Berhemat dengan DIY fashion (tapi masih 80%)

Ya DIY-nya (do it yourself) kira-kira sekitar 80%, sisa 20% masih dikerjakan oleh orang lain 😀

Awal mulanya, saya pengen punya banyak kaos dalam satu waktu berhubung sekarang lebih nyaman gaya kasual di tempat kerja (disesuaikan dengan lingkungan, lebih tepatnya). Koleksi kaos saya sedikit sekali, jadi saya ingin punya kaos banyak sekaligus, kaosnya bagus (nyaman, adem, dan enak dipakai), tapi MURAH! Untuk mendapatkan kaos yang bagus, harga kaos di pasaran lumayan juga. Apalagi kaos printing/sablon.

Nah, setelah setahun kerja di pabrik kaos saya jadi punya segudang ide untuk membuat sendiri model-model kaos polos (karena kalau kaos sablon ya biayanya nambah lagi). Lagian sekarang sedang trend kaos polos tuh 😀 . Dengan bikin kaos polos sendiri, biaya untuk mendapatkan kaos bisa ditekan jauuuh lebih murah bahkan lebih dari 100%. Syaratnya cuma 1 : jangan malas untuk menggunakan tangan sendiri dan membeli sendiri bahan-bahan untuk membuat kaosnya.

Membuat kaos sendiri itu gampang banget kok. Apalagi model T-Shirt. Itu sudah style dasar banget, jadi kita gak perlu pusing-pusing menentukan bentuk kaosnya. Tapi kalau mau eksperimen model kaos macem-macem ya lebih bagus, sekalian belajar hal baru dan siapa tau kelak jadi perancang busana kelas internasional 😀

Kalau kamu sudah siap bikin kaos sendiri, mari kita menc oba bikin kaos dengan bentuk yang paling sederhana dulu yaitu T-shirt standar. Berikut ini langkah-langkah dan bahan yang harus kamu siapkan :

  1. Siapkan bahan kaos . Seperti yang pernah saya bahas di sini nih, pilih kaos katun. Bisa cotton combed 30s, 40s, cotton bamboo, atau lacoste katun, atau kaos-kaos katun lainnya yang berkualitas tinggi. Harganya gak terlalu mahal kok. Satuan harganya perkilo, dan untuk satu kaos, kamu cuma butuh kira-kira 0.2 kg kurang. Beli 1 meter sudah bisa buat kurang lebih 2 kaos untuk ukuran S atau M. Harga kaos katun ada di kisaran 91.500 – 104.000/kg di Tasikmalaya. Di Bandung, harga kaos lebih murah sih. Sekalian beli rib-nya. Kain rib ini untuk di bagian leher. Tapi gak pakai rib juga gak apa-apa sih. Ribnya paling butuh cuma 5cm, itu bisa buat 3 atau 4 kaos.
  2. Gunting kain (yang tajam ya, jangan yang mintul, biar gampang guntingnya)
  3. Meteran (buat ukur-ukur badan atau ngukur baju yang akan ditiru)
  4. Kapur kain
  5. Kertas atau karton untuk membuat pola
  6. Kalau kamu malas mengukur badan sendiri dan masih bingung dengan pola kaos, siapkan kaos kamu yang paling pas di badan. Itu bisa jadi standar ukuran kaos yang akan dibuat nanti

Ketika bahan-bahan sudah siap, sekarang kita mulai bikin kaosnya :

  1. Siapkan dulu pola kaosnya. Gak usah bingung, di google banyak sekali pola/pattern kaos standar yang bisa kamu tiru, print dan bikin skala besarnya sesuai ukuran badan kamu. Atau minimal liat dulu contoh-contoh pola di google, lalu jiplak bentuk kaos kamu yang sudah ada di atas kertas/karton. Pola harus dilebihkan 2cm dari ukuran asli badan untuk kebutuhan lipatan jahit dan pengobrasan.
  2. Enter a caption
  3. Bentangkan kain di atas lantai atau meja yang datar. Taruh pola yang sudah jadi di atas kain kaos, lalu jiplak pola dengan menggunakan kapur kain. Kapur ini aman dan bisa hilang saat dicuci.
  4. Guntinglah kain kaos sesuai pola yang sudah digambar.
  5. Obraslah tiap tepi kain kaos
  6. Jahit sampai selesai

Untuk bagian jahit dan obrasnya ini yang saya bilang di atas merupakan 20%nya tidak bisa saya kerjakan sendiri. Alasannya karena saya gak punya mesin obras dan mesin jahit, jadi terpaksa obras dan jahit diserahkan ke tukang jahit. Memang bisa jahit manual pakai benang dan jarum di rumah, tapi lebih lama dan kurang rapi hasilnya. Kurang kuat pula. Tapi tenang, jahit kaos di penjahit rumahan di sini sekitar 10ribu doing, di tukang jahit borongan bisa seharga 3ribuan aja dan rapi hasilnya.

See? Dengan model dan ukuran sesuka hati, warna bisa dikombinasikan sesuka hati pula, kaos polos berbahan bagus banget bisa didapat seharga kurang dari 50ribu lho. Bahkan saya hitung-hitung kemarin bikin long T-shirt misty cuma sekitar 38ribuan aja totalnya. Bahannya udah bagus banget. Kalau beli, kaos harga segitu paling dapat spandek atau PE walau ada sablonnya. Tapi bahan spandek kualitas jelek dan PE itu panas dan berbulu, gak nyaman dipakai.

Mau mencoba? Selamat berkarya!

Note : gambar dicomot dari google. Saya gak sempat foto-foto.

