Review Gado-Gado Superhero Tahun 2016 [Bag. 1] : Deadpool, BvS Dawn of Justice, Suicide Squad

Saya pribadi tidak pernah memiliki ekspektasi tinggi terhadap film-film superhero, walaupun hype sealaihim gambreng dll dll. Pokoknya kalau pas saya nonton tidak merasa bosan dan ketagihan, film superhero tersebut saya anggap keren blas. Dan anyway, saya jarang nonton film superhero, kecuali Batman. Sampai sekarang superhero idola saya tetap Batman. Tapi sekarang saya lebih suka nonton film superhero keroyokan (seperti Avengers. Mungkin juga Justice League tapi saya belum nonton JL), bukan stand alone/solo.

Beberapa film superhero (dan antihero/villain) di bawah ini baru saya tonton minggu sekarang. Yuk cekidot .

Deadpool [Tim Miller, 2016]

Kamu pernah nonton film superhero sambil mrenges/mesem/ketawa sekaligus sambil merasa ‘iuuh’ pas lihat adegan gore? Deadpool membuat saya seperti itu (saya tidak terlalu tahan dengan adegan gore) dan ini pertama kalinya saya lihat genre manusia super yang tokoh utamanya menebas semua lawan-lawan manusianya dengan ganas. Yah, sebetulnya Deadpool bukan superhero sih, lebih tepatnya antihero, karena dia sama sekali tidak bertindak demi keadilan atau kebaikan melainkan untuk kepentingan pribadinya sendiri (yaitu balas dendam). Prinsip hidupnya mirip Saito : aku-soku-zan, yang jahat langsung bunuh! (Maksudnya yang menjahati dirinya).

Ya untungnya dibalut humor jadi pembantaiannya terlihat tidak terlalu ekstrim. Jelas, ini ditujukan untuk orang dewasa. Dan visualnya kece, pertarungannya keren, plot ceritanya mudah dipahami dan rapi, serta tentu saja humornya yang ajib dan fresh membuat saya merekomendasikan film ini untuk kamu tonton jika kamu suka action-manusia-super yang berbeda dari biasanya.

Jadi ceritanya, Wade Wilson yang sangat ingin menghabiskan masa-masa bahagia dengan kekasihnya malah divonis penyakit yang membuatnya gak bisa hidup lama. Biar bisa sembuh, dia rela dijadikan bahan eksperimen mengerikan yang ternyata mengubahnya jadi Deadpool, dan terutama mengubah wajah tampannya, padahal dia sudah disiksa sedemikian rupa supaya bermutasi. Karena merasa tertipu, dia melakukan pembalasan dendam dan mencari orang yang sudah mengubah hidupnya tersebut. Eksperimen itu gak hanya mengubahnya jadi manusia super, tapi juga membuatnya punya selera humor yang gila. Ya mana ada kan manusia super naik taksi ke tempat tujuan, ketinggalan senjata, atau pantat kena tembak? Dan masih banyak lagi kegilaan lain.

Visual : check.

Koreografi pertempuran : check.

Plot cerita : check

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : hmmm, body check lah, tapi wajah gantengnya minus setelah dia berubah jadi Deadpool wkwkwk

Kesimpulan : keren, seru, recommended

Batman vs Superman : Dawn of Justice [Zack Snyder, 2016]

Sejujurnya saya bingung gimana menjelaskan cerita film ini. Terlalu banyak cerita ini-itu kesana kemari tapi tidak terangkai dengan baik jadi bikin saya bingung. Sedangkan untuk aspek-aspek lainnya tidak usah diragukan : visual effect maknyuss, score music asoy, pertarungan spektakuler ada, arena megah ada, plus tokoh villain yang spektakuler pula. Pokoknya kolosal banget.

Cuman feel klimaks yang sesuai judul itu gak dapet. Maksud saya gini, saya bayangkan kalau sebuah cerita berjudul ‘Asep vs Ujang’ itu isinya perselisihan dua cowok yang pasti disebabkan sesuatu. Misal ada momen besar dimana mereka berselisih, macam perbedaan pilihan di pilpres kemarin dimana kubu Jokowi vs Prabowo yang sengit sekali, lalu diperburuk dengan hoax sana sini yang makin panas, ditambah lagi ternyata mereka naksir cewek yang sama di kampung sebelah, dan akhirnya setelah perang dingin dilanjut dengan saling ejek dan berakhir dengan perang fisik. Ada semacam event-event yang makin meruncing dan membuat mereka makin panas, ditambah pihak ketiga yang merecoki hingga mereka memutuskan untuk berkelahi sebagai sesama cowok. Itu tentu alur cerita yang tidak terlalu sulit untuk dipahami. Dan keputusan berduel juga bisa dirasakan dengan jelas.

