Ran (1985), Dongeng Megah Tentang Musnahnya Sebuah Cinta .… eh, Klan

Ran adalah sebuah film Jepang-Prancis yang dibuat tahun 1985 dan disutradarai oleh Akira Kurosawa. Ceritanya bercampur aduk mengenai pembalasan dendam, hubungan ayah-anak, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, karma, bahkan keyakinan. Tapi kalau saya intip di wiki sih, salah satu tema film ini adalah nihilisme. Bagaimana tema ini saling berkaitan, sebaiknya kalian tonton sendiri deh ya.

Seperti halnya film Kurosawa lainnya, tidak ada drama lebay walaupun ceritanya tragis dan menyesakkan. Inilah yang saya sukai dari Akira Kurosawa. Dan buat saya, Ran ini betul-betul megah (walaupun ditonton pada masa kekinian) dengan landscape yang indah, kontras dengan warna-warni kostum tokoh-tokohnnya.

Dengan latar belakang Jepang pada masa feodal dimana para warlord (semacam tuan tanah kali ya) berperang untuk memperluas kekuasaan, dongeng ini bermula dari kejayaan sebuah klan yang memiliki 3 kastil dan merupakan salah satu klan yang paling disegani; Ichimonji. Pemimpinnya yang sudah renta bernama Hidetora Ichimonji, merupakan lelaki berdarah dingin bergengsi tinggi.

Suatu hari, ketika sedang berburu dengan ketiga putranya dan dua pemimpin rekanan klan (Abeya dan Fujimaki), Hidetora bermimpi mengenai hal mengerikan dimana dia berada sendirian di sebuah tempat yang sepi. Dari mimpi itu, akhirnya dia membuat sebuah keputusan fatal yang akan mempengaruhi masa depan klannya.

Kemudian Hidetora mengumumkan bahwa dia ingin pensiun dari jabatanya dan hidup dalam kedamaian tanpa harus dipusingkan dengan urusan klan. Namun karena dasarnya dia tidak mau ada orang yang posisinya lebih tinggi melebihi dia dalam keluarga, dia tetap menjadi semacam Ibu suri (kalau dalam kerajaan sih kayaknya begitu) dengan julukan ‘Great Lord’, sedangkan pemimpin klan atau ‘Lord’ diserahkan pada anak tertua yaitu Taro. Taro akan menempati kastil yang paling prestise yaitu kastil pertama. Sedangkan anak kedua, Jiro, menempati/berkuasa di kastil kedua. Saburo si bungsu dikasih kastil ketiga. Baik Jiro maupun Saburo akan membantu Taro dalam mengurus dan mempertahankan kejayaan klan Ichimonji.

Keputusan yang sekilas tampak bijak. Bahkan Hidetora memberikan wejangan pada tiga anaknya, bahwa jika mereka bersatu maka mereka akan kuat. Seperti perumpamaan anak panah, jika satu batang maka mudah dipatahkan. Tapi jika tiga anak panah digenggam sekaligus, maka sulit dipatahkan.

Taro maupun Jiro memuji kebijakan ayahnya. Tapi Saburo, satu-satunya yang masih jomblo diantara mereka (halah), membantah wejangan ayahnya dengan mematahkan 3 anak panah sekaligus dengan kakinya. “Walaupun sudah bersatu, masih tetap bisa dipatahkan’, begitu kira-kira bantahan Saburo. Tentu saja Hidetora tidak bisa menerima bantahan anaknya. Dia menganggap Saburo selalu berkata dengan kasar dan menentangnya, padahal sebetulnya Saburo mengatakan kebenaran. Karena Saburo tetap menentang dengan lugas dan tegas, apalagi di depan para tamu, Hidetora kehilangan kesabaran dan mengusir Saburo dengan mengatakan bahwa mereka sudah tidak punya hubungan keluarga lagi. Tango, salah satu penasihat yang sangat loyal pada Hidetora pun berusaha membela Saburo, tapi malah ikut-ikutan diusir.

Fujimaki, pemimpin klan yang menyaksikan kejadian tersebut merasa kagum dengan karakter Saburo. Diapun akhirnya meminta Saburo untuk tinggal di kastilnya, bahkan tetap menikahkan putrinya dengan Saburo walau pria itu sudah bukan lagi bagian dari Ichimonji. Sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Saburo meminta Tango untuk mengawasi ayahnya dari jauh supaya dia bisa memastikan kalau ayahnya selalu baik-baik saja.

Setelah mewariskan kekuasaan, semua hal tidak sejalan dengan apa yang diharapkan Hidetora. Atas pengaruh Lady Kaede (istri Taro), Taro berkonfrontasi dengan ayahnya sebagai penguasa tertinggi di Ichimonji yang akhirnya membuat Hidetora hengkang dari kastil pertama. Dia pergi menemui Jiro di kastil kedua, tapi juga diusir oleh anaknya tersebut. Hidetora dan seluruh rombongan ksatria, prajurit loyal, permaisuri dan seluruh pelayannya terlunta-lunta. Sampai kemudian Taro dan Jiro bersekongkol membantai rombongan tersebut di depan mata Hidetora sendiri yang menyebabkan lelaki tersebut menjadi gila. Dia satu-satunya yang selamat dibiarkan pergi.

