Review Gado-Gado Superhero Tahun 2016 [Bag. 1] : Deadpool, BvS Dawn of Justice, Suicide Squad

Saya pribadi tidak pernah memiliki ekspektasi tinggi terhadap film-film superhero, walaupun hype sealaihim gambreng dll dll. Pokoknya kalau pas saya nonton tidak merasa bosan dan ketagihan, film superhero tersebut saya anggap keren blas. Dan anyway, saya jarang nonton film superhero, kecuali Batman. Sampai sekarang superhero idola saya tetap Batman. Tapi sekarang saya lebih suka nonton film superhero keroyokan (seperti Avengers. Mungkin juga Justice League tapi saya belum nonton JL), bukan stand alone/solo.

Beberapa film superhero (dan antihero/villain) di bawah ini baru saya tonton minggu sekarang. Yuk cekidot .

Deadpool [Tim Miller, 2016]

Kamu pernah nonton film superhero sambil mrenges/mesem/ketawa sekaligus sambil merasa ‘iuuh’ pas lihat adegan gore? Deadpool membuat saya seperti itu (saya tidak terlalu tahan dengan adegan gore) dan ini pertama kalinya saya lihat genre manusia super yang tokoh utamanya menebas semua lawan-lawan manusianya dengan ganas. Yah, sebetulnya Deadpool bukan superhero sih, lebih tepatnya antihero, karena dia sama sekali tidak bertindak demi keadilan atau kebaikan melainkan untuk kepentingan pribadinya sendiri (yaitu balas dendam). Prinsip hidupnya mirip Saito : aku-soku-zan, yang jahat langsung bunuh! (Maksudnya yang menjahati dirinya).

Ya untungnya dibalut humor jadi pembantaiannya terlihat tidak terlalu ekstrim. Jelas, ini ditujukan untuk orang dewasa. Dan visualnya kece, pertarungannya keren, plot ceritanya mudah dipahami dan rapi, serta tentu saja humornya yang ajib dan fresh membuat saya merekomendasikan film ini untuk kamu tonton jika kamu suka action-manusia-super yang berbeda dari biasanya.

Jadi ceritanya, Wade Wilson yang sangat ingin menghabiskan masa-masa bahagia dengan kekasihnya malah divonis penyakit yang membuatnya gak bisa hidup lama. Biar bisa sembuh, dia rela dijadikan bahan eksperimen mengerikan yang ternyata mengubahnya jadi Deadpool, dan terutama mengubah wajah tampannya, padahal dia sudah disiksa sedemikian rupa supaya bermutasi. Karena merasa tertipu, dia melakukan pembalasan dendam dan mencari orang yang sudah mengubah hidupnya tersebut. Eksperimen itu gak hanya mengubahnya jadi manusia super, tapi juga membuatnya punya selera humor yang gila. Ya mana ada kan manusia super naik taksi ke tempat tujuan, ketinggalan senjata, atau pantat kena tembak? Dan masih banyak lagi kegilaan lain.

Visual : check.

Koreografi pertempuran : check.

Plot cerita : check

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : hmmm, body check lah, tapi wajah gantengnya minus setelah dia berubah jadi Deadpool wkwkwk

Kesimpulan : keren, seru, recommended

Batman vs Superman : Dawn of Justice [Zack Snyder, 2016]

Sejujurnya saya bingung gimana menjelaskan cerita film ini. Terlalu banyak cerita ini-itu kesana kemari tapi tidak terangkai dengan baik jadi bikin saya bingung. Sedangkan untuk aspek-aspek lainnya tidak usah diragukan : visual effect maknyuss, score music asoy, pertarungan spektakuler ada, arena megah ada, plus tokoh villain yang spektakuler pula. Pokoknya kolosal banget.

Cuman feel klimaks yang sesuai judul itu gak dapet. Maksud saya gini, saya bayangkan kalau sebuah cerita berjudul ‘Asep vs Ujang’ itu isinya perselisihan dua cowok yang pasti disebabkan sesuatu. Misal ada momen besar dimana mereka berselisih, macam perbedaan pilihan di pilpres kemarin dimana kubu Jokowi vs Prabowo yang sengit sekali, lalu diperburuk dengan hoax sana sini yang makin panas, ditambah lagi ternyata mereka naksir cewek yang sama di kampung sebelah, dan akhirnya setelah perang dingin dilanjut dengan saling ejek dan berakhir dengan perang fisik. Ada semacam event-event yang makin meruncing dan membuat mereka makin panas, ditambah pihak ketiga yang merecoki hingga mereka memutuskan untuk berkelahi sebagai sesama cowok. Itu tentu alur cerita yang tidak terlalu sulit untuk dipahami. Dan keputusan berduel juga bisa dirasakan dengan jelas.

