Tips (Klise) Mencegah Keputihan Secara Alami Yang Pasti Sudah Kamu Ketahui

Judul dan temanya emang klise banget, dan pasti udah pernah dibahas milyaran kali di mana-mana 😀 . Makanya ituu, saya cuma hendak mengingatkan saja.

Soal apa itu keputihan kalian pasti udah pada tahu ya kan…atau bisa baca-baca lagi di sini nih. Keputihan itu adalah cairan kental berwarna putih susu yang keluar dari alat kelamin perempuan. Kenapa dinamakan ke-putih-an? Entah ya gimana sejarahnya, tapi mungkin karena warnanya putih, jadi disebut keputihan. Kalau warnanya bening mungkin jadi kebeningan, kuning jadi kekuningan dan hitam jadi kehitaman ya? Hehe.

Menurut saya, keputihan itu pada dasarnya bukan penyakit. Sifat alamiahnya alat kelamin perempuan memang begitu, adanya cairan yang keluar pada saat tertentu. Laki-laki juga sama kan? Keputihan jadi menganggu jika berubah menjadi abnormal yaitu disertai gatal atau bau tidak sedap sehingga harus diminimalisir. Sama lah kayak bau badan yang berasal dari ketek, bisa menimbulkan rasa kurang nyaman, apalagi bau ketek mah bisa bikin orang lain juga jadi gak nyaman. Bau badan atau ketek seringnya disebabkan karena adanya kuman atau bakteri. Si kuman/bakteri itu muncul karena kurang menjaga kebersihan tubuh. Naaah, alat kelamin juga sama begitu.

Pada umumnya, cairan kental putih susu tersebut sering keluar pada saat perubahan hormon menjelang atau pasca menstruasi, stress dan kecapean, kurang minum atau kurang istirahat, tidak menjaga kebersihan badan. Dari situ aja sudah jelas keliatan kalau keluarnya cairan tersebut adalah normal kan? Selama warnanya putih susu, bisa dipastikan itu masih normal. Solusinya juga sebetulnya gak usah heboh-heboh amat. Penyebabnya juga sudah sangat familier, jadi pencegahan atau cara mengatasinya juga gak ribet-ribet amat kok, selama masih cairan normal.

Pertama-tama, ada sedikit pola pikir yang harus diubah. Adanya cairan itu bukanlah hal buruk. Sebetulnya keputihan atau cairan lain yang keluar ini menandakan kamu masih sehat. Karena alat kelamin yang sehat itu kan justru harus basah. Kalau kering kerontang gak pernah keluar cairan, bakal susah untuk dipakai, iya kan?

Nah, sesudah meredam kehebohan soal keputihan ini, barulah kamu lakukan langkah-langkah supaya cairan yang keluar dari alat kelamin itu selalu merupakan cairan yang normal. Apa aja tips (klise) nya dong? Yaaa….saya kasih dikit pencerahannya nih 😎 :

Tips-nya sebetulnya cuma satu : rajin bersihin alat kelamin dengan air biasa, gak usah pakai sabun-sabunan atau cairan-cairan kimiawi apalagi yang mengandung SIRIH. Sebaiknya hindari itu sirih. Bersihinnya yang menyeluruh dengan baik dan benar, jangan asal basuh kayak cebok biasa.

Cuma gitu aja? Haha iyaa. Paling ada tambahannya dikit :

