B aja. Tapi setelah film berakhir, barulah saya bisa menerima adegan berdarah-darah itu. Sungguh akhir cerita yang bikin sesak, haha.

Secara keseluruhan, ini film keren. Saya suka. Ada beberapa hal yang masih dirasa aneh, tapi ya masih bisa ditolerir.

Hikmah yang bisa saya ambil dari film ini, well, saya baru bisa merangkum pola globalnya betul-betul ketika film berakhir. Cerita survive dari bencana global yang menyebabkan dunia kiamat menurut saya hanyalah background saja. Intinya ada dalam kehidupan di kereta itu.

Kereta itu seperti bumi dengan segala keterbatasan lahan dan sumber dayanya. Dalam ratusan tahun ke depan, jumlah manusia itu akan ada berapa banyak? Dengan seleksi alamiah saja, seperti kematian karena tua, sakit, bencana dll jumlah manusia masih saja banyak. Makanya harus ada kontrol supaya jumlah manusia tidak overload. Siapa yang mengontrol? Misal sebut saja Tuhan, atau penguasa antahberantah entahapalah. Dalam skala yang lebih bombastis, bagaimana kalau sebetulnya pada awal mulanya Tuhan mengutus manusia (yang mengklaim dirinya) menjadi Nabi/Rasul sebetulnya untuk menciptakan konflik pada manusia? Mereka mengkotakkan manusia-manusia.  Lalu penciptaan sistem kelas masyarakat, perebutan lahan dan sumber daya. Pecahlah perang. Konflik tiada henti sejak sejarah keberadaan manusia sampai sekarang. Bukan soal benar-salah atau baik-jahat, tapi demi keseimbangan kehidupan di dunia.

Ya mungkin saja mereka berkonspirasi untuk menciptakan keseimbangan itu.

Ya sudahlah, silakan nonton sendiri deh. Siapa tahu kamu mendapatkan pencerahan yang berbeda. Kalau sudah nonton, jangan lupa bagi-bagi hikmahnya yaaa.

Wallaahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s