[Hikmah Nonton Snowpiercer] Hidup Adalah Konspirasi dan Permainan Tuhan

Minggu lalu saya nonton film Snowpiercer (Bong Jo0 Ho, 2013) dan mendapatkan sebuah pencerahan sehingga saya merenung tentang arti hidup ini *tsah*.

Sebelum memulai dongengnya, saya kasih hint dulu tentang sutradaranya. Bong Joon Ho sudah beberapa kali membuat film dan rata-rata sukses secara komersial serta mendapatkan review positif. Mari saya ingatkan: The Host, Memories of Murder, dan Mother merupakan beberapa film beliau. Ketiganya masih dibuat dalam skala lokal korea, dan dua diantaranya (Memories of Murder & Mother) sudah saya tonton. Kesimpulan saya; Pak Jong Ho ini demen menyelipkan gory ke dalam film-filmnya. Tapi tenang saja, gory-nya tidak membuat film beliau jadi terkesan murahan. Tapi memang pas sesuai dengan porsinya.

Nah Snowpiercer ini film skala Hollywood yang dibintangi oleh Chris Evans (si kapiten ameriki itu lho) dan Tilda Swinton (yang ini sih kece banget, I love her). Saya sempat mikir, emang Om Evans bisa maen film ginian setelah tampang dan body-nya mendominasi di kapiten ameriki series? Jawabannya, ya dia bisa! Aktingnya tidak bagus-bagus amat sih, tapi lumayan keren. Dia tampak berbeda sekali di sini.

Jadi film Snowpiercer ini soal apa?

Cerita dimulai dengan kondisi kehidupan umat manusia di masa depan yang sudah berubah drastis akibat sebuah zat kimia berbahaya yang mencemari bumi. Suhu bumi menjadi dingin ekstrim, membeku, dan tidak bisa ditinggali. Seluruh kehidupan musnah. Dan seperti biasa, ada survivor yang kemudian membangun kehidupan baru di dalam kereta super panjang.

Kereta?

Ya, kereta. Tapi ini bukan kereta biasa. Tentunya kereta super canggih yang belum ada di jaman kekinian. Tapi masih tetap ada masinisnya, yang tidak lain adalah pembuat kereta itu sendiri, seorang konglomerat ambisius.

Para penumpang kereta dibagi ke dalam kelas-kelas seperti saat ini; ada kelas ekonomi dan eksekutif. Mereka menempati gerbong terpisah. Kelas ekonomi tentu menempati gerbong paling belakang yang butut, berjejalan, dan awalnya tidak mendapatkan makanan. Lalu kebijakan penguasa kereta  berubah; penumpang kelas ekonomi/kelas bawah mendapatkan makanan sampah. Para penumpang ini tidak pernah tahu bagaimana kondisi kehidupan kelas eksekutif dan tidak bisa protes karena pada umumnya mereka merupakan penumpang gelap.

Dari ketimpangan kelas ini muncullah percikan perlawanan yang dipimpin oleh seorang kakek tua cacat (saudara si pemilik kereta yang konon dibuang karena membangkang) dan muridnya yang masih cukup muda. Semangat mereka terpompa dengan adanya pesan-pesan rahasia yang selalu diterima si murid, dan dia meyakini bahwa ada seseorang di belahan gerbong lain yang memberikan semacam kode agar mereka dapat membuat strategi perlawanan.

Mereka membangun kekuatan diam-diam, mempersiapkan segala sesuatu, dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemberontakan melawan tirani penguasa kereta, agar selanjutnya dapat mewujudkan cita-cita besar yaitu kesetaraan bagi semua penumpang kereta.

Tetapi sebuah revolusi besar harus dibayar dengan harga yang sangat besar pula; nyawa dan darah. Dan selama perjalanan panjang menuju gerbong utama (tempat masinis kereta), mereka mempelajari kondisi kehidupan tiap-tiap gerbong yang dilewati; ada ikan-ikan dalam akuarium raksasa, makanan punah, hewan-hewan lain, sekolah, kebun, dan lain sebagainya. Jumlah penumpang yang tewas dalam revolusi itu terus bertambah. Tapi perjuangan harus terus dilanjutkan sampai akhir.