Kalau di Bvs? Sayang sekali tidak. Mungkin karena saya tidak mengikuti film-film sebelumnya, jadi merasa bingung dengan asal muasal konflik mereka, dan alasan dua pahlawan super ini mesti berduel brutal begitu rupa kok kayaknya gak kena. Atau karena saya nonton sambil sesekali diselingi pause karena harus melakukan ini itu di rumah. Tapi hal lain-lainnya oke banget jadi nikmati pertarungan puncaknya saja, badass!

Cerita generalnya sih sederhana, dua pahlawan super dari 2 kota bersebelahan lagi marahan yang diawali dengan adegan hancurnya gedung milik Bruce Wayne (Batman), lalu beberapa kejadian di Metropolis dimana beberapa penjahat diburu makhluk kelelawar dan diberi cap kelelawar. Di sisi lain Superman dituduh penyebab kehancuran di beberapa tempat. Lalu Lex Luthor membuat situasi makin runyam dan kedua pahlawan kita harus berduel.

Visual : check.

Koreografi pertempuran : check.

Plot cerita : bingung

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : absolutely yes wkwkwkwk. Namanya juga superhero, apalagi Superman dan Batman, baju ketatnya itu…ya sudahlah yaa gak usah dibahas wkwkwkwk

Kesimpulan : mayan, enjoyable

Suicide Squad [David Ayer, 2016]

Nah, kalau yang ini plotnya udah straight forward sih sebetulnya. Alurnya sangat-sangat mudah diikuti. Dia berusaha menyelingi dengan humor tapi ya kurang lucu sih, menurut saya. Kebalikan dari BvS di atas, yang saya sayangkan dari sini adalah visualisasi dan spesial efek yang biasa aja, pertempuran yang membosankan, gak ada adegan spektakuler dalam koreografinya, dan villain yang cuma kelas kacangan. Mestinya, karena semua tokoh utama ini adalah penjahat kelas kakap, mereka bertarung dengan badass dan ekstrim seperti Deadpool, atau brutal layaknya BvS. Dan mereka bertarung hidup-mati melawan musuh yang juga super duper kuat hingga pahlawan super macam Batman bakal keok. Tapi semua serba biasa aja dan nanggung. Padahal suasana sudah lebih ceria dan musik pengiringnya sudah oke.

Gak mau kalah sama yang lain, yang saya soroti terutama adalah Harley Quinn dan Joker. Yang laen kelaut aje dah haha *kidding. Harley Quinn sudah tampak gila dan seksi, oke banget lah. Dan Joker, wow, pokoknya wow deh. Walaupun saya jarang liat Joker di film, tapi setahu saya dari film kartunnya, Joker ini penjahat yang hanya mementingkan diri sendiri dan terobsesi hanya pada Batman. Tapi di sini Jokernya seksi, dan dia perhatian banget sama Harley Quinn. Beda banget Jokernya, tapi gak jelek sih, cuma beda. Dan it is fine.

Ceritanya, sebagai antisipasi terhadap kemunculan makhluk yang ingin menguasai kota setelah Superman tiada, Amanda Weller membentuk tim khusus rahasia yang terdiri dari para penjahat kelas megalodon yang sedang dikurung di penjara paling seram di Gotham. Baru aja dibentuk, tiba-tiba salah satu dari mereka berbuat ulah sehingga tim khusus tersebut harus diturunkan untuk membasminya. Tampak bakal spektakuler? Ah, tidak juga, karena sebenarnya lebih mirip penggerebekan tim SWAT di film-film teroris atau aksi pembasmi hantu dalam mengembalikan sang hantu ke dunia asalnya.

Visual : kurang

Koreografi pertempuran : meh

Plot cerita : check, tapi agak berantakan

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : karena ini gerombolan penjahat, jadi poin ini pengecualian. Kecuali untuk Joker.

Kesimpulan : mayan

Overall, film itu buat saya tetaplah soal selera. Sejak Guardian of The Galaxy dan Suicide Squad saya jadi bisa menikmati film manusia super. Akhir –akhir ini yang ditonton ya film macam begini terus =D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s