Kalau di Bvs? Sayang sekali tidak. Mungkin karena saya tidak mengikuti film-film sebelumnya, jadi merasa bingung dengan asal muasal konflik mereka, dan alasan dua pahlawan super ini mesti berduel brutal begitu rupa kok kayaknya gak kena. Atau karena saya nonton sambil sesekali diselingi pause karena harus melakukan ini itu di rumah. Tapi hal lain-lainnya oke banget jadi nikmati pertarungan puncaknya saja, badass!

Cerita generalnya sih sederhana, dua pahlawan super dari 2 kota bersebelahan lagi marahan yang diawali dengan adegan hancurnya gedung milik Bruce Wayne (Batman), lalu beberapa kejadian di Metropolis dimana beberapa penjahat diburu makhluk kelelawar dan diberi cap kelelawar. Di sisi lain Superman dituduh penyebab kehancuran di beberapa tempat. Lalu Lex Luthor membuat situasi makin runyam dan kedua pahlawan kita harus berduel.

Visual : check.

Koreografi pertempuran : check.

Plot cerita : bingung

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : absolutely yes wkwkwkwk. Namanya juga superhero, apalagi Superman dan Batman, baju ketatnya itu…ya sudahlah yaa gak usah dibahas wkwkwkwk

Kesimpulan : mayan, enjoyable

Suicide Squad [David Ayer, 2016]

Nah, kalau yang ini plotnya udah straight forward sih sebetulnya. Alurnya sangat-sangat mudah diikuti. Dia berusaha menyelingi dengan humor tapi ya kurang lucu sih, menurut saya. Kebalikan dari BvS di atas, yang saya sayangkan dari sini adalah visualisasi dan spesial efek yang biasa aja, pertempuran yang membosankan, gak ada adegan spektakuler dalam koreografinya, dan villain yang cuma kelas kacangan. Mestinya, karena semua tokoh utama ini adalah penjahat kelas kakap, mereka bertarung dengan badass dan ekstrim seperti Deadpool, atau brutal layaknya BvS. Dan mereka bertarung hidup-mati melawan musuh yang juga super duper kuat hingga pahlawan super macam Batman bakal keok. Tapi semua serba biasa aja dan nanggung. Padahal suasana sudah lebih ceria dan musik pengiringnya sudah oke.

Gak mau kalah sama yang lain, yang saya soroti terutama adalah Harley Quinn dan Joker. Yang laen kelaut aje dah haha *kidding. Harley Quinn sudah tampak gila dan seksi, oke banget lah. Dan Joker, wow, pokoknya wow deh. Walaupun saya jarang liat Joker di film, tapi setahu saya dari film kartunnya, Joker ini penjahat yang hanya mementingkan diri sendiri dan terobsesi hanya pada Batman. Tapi di sini Jokernya seksi, dan dia perhatian banget sama Harley Quinn. Beda banget Jokernya, tapi gak jelek sih, cuma beda. Dan it is fine.

Ceritanya, sebagai antisipasi terhadap kemunculan makhluk yang ingin menguasai kota setelah Superman tiada, Amanda Weller membentuk tim khusus rahasia yang terdiri dari para penjahat kelas megalodon yang sedang dikurung di penjara paling seram di Gotham. Baru aja dibentuk, tiba-tiba salah satu dari mereka berbuat ulah sehingga tim khusus tersebut harus diturunkan untuk membasminya. Tampak bakal spektakuler? Ah, tidak juga, karena sebenarnya lebih mirip penggerebekan tim SWAT di film-film teroris atau aksi pembasmi hantu dalam mengembalikan sang hantu ke dunia asalnya.

Visual : kurang

Koreografi pertempuran : meh

Plot cerita : check, tapi agak berantakan

Musik pengantar/scoring music : check

Body atletis dan wajah ganteng : karena ini gerombolan penjahat, jadi poin ini pengecualian. Kecuali untuk Joker.

Kesimpulan : mayan

Overall, film itu buat saya tetaplah soal selera. Sejak Guardian of The Galaxy dan Suicide Squad saya jadi bisa menikmati film manusia super. Akhir –akhir ini yang ditonton ya film macam begini terus =D

Advertisements

[Hikmah Nonton Snowpiercer] Hidup Adalah Konspirasi dan Permainan Tuhan

Minggu lalu saya nonton film Snowpiercer (Bong Jo0 Ho, 2013) dan mendapatkan sebuah pencerahan sehingga saya merenung tentang arti hidup ini *tsah*.

Sebelum memulai dongengnya, saya kasih hint dulu tentang sutradaranya. Bong Joon Ho sudah beberapa kali membuat film dan rata-rata sukses secara komersial serta mendapatkan review positif. Mari saya ingatkan: The Host, Memories of Murder, dan Mother merupakan beberapa film beliau. Ketiganya masih dibuat dalam skala lokal korea, dan dua diantaranya (Memories of Murder & Mother) sudah saya tonton. Kesimpulan saya; Pak Jong Ho ini demen menyelipkan gory ke dalam film-filmnya. Tapi tenang saja, gory-nya tidak membuat film beliau jadi terkesan murahan. Tapi memang pas sesuai dengan porsinya.