Saya tidak bisa menebak akhir cerita sehingga harus duduk manis mengikuti tiap adegan dan dialog supaya bisa mengerti alurnya. Pada pertengahan cerita, hampir saja saya berhenti nonton gara-gara adegan pembantaian sadis yang cukup ngeri. Gory. Saya pikir, lah apa-apaan ini, kok ada adegan ginian segala kayak film slasher kelas B aja. Tapi setelah film berakhir, barulah saya bisa menerima adegan berdarah-darah itu. Sungguh akhir cerita yang bikin sesak, haha.

Secara keseluruhan, ini film keren. Saya suka. Ada beberapa hal yang masih dirasa aneh, tapi ya masih bisa ditolerir.

Hikmah yang bisa saya ambil dari film ini, well, saya baru bisa merangkum pola globalnya betul-betul ketika film berakhir. Cerita survive dari bencana global yang menyebabkan dunia kiamat menurut saya hanyalah background saja. Intinya ada dalam kehidupan di kereta itu.

Kereta itu seperti bumi dengan segala keterbatasan lahan dan sumber dayanya. Dalam ratusan tahun ke depan, jumlah manusia itu akan ada berapa banyak? Dengan seleksi alamiah saja, seperti kematian karena tua, sakit, bencana dll jumlah manusia masih saja banyak. Makanya harus ada kontrol supaya jumlah manusia tidak overload. Siapa yang mengontrol? Misal sebut saja Tuhan, atau penguasa antahberantah entahapalah. Dalam skala yang lebih bombastis, bagaimana kalau sebetulnya pada awal mulanya Tuhan mengutus manusia (yang mengklaim dirinya) menjadi Nabi/Rasul sebetulnya untuk menciptakan konflik pada manusia? Mereka mengkotakkan manusia-manusia.  Lalu penciptaan sistem kelas masyarakat, perebutan lahan dan sumber daya. Pecahlah perang. Konflik tiada henti sejak sejarah keberadaan manusia sampai sekarang. Bukan soal benar-salah atau baik-jahat, tapi demi keseimbangan kehidupan di dunia.

Ya mungkin saja mereka berkonspirasi untuk menciptakan keseimbangan itu.

Ya sudahlah, silakan nonton sendiri deh. Siapa tahu kamu mendapatkan pencerahan yang berbeda. Kalau sudah nonton, jangan lupa bagi-bagi hikmahnya yaaa.

Wallaahu’alam.

Advertisements

Rurouni Kenshin Live Action 1, 2, 3

“Peringatan : banyak spoiler, jadi bagi yang belum nonton sebaiknya tidak membaca.

Rating film : 18 tahun ke atas. Walaupun ada dialog cheesy yang terkesan cocoknya buat tontonan anak-anak, tapi dengan begitu banyak pertarungan dan darah, film ini saya kasih rating segitu”

Agak mengesalkan.

Begitulah kesan pertama saya setelah menonton ketiga film Rurouni Kenshin Live Action secara marathon beberapa waktu lalu. Tidak betul-betul jelek sih filmnya, tapi terlalu banyak perubahan cerita membuat saya jadi agak kecewa. Ya kalaupun film ini melenceng dari versi orinisilnya, sebenarnya itu tidak terlalu masalah asal bagus.

Rasa-rasanya sejak punya blog saya belum pernah membahas soal Rurouni Kenshin atau Samurai X ya? Padahal ini adalah anime/manga yang paling saya sukai bahkan masuk dalam ‘great manga of all time’ versi saya, hehe. Itu karena saya suka banget sama  serial Samurai X sejak remaja pada tayangan perdananya di sebuah stasiun tipi swasta. Bayangkan! Sudah lebih dari 15 tahun dan saya tetap suka sama cerita ini.

Banyak hal yang bisa diceritakan dari Rurouni Kenshin. Tapi kali ini saya akan mendongeng tentang film live action-nya saja dulu.

