Berjihad Dengan Sungguh-Sungguh Melawan Breakout dan Jerawat

Pendahuluan

Sepertinya jerawat adalah permasalahan yang sudah jamak dialami oleh orang-orang dalam berbagai jenis kulit. Terlebih pemilik kulit berminyak. Sejak remaja, saya sudah berhadapan dengan musuh besar kulit ini, ditambah kemalasan merawat muka, makanya kulit wajah tidak pernah semulus dan sekinclong para artis koriyah yang nyaris tak tampak pori-porinya.

Tapi sejak Negara Api menyerang, ehm, sejak breakout (munculnya jerawat cukup banyak di area wajah gara-gara suatu sebab tertentu) muncul awal tahun ini, saya jadi sangat concern terhadap perawatan kulit muka terutama, dikarenakan ingin mendapatkan kulit yang lebih sehat dan mulus *uhuk*

Karena saya malas berobat ke dokter, akhirnya berjuang sendiri melawan breakout dan serangan-serangan jerawat yang massif membuat saya keteteran dan nyaris frustasi. Berikut tahapan strategi yang telah dan masih saya lakukan:

  1. Mengetahui/ Mempelajari Penyebab Breakout atau Timbulnya Banyak Jerawat Dalam Waktu Bersamaan

Sebenarnya, untuk menentukan penyebab pasti jerawat baiknya konsultasi ke dokter agar diagnosisnya lebih mantap. Tapi saya sendiri hanya membaca sabda-sabda di gugel. Mula-mula saya kira penyebabnya gegara secuil ketidakcocokan pada facial cleanser ponds varian mineral clay, tapi setelah dipikir-masa sampai segitunya si kulit protes dan meletupkan amarah dengan menyerang saya secara terstruktur dengan kiriman pasukan jerawat. Soalnya dulu saya pakai ponds juga dan tidak ada masalah, cocok-cocok saja.  Akhirnya sampailah saya pada kesimpulan kalau penyebab rombongan jerawat pembikin galau ini adalah faktor hormonal, melihat letak jerawatnya kebanyakan di garis rahang kiri-kanan dan pipi. Atau mungkin disebabkan suatu zat lain yang pernah dikonsumsi.

  1. Mengenali dan Mempelajari Jenis dan Sifat Kulit Diri Sendiri

Kulit saya berminyak dan cenderung makin sensitif saat sedang berjerawat. Bahkan minyaknya sangat berlebihan. Dulu saya sudah masa bodo kalau mulai siang sampai sore kulit saya mulai mengkilap. Malas touch up juga. Kosmetik dan skincare yang saya pakai selalu simple, ringan, hingga tidak pernah tahan lama sampai siang. Sekarang saya masih masa bodo sih, tapi perlawanan terhadap jerawat saat ini berefek positif karena kulit saya tidak terlalu mengkilap lagi walau sudah sore hihi.

  1. Memilih Produk Perawatan Kulit

Ini strategi paling penting. Sebab resikonya kalau salah pilih, ya bakal tambah parah jerawatnya. Cukup bikin pusing juga ya ferguso. Dulu saya tidak pernah memperhatikan kandungan-kandungan skincare. Pokoknya yang sudah jamak ada di toko/apotek itulah yang saya pakai (karena menurut saya lebih aman) dan mudah didapat. Sekarang saya lebih hati-hati dan membaca tiap kandungan skincare. Kunci dalam memilih produk skincare buat saya adalah : sesuai kemampuan kantong sendiri (karena pemakaian produk yang sama akan terus berlanjut, bukan hanya coba-coba sekali dua, saya menghindari ganti-ganti produk soalnya), cocok (dalam artian bahan yang terkandung dalam  skincare tidak malah membahayakan kulit, dan memilih bahan-bahan kandungan yang memang ditujukan untuk fungsi secara spesifik dari masalah yang sedang dialami, membawa perubahan positif pada kulit)

Berikut nama-nama produk  yang saya pakai saat ini dan lumayan membuat kondisi jerawat dan wajah saya membaik :

a. Pagi : membersihkan wajah memakai micellar water mustika ratu, toner viva green tea, gel penghilang noda jerawat dan penyembuh jerawat gamat vitagel (klink) di spot jerawat saja, pelembap hada labo gokujyun anti aging lotion, sunscreen skin aqua SPF 30. Btw saya pernah mencoba viva acne gel, acnol dan benzolac juga, tapi sekarang sudah berhenti dan hanya pakai gamat vitagel saja.

