ketika kamu kehilangan rasa takut pada tuhan, dosa, dan neraka

Saya sedang agak kesepian, sebetulnya, jadi saya menulis beginian. Setelah hampir setahun berada di kampung, beradaptasi dan bergaul dengan orang-orang baru sepaket dengan pemikiran-pemikirannya, tiba-tiba saya kangen ngobrol hal apapun tanpa batasan dan tanpa takut dihakimi. Di kampung sini, tentu hal itu tidak bisa dilakukan. Sama sekali tidak bisa. Ya bukannya saya tak pernah mencoba sih. Saya sudah mencoba, sekali, dan hasilnya adalah bahwasanya saya seperti sebentuk alien yang perlu dirukyah, yang otaknya sengklek, aneh, berbahaya, dan makhluk uyuhan yang disesatkan setan.

Tapi ya sudahlah. Tiap pasar memang punya segmen tertentu. Kita tak bisa memaksakan sesuatu yang tidak lazim di pasar konvensional. Untuk bisa hidup selalu hepi dan sehat di manapun, adaptasi dan penyesuaian topik adalah pilihan terbaik.

Tapi ya itu, saya kangen ngobrol dengan beberapa kawan, seperti dulu waktu di Bandung. Mengobrol ngalor ngidul tentang apapun, dan bahkan persoalan ‘apakah tuhan itu betulan ada?’ dan hal tabu lainnya tanpa ada penghakiman. Selama di kampung, saya tidak pernah lagi membahas berbagai hal yang berkecamuk di otak. Rasanya kok sepi ya lama-lama, haha.

Nah, jadi saya menulis saja.

Eh tadi saya mau nulis apa ya? Kok jadi lupa. Kebanyakan intro nih, haha.

Jadi, saya teringat pada sebuah pertanyaan yang ingin saya ajukan pada kalian “apakah kalian pernah tiba-tiba merasa kehilangan hal yang awalnya sangat prinsipil dari dalam otak? Tepatnya, kehilangan rasa takut terhadap tuhan, terhadap dosa, dan juga terhadap ancaman neraka?”

Saya tidak begitu ingat detail awalnya ketika saya merasakan hal tersebut, beberapa tahun lalu. Saya akhirnya tidak terlalu peduli pada pemikiran ‘apakah tuhan itu ada’ atau ‘apakah saya melakukan dosa’ atau ‘apakah saya akan dilempar ke dalam api neraka atau surga’. Saya tidak lagi memikirkannya. Dan saya tidak lagi menjadikan hal tersebut sebagai acuan dalam mengambil keputusan atau untuk memilih/menentukan sikap hidup.

Ide-ide relijius yang begitu kental sudah ditanamkan (saya menyebut di-tanam-kan karena saya tidak memilih sendiri untuk menelan ide tersebut) di otak sejak kecil. Seluruh perilaku saya pun dipengaruhi oleh ide sakral itu, sebagai satu-satunya pedoman dalam menjalani hidup. Satu saja alasannya : karena ide itu satu-satunya ide baik di dunia. Ya, sebutlah itu agama.

Agama adalah kontrol dan pengaturan untuk saya dalam bersikap; dan juga ide-ide soal tuhan beserta paket gaib lainnya. Jadilah kamu manusia yang baik menurut agama dan manusia, supaya tuhan sayang dan memberimu imbalan surga selama-lamanya. Dan janganlah kamu berbuat jahat (dosa) menurut agama dan manusia, supaya tuhan tidak marah dan menghukummu dengan siksaan neraka yang sakitnya tanpa akhir. Menelan ide dengan penuh ketakutan, supaya bisa berbuat baik.

Apa yang terjadi kemudian adalah saya sering menyalahkan diri sendiri, melabeli dan menghakimi diri sendiri ketika melakukan suatu hal yang saya anggap dosa (kesalahan). Kecewa terhadap diri sendiri, penyesalan yang berlebihan, dan jijik terhadap perbuatan sendiri, dan secara psikologis menurut saya ini tidaklah sehat.

Saya juga menutup diri untuk belajar hal-hal baru, apalagi yang tidak sesuai dengan ide agama. Karena hal-hal asing itu berbahaya bagi keyakinan (atau iman).