Dari film pertamanya, Rurouni Kenshin, ceritanya sudah mengalami beberapa perubahan yang sangat mendasar. Menurut saya sih itu wajar karena Rurouni Kenshin merupakan kisah berseri yang tentu banyak sekali karakter di dalamnya, sedangkan film lepas sendiri berdurasi kurang dari 2 jam. Penulis naskah pasti harus menguras otak untuk membuat film ini tidak terlalu melenceng dari cerita asli, tetap menampilkan karakter kunci tanpa kehilangan momen-momen bersejarahnya hanya dalam waktu singkat. Mungkin demi efektivitas waktu tersebut, maka beberapa cerita dibuat lain dari aslinya.

Saya sih oke-oke saja dengan perubahan cerita, misal Yahiko Myojin yang tiba-tiba sudah menetap di dojo Kamiyakasshin, Hajime Saito yang sudah muncul duluan sejak awal, dan Jine yang bersekutu dengan Kanryu Takeda padahal di kisah aslinya tidak begitu. Namun yang disayangkan adalah karakternya tidak digali secara maksimal. Bagi saya sebagai pencinta Rurouni Kenshin sejak lama, mungkin ini tidak terlalu mengganggu karena toh saya sudah sangat mengenal karakter-karakter tersebut, saya hanya senang banget bisa melihat mereka dalam cerita yang real. Tapi bagi orang yang pertama kali melihat atau baru tahu soal cerita Rurouni Kenshin, tentu mereka akan heran, lho siapa si tokoh ini yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba begini begitu?

Ketika membaca manganya, saya dikenalkan pada karakter-karakter keren. Mereka yang muncul di cerita memiliki latar belakang kehidupan dan masa lalu yang berbeda-beda. Misal, kenapa Kaoru Kamiya mati-matian membersihkan nama aliran kamiyakasshin, kenapa Sanosuke Sagara membenci pemerintahan Meiji dan bergabung dengan grup kenshin, kenapa Yahiko Myojin berada di dojo Kaoru, dan kenapa Megumi Takani memutuskan untuk menjadi dokter. Semua cerita terjalin dengan baik dan tiap tokoh memiliki ikatan/chemistry yang kuat sehingga membuat mereka jadi bersatu padu menjalin perkawanan.

Itulah yang gak ada di film live action-nya. Daripada menggali latar belakang karakter, sutradara malah membahas hal-hal yang tidak penting banget di filmnya. Saya juga kecewa karena aura permusuhan Kenshin dan Hajime Saito –yang merupakan musuh besar saat zaman bakufu dimana mereka berada di pihak yang berseberangan, tidak muncul di film ini. Pertarungan mereka juga hanya selewat saja. Slogan aku-soku-zan Saito juga sama sekali gak muncul di sini. Padahal itulah yang membuatnya keren bingit.

Nah, di film kedua, yaitu Kyoto Inferno, ternyata masih sama saja dengan film pertamanya. Tidak ada perkembangan karakter. Yang menonjol di sini cuma Makoto Sishio dan Misao Makimachi, saya suka akting mereka yang lumayan bagus dan bisa membawakan karakter aslinya dengan tidak terlalu jauh melenceng. Selebihnya, cuma tempelan aja terutama grup Juppongatana. Padahal mereka grup hebat yang di-hire buat menghancurkan Kyoto, tapi tak ada satupun karakter yang latar belakang hidupnya diceritakan. Saya berpikir, walaupun tidak diberikan porsi besar seperti di manga, seharusnya juppongatana ini tetap dikenalkan dengan motivasi bertarung masing-masing. Pertarungan Usui dan Saito yang menarik juga tidak ada. Padahal Usui itu selevel sama Sojiro Seta si jenius pedang. Tidak ada pertarungan mengharukan antara Sanosuke vs Anji dengan jurus futae no kiwami-nya.

Saya pengen banget bertanya sama si sutradara, itu kenapa Kyoto Inferno dan sequel-nya, Legend Ends melencengnya keterlaluan? Ada drama penculikan Kaoru ke kapal, pertemuan Ito Shibumi dengan Sishio sampai pertarungan final di kapal Sishio, itu sama sekali tidak ada di cerita aslinya. Bukannya menarik, menurut saya ini malah buang-buang waktu saja, sedangkan hal penting lainnya tidak digali. Padahal yang terpenting itu kan sebetulnya bukan menyuguhkan kejutan pada penonton karena ceritanya yang tiba-tiba berbeda, karena toh semua juga sudah tahu cerita Samurai X itu gimana. Padahal pertarungan akhir bisa mengikuti pakem cerita aslinya, sisa waktu bisa digunakan untuk menceritakan soal masa lalu Sojiro misalnya, kenapa dia begitu taklid pada Sishio.