b. Malam : membersihkan wajah memakai cleansing oil hada labo gokujyun, facial wash acnes yoghurt, toner viva green tea (kalau lagi semangat, dilanjut sheet mask ala-ala CSM pakai toner tsb), pakai gamat vitagel semuka, krim malam olay anti aging.

c. Seminggu 2x : masker sariayu

d. Yang baru akan dipakai : peeling gel mustika ratu lemon (semenjak breakout, saya hentikan dulu peeling atau eksfoliasi, tapi sekarang mau dicoba lagi tapi dengan gel), dan Humphrey acne care serum (tadinya tidak akan pakai serum karena sudah ada gamat vitagel, tapi karena produk ini review-nya bagus dan lagi diskon gede banget, jadi tertarik buat nyoba hihi)

  1. Beberapa Catatan Tambahan
  1. Melakukan penyembuhan breakout/jerawat itu butuh kesabaran ekstra seperti halnya sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Karena hasil yang memuaskan tidak bisa instan kecuali memakai produk krim-kriman aneh-aneh itu yang selalu ditandai purging. Semoga kamu semua bisa bersabar!
  2. Terapkan pola hidup yang lebih sehat : makanan yang sehat terutama buah, tidur cukup, minum cukup, olahraga cukup, jangan terlalu sering stress tapi secukupnya saja *lho*. Ya serba berkecukupan lah.
  3. Mengkonsumsi suplemen, khususnya untuk jerawat yang disebabkan hormon. Jadi bisa dilawan dari dalam tubuh juga, tidak hanya dari luar. Misalnya vitamin e atau teh hijau
  4. Tidak memakai skincare atau make up secara berlebihan atau berat. Terutama saat breakout, bahkan sebaiknya tidak bermake-up dulu. Saya seperti biasa hanya memakai bedak tabur, lipstick, dan mascara saja saat bepergian.
  5. Dan yang paling penting, semua perawatan serta perang ini membutuhkan modal yang tidak sedikit. Intinya, siapkanlah uang yang cukup banyak. Bersabarlah jika dompet kamu kempes, apalagi jika menggunakan produk ekspor atau mahal dan ternyata tak cocok, duh sakitnya tuh di sini.

Review Film Absurd : Rubber, Finisterrae

Rubber (Quentin Dupieux, 2010)

Idenya orisinil sih, tapi saya agak menyesal menonton ini pas adegan kelici dan burung gagak terbunuh (tidak betulan tentunya). Tapi ya sudahlah. Ini cerita tentang pembunuh sadis. Dia membunuh dengan cara meledakkan kepala manusia atau tubuh lainnya. Pembunuh yang pure dan tidak kenal ampun pada semua makhluk hidup,tanpa bisa ditebak apa motif aslinya selain sikap mempertahankan diri. Terdengar seperti horor-gore pada umumnya kan? Kecuali kalau kalian akhirnya mengetahui kalau pembunuh sadis itu adalah BAN MOBIL.

Entah saya mesti tertawa atau meringis. Kok bisa ban mobil jadi pembunuh? Tapi film ini memang bukan untuk dicerna secara rasional kok. Jangan tanya kenapa ban mobil bisa hidup, kenapa dia bisa memiliki kekuatan super,  tapi nikmati saja sebagai sebuah sajian satir dan dark comedy tentang petualangan ban mobil dan perubahan-perubahan yang terjadi padanya. Karena seperti yang dibilang seorang sheriff di awal film, terkadang dalam film, semua terjadi tanpa alasan.

Rubber juga mengandung unsur film-ception, film  dalam film. Adegan awal dimulai dengan sekelompok orang berkumpul di perbukitan dengan teropong, dipandu oleh seseorang yang mengabarkan pada mereka bahwa film (atau sebuah pertunjukan live) sudah dimulai. Orang-orang ini menonton melalui teropong :  sebuah/seorang ban mobil random di sebuah padang pasir  gersang yang tetiba hidup dan bisa berpikir. Tapi tentu saja tidak bisa bicara. Sang Ban Mobil bernama Robert ini menyadari kekuatan telekinetiknya yang luar biasa; bisa menghancurkan benda/mahkluk terdekat  dengan pikirannya saja.  Dia mencoba membunuh beberapa hewan malang. Semuanya meledak berhamburan.