Nah Snowpiercer ini film skala Hollywood yang dibintangi oleh Chris Evans (si kapiten ameriki itu lho) dan Tilda Swinton (yang ini sih kece banget, I love her). Saya sempat mikir, emang Om Evans bisa maen film ginian setelah tampang dan body-nya mendominasi di kapiten ameriki series? Jawabannya, ya dia bisa! Aktingnya tidak bagus-bagus amat sih, tapi lumayan keren. Dia tampak berbeda sekali di sini.

Jadi film Snowpiercer ini soal apa?

Cerita dimulai dengan kondisi kehidupan umat manusia di masa depan yang sudah berubah drastis akibat sebuah zat kimia berbahaya yang mencemari bumi. Suhu bumi menjadi dingin ekstrim, membeku, dan tidak bisa ditinggali. Seluruh kehidupan musnah. Dan seperti biasa, ada survivor yang kemudian membangun kehidupan baru di dalam kereta super panjang.

Kereta?

Ya, kereta. Tapi ini bukan kereta biasa. Tentunya kereta super canggih yang belum ada di jaman kekinian. Tapi masih tetap ada masinisnya, yang tidak lain adalah pembuat kereta itu sendiri, seorang konglomerat ambisius.

Para penumpang kereta dibagi ke dalam kelas-kelas seperti saat ini; ada kelas ekonomi dan eksekutif. Mereka menempati gerbong terpisah. Kelas ekonomi tentu menempati gerbong paling belakang yang butut, berjejalan, dan awalnya tidak mendapatkan makanan. Lalu kebijakan penguasa kereta  berubah; penumpang kelas ekonomi/kelas bawah mendapatkan makanan sampah. Para penumpang ini tidak pernah tahu bagaimana kondisi kehidupan kelas eksekutif dan tidak bisa protes karena pada umumnya mereka merupakan penumpang gelap.

Dari ketimpangan kelas ini muncullah percikan perlawanan yang dipimpin oleh seorang kakek tua cacat (saudara si pemilik kereta yang konon dibuang karena membangkang) dan muridnya yang masih cukup muda. Semangat mereka terpompa dengan adanya pesan-pesan rahasia yang selalu diterima si murid, dan dia meyakini bahwa ada seseorang di belahan gerbong lain yang memberikan semacam kode agar mereka dapat membuat strategi perlawanan.

Mereka membangun kekuatan diam-diam, mempersiapkan segala sesuatu, dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemberontakan melawan tirani penguasa kereta, agar selanjutnya dapat mewujudkan cita-cita besar yaitu kesetaraan bagi semua penumpang kereta.

Tetapi sebuah revolusi besar harus dibayar dengan harga yang sangat besar pula; nyawa dan darah. Dan selama perjalanan panjang menuju gerbong utama (tempat masinis kereta), mereka mempelajari kondisi kehidupan tiap-tiap gerbong yang dilewati; ada ikan-ikan dalam akuarium raksasa, makanan punah, hewan-hewan lain, sekolah, kebun, dan lain sebagainya. Jumlah penumpang yang tewas dalam revolusi itu terus bertambah. Tapi perjuangan harus terus dilanjutkan sampai akhir.

Saya tidak bisa menebak akhir cerita sehingga harus duduk manis mengikuti tiap adegan dan dialog supaya bisa mengerti alurnya. Pada pertengahan cerita, hampir saja saya berhenti nonton gara-gara adegan pembantaian sadis yang cukup ngeri. Gory. Saya pikir, lah apa-apaan ini, kok ada adegan ginian segala kayak film slasher kelas B aja. Tapi setelah film berakhir, barulah saya bisa menerima adegan berdarah-darah itu. Sungguh akhir cerita yang bikin sesak, haha.

Secara keseluruhan, ini film keren. Saya suka. Ada beberapa hal yang masih dirasa aneh, tapi ya masih bisa ditolerir.

Hikmah yang bisa saya ambil dari film ini, well, saya baru bisa merangkum pola globalnya betul-betul ketika film berakhir. Cerita survive dari bencana global yang menyebabkan dunia kiamat menurut saya hanyalah background saja. Intinya ada dalam kehidupan di kereta itu.

Kereta itu seperti bumi dengan segala keterbatasan lahan dan sumber dayanya. Dalam ratusan tahun ke depan, jumlah manusia itu akan ada berapa banyak? Dengan seleksi alamiah saja, seperti kematian karena tua, sakit, bencana dll jumlah manusia masih saja banyak. Makanya harus ada kontrol supaya jumlah manusia tidak overload. Siapa yang mengontrol? Misal sebut saja Tuhan, atau penguasa antahberantah entahapalah. Dalam skala yang lebih bombastis, bagaimana kalau sebetulnya pada awal mulanya Tuhan mengutus manusia (yang mengklaim dirinya) menjadi Nabi/Rasul sebetulnya untuk menciptakan konflik pada manusia? Mereka mengkotakkan manusia-manusia.  Lalu penciptaan sistem kelas masyarakat, perebutan lahan dan sumber daya. Pecahlah perang. Konflik tiada henti sejak sejarah keberadaan manusia sampai sekarang. Bukan soal benar-salah atau baik-jahat, tapi demi keseimbangan kehidupan di dunia.