Masa lalu Sojiro dan Sanosuke menurut saya penting sekali digali karena bisa sangat relevan dengan realitas kekinian. Sanosuke yang demen rusuh karena membenci sistem kekuasaan pada saat itu tapi punya harapan yang positif tentang masa depan Jepang, dan Sojiro yang polos termakan dogma Sishio. Sayangnya itu tidak dibahas! Sungguh saya kesal sekali, haha.

Yang paling parah dari ketiganya memang Legend Ends sih (film ketiga), sampe perlu ada drama hukuman mati buat Kenshin segala. Dan di atas semua itu, ketiga film ini betul-betul tidak memperlihatkan adegan simpel Kenshin saat pulang bertarung yang merupakan simbol dari perkembangan mental pengembaranya, yaitu saat Kaoru mengatakan ‘selamat datang kembali” dan Kenshin menjawab ‘aku pulang’. Aaaaak, padahal saya suka sekali momen ini.

Tapi over all, sebagai pencinta serial Rurouni Kenshin saya tetap menonton marathon dari awal dan mengoleksinya –setelah mengoleksi manga serta serial animasinya. Yang menyenangkan di film ini adalah adegan pertarungan atau koreografi maen pedangnya yang cihuy banget. Cepat dan keren! Adegan pertarungan di semua film tidak mengecewakan, serba cepat dan mengesankan. Terutama Kenshin vs Sojiro Seta. Menurut saya ini lebih bagus dari film-film action Hollywood yang pernah saya tonton. Tidak ada CGI dan konon Takeru Satoh, pemeran Kenshin, bermain tanpa pemeran pengganti. Keren deh. Udah ganteng, keren pula *eh*

Bagi kalian pencinta serial Samurai X, film ini masih layak tonton tentunya. Mungkin sutradara ingin membuat filmnya serealistis mungkin jadi dibuat banyak perubahan. Tapi ya itu tadi, beberapa adegan melenceng jauh serta karakter yang hanya tempelan belaka menjadikan film ini jadi agak hambar. Sedangkan bagi yang tidak mengenal Samurai X, bolehlah ini ditonton sambil makan popcorn sebagai hiburan di akhir pekan.

Ran (1985), Dongeng Megah Tentang Musnahnya Sebuah Cinta .… eh, Klan

Ran adalah sebuah film Jepang-Prancis yang dibuat tahun 1985 dan disutradarai oleh Akira Kurosawa. Ceritanya bercampur aduk mengenai pembalasan dendam, hubungan ayah-anak, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, karma, bahkan keyakinan. Tapi kalau saya intip di wiki sih, salah satu tema film ini adalah nihilisme. Bagaimana tema ini saling berkaitan, sebaiknya kalian tonton sendiri deh ya.

Seperti halnya film Kurosawa lainnya, tidak ada drama lebay walaupun ceritanya tragis dan menyesakkan. Inilah yang saya sukai dari Akira Kurosawa. Dan buat saya, Ran ini betul-betul megah (walaupun ditonton pada masa kekinian) dengan landscape yang indah, kontras dengan warna-warni kostum tokoh-tokohnnya.

Dengan latar belakang Jepang pada masa feodal dimana para warlord (semacam tuan tanah kali ya) berperang untuk memperluas kekuasaan, dongeng ini bermula dari kejayaan sebuah klan yang memiliki 3 kastil dan merupakan salah satu klan yang paling disegani; Ichimonji. Pemimpinnya yang sudah renta bernama Hidetora Ichimonji, merupakan lelaki berdarah dingin bergengsi tinggi.

Suatu hari, ketika sedang berburu dengan ketiga putranya dan dua pemimpin rekanan klan (Abeya dan Fujimaki), Hidetora bermimpi mengenai hal mengerikan dimana dia berada sendirian di sebuah tempat yang sepi. Dari mimpi itu, akhirnya dia membuat sebuah keputusan fatal yang akan mempengaruhi masa depan klannya.