Robert memulai petulangannya dengan membuntuti seorang gadis cantik ke sebuah penginapan, yang kemudian menyebarkan banyak pembunuhan di sepanjang perjalanannya.  Manusia-manusia yang menghalangi jalannya, atau yang membuatnya merasa terancam, langsung bunuh. Saya mengira kalau Robert pada mulanya hidup dengan membawa insting alamiah layaknya hewan/predator kuat yang membunuh untuk mempertahankan hidup sembari menguntit gadis yang membuatnya penasaran. Tapi dia sangat cerdas dan bisa belajar dengan cepat bahwa manusia adalah lawan yang paling mematikan bagi eksistensinya. Setelah melihat ‘pembantaian’ terhadap kaum ban mobil, diapun tercerahkan untuk memulai sebuah misi bersama kaumnya. Oya, selain cerita Ban Mobil, ada juga  cerita tentang para manusia penonton di perbukitan beserta takdir mereka.

Untuk lebih jelasnya, silakan nonton sendiri. Sangat recommended terutama bagi yang ingin tontonan tidak biasa dan nyeleneh.

Finisterrae (Sergio Caballero, 2010)

Dua hantu yang tidak menakutkan merasa bosan dengan kondisi mereka. Hantunya literally tidak seram kok. Jangan bayangkan sadako atau pocong dkk, tapi penampilan visual mereka ‘hanya’ sosok manusia ditutupi kain lebar berwarna putih. Maaf saya kategorikan horor karena ada kata hantunya, haha. Karena bosan itulah keduanya memutuskan untuk menjadi living being dengan cara melakukan perjalanan nun jauh sampai ke ujung dunia dimana di sana roh mereka akan menjelma menjadi makhluk fana kasat mata. Sepanjang perjalanan tersebut, mereka ngobrol soal akan jadi makhluk apa nantinya.

Di sepanjang perjalanan menuju batas dunia, mereka bertemu berbagai makhluk semacam penyihir, ritual-ritual aneh, dan pengalaman-pengalaman sakral. Misalnya, mereka melewati hutan yang pohon-pohonnya punya telinga dan bisa bersuara serta mendapatkan sebuah visual disturbing tentang kehidupan di luar sana. Mereka juga sempat oleng  dan tergoda sesuatu yang dapat menggelincirkan mereka dari niat semula.

Sebenarnya saya tak bisa banyak menceritakan Finisterrae, karena film ini tidak hanya bisa digambarkan dari apa yang terjadi secara visual saja saja sih, tapi mengandung makna-makna lain yang saya sendiri kadang tidak paham.  Tapi menurut yang bisa saya simpulkan, Finisterrae bekisah tentang rasa bosan, kesepian, dan mimpi untuk merasakan sebuah kebaruan.

Yang saya nikmati dari film ini tentu bukan maknanya yang sulit saya ungkapkan memang, tapi visualnya saja. Walaupun tanpa spesial efek sama sekali dan menampilkan tempat-tempat yang biasa kita lihat, tapi rasanya seperti melihat sesuatu yang luar biasa indah. Landscape alam, bagaimana dua makhluk dengan rumbai kain putih berjalan diantara padang rumput atau tumpukan salju dan asap-asap tipis. Seperti masuk dalam dunia fantasi yang misterius nan magis. Bahkan walau tanpa dialog, hanya narasi-narasi dari hantunya itu sendiri mengenai pengalaman mereka yang nyaris seperti pengalaman spiritual. Ketika sampai di akhir film, secara keseluruhan terasa seperti melihat dongeng di dunia antah berantah dengan visual yang keren. Sangat mengesankan, walau tidak dapat memahami apa yang mau disampaikan oleh pembuat filmnya, hehe.

