Terompet Para Dewa (Part 1)

Khayangan sedang kacau.

Sumber kekacauan tersebut adalah hilangnya salah satu benda pusaka khayangan yang sangat agung yaitu Terompet Dewa. Departemen Penjagaan Pusaka Khayangan (DPPK) sudah melakukan pelaporan menyeluruh kepada Dewan Keamanan Khayangan (DKK) tentang hilangnya terompet tersebut. Tapi mereka tidak bisa menjelaskan alasan kenapa terompet yang begitu agung dan sakral bisa hilang padahal penjagaan begitu ketat di sekitar area gedung DPPK.

Selama ini, tidak ada satupun makhluk yang bisa memasuki area rahasia DPPK tempat penyimpanan benda-benda pusaka para dewa. DPPK mengerahkan sekitar 1000 tentara dewa untuk memastikan keamanan di wilayahnya. Seluruh gedung di area tersebut telah dilengkapi dengan pengamanan yang sempurna sehingga tidak mungkin ada makhluk yang luput dari pengawasan.

Seketika kekacauan pun meledak di seluruh khayangan. Berbagai spekulasi menyebar diantara para dewa, terutama bagi mereka yang tidak menyukai Ketua DPPK. Sementara itu, para menteri khayangan dan penasihat Maha Dewa berupaya agar berita tersebut tidak sampai kepada sang Maha Dewa karena akan menimbulkan kejadian yang lebih mengerikan.

Setelah mengadakan rapat darurat tertutup di istana menteri, DKK membentuk sebuah Tim Independen Khayangan (TIK) yang terdiri dari dewa-dewa berkekuatan paling tinggi dan memiliki kemampuan andalan untuk melakukan investigasi mengenai hilangnya Terompet Dewa. DKK juga segera melakukan pengamanan dan penjagaan yang lebih ketat di berbagai tempat untuk antisipasi berbagai macam kemungkinan terburuk yang diakibatkan dari hilangnya terompet.

Khayangan berada dalam situasi siaga 1.

Satu minggu berlalu, dan tim TIK tidak menemukan hasil yang menggembirakan. Terompet dewa betul-betul hilang dari tempat agungnya dan tak ada tanda-tanda mencurigakan apapun di sekitar tempat tersebut. Terompet itu seperti lenyap begitu saja menguap ke dalam udara. Dengan penuh rasa frustasi, ketua DKK menahan pimpinan DPPK untuk melakukan investigasi lebih lanjut. Dalam hal ini, tak ada siapapun yang bisa disalahkan selain ketua DPPK sebagai penanggung jawab keamanan di teritorinya yang sangat rahasia.

Mengetahui bahwa upaya apapun terancam gagal, ketua penasihat dewa dengan gugup menemui sang Maha Dewa di kediamannya yang agung, di puncak menara tertinggi yang menjulang melampaui angkasa.

Sang penasihat duduk bersimpuh di depan Maha Dewa yang duduk dengan tenang di singgasana hitamnya. Tak ada suara, dan wajah Maha Dewa sama sekali tidak tampak marah ataupun kesal. Penasihat agak lega melihat hal ini, setidaknya Maha Dewa tidak marah seperti yang dicemaskannya.

NoctisGambar dari sini

Maha Dewa menatap penasihatnya dengan tajam, tanpa ekspresi seperti biasanya. “Ya, aku sudah tahu” kata Maha Dewa dengan dingin. Tiga kalimat pertama yang keluar darinya, dan dia tidak berbicara lagi setelah itu.

Penasihat tidak berani mengangkat wajah. Dia merasa semakin cemas.

Selama ini, hanya sedikit dewa yang bisa bertemu langsung dengan Maha Dewa. Hanya ketua penasihat, ketua DKK, dan beberapa dewa penting lainnya saja yang pernah bertemu dengan Maha Dewa. Maha Dewa selalu berada di kediamannya sendirian di puncak menara tanpa bicara kepada siapapun. Mereka merasa takut kepada Maha Dewa, terutama pada kekuatannya yang amat terkenal.

Maha Dewa memiliki postur tubuh yang tinggi, tegap, dan atletis dengan rambut perak tergerai sampai bahunya. Kadang-kadang rambutnya berubah warna menjadi hitam kelam pada siang hari. Matanya memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan dan tak siapapun bisa menatapnya. Menurut dewa-dewa yang pernah bertemu langsung dengannya, Maha Dewa memiliki ketampanan serupa matahari terbit yang bersinar-sinar menerangi semesta. Jika dia tersenyum, musim semi tiba di seluruh dunia, jika suaranya mendesis marah, kilat menyambar-nyambar di seluruh semesta.

Di sisinya ada pedang agung berwarna hitam. Sepatunya model boots panjang dan coat panjang seperti model-model fashion kekinian. Seluruh pakaian dan dekorasi istananya berwarna hitam serta perak. Kadang-kadang penasihat merasa bahwa Maha Dewa terlalu lama sendirian dan kesepian di situ.

“Tuanku” kata penasihat kemudian. “Kami tidak bisa menemukan terompet anda di seluruh khayangan. Tapi…”

Maha Dewa menatapnya makin tajam.

“Tapi ada satu petunjuk penting yang masih tidak bisa dipastikan kebenarannya. Seseorang telah melihat bahwa pintu gerbang ke dunia manusia terbuka sedikit….ta-tapi kami tidak berani berspekulasi mengenai hal tersebut, Tuanku. Maafkan kelancangan hamba”

Penasihat makin tampak gugup. Pembahasan mengenai dunia manusia adalah hal yang sangat menakutkan di khayangan. Bahkan Maha Dewa sendiri tak pernah membicarakannya. Kunci gerbang ke dunia manusia dipegang oleh Maha Dewa sendiri.

“Aku tahu” jawab Maha Dewa.

“Maafkan kami, Tuanku. Kami tahu seberapa besar resikonya jika terompet anda hilang. Seluruh semesta, termasuk khayangan dan dunia manusia, akan hancur dalam sekali tiupan terompet anda. Kami sudah lalai”

“Kalau begitu, pergilah ke dunia manusia dan temukan terompetku sampai dapat. Jangan pernah kembali sebelum kau menemukannya. Jika tidak, aku sendiri yang akan turun ke bumi”

Penasihat itu tercekat ketakutan. Turun ke bumi merupakan hal terlarang bagi para dewa, dan selama ini tidak pernah ada yang berani melakukannya. Khayangan diliputi sejarah kelam masa lalu tentang seorang dewa yang turun ke bumi dan tak pernah kembali. Resiko kepergian ke bumi adalah kematian, bahkan bagi para dewa yang abadi. Namun, jika Maha Dewa turun ke bumi, akan ada bencana dahsyat pada manusia.

****

Nun jauh di bumi, di sebuah tempat diantara padang rumput dan pepohonan hijau yang subur, seorang anak berusia 5 tahun memegang sebuah benda mirip terompet kusam berwarna keperakan. Terompet yang tampak sangat tua dan sudah tidak berfungsi, bahkan mungkin tak akan laku dijual di loakan.

“Ibu! Bu! Aku menemukan sesuatu!”- (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s