Kemudian Hidetora mengumumkan bahwa dia ingin pensiun dari jabatanya dan hidup dalam kedamaian tanpa harus dipusingkan dengan urusan klan. Namun karena dasarnya dia tidak mau ada orang yang posisinya lebih tinggi melebihi dia dalam keluarga, dia tetap menjadi semacam Ibu suri (kalau dalam kerajaan sih kayaknya begitu) dengan julukan ‘Great Lord’, sedangkan pemimpin klan atau ‘Lord’ diserahkan pada anak tertua yaitu Taro. Taro akan menempati kastil yang paling prestise yaitu kastil pertama. Sedangkan anak kedua, Jiro, menempati/berkuasa di kastil kedua. Saburo si bungsu dikasih kastil ketiga. Baik Jiro maupun Saburo akan membantu Taro dalam mengurus dan mempertahankan kejayaan klan Ichimonji.

Keputusan yang sekilas tampak bijak. Bahkan Hidetora memberikan wejangan pada tiga anaknya, bahwa jika mereka bersatu maka mereka akan kuat. Seperti perumpamaan anak panah, jika satu batang maka mudah dipatahkan. Tapi jika tiga anak panah digenggam sekaligus, maka sulit dipatahkan.

Taro maupun Jiro memuji kebijakan ayahnya. Tapi Saburo, satu-satunya yang masih jomblo diantara mereka (halah), membantah wejangan ayahnya dengan mematahkan 3 anak panah sekaligus dengan kakinya. “Walaupun sudah bersatu, masih tetap bisa dipatahkan’, begitu kira-kira bantahan Saburo. Tentu saja Hidetora tidak bisa menerima bantahan anaknya. Dia menganggap Saburo selalu berkata dengan kasar dan menentangnya, padahal sebetulnya Saburo mengatakan kebenaran. Karena Saburo tetap menentang dengan lugas dan tegas, apalagi di depan para tamu, Hidetora kehilangan kesabaran dan mengusir Saburo dengan mengatakan bahwa mereka sudah tidak punya hubungan keluarga lagi. Tango, salah satu penasihat yang sangat loyal pada Hidetora pun berusaha membela Saburo, tapi malah ikut-ikutan diusir.

Fujimaki, pemimpin klan yang menyaksikan kejadian tersebut merasa kagum dengan karakter Saburo. Diapun akhirnya meminta Saburo untuk tinggal di kastilnya, bahkan tetap menikahkan putrinya dengan Saburo walau pria itu sudah bukan lagi bagian dari Ichimonji. Sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Saburo meminta Tango untuk mengawasi ayahnya dari jauh supaya dia bisa memastikan kalau ayahnya selalu baik-baik saja.

Setelah mewariskan kekuasaan, semua hal tidak sejalan dengan apa yang diharapkan Hidetora. Atas pengaruh Lady Kaede (istri Taro), Taro berkonfrontasi dengan ayahnya sebagai penguasa tertinggi di Ichimonji yang akhirnya membuat Hidetora hengkang dari kastil pertama. Dia pergi menemui Jiro di kastil kedua, tapi juga diusir oleh anaknya tersebut. Hidetora dan seluruh rombongan ksatria, prajurit loyal, permaisuri dan seluruh pelayannya terlunta-lunta. Sampai kemudian Taro dan Jiro bersekongkol membantai rombongan tersebut di depan mata Hidetora sendiri yang menyebabkan lelaki tersebut menjadi gila. Dia satu-satunya yang selamat dibiarkan pergi.

Ada satu tokoh penting dalam film ini, yaitu Kyoami. Dia adalah lelaki muda yang agak feminine yang telah berada di keluarga Ichimonji sejak kecil. Tugasnya adalah melawak (semacam stand up comedian) dan Hidetora sangat menyukai lawakannya. Kadang-kadang, lawakannya merupakan bahasa satir untuk mengekpresikan penentangannya pada berbagai hal atau menyindir para pejabat Ichimonji sendiri. Ketika menemani dan menjaga Hidetora dalam kegilaan, Kyoami selalu meladeni pembicaraan pria itu dan berkata ‘man is born crying. He cries, cries and then dies’. Dia juga bilang kalau kehidupan seperti roda yang posisinya bisa terbalik, dulu dia adalah the fool yang membuat tuannya tertawa, sekarang tuannya yang ‘fool’ dan dirinya yang tertawa. Salah satu perkataan Kyoami yang paling saya ingat ‘all men lost their way’.