Review Fish Tank, Hard Candy, Copenhagen

Fish Tank (Andrea Arnold, 2009)

Tema film ini sebenarnya simpel saja. Mia, remaja usia 16, berusaha menemukan apa yang sebenarnya dia ingin lakukan di usianya yang masih sangat muda. Hobinya nge-break dance seolah menjadi pelarian kesepian dan emosi yang meledak-ledak karena tidak mendapatkan perhatian layak dari ibunya. Mia, adiknya, dan ibunya tinggal di apartemen sumpek. Minatnya pada sekolah semakin surut dan dia bertekad untuk menekuni hobinya daripada melanjutkan sekolah.

Sang Ibu yang single fighter membawa pacarnya yang seksi dan misterius ke rumah, Connor. Mia mempelajari pria sosok dewasa itu dan mulai menikmati perhatian Connor walaupun awalnya merasa canggung. Dia bahkan berani datang ke tempat kerja Connor, meminta uang pada pria itu, dan Connor memamerkan aroma parfumnya pada Mia. Tensi menjadi agak tinggi saat Mia memergoki ibunya dan Connor melakukan hubungan intim.

Connor sangat mendukung Mia untuk mengejar karir break dance-nya, dan Mia memutuskan untuk mengikuti sebuah audisi yang ternyata malah audisi untuk penari striptease. Ketika hubungan Mia-Connor semakin dekat, mereka melampaui batas dan Mia mengetahui sebuah rahasia tentang Connor.

Film ini keren banget. Katie Jarvis sebagai Mia bermain luar biasa, natural dan tidak berlebihan. Michael Fassbender juga keren di sini walaupun aktingnya tidak terlalu istimewa (ya beliau sering bermain film mainstream, aktingnya yang baik tapi hanya itu saja).  Plotnya oke, secara keseluruhan ini bisa menggambarkan kondisi dan perasaan Mia yang penuh gejolak, dengan baik.

Hard Candy (David Slade, 2005)

Hayley (Ellen Page) berhadapan dengan Jeff (Patrick Wilson) dalam thriller yang lumayan OK. Hayley remaja tangguh berumur 14 tahun, kopdar dengan seorang fotografer berumur 30an sekian yang sering komunikasi denganya di internet. Awalnya pertemuan mereka berjalan seperti biasa; Jeff mentraktirnya coklat. Bahkan Hayley sempat flirting dan membuat Jeff yakin kalau mereka akan mengadakan pertemuan plus plus seperti biasanya. Namun apa lacur, rupanya Hayley bukan remaja biasa.

Mereka berkunjung ke kediaman Jeff, melihat-lihat hasil jepretan pria itu. Lalu Hayley mulai melancarkan aksinya: dia menaruh obat tidur pada minuman Jeff.  Hayley menuduh Jeff sebagai seorang predator yang memangsa anak dibawah umur, termasuk sahabatnya yang hilang. Jeff membantah semua tuduhan itu. Maka dimulaikan permainan hide-and-seek mereka yang cukup menegangkan. Jeff tidak menyangka Hayley menyimpan suatu tujuan mengerikan. Salah satunya mengebiri Jeff sebagai hukuman atas perbuatannya. Bagaimana akhir dari kisah yang mengingatkan saya pada Little Red Riding Hood ini? Tonton yaa!

Walaupun tidak sempurna, sekali lagi, untuk jenis karakter dan film ‘berbeda’ yang diperankan Patrick Wilson, ini sungguh berlian di antara batu akik KW. Apa yang dilakukan remaja perempuan yang sangat berani pada pria dewasa dan mengendalikannya, mungkin agak kurang realistis buat saya, dan endingnya yang kurang mengesankan, tidak meninggalkan sesuatu untuk dikenang.

Copenhagen (Mark Raso, 2014)

Kenapa film ini sangat underrated dan tidak populer? Sungguh sayang sekali. Buat saya ini jauh lebih mengesakan daripada Before Sunrise yang terkenal itu, hehe (kecuali fakta bahwa Before Sunrise muncul lebih dulu sih). Copenhagen ini  sangat simpel, dan mungkin bagi sebagian orang temanya biasa sekali. Pemainnya juga tidak terkenal: Gethin Anthony, Frederikke Dahl Hansen. Lagi-lagi, ini soal hubungan antara remaja putri asli denmark berumur 14 tahun dengan pria amerika berumur 28 tahun. Setengah umurnya ya? Haha.