Lalu, setelah saya mulai mencoba memberanikan diri untuk membuka otak pada hal-hal baru yang berbahaya itu, ide-ide relijius itu mulai terkikis. Ada banyak kegelisahan dan pertanyaan yang muncul. Dulu saya merasa sangat terganggu, tapi kemudian saya menikmatinya dan sekarang sih sudah tidak peduli lagi. Ide-ide apapun yang muncul, saya sudah masa bodo.

Saya tak bisa hanya melihat dunia dari sudut pandang saya saja. Kebaikan, keburukan, bisa menjadi sangat relative. Selama apa yang kamu pilih tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, maka sah-sah saja dilakukan. Dalam hal ide-ide relijius, itu bisa menjadi sakral bagi sebagian orang, tapi tidak bagi yang lainnya.

Rasanya ada sebuah kebebasan saat saya memikirkan hal tersebut. Tuhan katanya maha baik, dia harusnya bisa mengijinkan manusia untuk berpikir apa saja. Dan tuhan juga maha penyayang. Hanya itu saja yang saya yakini. Dan keyakinan semacam apapun itu, tidak bisa dipaksakan pada orang lain.

Saya memandang dosa seperti sikap-sikap yang merugikan orang lain. Jadi jika apa yang saya pilih tidak beresiko merugikan orang lain atau diri sendiri, saya merasa tidak melakukan dosa, jadi saya tak perlu menyesal-meratap dan marah pada diri sendiri kan?

Saya tak tahu apakah neraka atau surga itu benar-benar ada. Dan saya tidak peduli lagi dengan keberadaannya. Berbuat baik, ya berbuat baik saja. Banyak orang-orang baik berkualitas tanpa dilatar belakangi gagasan-gagasan relijius. Dan juga sebaliknya, orang yang tampak begitu penuh dengan doktrin reliji sedari kecil malah jadi koruptor atau pedofilia. Jadi semua manusia ya sama saja.

Yang mau menjalankan gagasan agamanya, silakan, karena banyak hal baik juga di dalamnya. Asal tidak dipaksakan kepada orang lain untuk meyakini hal yang sama. Yang tanpa embel-embel tuhan, agama, dll juga silakan. Toh kalian semua bisa menjadi manusia berpotensi dan berakhlak mulia dengan latar belakang ideologi apapun.

Ya sudah. Semua sudah dikeluarkan. Sampai ketemu di tulisan kesepian berikutnya, ya :mrgreen:

Advertisements

Perempuan Yang Sudah Kenyang Dengan Tuhan

Oleh : Eva Handayani

Tidak adakah yang bisa kau tawarkan lagi kepadaku selain Tuhan? Aku sudah bosan. Aku sudah kenyang. Luka ini terlalu sakit, berkarat, berlarat…perempuan itu meracau. 

Sahabatnya terdiam, dalam benaknya yang sederhana, dia pikir seharusnya Tuhan saja cukup.Dia adalah pemusnah segala luka dari luka yang paling menganga sekalipun.Tapi sahabatnya mencoba memahami. Tuhan, bagi perempuan itu memang seperti sebuah kue yang dikatakan enak oleh seluruh isi bumi, tapi dia sudah tidak bisa merasakannya lagi. Bayangkan, dia sudah memamah kue ini dari sejak kecil, atau lebih tepatnya disuapi dengan baik oleh orang tuanya atau pun orang-orang terdekatnya. Semua orang selalu mengatakan kue itu adalah solusi dari semua hal. Jadi wajar jika sahabatnya sudah terlalu bosan dengan kue itu, hambar saja, tidak ada rasanya.

Hey..! mengapa kau diam..kau sahabat ku seharus nya bisa memberi ku obat yg lebih mujarab..aku sudah tidak tahan.Perempuan itu menangis semakin menjadi-jadi.

Sahabat nya tetap tidak bisa berkata-kata.Hanya helaan nafas yg semakin berat.Perasaan bersalah karena tidak bisa bisa berbuat apa-apa..Dia hanya punya kue untuk perempuan sahabat nya..hanya kue itu..

Tuhan, bagi perempuan itu mungkin sedang berada dalam fase ‘law of deminishing return’ dalam hukum ekonomi. Yaitu tingkat kepuasan yang semakin berkurang ketika terus menerus dikonsumsi. Lama kelamaan dia menjadi enek dan tidak menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang spesial lagi untuk dikonsumsi, karena kepuasannya sudah berkurang, bahkan mungkin tidak lagi memuaskan dahaganya.

