3 Fase Kehidupan Perempuan Dalam ‘The Day I Became a Woman’

Film tentang isu-isu perempuan bukanlah sebuah hal baru, bahkan kadang-kadang menjadi sebuah pembahasan yang klise. Tapi film The Day I Became a Woman menyajikan sebuah cerita dan visualisasi yang indah tentang kehidupan perempuan.

‘The Day I Became a Woman’ merupakan film yang berasal dari Iran tahun 2005 dengan sutradara Merzieh Meshkini, dan berhubung seluruh credit title yang muncul menggunakan arab gundul, jadi untuk segala teknis semacamnya bisa langsung dibaca di sini saja ya.

Temanya memang bukan hal baru, tapi tidak seperti film lainnya yang menceritakan tentang kehidupan perempuan, khususnya dalam kultur Iran, dan kultur dunia muslim secara umum. Cerita disampaikan melalui simbol-simbol yang diwakili oleh 3 perempuan dalam usia berbeda.

Film ini mengisahkan tentang bocah perempuan bernama Hava, wanita dewasa bernama Ahoo, dan nenek tua –Hoora. Masing-masing berada dalam 3 fase penting kehidupan wanita dilihat dari sudut pandang islam. Saya sendiri merasakan fase tersebut betul-betul real terjadi pada diri saya, dan saya yakin hampir seluruh perempuan muslim mengalami ketiga fase tersebut.

Pertama, simbolnya adalah Hava. Anak perempuan yang dalam beberapa jam lagi akan memasuki usia baligh (rata-rata usia baligh perempuan dikatakan 9 tahun atau jika sudah datang bulan). Ketika baligh, maka melekatlah padanya seluruh aturan-aturan kehidupan seorang muslim. Hava seolah merupakan gerbang awal menuju kehidupan perempuan, dan para orang tua khususnya akan memperingatkan serta memberikan ancaman tentang hukuman Tuhan, tentang aturan keperempuanan seperti menutup aurat, pembatasan pergaulan dengan laki-laki, pembatasan waktu keluar rumah, bertanggung jawab pada perbuatannya, dan sebagainya.

Di Iran sendiri, kalau saya lihat dari film ini, orang tua Hava sangat ketat dengan aturan agama. Namun Apa sih yang bisa dipahami oleh gadis seusia Hava yang masih haus bermain dan eksplorasi dengan teman sebaya? Walau telah berjanji untuk menaati aturan, Hava tetaplah hanya seorang bocah yang mau menukar jilbabnya dengan sebuah mainan ikan. Dia masih sangat lugu dan polos, sehingga semua aturan itu hanya ditelannya sebagai sebuah kewajiban dari Tuhan sekaligus kebiasaan yang juga dilakukan oleh seluruh perempuan di sekitarnya.

Duh kok jadi de javu sama diri sendiri, ya😀

Hava dimainkan dengan manis dan natural oleh sang aktris cilik.

Kedua, Ahoo. Fase perempuan dewasa yang sudah menikah. Uniknya, adegan tentang cerita Ahoo ini hanya berada di track balap sepeda dan di atas sepeda sampai durasi selesai. Dialognya minim, tapi keren banget. Ceritanya, Ahoo telah terkontaminasi kehidupan modern –menjadi wanita modern yang merasa bebas melakukan apa saja termasuk ikut balap sepeda walaupun tidak diijinkan oleh suami dan seluruh keluarganya yang sangat konvensional.

Sepeda diibaratkan sebagai simbol pemberontakan terhadap aturan konvensional yang terlalu mengikat kebebasan wanita dalam menjalani kehidupan sebagai dirinya sendiri. Sayangnya, sang suami dan keluarga besar Ahoo tidak bisa menerima pilihan perempuan tersebut. Si suami menyebut sepeda yang dinaiki Ahoo sebagai godaan iblis yang telah menjerumuskan Ahoo dalam dosa besar.

Mereka memaksa Ahoo mengakhiri balapan, dengan berbagai cara. Tapi Ahoo terus berlari dengan sepedanya bersama pembalap lain. Bahkan sang suami akhirnya menceraikan Ahoo, tapi Ahoo tetap keras kepala. Satu-satunya yang bisa menghentikan Ahoo adalah kakak laki-lakinya yang mencegat Ahoo di tengah jalan dengan kuda. Dia dipaksa berhenti dan dipaksa menaati perintah keluarga besarnya.

Fase ini bisa dibilang sebagai tahap keemasan dalam kehidupan wanita muslim khususnya, karena pemikiran-pemikiran yang terus berkembang akan bergejolak dan berbenturan dengan berbagai macam nilai. Saat sudah memasuki gerbang melalui fase baligh, maka sedikit saja memberontak, tekanan akan muncul dari segala penjuru untuk kembali ke jalan yang dianggap benar.

Sounds familiar?

Ketiga, fase yang lebih damai dan sunyi diwakili oleh Hoora. Seorang janda tua tanpa anak baru tiba di bandara dan meminta bantuan pada anak-anak kuli angkut ‘aku ingin membeli barang-barang rumah tangga yang belum pernah kumiliki seumur hidupku’ begitu katanya. Daftar belanjaannya yang bejibun dia tulis di kain yang diikat di tiap jari tangannya. Maka anak-anak pun membantunya membeli tempat tidur, gaun pengantin ala barat, kulkas, bathtub, dan seluruh perlengkapan rumah modern. Barang-barang tersebut akan dibawanya pulang.

Benda-benda itu sebetulnya sanggup dia beli sejak dulu, tapi suami dan keluarganya melarang gaya hidup seperti itu. Sekarang setelah dia menjadi sangat tua dan suaminya meninggal, dia sudah bebas untuk melakukan apa saja.

Hoora seolah menjadi simbol tentang berakhirnya seluruh beban kehidupan perempuan muslim, atau garis finish dari perjalanan panjang yang dimulai oleh Hava. Setelah melalui berbagai macam larangan dan aturan seperti yang dialami Ahoo, seorang perempuan muslim yang sudah tua dibebaskan dari aturan-aturan ketat pada umumnya, dan mendapatkan banyak permakluman/kebolehan/keringanan. Misalnya, Hoora boleh mengenakan scarf saja di kepalanya dan tidak mengenakan jubah hitam.

Kalau tidak salah, saya pernah mendengar kalau perempuan yang sudah tua boleh tidak mengenakan kaos kaki (artinya boleh terlihat aurat kaki), kalau di daerah sini.

Fase-fase yang familier itu divisualisasikan dengan sederhana namun indah oleh sutradaranya. Seluruh pemain berakting maksimal, dan latar belakang laut menjadikan film ini semakin penuh simbol menarik. Dan salah satu hal penting yang terus saya ingat usai nonton film ini adalah, saya merasa terwakili untuk mengatakan bahwa sampai saat ini menjadi perempuan memang tidak mudah. Saya sudah merasakan bagaimana dogma telah membrainwash otak saya sejak kecil, dan bahwasanya nyaris seluruh dunia seperti menekan saya ketika saya mencoba untuk hidup dengan cara yang berbeda. Haha, dramatis banget kan?

Tertarik untuk nonton? Ayo cobain!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s