Kurosawa membuat film ini agak mirip dengan King Lear-nya Shakespeare, tapi tentu dengan citarasa khas dia sendiri dan kultur jepang pada masa feodal.

Hubungan ayah anak, terutama antara Saburo dan Hidetora tidak didramatisir dengan berlebihan, tapi justru membuat saya begitu terharu. Misalnya waktu ayahnya tiba-tiba ketiduran saat menjamu tamu di alam terbuka, Saburo memangkas beberapa tumbuhan untuk ditancapkan di dekat ayahnya, agar kepala ayahnya terlindungi dari sinar matahari. So sweet banget kan. Tidak perlu drama ini itu, tapi satu adegan tanpa dialog ini saja sudah menjadi simbol bahwa sebetulnya Saburo sangat mencintai dan mengkhawatirkan keselamatan ayahnya. Saburo punya feeling kalau keputusan ayahnya adalah keputusan terbodoh sepanjang karirnya, dan memang betul, karena keputusan untuk menyerahkan kepemimpinan pada Taro telah menyebabkan musnahnya klan Ichimonji.

Hidetora sendiri seperti mendapatkan karma dari kekejamannya semasa dia memerintah. Karma itu datang dari Lady Kaede yang ternyata telah menyusun pembalasan dendam sejak dirinya melihat kastil beserta seluruh keluarga besarnya di musnahkan dan dia sendiri dipaksa menikah dengan Taro. Naiknya Taro menjadi pemimpin klan mempermudah jalannya untuk membalas dendam.

Mantan pemimpin klan Ichimonji yang dulu ditakuti, kemudian menjadi gelandangan gila. Dan dalam petualangannya menjadi orang gila, dia melihat dunia dalam perspektif berbeda, dan merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang telah dibantainya. Dia bertemu dengan Tsurumaru, salah satu survivor dari pembantaian di sebuah klan oleh dirinya. Tsurumaru tinggal sendiri di sebuah gubuk di tengah hutan dengan kedua mata buta. Dulu, Hidetora mencongkel kedua matanya saat bocah sebagai bayaran untuk nyawanya. Dia juga berjalan-jalan di reruntuhan kastil yang dulu dia musnahkan, lalu mendapat semacam pencerahan yang membuatnya ketakutan dan kesadaran tentang kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Dia bahkan selalu berlari ketakutan tiap ada orang yang menyebut nama Saburo.

Selain Kyoami, tokoh penting lainnya tentu adalah Lady Kaede yang disebut sebagai si iblis serigala dalam bentuk perempuan karena kekejamannya. Setelah menjadi janda karena kematian Taro (yang dibunuh oleh Jiro, adiknya sendiri), dia mendekati Jiro agar tetap menjadi perempuan nomor satu di kastil Ichimonji. Dia minta dinikahi oleh Jiro dengan syarat Lady Sue (istri Jiro) harus dibunuh. Dan sebetulnya, dia inilah salah satu penyebab runtuhnya klan Ichimonji dari dalam. Klan Ichimonji pun habis tak bersisa.

Film yang luar biasa dan mengesankan. Durasi yang lumayan panjang pun menjadi tak terasa saking asiknya. Skor 5/5 dari saya. Oya, selain Ran, saya rekomendasikan film-film Kurosawa lainnya seperti Seven Samurai, Kagemusha dan Ikiru. Satu lagi : Rashomon (tapi saya belum nonton yang ini). Film yang saya sebutkan itu keren semua lho.

3 Fase Kehidupan Perempuan Dalam ‘The Day I Became a Woman’

Film tentang isu-isu perempuan bukanlah sebuah hal baru, bahkan kadang-kadang menjadi sebuah pembahasan yang klise. Tapi film The Day I Became a Woman menyajikan sebuah cerita dan visualisasi yang indah tentang kehidupan perempuan.