Mengisahkan William yang slengean dan tidak punya arah hidup, dan temannya yang berlibur ke Copenhagen untuk mencari sang kakek yang hilang. Sayangnya, si kawan malah membawa pacarnya, membuat William keki. Setelah sedikit perselisihan, si kawan malah pergi bersama pacarnya dan tinggallah William sendiri harus menyelesaikan petualangannya. Mana dia tidak bisa bahasa danish dan buta arah. Untunglah dia bertemu dengan Effy, salah satu waiter di hotel tempat dia menginap. Siapa sangka, perkenalan dengan Effy membawa William pada pengalaman tak terlupakan yang membuatnya menjadi pria yang lebih dewasa dan memikirkan kembali arti hidupnya (halah).

Sederhana sekali kan? Yang membikin jadi luar biasa adalah akting Frederikke yang oke banget padahal bukan bintang terkenal. Dia memerankan remaja penuh rasa ingin tahu, penuh gairah ala orang muda, namun memiliki beberapa sifat yang tampak lebih dewasa dari umurnya. Ini membuat William langsung saja kesengsem, dan tetiba merasa kalau dia sudah menemukan love of his life. Tapi apa daya, perempuan yang mengubah pandangannya tentang hidup rupanya masih dibawah umur (age consent di eropa 15 tahun) yang mana itu ilegal. Padahal kemistri mereka sudah sangat lekat.

Jangan lupakan musik pengiringnya super OK! Ditambah visual kota Copenhagen yang indah. Kameramen pintar sekali mengambil angle tiap sudut kota hingga tampak menakjubkan. Saya jadi ingin berkunjung ke sana deh. Saya tidak bosan menonton film ini. Highly Recommended.

Review Gado-Gado Superhero Tahun 2016 [Bag. 1] : Deadpool, BvS Dawn of Justice, Suicide Squad

Saya pribadi tidak pernah memiliki ekspektasi tinggi terhadap film-film superhero, walaupun hype sealaihim gambreng dll dll. Pokoknya kalau pas saya nonton tidak merasa bosan dan ketagihan, film superhero tersebut saya anggap keren blas. Dan anyway, saya jarang nonton film superhero, kecuali Batman. Sampai sekarang superhero idola saya tetap Batman. Tapi sekarang saya lebih suka nonton film superhero keroyokan (seperti Avengers. Mungkin juga Justice League tapi saya belum nonton JL), bukan stand alone/solo.

Beberapa film superhero (dan antihero/villain) di bawah ini baru saya tonton minggu sekarang. Yuk cekidot .

Deadpool [Tim Miller, 2016]

Kamu pernah nonton film superhero sambil mrenges/mesem/ketawa sekaligus sambil merasa ‘iuuh’ pas lihat adegan gore? Deadpool membuat saya seperti itu (saya tidak terlalu tahan dengan adegan gore) dan ini pertama kalinya saya lihat genre manusia super yang tokoh utamanya menebas semua lawan-lawan manusianya dengan ganas. Yah, sebetulnya Deadpool bukan superhero sih, lebih tepatnya antihero, karena dia sama sekali tidak bertindak demi keadilan atau kebaikan melainkan untuk kepentingan pribadinya sendiri (yaitu balas dendam). Prinsip hidupnya mirip Saito : aku-soku-zan, yang jahat langsung bunuh! (Maksudnya yang menjahati dirinya).

Ya untungnya dibalut humor jadi pembantaiannya terlihat tidak terlalu ekstrim. Jelas, ini ditujukan untuk orang dewasa. Dan visualnya kece, pertarungannya keren, plot ceritanya mudah dipahami dan rapi, serta tentu saja humornya yang ajib dan fresh membuat saya merekomendasikan film ini untuk kamu tonton jika kamu suka action-manusia-super yang berbeda dari biasanya.

Jadi ceritanya, Wade Wilson yang sangat ingin menghabiskan masa-masa bahagia dengan kekasihnya malah divonis penyakit yang membuatnya gak bisa hidup lama. Biar bisa sembuh, dia rela dijadikan bahan eksperimen mengerikan yang ternyata mengubahnya jadi Deadpool, dan terutama mengubah wajah tampannya, padahal dia sudah disiksa sedemikian rupa supaya bermutasi. Karena merasa tertipu, dia melakukan pembalasan dendam dan mencari orang yang sudah mengubah hidupnya tersebut. Eksperimen itu gak hanya mengubahnya jadi manusia super, tapi juga membuatnya punya selera humor yang gila. Ya mana ada kan manusia super naik taksi ke tempat tujuan, ketinggalan senjata, atau pantat kena tembak? Dan masih banyak lagi kegilaan lain.

