[Diari Kucing] Ageung di Jembatan Pelangi

Ketika kucing meninggal, kemana mereka pergi? Ke surga? Atau sebuah tempat diantara surga dan neraka?

Ada yang menyebut kalau mereka berada di jembatan pelangi. Apakah itu? Saya juga tidak tahu.

Tapi kemanapun mereka pergi, seperti halnya manusia, kehidupan sudah berhenti dan saya tidak tahu apa yang terjadi pada mereka.

Jumat lalu, Ageung meninggal dunia. Usianya masih sangat muda, belum lagi mencapai 3 bulan. Sampai saat ini, saat teringat padanya atau melihat foto-fotonya saya selalu bersedih dan menangis. Saya tidak tahu harus harus mengatakan apa lagi. Kebersamaan selama 2.5 bulan ini telah membuat ikatan yang kuat, mungkin juga karena saya mengurusnya sejak dia masih bayi, jadi saya merasa begitu shock dan depresi.

Saya pertama kali bertemu Ageung dan Alit di depan kantor tempat saya bekerja. Menurut seorang kawan, ibu mereka telah meninggalkannya entah kemana. Saya juga tak melihat ibunya hingga mereka mengeong terus-menerus. Ketika waktunya pulang, saya tidak tega meninggalkan mereka lalu saya membawanya pulang dengan kardus besar. Saya memutuskan untuk merawat mereka walaupun harus berhadapan dengan ibu yang awalnya tidak menyukai keberadaan kucing di rumah.

Keesokan harinya di kantor ada kucing besar mengeong seperti mencari sesuatu. Sadarlah saya bahwa sang ibu kucing ternyata masih ada. Saya jadi bimbang bagaimana menyatukan mereka kembali. Saya berniat membawa para kitten kembali ke kantor kalau berhasil menempatkan sang ibu di gudang kantor untuk sementara. Tapi ternyata sang ibu tak pernah kembali lagi setelah 2 hari, mungkin karena sudah pergi mencari di tempat lain. Saya tak tahu kemana perginya.

Saya merasa sangat bersalah. Tapi karena sudah terlanjur, para kitten tetap berada di rumah saya menjadi anggota keluarga baru. Dan dimulailah drama perizinan dari ibu dan adik saya yang tak setuju kucing-kucing berada di rumah.

Tapi akhirnya, setelah beberapa minggu, ibu saya berbalik sayang pada para kitten itu, Alit dan Ageung. Apalagi saya belum pernah punya kucing sebelumnya. Ini pertama kalinya dan saya merasa sangat senang. Setiap hari kami bermain bersama, sampai tak terasa mereka makin  besar, gesit, dan lincah. Apalagi pada saat masa eksplorasi (di sunda kami menyebutnya ‘kumincir’).

Sayangnya, pada Jumat kemarin Ageung tertabrak motor pak lurah. Tidak ada luka di luar badannya, tapi sepertinya ada luka di dalam. Beliau meninggal, dan saya tak bisa berhenti menangis sambil memeluknya. Padahal sebelumnya kami bermain bersama dan foto-foto narsis seperti biasa. Tak disangka, dalam usia begitu singkat Ageung sudah meninggalkan kami.

Kami sangat kehilangan. Kami merindukannya.

Dan sekarang, Alit entah kenapa terlihat lebih pendiam dan kadang-kadang merenung sendiri seperti merasa kesepian.

Selamat jalan, Ageung. Terima kasih atas waktu kebersamaan penuh keceriaan dan kebahagiaan yang begitu singkat. Kalaulah memang surga itu ada, saya berharap kamu ada di situ dan berbahagia selalu. Tidurlah dengan damai.

ageung3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s