‘The Day I Became a Woman’ merupakan film yang berasal dari Iran tahun 2005 dengan sutradara Merzieh Meshkini, dan berhubung seluruh credit title yang muncul menggunakan arab gundul, jadi untuk segala teknis semacamnya bisa langsung dibaca di sini saja ya.

Temanya memang bukan hal baru, tapi tidak seperti film lainnya yang menceritakan tentang kehidupan perempuan, khususnya dalam kultur Iran, dan kultur dunia muslim secara umum. Cerita disampaikan melalui simbol-simbol yang diwakili oleh 3 perempuan dalam usia berbeda.

Film ini mengisahkan tentang bocah perempuan bernama Hava, wanita dewasa bernama Ahoo, dan nenek tua –Hoora. Masing-masing berada dalam 3 fase penting kehidupan wanita dilihat dari sudut pandang islam. Saya sendiri merasakan fase tersebut betul-betul real terjadi pada diri saya, dan saya yakin hampir seluruh perempuan muslim mengalami ketiga fase tersebut.

Pertama, simbolnya adalah Hava. Anak perempuan yang dalam beberapa jam lagi akan memasuki usia baligh (rata-rata usia baligh perempuan dikatakan 9 tahun atau jika sudah datang bulan). Ketika baligh, maka melekatlah padanya seluruh aturan-aturan kehidupan seorang muslim. Hava seolah merupakan gerbang awal menuju kehidupan perempuan, dan para orang tua khususnya akan memperingatkan serta memberikan ancaman tentang hukuman Tuhan, tentang aturan keperempuanan seperti menutup aurat, pembatasan pergaulan dengan laki-laki, pembatasan waktu keluar rumah, bertanggung jawab pada perbuatannya, dan sebagainya.

Di Iran sendiri, kalau saya lihat dari film ini, orang tua Hava sangat ketat dengan aturan agama. Namun Apa sih yang bisa dipahami oleh gadis seusia Hava yang masih haus bermain dan eksplorasi dengan teman sebaya? Walau telah berjanji untuk menaati aturan, Hava tetaplah hanya seorang bocah yang mau menukar jilbabnya dengan sebuah mainan ikan. Dia masih sangat lugu dan polos, sehingga semua aturan itu hanya ditelannya sebagai sebuah kewajiban dari Tuhan sekaligus kebiasaan yang juga dilakukan oleh seluruh perempuan di sekitarnya.

Duh kok jadi de javu sama diri sendiri, ya 😀

Hava dimainkan dengan manis dan natural oleh sang aktris cilik.

Kedua, Ahoo. Fase perempuan dewasa yang sudah menikah. Uniknya, adegan tentang cerita Ahoo ini hanya berada di track balap sepeda dan di atas sepeda sampai durasi selesai. Dialognya minim, tapi keren banget. Ceritanya, Ahoo telah terkontaminasi kehidupan modern –menjadi wanita modern yang merasa bebas melakukan apa saja termasuk ikut balap sepeda walaupun tidak diijinkan oleh suami dan seluruh keluarganya yang sangat konvensional.

Sepeda diibaratkan sebagai simbol pemberontakan terhadap aturan konvensional yang terlalu mengikat kebebasan wanita dalam menjalani kehidupan sebagai dirinya sendiri. Sayangnya, sang suami dan keluarga besar Ahoo tidak bisa menerima pilihan perempuan tersebut. Si suami menyebut sepeda yang dinaiki Ahoo sebagai godaan iblis yang telah menjerumuskan Ahoo dalam dosa besar.

Mereka memaksa Ahoo mengakhiri balapan, dengan berbagai cara. Tapi Ahoo terus berlari dengan sepedanya bersama pembalap lain. Bahkan sang suami akhirnya menceraikan Ahoo, tapi Ahoo tetap keras kepala. Satu-satunya yang bisa menghentikan Ahoo adalah kakak laki-lakinya yang mencegat Ahoo di tengah jalan dengan kuda. Dia dipaksa berhenti dan dipaksa menaati perintah keluarga besarnya.