Atau mungkin, perempuan itu menganggap bahwa sifat Tuhan yang selalu penyayang pada keseluruhan makhluk, baik yang percaya kepadanya ataupun tidak, sehingga kesalahan personal yang hanya melibatkan dia dan Tuhan akan selalu dimaafkan.  [6/11/13 9:14 PM]

Pertanyaan Dari Miranda Risang Ayu

Kira-kira pada awal bulan ini saya bertemu dengan seorang penulis perempuan, Miranda Risang Ayu . Sebenarnya, saya bukan seorang fans atau pengagum beliau. Saya mengenal namanya sebagai penulis saat berusia 14 tahunan, jadi sudah lama sekali. Pada waktu itu saya membaca sebuah cerpen karya beliau di jurnal Ulumul Qur’an (yang mana saya tidak paham sama sekali tentang isi jurnal tersebut, tetapi belakangan saya berpikir kalau jurnal tersebut mengkaji tentang spiritualisme dalam islam). Saya lupa judul cerpen tersebut, tapi masih mengingat isinya dengan baik. Saat saya katakan kepada beliau tentang cerpen itu, beliau segera menjawab bahwa cerpen itu berjudul ‘Surti’. Ya, cerpen itulah yang membuat saya tahu bahwa ada penulis perempuan bernama Miranda Risang Ayu.

Saya pikir beliau pengarang biasa seperti yang lainnya -ya, tipikal pengarang buku-buku bernuansa islami/relijius dan saya tidak pernah sekalipun membaca bukunya. Saya hanya tahu selintas saja tentang nama beliau. Setelah kemarin bertemu langsung dan mengobrol selama 2 jam, barulah saya tahu bahwa betapa cerdasnya perempuan tersebut. Beliau rupanya sangat memahami (dan menekuni) hal-hal semacam spiritualisme, sufisme, dan sejenis itulah. Saya tidak paham dan tidak (atau belum) tertarik dengan hal seperti itu. Sulit untuk dimengerti, begitu menurut saya. Kawan saya yang merupakan penggemar berat beliau, memperlihatkan beberapa buku dan kumpulan puisi Miranda Risang Ayu. Setelah saya baca-baca sedikit, bahkan dari judulnya saja saya sudah tahu bahwa beliau memang membahas berbagai hal dari sudut pandang yang ‘berat’ menurut saya (semacam spiritualisme itu), misal tentang menemukan Tuhan, dan lain sebagainya.

Pada waktu itu, Miranda Risang Ayu mengajukan 2 pertanyaan yang, bagi saya, bukan pertanyaan biasa. Tapi beliau meminta saya untuk menjawab secara spontan melalui reaksi pertama dari apa yang saya rasakan setelah mendengar pertanyaan tersebut.

Pertama, beliau bertanya : ‘BAGAIMANA HIDUPMU?’

Entah kenapa saya langsung terbayang warna abu-abu, jadi saya menjawab abu-abu. Beliau meminta saya menjelaskan lebih lanjut kenapa saya menjawab abu-abu. Saya hanya bisa mengatakan, bahwa abu-abu merupakan area ketidakjelasan; atau mungkin lebih tepatnya, sesuatu diantara benar dan salah. Saya sendiri bingung.

Kedua, beliau bertanya : ‘BAGAIMANA JIKA SEANDAINYA TUHAN ITU TIDAK ADA? TUHAN, YANG SELAMA INI KAMU KONSEPKAN DALAM PIKIRANMU, BAGAIMANA JIKA SEBENARNYA DIA TIDAK ADA? DAN AGAMA ISLAM YANG KAMU PERCAYAI ITU SEBENARNYA TIDAK PERNAH ADA?”

Untuk pertanyaan kedua, saya tidak bisa menjawabnya. Saya hanya bisa terdiam. Kaget dan agak shock. Seumur hidup, baru kali itulah ada orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu secara langsung kepada saya.

Bahkan, sampai sekarang pun, saya tidak bisa memikirkan jawabannya. Saya tidak tahu jawabannya. Tapi, saya ingin bertemu lagi untuk mengobrol lebih lama dan lebih banyak lagi dengan beliau…

Continue reading “Pertanyaan Dari Miranda Risang Ayu”