Ya mungkin saja mereka berkonspirasi untuk menciptakan keseimbangan itu.

Ya sudahlah, silakan nonton sendiri deh. Siapa tahu kamu mendapatkan pencerahan yang berbeda. Kalau sudah nonton, jangan lupa bagi-bagi hikmahnya yaaa.

Wallaahu’alam.

Rurouni Kenshin Live Action 1, 2, 3

“Peringatan : banyak spoiler, jadi bagi yang belum nonton sebaiknya tidak membaca.

Rating film : 18 tahun ke atas. Walaupun ada dialog cheesy yang terkesan cocoknya buat tontonan anak-anak, tapi dengan begitu banyak pertarungan dan darah, film ini saya kasih rating segitu”

Agak mengesalkan.

Begitulah kesan pertama saya setelah menonton ketiga film Rurouni Kenshin Live Action secara marathon beberapa waktu lalu. Tidak betul-betul jelek sih filmnya, tapi terlalu banyak perubahan cerita membuat saya jadi agak kecewa. Ya kalaupun film ini melenceng dari versi orinisilnya, sebenarnya itu tidak terlalu masalah asal bagus.

Rasa-rasanya sejak punya blog saya belum pernah membahas soal Rurouni Kenshin atau Samurai X ya? Padahal ini adalah anime/manga yang paling saya sukai bahkan masuk dalam ‘great manga of all time’ versi saya, hehe. Itu karena saya suka banget sama  serial Samurai X sejak remaja pada tayangan perdananya di sebuah stasiun tipi swasta. Bayangkan! Sudah lebih dari 15 tahun dan saya tetap suka sama cerita ini.

Banyak hal yang bisa diceritakan dari Rurouni Kenshin. Tapi kali ini saya akan mendongeng tentang film live action-nya saja dulu.

Dari film pertamanya, Rurouni Kenshin, ceritanya sudah mengalami beberapa perubahan yang sangat mendasar. Menurut saya sih itu wajar karena Rurouni Kenshin merupakan kisah berseri yang tentu banyak sekali karakter di dalamnya, sedangkan film lepas sendiri berdurasi kurang dari 2 jam. Penulis naskah pasti harus menguras otak untuk membuat film ini tidak terlalu melenceng dari cerita asli, tetap menampilkan karakter kunci tanpa kehilangan momen-momen bersejarahnya hanya dalam waktu singkat. Mungkin demi efektivitas waktu tersebut, maka beberapa cerita dibuat lain dari aslinya.

Saya sih oke-oke saja dengan perubahan cerita, misal Yahiko Myojin yang tiba-tiba sudah menetap di dojo Kamiyakasshin, Hajime Saito yang sudah muncul duluan sejak awal, dan Jine yang bersekutu dengan Kanryu Takeda padahal di kisah aslinya tidak begitu. Namun yang disayangkan adalah karakternya tidak digali secara maksimal. Bagi saya sebagai pencinta Rurouni Kenshin sejak lama, mungkin ini tidak terlalu mengganggu karena toh saya sudah sangat mengenal karakter-karakter tersebut, saya hanya senang banget bisa melihat mereka dalam cerita yang real. Tapi bagi orang yang pertama kali melihat atau baru tahu soal cerita Rurouni Kenshin, tentu mereka akan heran, lho siapa si tokoh ini yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba begini begitu?

Ketika membaca manganya, saya dikenalkan pada karakter-karakter keren. Mereka yang muncul di cerita memiliki latar belakang kehidupan dan masa lalu yang berbeda-beda. Misal, kenapa Kaoru Kamiya mati-matian membersihkan nama aliran kamiyakasshin, kenapa Sanosuke Sagara membenci pemerintahan Meiji dan bergabung dengan grup kenshin, kenapa Yahiko Myojin berada di dojo Kaoru, dan kenapa Megumi Takani memutuskan untuk menjadi dokter. Semua cerita terjalin dengan baik dan tiap tokoh memiliki ikatan/chemistry yang kuat sehingga membuat mereka jadi bersatu padu menjalin perkawanan.

Itulah yang gak ada di film live action-nya. Daripada menggali latar belakang karakter, sutradara malah membahas hal-hal yang tidak penting banget di filmnya. Saya juga kecewa karena aura permusuhan Kenshin dan Hajime Saito –yang merupakan musuh besar saat zaman bakufu dimana mereka berada di pihak yang berseberangan, tidak muncul di film ini. Pertarungan mereka juga hanya selewat saja. Slogan aku-soku-zan Saito juga sama sekali gak muncul di sini. Padahal itulah yang membuatnya keren bingit.