Fase ini bisa dibilang sebagai tahap keemasan dalam kehidupan wanita muslim khususnya, karena pemikiran-pemikiran yang terus berkembang akan bergejolak dan berbenturan dengan berbagai macam nilai. Saat sudah memasuki gerbang melalui fase baligh, maka sedikit saja memberontak, tekanan akan muncul dari segala penjuru untuk kembali ke jalan yang dianggap benar.

Sounds familiar?

Ketiga, fase yang lebih damai dan sunyi diwakili oleh Hoora. Seorang janda tua tanpa anak baru tiba di bandara dan meminta bantuan pada anak-anak kuli angkut ‘aku ingin membeli barang-barang rumah tangga yang belum pernah kumiliki seumur hidupku’ begitu katanya. Daftar belanjaannya yang bejibun dia tulis di kain yang diikat di tiap jari tangannya. Maka anak-anak pun membantunya membeli tempat tidur, gaun pengantin ala barat, kulkas, bathtub, dan seluruh perlengkapan rumah modern. Barang-barang tersebut akan dibawanya pulang.

Benda-benda itu sebetulnya sanggup dia beli sejak dulu, tapi suami dan keluarganya melarang gaya hidup seperti itu. Sekarang setelah dia menjadi sangat tua dan suaminya meninggal, dia sudah bebas untuk melakukan apa saja.

Hoora seolah menjadi simbol tentang berakhirnya seluruh beban kehidupan perempuan muslim, atau garis finish dari perjalanan panjang yang dimulai oleh Hava. Setelah melalui berbagai macam larangan dan aturan seperti yang dialami Ahoo, seorang perempuan muslim yang sudah tua dibebaskan dari aturan-aturan ketat pada umumnya, dan mendapatkan banyak permakluman/kebolehan/keringanan. Misalnya, Hoora boleh mengenakan scarf saja di kepalanya dan tidak mengenakan jubah hitam.

Kalau tidak salah, saya pernah mendengar kalau perempuan yang sudah tua boleh tidak mengenakan kaos kaki (artinya boleh terlihat aurat kaki), kalau di daerah sini.

Fase-fase yang familier itu divisualisasikan dengan sederhana namun indah oleh sutradaranya. Seluruh pemain berakting maksimal, dan latar belakang laut menjadikan film ini semakin penuh simbol menarik. Dan salah satu hal penting yang terus saya ingat usai nonton film ini adalah, saya merasa terwakili untuk mengatakan bahwa sampai saat ini menjadi perempuan memang tidak mudah. Saya sudah merasakan bagaimana dogma telah membrainwash otak saya sejak kecil, dan bahwasanya nyaris seluruh dunia seperti menekan saya ketika saya mencoba untuk hidup dengan cara yang berbeda. Haha, dramatis banget kan?

Tertarik untuk nonton? Ayo cobain!

Hantam Mereka, Vegh !

[#30HariMenulis]

Sudah tahu jargon ini? Pasti sudah tertebak. Ini tentang Fast Six (Fast and Furious Jilid 6). Saya sempat terheran-heran ketika ada sebuah komentar seperti ini saat pembahasan soal film tersebut, “…menantikan kalimat ‘hantam mereka, Vegh’”. Awalnya saya tidak paham. Tapi setelah menontonnya, baru saya tahu bahwa mungkin pertama kalinya (menurut sotoynya saya) di masa kekinian ada kalimat berbahasia Indonesia yang melintas di film Hollywood se-box office Fast and Furious.

Konon, bahkan di film ini pun ada orang Indonesia yang bermain sebagai salah satu tokoh yang memegang peran cukup penting –maksudnya bukan hanya tempelan saja yang menampilkan tampang sekilas dan langsung mati/menghilang di sebagian besar durasi film. Yea, Joe Taslim, yang namanya mulai terkenal setelah bermain di film The Raid (saya belum menonton filmnya sampai saat ini). Berbekal rasa penasaran ‘konon’ ini, seorang kawan mengajak saya untuk melihat sepak terjang Joe Taslim di aksi perdana hollywoodnya : Fast and Furious 6.

http://teaser-trailer.com/movie/fast-and-furious-6/
http://teaser-trailer.com/movie/fast-and-furious-6/

Continue reading “Hantam Mereka, Vegh !”