Visual : check.

Koreografi pertempuran : check.

Plot cerita : check

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : hmmm, body check lah, tapi wajah gantengnya minus setelah dia berubah jadi Deadpool wkwkwk

Kesimpulan : keren, seru, recommended

Batman vs Superman : Dawn of Justice [Zack Snyder, 2016]

Sejujurnya saya bingung gimana menjelaskan cerita film ini. Terlalu banyak cerita ini-itu kesana kemari tapi tidak terangkai dengan baik jadi bikin saya bingung. Sedangkan untuk aspek-aspek lainnya tidak usah diragukan : visual effect maknyuss, score music asoy, pertarungan spektakuler ada, arena megah ada, plus tokoh villain yang spektakuler pula. Pokoknya kolosal banget.

Cuman feel klimaks yang sesuai judul itu gak dapet. Maksud saya gini, saya bayangkan kalau sebuah cerita berjudul ‘Asep vs Ujang’ itu isinya perselisihan dua cowok yang pasti disebabkan sesuatu. Misal ada momen besar dimana mereka berselisih, macam perbedaan pilihan di pilpres kemarin dimana kubu Jokowi vs Prabowo yang sengit sekali, lalu diperburuk dengan hoax sana sini yang makin panas, ditambah lagi ternyata mereka naksir cewek yang sama di kampung sebelah, dan akhirnya setelah perang dingin dilanjut dengan saling ejek dan berakhir dengan perang fisik. Ada semacam event-event yang makin meruncing dan membuat mereka makin panas, ditambah pihak ketiga yang merecoki hingga mereka memutuskan untuk berkelahi sebagai sesama cowok. Itu tentu alur cerita yang tidak terlalu sulit untuk dipahami. Dan keputusan berduel juga bisa dirasakan dengan jelas.

Kalau di Bvs? Sayang sekali tidak. Mungkin karena saya tidak mengikuti film-film sebelumnya, jadi merasa bingung dengan asal muasal konflik mereka, dan alasan dua pahlawan super ini mesti berduel brutal begitu rupa kok kayaknya gak kena. Atau karena saya nonton sambil sesekali diselingi pause karena harus melakukan ini itu di rumah. Tapi hal lain-lainnya oke banget jadi nikmati pertarungan puncaknya saja, badass!

Cerita generalnya sih sederhana, dua pahlawan super dari 2 kota bersebelahan lagi marahan yang diawali dengan adegan hancurnya gedung milik Bruce Wayne (Batman), lalu beberapa kejadian di Metropolis dimana beberapa penjahat diburu makhluk kelelawar dan diberi cap kelelawar. Di sisi lain Superman dituduh penyebab kehancuran di beberapa tempat. Lalu Lex Luthor membuat situasi makin runyam dan kedua pahlawan kita harus berduel.

Visual : check.

Koreografi pertempuran : check.

Plot cerita : bingung

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : absolutely yes wkwkwkwk. Namanya juga superhero, apalagi Superman dan Batman, baju ketatnya itu…ya sudahlah yaa gak usah dibahas wkwkwkwk

Kesimpulan : mayan, enjoyable

Suicide Squad [David Ayer, 2016]

Nah, kalau yang ini plotnya udah straight forward sih sebetulnya. Alurnya sangat-sangat mudah diikuti. Dia berusaha menyelingi dengan humor tapi ya kurang lucu sih, menurut saya. Kebalikan dari BvS di atas, yang saya sayangkan dari sini adalah visualisasi dan spesial efek yang biasa aja, pertempuran yang membosankan, gak ada adegan spektakuler dalam koreografinya, dan villain yang cuma kelas kacangan. Mestinya, karena semua tokoh utama ini adalah penjahat kelas kakap, mereka bertarung dengan badass dan ekstrim seperti Deadpool, atau brutal layaknya BvS. Dan mereka bertarung hidup-mati melawan musuh yang juga super duper kuat hingga pahlawan super macam Batman bakal keok. Tapi semua serba biasa aja dan nanggung. Padahal suasana sudah lebih ceria dan musik pengiringnya sudah oke.