Nah, di film kedua, yaitu Kyoto Inferno, ternyata masih sama saja dengan film pertamanya. Tidak ada perkembangan karakter. Yang menonjol di sini cuma Makoto Sishio dan Misao Makimachi, saya suka akting mereka yang lumayan bagus dan bisa membawakan karakter aslinya dengan tidak terlalu jauh melenceng. Selebihnya, cuma tempelan aja terutama grup Juppongatana. Padahal mereka grup hebat yang di-hire buat menghancurkan Kyoto, tapi tak ada satupun karakter yang latar belakang hidupnya diceritakan. Saya berpikir, walaupun tidak diberikan porsi besar seperti di manga, seharusnya juppongatana ini tetap dikenalkan dengan motivasi bertarung masing-masing. Pertarungan Usui dan Saito yang menarik juga tidak ada. Padahal Usui itu selevel sama Sojiro Seta si jenius pedang. Tidak ada pertarungan mengharukan antara Sanosuke vs Anji dengan jurus futae no kiwami-nya.

Saya pengen banget bertanya sama si sutradara, itu kenapa Kyoto Inferno dan sequel-nya, Legend Ends melencengnya keterlaluan? Ada drama penculikan Kaoru ke kapal, pertemuan Ito Shibumi dengan Sishio sampai pertarungan final di kapal Sishio, itu sama sekali tidak ada di cerita aslinya. Bukannya menarik, menurut saya ini malah buang-buang waktu saja, sedangkan hal penting lainnya tidak digali. Padahal yang terpenting itu kan sebetulnya bukan menyuguhkan kejutan pada penonton karena ceritanya yang tiba-tiba berbeda, karena toh semua juga sudah tahu cerita Samurai X itu gimana. Padahal pertarungan akhir bisa mengikuti pakem cerita aslinya, sisa waktu bisa digunakan untuk menceritakan soal masa lalu Sojiro misalnya, kenapa dia begitu taklid pada Sishio.

Masa lalu Sojiro dan Sanosuke menurut saya penting sekali digali karena bisa sangat relevan dengan realitas kekinian. Sanosuke yang demen rusuh karena membenci sistem kekuasaan pada saat itu tapi punya harapan yang positif tentang masa depan Jepang, dan Sojiro yang polos termakan dogma Sishio. Sayangnya itu tidak dibahas! Sungguh saya kesal sekali, haha.

Yang paling parah dari ketiganya memang Legend Ends sih (film ketiga), sampe perlu ada drama hukuman mati buat Kenshin segala. Dan di atas semua itu, ketiga film ini betul-betul tidak memperlihatkan adegan simpel Kenshin saat pulang bertarung yang merupakan simbol dari perkembangan mental pengembaranya, yaitu saat Kaoru mengatakan ‘selamat datang kembali” dan Kenshin menjawab ‘aku pulang’. Aaaaak, padahal saya suka sekali momen ini.

Tapi over all, sebagai pencinta serial Rurouni Kenshin saya tetap menonton marathon dari awal dan mengoleksinya –setelah mengoleksi manga serta serial animasinya. Yang menyenangkan di film ini adalah adegan pertarungan atau koreografi maen pedangnya yang cihuy banget. Cepat dan keren! Adegan pertarungan di semua film tidak mengecewakan, serba cepat dan mengesankan. Terutama Kenshin vs Sojiro Seta. Menurut saya ini lebih bagus dari film-film action Hollywood yang pernah saya tonton. Tidak ada CGI dan konon Takeru Satoh, pemeran Kenshin, bermain tanpa pemeran pengganti. Keren deh. Udah ganteng, keren pula *eh*

Bagi kalian pencinta serial Samurai X, film ini masih layak tonton tentunya. Mungkin sutradara ingin membuat filmnya serealistis mungkin jadi dibuat banyak perubahan. Tapi ya itu tadi, beberapa adegan melenceng jauh serta karakter yang hanya tempelan belaka menjadikan film ini jadi agak hambar. Sedangkan bagi yang tidak mengenal Samurai X, bolehlah ini ditonton sambil makan popcorn sebagai hiburan di akhir pekan.

Berdakwah ala ‘It Follows’ : Jangan Ngeseks Sembarangan!

David Robert Mitchell bersabda : “barang siapa diantara kalian, terutama muda-mudi liar yang haus petualangan, melakukan seks bebas sembarangan maka bersiaplah mendapat kutukan mengerikan sampai mati”

Mungkin, om David berpikir bahwa menakuti orang-orang dengan ancaman neraka setelah kematian atau penyakit menular sudah terlalu mainstream atau bahkan terlalu basi dan tidak ‘nyeni’ sehingga dia membuat sebuah cerita yang absurd di film indienya, ‘It Follows’.