Advertisements

Filosofi Fashion : Ilusi Tentang Kecantikan dan Penampilan Lebih Menarik

Size really doesn’t matter.

Inner beauty lebih penting.

Begitu kata sebuah pepatah semilyar umat. Tapi apakah betul?

Coba sekarang buka majalah-majalah mode atau cari tulisan tentang fashion dan kecantikan di internet. Kamu akan tahu kalau pepatah itu cuma omong kosong belaka 😀

Pada awalnya, ketika saya melihat artikel-artikel di internet tentang bagaimana kamu bisa berpenampilan lebih baik semisal : yang pendek ingin TERLIHAT tinggi, yang gemuk ingin TAMPAK lebih mengecil, yang kurus ingin TAMPAK berisi, yang gelap ingin TAMPAK lebih terang, dan lain sebagainya, rasanya lama-lama jadi muak juga, haha. Dan itu tidak berlaku buat cewek aja lho, cowok juga sama kok. Tips ini-itu bertebaran di mana-mana. Ingat baik-baik kata yang pakai huruf kapital di atas. Cuma TAMPAK/TERLIHAT. Artinya, itu boongan. Aslinya ya tetap tidak berubah.

Baru-baru ini saya baca beberapa artikel fashion mengenai cara mempermak para perempuan berpostur petite agar terlihat lebih tinggi. Oya, petite ini artinya kecil dan pendek. Saya juga baru tahu ada istilah seperti itu. Saya jadi berpikir, memangnya kenapa kalau kita kelihatan lebih tinggi? Bisa lebih cantik, bagus, dan menarik? Ini sama halnya dengan keinginan agar kulit menjadi lebih putih. Seolah-olah berbadan tinggi itu lebih baik dibandingkan pendek.

That is. Ternyata size is really a matter.

Setelah membaca beberapa tulisan, saya berkesimpulan bahwa fashion dan kosmetik itu 11-12, yaitu dua-duanya memberikan ilusi tentang kecantikan dan ‘penampilan yang lebih menarik’. Hanya ilusi saja. Terutama fashion, dan mereka mengakuinya kok. Dalam salah satu artikel misalnya ada penjelasan begini ‘….memberikan ilusi agar kaki lebih panjang/fake long legs’. Kosmetik juga sama. Segala macam benda yang diusapkan ke wajah itu untuk memberikan ilusi warna wajah yang berbeda. Padahal kan aslinya tidak begitu.

Lalu apakah mengikuti fashion itu salah? Ya tentu tidak juga. Bukan soal salah atau benar, tapi balik lagi ke menata ulang cara berpikir soal fashion itu sendiri sehingga kamu tidak percaya secara buta dalam artian memaksakan diri.

Karena memang bagi beberapa orang, penampilan yang menarik bisa membuat mereka lebih percaya diri. Itu tentu bagus. Walaupun tidak harus selalu berpatokan pada rumus para fashion expert, sebetulnya yang paling mendasar dalam berpenampilan adalah kamu nyaman dan percaya diri dengan apa yang kamu pakai. Rasa nyaman dan percaya diri itu akan terpancar menjadi sebuah kekuatan. Kalau memang ilusi-ilusi yang kamu pilih itu aman, ya tidak apa-apa dilakukan. Sebab fashion itu hanyalah salah satu alternative, bukan mutlak sesuatu yang harus dituruti.

JADI, mungkin kamu tidak perlu selalu sinis dengan tips-tips menyangkut fashion. Mempermak penampilan cewek petite misalnya, saya lebih setuju kalau mengubah alasan atau motivasinya. Kalaupun kamu ingin memilih baju yang pas untuk postur yang pendek, itu bukan untuk terlihat lebih tinggi doang, tapi karena memang pakaian tersebut pas dan seimbang untuk ukuran tubuh kamu. Atau karena kamu ingin bereksperimen mencoba sesuatu yang baru, sebab itu adalah hal yang menyenangkan banget! Atau karena memang kamu merasa lebih nyaman dan percaya diri dengan tipe baju tersebut. Cewek dan cowok selalu ingin terlihat cantik dan tampan. Itu wajar kan.

Fashion itu juga memang seni. Tidak ada salahnya mencari ide untuk jenis atau model pakaian yang cocok. Bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi tentu untuk menyenangkan dan memuaskan diri sendiri. Yang penting juga, jangan sampai menyulitkan diri sendiri dengan pilihan fashion tersebut. Misalnya, ada tips buat para cewek petite bahwa mereka harus menggunakan high heels. Dan celakanya lagi, heels-nya gak boleh tipe wedges, tapi harus yang lancip. Lagi-lagi untuk mengesankan tinggi. Cih. Merepotkan banget. Saya lebih percaya kalau high heels gak bagus buat kesehatan. Kalau maksa, sebaiknya pakai tipe wedges saja.

Oya sedikit bonus, dari hasil bacaan soal tipe baju yang pas untuk cewek petite itu sebetulnya simpel aja sih. Pakailah baju yang mini-mini, hehe. Maksudnya, sebaiknya memakai pakaian yang pendek banget atau panjang sampai mata kaki sekalian, tidak nanggung-nanggung. Tapi kalau kamu mau memakai baju nanggung yang kamu suka? Ya itu sah-sah aja. Ingat ya, trik atau tips dalam fashion itu cuma ilusi, jangan terlalu taklid menganggapnya sebuah aturan saklek.

Yah siapa sangka bermain-main dengan tipe baju itu bisa begini menyenangkan, hehe.

Selamat berpuasa di bulan Ramadhan. Kencangkan ikat dompetmu, jangan sampai tergiur dengan jualan-jualan menjelang lebaran! *langsung browsing olshop*