Belajar di Pabrik Sablon (Bagian 1)

Hal baru lagi. Setelah berkelana dari tempat kursus Bahasa Inggris di ex-kampus, toko aksesoris, sekolahan, merodi di dealer motor, lembaga keuangan (yang mengaku) syariah, pabrik survey, yayasan yatim-piatu dhuafa, sampai akhirnya sekarang menjajal pabrik sablon/kaos. Tapi bukan lagi di kota besar, melainkan pabrik newbie di kota kecil Ciamis yang bercita-cita besar menjadi salah satu bos kaos taraf nasional *tsaah*. Tapi (lagi) ini masih punya orang, sayangnya, bukan punya saya sendiri u_u

Tempat baru dan segala macamnya baru semua membuat saya harus belajar lagi dari awal. Karena sebelumnya saya tidak pernah tahu apapun tentang pembuatan kaos atau sablon menyablon. Salah satu hal penting yang akhirnya saya rasakan sekarang adalah : 1) jadi malas beli kaos jadi, karena sudah tahu modalnya haha. Jadi berasa rugi kalau beli kaos-kaos murah tapi kualitasnya payah atau kaos berkualitas yang terlalu mahal cuma gara-gara berat di branded. 2) mimpi untuk melanjutkan olshop akhirnya tercapai walaupun masih ngadmin di olshop punya orang lain. Tapi setidaknya nambah ilmu dan kalau sudah laku tentu nambah isi saku, hehe. Apalagi sekarang mengelola olshop kaos dan (nantinya) aksesoris Harley Davidson. Jadi banyak banget yang pengen diceritakan soal hal ini, mengamati gaya hidup horangkayah dan wanita-wanita cantik seksi *siyul2*

Untuk sekarang kita mulai dengan intronya aja deh.

Mungkin kalian sudah sangat tahu kalau dunia fashion tidak pernah membuat aturan khusus tentang profit margin dari produk-produknya. Inilah yang kemudian membuat trend fashion tak pernah mati dan selalu menjadi lahan subur bagi pebisnis haus duit *seperti saya*. Produsen baju misalnya, sah-sah saja membuat profit margin 3 kali lipat dari harga pokok produknya. Gila kan ya? Bayangkan saja, misalnya biaya pembuatan satu kaos sablon manual yang bagus ada di kisaran 35-50 ribu, dengan brand yang sudah terkenal serta dipajang di distro/mall atau pasar kelas atas, kalian bisa menjualnya sampai minimal 150 ribu. Kaos sablon digital bisa lebih mahal lagi.

Berdasarkan bincang-bincang saya dengan rekan kerja di pabrik sablon yang sudah menekuni bidang tersebut bertahun-tahun (lumayan expert deh pokoknya), sebetulnya kita bisa membuat sendiri kaos dengan kualitas bagus setara dengan kaos branded di distro2, baik dalam bahan, desain, maupun jenis sablonnya sesuai keinginan. Malah hasil yang kita buat sendiri bisa lebih bagus. Dan itu sebetulnya gak mahal-mahal amat pembuatannya. Kain kaos bisa beli di supplier yang menjamur (misalnya di Bandung, itu salah satu supplier kain kaos jempolan), cuma memang untuk tinta sablon yang bagus mesti beli produk impor karena produk lokal ternyata belum sebagus yang diharapkan (sayang banget sih sebenarnya. Waktu saya menyadari ini, harusnya ada orang yang bisa bikin tinta/obat sablon sebagus produk impor. Tapi gimana bikinnya ya?)

Masalahnya memang ada di sablon itu. Karena kalau bikin kaos sendiri, kita mesti punya alat sablon (yang sangat mahal) dan beli tinta/alat sablon. Di sinilah rumitnya. Tapi kalau misal nebeng bikin di temen/rekan yang punya peralatan sablon, dengan desain bikinan sendiri, percayalah kalau biaya pembuatan kaos itu sebetulnya tidak terlalu mahal (ya iyalah, tapi nyablonnya yang susah haha).

Saat ini trend fashion hijab/hijaber sedang merajai Indonesia. Para produsen meraup untung dengan membuat baju-baju ala hijaber artis terkenal dengan kualitas kw (entah kw berapa). Saya pernah membeli baju dari olshop atau langsung di toko/pasar dengan kualitas kw harga murah, dan kualitas barangnya ya gitu deh. Nah, untuk baju-baju perempuan, kebanyakan mereka membuatnya dari bahan spandek dan saya sebetulnya tidak terlalu suka bahan ini apalagi spandek kualitas paling murah. Kalau misal para penjual membandrol baju-baju spandek di kisaran 50-70 ribu dengan printing atau rajut-rajut murah di bawah 50 ribu. Coba saja harga segitu dikurangi profit margin mereka, belum lagi penjualnya tangan kesekian, kebayang itu harga pokoknya berapa ya? Dengan harga pokok semurah itu bisa dapat baju yang kayak gimana?

Kalau hitung-hitungan kaos yang bagus, biasanya orang membuatnya dari combed (kualitasnya berbeda-beda) dan kain jenis ini lumayan mahal, apalagi kalau belinya eceran. Ditambah obat/tinta sablon keren kualitas tinggi dengan desain yang tidak pasaran, apalagi berwarna-warni. Silakan google sendiri untuk membuat contoh angka nominalnya. Kalau cuma membuat satu biji memang pasti mahal banget kecuali itu tadi, kita sudah punya alat-alatnya sendiri.

Saya juga sekarang lebih senang dengan kaos (bukan dari spandek tapinya) sablon karena desain dan tulisan-tulisan yang dipajangnya bisa dijadikan salah satu propaganda😀. Tapi karena alat-alat sablonya bukan punya saya, jadi saya belum bisa bereksperimen dalam sablon sih dan belum kesampaian punya kaos bagus banget dengan desain khusus. Semoga tak lama lagi di pabrik sablon ini saya bisa koleksi kaos-kaos propaganda, ihiy.

Segitu dulu deh buat sekarang. Selanjutnya, saya mau berbagi cerita soal teknis dan basic knowledge dalam dunia persablonan, misal jenis-jenis kain kaos, jenis obat sablon dll dsb. Ciao!

One thought on “Belajar di Pabrik Sablon (Bagian 1)

  1. Pingback: BELAJAR DI PABRIK SABLON #2: STANDAR KAIN KAOS | Yang Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s