Bayangkan saja, kamu ngeseks sembarangan misalnya dengan orang yang tidak begitu kamu kenal, membayar PSK, atau via one night stand dan ternyata ada hal mengerikan yang ditularkan partner seks kamu itu. Bukan penyakit kelamin, melainkan sebuah kutukan : kamu akan dikuntit makhluk (semacam hantu) yang akan terus berusaha membunuhmu!

Makhluk ini akan terus menguntitmu sampai mati. Dia bisa berbentuk manusia asing yang tiba-tiba muncul dari keramaian atau menyerupai orang yang sangat kamu kenal, bahkan bisa sama persis dengan orang yang kamu sayangi. Kadang-kadang muncul secara tiba-tiba dalam bentuk fisik yang cukup menyeramkan. Hiy, kedengaran lebih buruk dari ancaman neraka bukan? Neraka sih menunggu nanti sampai mati. Lha kutukan versi om David ini kontan saat itu juga setelah kamu selesai berasik-asik masyuk.

Film dibuka dengan adegan seorang gadis muda pontang panting berlari seperti menghindari sesuatu yang sangat berbahaya. Lalu dia pergi mengendarai mobil dan berhenti di tepi pantai saat malam menjelang. Dia merasakan ada seseorang di dekat mobilnya. Lalu gadis ini menelpon orangtuanya sambil menangis, dan mengatakan kalau dia sangat mencintai mereka. Pada pagi harinya, si gadis ditemukan tewas di tepi pantai dalam kondisi mengenaskan.

Saya tidak tahu bagaimana cara gadis itu dibunuh karena tidak diperlihatkan. Tapi kondisi mayatnya cukup disturbing buat saya.

Cerita beralih pada seorang gadis muda, bohai nan cantik bernama Jay. Jay adalah tipikal gadis muda pada umumnya yang punya banyak teman dan tinggal di daerah perkotaan Amerika. Suatu ketika Jay berkencan dengan seorang pria muda yang baru dia kenal dan berakhir dengan ehem-ehem gitu deh. Setelah selesai, si pria membius Jay dan membawanya ke sebuah tempat yang sepi di dekat hutan. Lalu setelah Jay tersadar, pria itu bercerita bahwa dia telah menularkan sebuah kutukan pada Jay, dengan sangat terpaksa, untuk keselamatan dirinya sendiri. Untuk meyakinkan Jay, pria itu sengaja membawa Jay ke tempat sepi tersebut dan menunjuk pada sosok wanita aneh telanjang bulat yang datang dari kejauhan mendekati tempat mereka.

Pria itu juga menjelaskan bahwa kutukan yang ditularkannya adalah penguntitan oleh makhluk semacam hantu yang akan terus berusaha membunuh Jay di manapun dia berada. Jay hanya terus berusaha untuk menghindari makhluk tersebut. Jay bisa menularkan lagi kutukan tersebut kepada orang lain dengan cara berhubungan seks dengan orang yang bersangkutan. Tapi itu juga bukan pemutus mata rantai kutukan, sebab jika orang yang terkena kutukan telah terbunuh, maka makhluk itu akan memburu pemberi kutukan sebelumnya, dan terus begitu.

Jay sendiri tidak bisa berbuat apa-apa toh dia belum begitu mengenal si pria.  Akhirnya dia meminta bantuan kepada teman-temannya untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran si hantu penguntit. Nah, bagaimanakah nasib Jay selanjutnya?

Terlepas dari ide ceritanya yang absurd, It Follows merupakan film indie yang keren bahkan ada yang memasukkannya sebagai salah satu film terbaik tahun 2014. Sebuah pencapaian luar biasa bagi genre horror. Karena walaupun temanya soal seks, tapi it follows tidak jatuh pada film horror murahan yang penuh adegan klise dan eksploitasi tubuh seksi atau adegan seks tidak penting. Adegan seksnya tentu ada, toh cerita utamanya sendiri mengenai kutukan yang menular lewat hubungan seks, tapi dengan cermatnya Om David membuatnya hanya sebagai bumbu walaupun seks merupakan pusat dimana horror itu berasal.

Terus, jika kalian menyukai jenis horror yang penuh adegan kejutan mendadak yang bikin menjerit (jump scare), maka It Follows bukan jenis menakuti seperti itu. Kengeriannya timbul dari situasi dan mood, serta kondisi tertekan secara psikologis. Bayangin aja kamu harus terus waspada melihat gerak tiap orang di sekeliling karena siapa tahu itu adalah si makhluk pemburu, bahkan orang biasa yang lewat pun bisa jadi terlihat serem saat terus berjalan tanpa henti mengikuti Jay.