  1. Mandi sehari minimal 2 kali. Tiap mandi, mandiin juga alat kelamin, terutama pas sore atau menjelang tidur. Gak usah pakai alat bantu lain dalam mencuci alat kelamin, cukup air bening biasa yang dipakai mandi aja. Atau bisa pakai air hangat. Gak usah juga minum jejamuan atau obat-obatan yang konon berkhasiat pada pencegahan keputihan. Bersihkan aja alat kelaminnya, keputihan akan terkontrol dengan sehat dan alat kelamin tetap normal dengan kebasahannya.
  2. Biasanya, cairan kental putih susu menumpuk di area sudut atas alat kelamin dekat ke bagian klitoris, jadi bersihkan dengan menyeluruh. Setelah bersih, dipastikan tidak akan ada lagi bau-bau aneh dari area alat kelamin perempuan.
  3. Ganti celana dalam tiap hari minimal 2 kali. Celana dalam yang basah atau lembab jangan dipakai, jadi pastikan CD dalam keadaan kering terus. Makanya tiap habis cebok, keringkan sekitar alat kelamin luar memakai tisu bersih.
  4. Saat di rumah sebaiknya minimalisir pakai daleman, terutama pas tidur. Kulit di area tertutup juga harus beristirahat, jangan ditutup terus pakai kain-kain ketat. Baju tidur sebaiknya longgar atau pakai sarung sekalian kalau ada.
  5. Jangan sering stress atau galau kelamaan. Hepi-hepi aja
  6. Jaga pola makan, jangan makan yang aneh-aneh. Makan yang sehat dan alami-alami aja. Dan pastikan minum dengan cukup tiap harinya.
  7. Olahraga dan tidur dengan cukup.
  8. Sekali-kali periksalah/lihat alat kelamin sendiri secara langsung untuk memastikan everything is okay, under control gitu.

Lalu setelah melakukan tips itu, si keputihan ini bakal ilang gak nih? Ya engga hilang total lah. Karena cairan putih susu akan tetap keluar pada saat menjelang atau pasca menstruasi itu tadi. Itu sih udah alamiah jadi gak perlu kuatir. Yang penting kadarnya wajar dan hanya keluar sedikit di saat perubahan hormon aja. Tingkatkan lagi semangat bersih-bersih badannya, nanti itu si keputihan bakal ilang dengan sendirinya setelah semua fase menstruasinya selesai.

Selamat mencoba tips ini. Sekian dan terima angpao *pasang kotak amal* :mrgreen:

Advertisements

Menua Dengan Sehat

Sampai usia 80 tahun, bapak tetap sehat seperti biasa. Bahkan pada waktu-waktu menjelang kepergiannya, Bapak tak pernah merepotkan siapapun. Saya selalu bersyukur karena Bapak senantiasa sehat dan kuat di usianya itu, karena pada umumnya orang-orang yang sudah berusia lebih dari 70 tahun akan mengalami penurunan kualitas fisik yang makin parah.

Fisik manusia memang sudah sejatinya aus dan kadaluarsa bersama berlalunya waktu. Kulit yang kencang dan mulus akan berubah, wajah jelita dan tampan akan berubah keriput, segala keperkasaan dan kegesitan masa muda akan hilang, begitu juga dengan kondisi isi otak. Walaupun fisik bisa dipermak sama operasi plastik, tapi sampai kapan sih kemudaan artifisial begitu akan bertahan?

Penurunan fisik apa saja yang biasa terjadi pada orang tua?

1. Penurunan daya ingat

Dalam level yang sangat parah, akan terjadi kepikunan. Biasanya orang tua akan menjadi cepat lupa dan mengulang perkataannya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Lupa menaruh barang atau mengingat hal-hal lainnya. Bahkan ada juga yang lupa letak kamar mandi atau rute kendaraan umum.

2. Kulit semakin keriput, garis urat terlihat jelas, muncul bintik hitam

Perubahan kondisi kulit ini terjadi misalnya di tangan dan kaki.

3. Punggung makin membungkuk

Semakin membungkuk sehingga harus memakai tongkat atau dipapah.

4. Pergerakan dalam aktivitas sehari-hari makin lambat

5. Mudah capek atau sesak nafas

6. Penglihatan makin berkurang

7. Pendengaran makin berkurang

8. Banyak juga yang terkena stroke, bahkan ketika usia muda

9. Berubah seperti anak kecil lagi

Misalnya penasaran dan memaksa mencoba makanan-makanan baru yang terlihat enak, padahal sudah diingatkan kalau makanan tersebut tidak sehat. Atau kencing/buang air besar bukan pada tempatnya.

Jika fisik orang tua sudah sedemikian lemah dan masih panjang usia, tentu dia tidak akan mampu hidup sendiri dan akan bergantung pada bantuan orang lain. Pada saat inilah peran keturunan-keturuan orang tua akan sangat dibutuhkan. Kalau misalnya anak-anaknya tidak bersedia mengurus, biasanya mereka menyewa suster khusus atau dimasukkan ke panti jompo.