Gak mau kalah sama yang lain, yang saya soroti terutama adalah Harley Quinn dan Joker. Yang laen kelaut aje dah haha *kidding. Harley Quinn sudah tampak gila dan seksi, oke banget lah. Dan Joker, wow, pokoknya wow deh. Walaupun saya jarang liat Joker di film, tapi setahu saya dari film kartunnya, Joker ini penjahat yang hanya mementingkan diri sendiri dan terobsesi hanya pada Batman. Tapi di sini Jokernya seksi, dan dia perhatian banget sama Harley Quinn. Beda banget Jokernya, tapi gak jelek sih, cuma beda. Dan it is fine.

Ceritanya, sebagai antisipasi terhadap kemunculan makhluk yang ingin menguasai kota setelah Superman tiada, Amanda Weller membentuk tim khusus rahasia yang terdiri dari para penjahat kelas megalodon yang sedang dikurung di penjara paling seram di Gotham. Baru aja dibentuk, tiba-tiba salah satu dari mereka berbuat ulah sehingga tim khusus tersebut harus diturunkan untuk membasminya. Tampak bakal spektakuler? Ah, tidak juga, karena sebenarnya lebih mirip penggerebekan tim SWAT di film-film teroris atau aksi pembasmi hantu dalam mengembalikan sang hantu ke dunia asalnya.

Visual : kurang

Koreografi pertempuran : meh

Plot cerita : check, tapi agak berantakan

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : karena ini gerombolan penjahat, jadi poin ini pengecualian. Kecuali untuk Joker.

Kesimpulan : mayan

Overall, film itu buat saya tetaplah soal selera. Sejak Guardian of The Galaxy dan Suicide Squad saya jadi bisa menikmati film manusia super. Akhir –akhir ini yang ditonton ya film macam begini terus =D

[Hikmah Nonton Snowpiercer] Hidup Adalah Konspirasi dan Permainan Tuhan

Minggu lalu saya nonton film Snowpiercer (Bong Jo0 Ho, 2013) dan mendapatkan sebuah pencerahan sehingga saya merenung tentang arti hidup ini *tsah*.

Sebelum memulai dongengnya, saya kasih hint dulu tentang sutradaranya. Bong Joon Ho sudah beberapa kali membuat film dan rata-rata sukses secara komersial serta mendapatkan review positif. Mari saya ingatkan: The Host, Memories of Murder, dan Mother merupakan beberapa film beliau. Ketiganya masih dibuat dalam skala lokal korea, dan dua diantaranya (Memories of Murder & Mother) sudah saya tonton. Kesimpulan saya; Pak Jong Ho ini demen menyelipkan gory ke dalam film-filmnya. Tapi tenang saja, gory-nya tidak membuat film beliau jadi terkesan murahan. Tapi memang pas sesuai dengan porsinya.

Nah Snowpiercer ini film skala Hollywood yang dibintangi oleh Chris Evans (si kapiten ameriki itu lho) dan Tilda Swinton (yang ini sih kece banget, I love her). Saya sempat mikir, emang Om Evans bisa maen film ginian setelah tampang dan body-nya mendominasi di kapiten ameriki series? Jawabannya, ya dia bisa! Aktingnya tidak bagus-bagus amat sih, tapi lumayan keren. Dia tampak berbeda sekali di sini.

Jadi film Snowpiercer ini soal apa?

Cerita dimulai dengan kondisi kehidupan umat manusia di masa depan yang sudah berubah drastis akibat sebuah zat kimia berbahaya yang mencemari bumi. Suhu bumi menjadi dingin ekstrim, membeku, dan tidak bisa ditinggali. Seluruh kehidupan musnah. Dan seperti biasa, ada survivor yang kemudian membangun kehidupan baru di dalam kereta super panjang.

Kereta?

Ya, kereta. Tapi ini bukan kereta biasa. Tentunya kereta super canggih yang belum ada di jaman kekinian. Tapi masih tetap ada masinisnya, yang tidak lain adalah pembuat kereta itu sendiri, seorang konglomerat ambisius.