Nah. Sudah mulai tercerahkan oleh dakwah Om David? Mangkanyah, hati-hati yah kalau mau pilih partner atau mau esek-esek gituan. Setelah nikmat sesaat didapat, malang berkepanjangan menanti hiiiiy 😀

Ran (1985), Dongeng Megah Tentang Musnahnya Sebuah Cinta .… eh, Klan

Ran adalah sebuah film Jepang-Prancis yang dibuat tahun 1985 dan disutradarai oleh Akira Kurosawa. Ceritanya bercampur aduk mengenai pembalasan dendam, hubungan ayah-anak, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, karma, bahkan keyakinan. Tapi kalau saya intip di wiki sih, salah satu tema film ini adalah nihilisme. Bagaimana tema ini saling berkaitan, sebaiknya kalian tonton sendiri deh ya.

Seperti halnya film Kurosawa lainnya, tidak ada drama lebay walaupun ceritanya tragis dan menyesakkan. Inilah yang saya sukai dari Akira Kurosawa. Dan buat saya, Ran ini betul-betul megah (walaupun ditonton pada masa kekinian) dengan landscape yang indah, kontras dengan warna-warni kostum tokoh-tokohnnya.

Dengan latar belakang Jepang pada masa feodal dimana para warlord (semacam tuan tanah kali ya) berperang untuk memperluas kekuasaan, dongeng ini bermula dari kejayaan sebuah klan yang memiliki 3 kastil dan merupakan salah satu klan yang paling disegani; Ichimonji. Pemimpinnya yang sudah renta bernama Hidetora Ichimonji, merupakan lelaki berdarah dingin bergengsi tinggi.

Suatu hari, ketika sedang berburu dengan ketiga putranya dan dua pemimpin rekanan klan (Abeya dan Fujimaki), Hidetora bermimpi mengenai hal mengerikan dimana dia berada sendirian di sebuah tempat yang sepi. Dari mimpi itu, akhirnya dia membuat sebuah keputusan fatal yang akan mempengaruhi masa depan klannya.

Kemudian Hidetora mengumumkan bahwa dia ingin pensiun dari jabatanya dan hidup dalam kedamaian tanpa harus dipusingkan dengan urusan klan. Namun karena dasarnya dia tidak mau ada orang yang posisinya lebih tinggi melebihi dia dalam keluarga, dia tetap menjadi semacam Ibu suri (kalau dalam kerajaan sih kayaknya begitu) dengan julukan ‘Great Lord’, sedangkan pemimpin klan atau ‘Lord’ diserahkan pada anak tertua yaitu Taro. Taro akan menempati kastil yang paling prestise yaitu kastil pertama. Sedangkan anak kedua, Jiro, menempati/berkuasa di kastil kedua. Saburo si bungsu dikasih kastil ketiga. Baik Jiro maupun Saburo akan membantu Taro dalam mengurus dan mempertahankan kejayaan klan Ichimonji.

Keputusan yang sekilas tampak bijak. Bahkan Hidetora memberikan wejangan pada tiga anaknya, bahwa jika mereka bersatu maka mereka akan kuat. Seperti perumpamaan anak panah, jika satu batang maka mudah dipatahkan. Tapi jika tiga anak panah digenggam sekaligus, maka sulit dipatahkan.

Taro maupun Jiro memuji kebijakan ayahnya. Tapi Saburo, satu-satunya yang masih jomblo diantara mereka (halah), membantah wejangan ayahnya dengan mematahkan 3 anak panah sekaligus dengan kakinya. “Walaupun sudah bersatu, masih tetap bisa dipatahkan’, begitu kira-kira bantahan Saburo. Tentu saja Hidetora tidak bisa menerima bantahan anaknya. Dia menganggap Saburo selalu berkata dengan kasar dan menentangnya, padahal sebetulnya Saburo mengatakan kebenaran. Karena Saburo tetap menentang dengan lugas dan tegas, apalagi di depan para tamu, Hidetora kehilangan kesabaran dan mengusir Saburo dengan mengatakan bahwa mereka sudah tidak punya hubungan keluarga lagi. Tango, salah satu penasihat yang sangat loyal pada Hidetora pun berusaha membela Saburo, tapi malah ikut-ikutan diusir.

Fujimaki, pemimpin klan yang menyaksikan kejadian tersebut merasa kagum dengan karakter Saburo. Diapun akhirnya meminta Saburo untuk tinggal di kastilnya, bahkan tetap menikahkan putrinya dengan Saburo walau pria itu sudah bukan lagi bagian dari Ichimonji. Sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Saburo meminta Tango untuk mengawasi ayahnya dari jauh supaya dia bisa memastikan kalau ayahnya selalu baik-baik saja.