Ada satu tokoh penting dalam film ini, yaitu Kyoami. Dia adalah lelaki muda yang agak feminine yang telah berada di keluarga Ichimonji sejak kecil. Tugasnya adalah melawak (semacam stand up comedian) dan Hidetora sangat menyukai lawakannya. Kadang-kadang, lawakannya merupakan bahasa satir untuk mengekpresikan penentangannya pada berbagai hal atau menyindir para pejabat Ichimonji sendiri. Ketika menemani dan menjaga Hidetora dalam kegilaan, Kyoami selalu meladeni pembicaraan pria itu dan berkata ‘man is born crying. He cries, cries and then dies’. Dia juga bilang kalau kehidupan seperti roda yang posisinya bisa terbalik, dulu dia adalah the fool yang membuat tuannya tertawa, sekarang tuannya yang ‘fool’ dan dirinya yang tertawa. Salah satu perkataan Kyoami yang paling saya ingat ‘all men lost their way’.

Kurosawa membuat film ini agak mirip dengan King Lear-nya Shakespeare, tapi tentu dengan citarasa khas dia sendiri dan kultur jepang pada masa feodal.

Hubungan ayah anak, terutama antara Saburo dan Hidetora tidak didramatisir dengan berlebihan, tapi justru membuat saya begitu terharu. Misalnya waktu ayahnya tiba-tiba ketiduran saat menjamu tamu di alam terbuka, Saburo memangkas beberapa tumbuhan untuk ditancapkan di dekat ayahnya, agar kepala ayahnya terlindungi dari sinar matahari. So sweet banget kan. Tidak perlu drama ini itu, tapi satu adegan tanpa dialog ini saja sudah menjadi simbol bahwa sebetulnya Saburo sangat mencintai dan mengkhawatirkan keselamatan ayahnya. Saburo punya feeling kalau keputusan ayahnya adalah keputusan terbodoh sepanjang karirnya, dan memang betul, karena keputusan untuk menyerahkan kepemimpinan pada Taro telah menyebabkan musnahnya klan Ichimonji.

Hidetora sendiri seperti mendapatkan karma dari kekejamannya semasa dia memerintah. Karma itu datang dari Lady Kaede yang ternyata telah menyusun pembalasan dendam sejak dirinya melihat kastil beserta seluruh keluarga besarnya di musnahkan dan dia sendiri dipaksa menikah dengan Taro. Naiknya Taro menjadi pemimpin klan mempermudah jalannya untuk membalas dendam.

Mantan pemimpin klan Ichimonji yang dulu ditakuti, kemudian menjadi gelandangan gila. Dan dalam petualangannya menjadi orang gila, dia melihat dunia dalam perspektif berbeda, dan merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang telah dibantainya. Dia bertemu dengan Tsurumaru, salah satu survivor dari pembantaian di sebuah klan oleh dirinya. Tsurumaru tinggal sendiri di sebuah gubuk di tengah hutan dengan kedua mata buta. Dulu, Hidetora mencongkel kedua matanya saat bocah sebagai bayaran untuk nyawanya. Dia juga berjalan-jalan di reruntuhan kastil yang dulu dia musnahkan, lalu mendapat semacam pencerahan yang membuatnya ketakutan dan kesadaran tentang kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Dia bahkan selalu berlari ketakutan tiap ada orang yang menyebut nama Saburo.

Selain Kyoami, tokoh penting lainnya tentu adalah Lady Kaede yang disebut sebagai si iblis serigala dalam bentuk perempuan karena kekejamannya. Setelah menjadi janda karena kematian Taro (yang dibunuh oleh Jiro, adiknya sendiri), dia mendekati Jiro agar tetap menjadi perempuan nomor satu di kastil Ichimonji. Dia minta dinikahi oleh Jiro dengan syarat Lady Sue (istri Jiro) harus dibunuh. Dan sebetulnya, dia inilah salah satu penyebab runtuhnya klan Ichimonji dari dalam. Klan Ichimonji pun habis tak bersisa.

Film yang luar biasa dan mengesankan. Durasi yang lumayan panjang pun menjadi tak terasa saking asiknya. Skor 5/5 dari saya. Oya, selain Ran, saya rekomendasikan film-film Kurosawa lainnya seperti Seven Samurai, Kagemusha dan Ikiru. Satu lagi : Rashomon (tapi saya belum nonton yang ini). Film yang saya sebutkan itu keren semua lho.

3 thoughts on “Ran (1985), Dongeng Megah Tentang Musnahnya Sebuah Cinta .… eh, Klan

    • I googled it and they look soo interesting. Cant wait to watch them….but lets see if I could simply download the movies or ask some friends to do ‘film barter thingy’ next time😀
      How about Rashomon? Is it good?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s