Para penumpang kereta dibagi ke dalam kelas-kelas seperti saat ini; ada kelas ekonomi dan eksekutif. Mereka menempati gerbong terpisah. Kelas ekonomi tentu menempati gerbong paling belakang yang butut, berjejalan, dan awalnya tidak mendapatkan makanan. Lalu kebijakan penguasa kereta  berubah; penumpang kelas ekonomi/kelas bawah mendapatkan makanan sampah. Para penumpang ini tidak pernah tahu bagaimana kondisi kehidupan kelas eksekutif dan tidak bisa protes karena pada umumnya mereka merupakan penumpang gelap.

Dari ketimpangan kelas ini muncullah percikan perlawanan yang dipimpin oleh seorang kakek tua cacat (saudara si pemilik kereta yang konon dibuang karena membangkang) dan muridnya yang masih cukup muda. Semangat mereka terpompa dengan adanya pesan-pesan rahasia yang selalu diterima si murid, dan dia meyakini bahwa ada seseorang di belahan gerbong lain yang memberikan semacam kode agar mereka dapat membuat strategi perlawanan.

Mereka membangun kekuatan diam-diam, mempersiapkan segala sesuatu, dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemberontakan melawan tirani penguasa kereta, agar selanjutnya dapat mewujudkan cita-cita besar yaitu kesetaraan bagi semua penumpang kereta.

Tetapi sebuah revolusi besar harus dibayar dengan harga yang sangat besar pula; nyawa dan darah. Dan selama perjalanan panjang menuju gerbong utama (tempat masinis kereta), mereka mempelajari kondisi kehidupan tiap-tiap gerbong yang dilewati; ada ikan-ikan dalam akuarium raksasa, makanan punah, hewan-hewan lain, sekolah, kebun, dan lain sebagainya. Jumlah penumpang yang tewas dalam revolusi itu terus bertambah. Tapi perjuangan harus terus dilanjutkan sampai akhir.

Saya tidak bisa menebak akhir cerita sehingga harus duduk manis mengikuti tiap adegan dan dialog supaya bisa mengerti alurnya. Pada pertengahan cerita, hampir saja saya berhenti nonton gara-gara adegan pembantaian sadis yang cukup ngeri. Gory. Saya pikir, lah apa-apaan ini, kok ada adegan ginian segala kayak film slasher kelas B aja. Tapi setelah film berakhir, barulah saya bisa menerima adegan berdarah-darah itu. Sungguh akhir cerita yang bikin sesak, haha.

Secara keseluruhan, ini film keren. Saya suka. Ada beberapa hal yang masih dirasa aneh, tapi ya masih bisa ditolerir.

Hikmah yang bisa saya ambil dari film ini, well, saya baru bisa merangkum pola globalnya betul-betul ketika film berakhir. Cerita survive dari bencana global yang menyebabkan dunia kiamat menurut saya hanyalah background saja. Intinya ada dalam kehidupan di kereta itu.

Kereta itu seperti bumi dengan segala keterbatasan lahan dan sumber dayanya. Dalam ratusan tahun ke depan, jumlah manusia itu akan ada berapa banyak? Dengan seleksi alamiah saja, seperti kematian karena tua, sakit, bencana dll jumlah manusia masih saja banyak. Makanya harus ada kontrol supaya jumlah manusia tidak overload. Siapa yang mengontrol? Misal sebut saja Tuhan, atau penguasa antahberantah entahapalah. Dalam skala yang lebih bombastis, bagaimana kalau sebetulnya pada awal mulanya Tuhan mengutus manusia (yang mengklaim dirinya) menjadi Nabi/Rasul sebetulnya untuk menciptakan konflik pada manusia? Mereka mengkotakkan manusia-manusia.  Lalu penciptaan sistem kelas masyarakat, perebutan lahan dan sumber daya. Pecahlah perang. Konflik tiada henti sejak sejarah keberadaan manusia sampai sekarang. Bukan soal benar-salah atau baik-jahat, tapi demi keseimbangan kehidupan di dunia.

Ya mungkin saja mereka berkonspirasi untuk menciptakan keseimbangan itu.

Ya sudahlah, silakan nonton sendiri deh. Siapa tahu kamu mendapatkan pencerahan yang berbeda. Kalau sudah nonton, jangan lupa bagi-bagi hikmahnya yaaa.

Wallaahu’alam.