Bapak saya mengalami beberapa penurunan fisik seperti yang saya sebutkan di atas. Tapi Bapak senantiasa terlihat sehat dan masih mampu melakukan segala kebutuhannya sendiri. Bapak hanya sensitif terhadap makanan pedas dan debu tebal karena memang memiliki alergi, lalu mengalami penurunan daya ingat, perubahan bentuk kulit, pendengaran berkurang, penglihatan berkurang, dan mudah capek. Selebihnya, beliau selalu bersemangat beraktivitas sehari-hari. Padahal para orang tua yang lebih muda dari Bapak sudah banyak yang kesulitan bergerak dan tampak sangat tua.

Lalu kenapa Bapak bisa tampak sehat terus? Saya hanya ingat sedikit sih. Jika dilihat dari riwayat masa kecil beliau, sama seperti anak-anak jaman dulu, Bapak juga pekerja keras dan banyak melakukan kegiatan yang berat seperti memanggul kayu bakar dan beras. Tapi setelah menjadi guru, beliau memang tidak pernah bekerja kasar lagi. Hampir lebih dari separuh hidupnya didedikasikan menjadi guru SD.

Sedikit yang saya ingat dari kebiasaan Bapak di rumah, sampai beliau tua tetap rutin dilakukan adalah :

1. Selalu berolahraga

Sewaktu masih muda, Bapak berolahraga macam-macam. Tapi setelah menua, Bapak biasanya hanya jalan kaki saja setiap pagi keliling kampung. Saya sering menemaninya jalan pagi.

2. Tidak pernah merokok

Sewaktu muda Bapak perokok yang cukup berat, tapi total berhenti sekaligus setelah sakit.

3. Mengkonsumsi makanan alami

Bapak jarang sekali makan makanan fast food atau junk food karena memang beliau tidak mengenalnya. Di manapun bapak berada, gaya makannya tak pernah berubah, selalu khas sunda dengan lalap dan lauk pauk seadanya.

4. Tetap melakukan kegiatan yang dapat mengasah otak sampai tua

Walaupun sudah tidak mengajar dan pensiun total, bapak selalu bilang kalau rasanya tidak enak ketika otaknya diam saja. Makanya beliau mencari kegiatan apapun yang bisa membuat beliau berpikir atau terlibat dalam berbagai macam aktivitas. Misalnya Bapak masih dipercaya untuk jadi ketua RT, komite sekolah, panitia arisan, dll.

5. Berpositif thinking dan tidak suka berkonflik saat semakin tua

Beliau seringnya berpikir positif kepada orang lain, cara berpikirnya sederhana, dan easy going. Bapak tak pernah absen dalam kegiatan di RT/RW, membantu tetangga saat hajatan atau renovasi rumah, tak pernah pilih-pilih orang dan bersikap netral kepada siapapun. Bapak tak pernah bergosip dan sepertinya tak pernah ambil pusing kalaupun ada orang yang suka atau tidak kepada dirinya.

6. Menjaga kebersihan dan tidak banyak terkena polusi udara

Bapak selalu menjaga kebersihan tubuhnya, dan selalu rapi jika bepergian keluar rumah. Dan karena sebagian besar hidupnya beliau berada di pedesaan, asupan polusi, radikal bebas, dan polusi jahat lainnya tidak banyak masuk ke dalam tubuh.

Mungkin itu sedikit rahasia sehatnya Bapak. Saya tetap suka pada beliau pada saat beliau muda (saya pernah lihat foto beliau sewaktu menikah) ataupun saat sudah sangat sepuh seperti tahun kemarin. Alangkah senangnya andai kita panjang usia tapi tetap dalam keadaan sehat. Saya sebenarnya tidak pernah berdoa untuk panjang umur seperti dalam doa ulang tahun. Tapi preventif terhadap kondisi tubuh sendiri tidak ada salahnya kan?

Selamat Idul Fitri, eh, dan selamat hari 17 Agustus. Bapak. Semoga tulisan tentang Bapak bisa berguna bagi orang lain dan saya bisa tetap belajar dari Bapak walau sudah tidak lagi berada di sini.

Selamat agustusan dan upacara bagi yang merayakan.