Setelah mewariskan kekuasaan, semua hal tidak sejalan dengan apa yang diharapkan Hidetora. Atas pengaruh Lady Kaede (istri Taro), Taro berkonfrontasi dengan ayahnya sebagai penguasa tertinggi di Ichimonji yang akhirnya membuat Hidetora hengkang dari kastil pertama. Dia pergi menemui Jiro di kastil kedua, tapi juga diusir oleh anaknya tersebut. Hidetora dan seluruh rombongan ksatria, prajurit loyal, permaisuri dan seluruh pelayannya terlunta-lunta. Sampai kemudian Taro dan Jiro bersekongkol membantai rombongan tersebut di depan mata Hidetora sendiri yang menyebabkan lelaki tersebut menjadi gila. Dia satu-satunya yang selamat dibiarkan pergi.

Ada satu tokoh penting dalam film ini, yaitu Kyoami. Dia adalah lelaki muda yang agak feminine yang telah berada di keluarga Ichimonji sejak kecil. Tugasnya adalah melawak (semacam stand up comedian) dan Hidetora sangat menyukai lawakannya. Kadang-kadang, lawakannya merupakan bahasa satir untuk mengekpresikan penentangannya pada berbagai hal atau menyindir para pejabat Ichimonji sendiri. Ketika menemani dan menjaga Hidetora dalam kegilaan, Kyoami selalu meladeni pembicaraan pria itu dan berkata ‘man is born crying. He cries, cries and then dies’. Dia juga bilang kalau kehidupan seperti roda yang posisinya bisa terbalik, dulu dia adalah the fool yang membuat tuannya tertawa, sekarang tuannya yang ‘fool’ dan dirinya yang tertawa. Salah satu perkataan Kyoami yang paling saya ingat ‘all men lost their way’.

Kurosawa membuat film ini agak mirip dengan King Lear-nya Shakespeare, tapi tentu dengan citarasa khas dia sendiri dan kultur jepang pada masa feodal.

Hubungan ayah anak, terutama antara Saburo dan Hidetora tidak didramatisir dengan berlebihan, tapi justru membuat saya begitu terharu. Misalnya waktu ayahnya tiba-tiba ketiduran saat menjamu tamu di alam terbuka, Saburo memangkas beberapa tumbuhan untuk ditancapkan di dekat ayahnya, agar kepala ayahnya terlindungi dari sinar matahari. So sweet banget kan. Tidak perlu drama ini itu, tapi satu adegan tanpa dialog ini saja sudah menjadi simbol bahwa sebetulnya Saburo sangat mencintai dan mengkhawatirkan keselamatan ayahnya. Saburo punya feeling kalau keputusan ayahnya adalah keputusan terbodoh sepanjang karirnya, dan memang betul, karena keputusan untuk menyerahkan kepemimpinan pada Taro telah menyebabkan musnahnya klan Ichimonji.

Hidetora sendiri seperti mendapatkan karma dari kekejamannya semasa dia memerintah. Karma itu datang dari Lady Kaede yang ternyata telah menyusun pembalasan dendam sejak dirinya melihat kastil beserta seluruh keluarga besarnya di musnahkan dan dia sendiri dipaksa menikah dengan Taro. Naiknya Taro menjadi pemimpin klan mempermudah jalannya untuk membalas dendam.

Mantan pemimpin klan Ichimonji yang dulu ditakuti, kemudian menjadi gelandangan gila. Dan dalam petualangannya menjadi orang gila, dia melihat dunia dalam perspektif berbeda, dan merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang telah dibantainya. Dia bertemu dengan Tsurumaru, salah satu survivor dari pembantaian di sebuah klan oleh dirinya. Tsurumaru tinggal sendiri di sebuah gubuk di tengah hutan dengan kedua mata buta. Dulu, Hidetora mencongkel kedua matanya saat bocah sebagai bayaran untuk nyawanya. Dia juga berjalan-jalan di reruntuhan kastil yang dulu dia musnahkan, lalu mendapat semacam pencerahan yang membuatnya ketakutan dan kesadaran tentang kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Dia bahkan selalu berlari ketakutan tiap ada orang yang menyebut nama Saburo.

Selain Kyoami, tokoh penting lainnya tentu adalah Lady Kaede yang disebut sebagai si iblis serigala dalam bentuk perempuan karena kekejamannya. Setelah menjadi janda karena kematian Taro (yang dibunuh oleh Jiro, adiknya sendiri), dia mendekati Jiro agar tetap menjadi perempuan nomor satu di kastil Ichimonji. Dia minta dinikahi oleh Jiro dengan syarat Lady Sue (istri Jiro) harus dibunuh. Dan sebetulnya, dia inilah salah satu penyebab runtuhnya klan Ichimonji dari dalam. Klan Ichimonji pun habis tak bersisa.

Film yang luar biasa dan mengesankan. Durasi yang lumayan panjang pun menjadi tak terasa saking asiknya. Skor 5/5 dari saya. Oya, selain Ran, saya rekomendasikan film-film Kurosawa lainnya seperti Seven Samurai, Kagemusha dan Ikiru. Satu lagi : Rashomon (tapi saya belum nonton yang ini). Film yang saya sebutkan itu keren semua lho.