Pasien TB : Kenali Penyakitnya, Bukan Jauhi

Ketika saya mengatakan pada beberapa orang teman bahwa saya terinfeksi tuberkulosis kelenjar dan sedang dalam pengobatan, reaksi mereka macam-macam. Ada yang memberikan support dan menemani saya tiap berobat, ada juga yang agak ketakutan begitu mendengar kata ‘tuberkulosis’ sambil mengatakan “eh, nanti menular gak nih?”. Terus terang saya sekilas merasa agak tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Tapi saya kemudian berpikir, mungkin dia tidak tahu mengenai TB yang sebenarnya sehingga merasa terlalu khawatir.

Sejak saat itu saya berhati-hati saat menghadapi teman yang sakit. Karena saya sempat tidak nyaman dengan sebuah perlakuan atau perkataan terkait penyakit TB, maka pasti orang lain juga akan merasakan hal yang sama kan?

Sebenarnya, perlakuan diskriminatif yang tidak menyenangkan terhadap pasien TB telah lama terjadi di dunia. Masyarakat memberikan cap/label atau stigma pada mereka yang terkena TB sehingga memperburuk kondisi mental dan fisik orang yang bersangkutan. Coba saja sekarang, jika kalian mendengar kata tuberkulosis, apa yang muncul di benak kalian pertama kali? Sesuatu yang mengerikan bukan? Pasti kalian membayangkan seseorang yang ceking, batuk berdarah-darah, bisa menyebarkan kuman yang berbahaya sehingga ditakuti dan dijauhi, dan pertanda kelas ekonomi lemah sehingga penyakit ini begitu memalukan bagi penderitanya. Nah memang seperti itulah penilaian kebanyakan masyarakat dari dulu hingga sekarang.

Continue reading “Pasien TB : Kenali Penyakitnya, Bukan Jauhi”

Mari Berpartisipasi Dalam Penanggulangan TB

Seperti yang sudah dijelaskan di tulisantulisan saya sebelumnya, sampai saat ini TB masih merupakan salah satu penyakit menular yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia. Indonesia sendiri berada pada peringkat keempat sebagai negara dengan beban TB tinggi di dunia.

Sebenarnya, saya sendiri baru mengetahui fakta tersebut setelah mengalami sendiri. Lalu saya pontang-panting mencari informasi mengenai seluk beluk penyakit ini dan, terutama, cara pengobatan yang tepat dan paling ekonomis. Ya memang begitulah. Kadang kita baru menyadari suatu hal yang besar sedang terjadi di sekitar kita, bahkan di lingkungan kita yang paling dekat, setelah kita mengalaminya sendiri. Iya kan? Saya baru peduli dan ngeuh setelah menjadi pasien TB, padahal sebelumnya sama sekali buta terhadap informasi penyakit ini.

Dalam kampanye WHO, mereka menyebutkan bahwa “Every year 9 million people get sick with TB. 3 million don’t get the care they need. Help us to reach them.” Jadi setiap tahun sekitar 9 juta orang terjangkit TB. 3 juta diantaranya tidak  mendapatkan pengobatan yang seharusnya, atau belum tertangani, termasuk di Indonesia.

Trus, kenapa sepertiga penderita TB itu belum terjangkau?

poster2-large

Continue reading “Mari Berpartisipasi Dalam Penanggulangan TB”

Dampak TB Pada Tingkat Kematian dan Beban Ekonomi Masyarakat

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan WHO Tahun 2013, TB masih menjadi permasalahan utama kesehatan di dunia. Lebih lanjut disebutkan bahwa di tahun 2012 diperkirakan 8,6 juta orang mengidap TB dan 1,3 juta orang meninggal karena penyakit tersebut (termasuk 320,000 ribu diantaranya merupakan pasien dengan HIV positif).

Fakta lain tentang TB yang dikeluarkan WHO adalah :

  1. Lebih dari 95% kasus kematian terjadi di negara dengan pendapatan mengengah ke bawah dan merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga bagi perempuan berusia 15 sampai 44 tahun.
  2. Tahun 2012, diperkirakan 530,000 anak mengidap TB.
  3. TB merupakan pembunuh utama bagi para pengidap HIV positif dengan perbandingan satu per lima.
  4. Multi-drug resistant (MDR-TB) terjadi di seluruh negara yang telah disurvei.
  5. Jumlah perkiraan kasus TB memang memperlihatkan penurunan tiap tahun, meskipun sangat lambat, yang berarti bahwa dunia sedang menuju pencapaian  Millennium Development Goal untuk mengendalikan penyebaran TB sampai tahun 2015.
  6. Angka kematian TB menurun 45% dari tahun 1990 hingga 2012.

Indonesia sendiri menjadi negara peringkat empat pada kasus TB tertinggi di dunia. Setiap tahun terdapat 67.000 kasus meninggal atau sekitar 186 orang per hari. TB juga menjadi penyakit  peringkat 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia (SKRT 2004). Selain itu pada usia 5 tahun ke atas, TB merupakan penyebab kematian nomor 4 di perkotaan setelah stroke, diabetes dan hipertensi. Di pedesaan, TB menjadi penyebab kematian nomor 2 setelah stroke (Riskesdas 2007). Kemudian ada sekitar 460,000 kasus baru sehingga beban TB di Indonesia masih sangat tinggi, seperti yang disebutkan di situs ini.

Menurut situs kompas, stroke, tuberkulosis, dan kecelakaan lalu lintas jadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Lebih lanjut mengenai profil TB dan perkembangannya di Indonesia dapat dilihat dari tabel di bawah ini :

Lebih jelasnya lihat di https://extranet.who.int/sree/Reports?op=Replet&name=%2FWHO_HQ_Reports%2FG2%2FPROD%2FEXT%2FTBCountryProfile&ISO2=ID&LAN=EN&outtype=html

(Lebih jelas dapat dilihat di sini)

Selain berpengaruh terhadap angka kematian, TB juga berdampak pada kondisi ekonomi para penderitanya. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Secara global, menurut situs ini, kerugian ekonomi yang timbul akibat penyakit TB diperkirakan mencapai Rp8,5 triliun per tahun (data tahun 2008). Angka ini dihitung berdasarkan hari produktif yang hilang karena sakit, hari yang hilang karena meninggal dunia lebih cepat dan biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan.

Perhitungan beban biaya ekonomi akibat penyakit TB yang biasa timbul baik dari pasien yang diobati maupun tidak diobati adalah 1) biaya medis dari pasien yang dirawat ; 2) beban biaya rumah tangga untuk pasien yang diobati ; 3) kerugian produktivitas akibat disabilitas; serta 4) kerugian produktivitas akibat kematian prematur.

Secara pribadi berdasarkan pengalaman saya sendiri, walaupun sudah ada fasilitas obat gratis dari pemerintah, tapi TB menjadi beban tersendiri baik dari segi materi maupun produktivitas kerja yang berakibat pada penurunan pendapatan. Saya sempat tidak bisa bekerja dengan maksimal pada awal-awal pengobatan karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan. Apalagi seperti yang saya sebutkan di atas, kasus TB yang tinggi terjadi pada masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Para pasien harus menanggung beban tambahan selain beban-beban hidup lainnya. Jadi masih banyak kasus yang tidak tertangani karena alasan tidak ada biaya untuk berobat.

Proses pengobatan dan pengecekan kesehatan yang rutin berkesinambungan tiap bulan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika dilakukan di lembaga kesehatan swasta yang lebih mahal terutama untuk cek laboratorium (cek darah, dahak, rontgen dan biopsy) dan vitamin-vitamin tambahan yang disarankan dokter sebagai pengiring obat.

Sebagai informasi tambahan, berikut ini profil ekonomi TB di Indonesia menurut WHO :

Lebih jelasnya dilihat di https://extranet.who.int/sree/Reports?op=Replet&name=%2FWHO_HQ_Reports%2FG2%2FPROD%2FEXT%2FTBFinancingCountryProfile&ISO2=ID&outtype=html

 (Selengkapnya bisa dilihat di sini)

Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua. Dan tetaplah jaga kesehatan serta bersemangat dalam membantu mengurangi penyebaran TB di Indonesia.

Gambar dari http://www.kpmak-ugm.org/
Gambar dari http://www.kpmak-ugm.org/