Merencanakan keluarga

Sedikit basa-basi dulu.

Akhirnya saya menulis kembali di blog ini setelah dibiarkan terlantar beberapa bulan. Itu karena setelah saya cek di dasbor ternyata saya difollow paman The Crow yang legendaris di Politikana ituu! Hehe. Sekian basa-basi.

Tulisan ini berdasarkan keluh kesah mengenai dilema rumah tangga yang tak ada habisnya.  Terutama ketika ada ungkapan seperti ini (yang ditulis berulang-ulang) :

“aku stress banget. Ingin pergi ke tempat yang jauh rasanya. Cape kerja bikin badan serasa remuk, mana anak-anak nakalnya minta ampun. Suami gak mau ngerti. Aku stress banget!”

Itu sudah tahap yang mengkhawatirkan. Saya merasa harus menuliskannya. Pada awalnya saya memberikan masukan ini-itu, termasuk mencari orang dekat di sana yang bisa dijadikan kawan sharing, terutama ibu-ibu sejawat agar masalahnya bisa di selesaikan dengan solusi yang real dari pihak yang sudah berpengalaman. Banyak juga ibu-ibu baik hati yang biasanya bersedia sharing pengalaman dalam rumah tangga, mengurus anak, dan lain sebagainya. Atau juga mengobrol dengan psikolog jika merasa diperlukan.

Para pembaca apakah pernah menerima keluh kesah seperti itu juga?

Kemudian saya jadi banyak berpikir, begitulah rumah tangga dan kehidupan keluarga. Di satu sisi saya melihat beberapa contoh keluarga (yang tampak) harmonis dan keberhasilan mendidik anak-anak gemilang tanpa pernah saya mendengarkan keluh kesah, di sisi lain banyak juga percontohan rumah tangga yang sepertinya membuat suami/istri malah tertekan dan tidak menikmati kehidupan rumah tangganya.

Efek paling mengerikan dari tertekan dalam rumah tangga/kehidupan keluarga adalah kondisi anak-anak. Orang tua jadi menyalahkan anak-anak yang dianggapnya nakal, rewel, bandel, dan sebagainya. Mereka memarahi anak terus menerus.

Saya pernah mengatakan begini ‘jangan pernah menyalahkan anak’. Iya, saya percaya bahwa anak-anak tak bisa disalahkan karena kebandelan atau kenakalannya, apalagi jika orang tuanya sering stress. Harusnya instrospeksi diri dulu, anak menjadi bandel dan nakal itu karena apa?

Pola asuh dan pendidikan dini sangat mempengaruhi karakter anak. Jika anak-anak disalahkan karena memiliki karakter bandel, berarti yang harus dievaluasi adalah cara asuh ortunya dan kontrol mereka terhadap pergaulan di luar keluarga. Karena saya juga melihat banyak anak-anak lain yang tumbuh dengan karakter baik dan jempolan.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan : rencanakan rumah tangga dan beranak pinak dengan matang dari jauh-jauh hari. Berumah tangga dan melahirkan anak adalah pilihan dan keputusan para pasangan yang sudah berkomitmen seumur hidup untuk menanggung seluruh resikonya di masa depan. Sebelum memutuskan untuk menikah, memiliki anak, harusnya paling tidak poin-poin pentingnya sudah direncanakan dulu.

Misal : bagaimana dengan finansial keluarga? Apakah ditanggung semua oleh suami atau istri ikut menyokong atau bagaimana? Bagaimana dengan pola pendidikan anak yang akan diterapkan? Bagaimana dengan biaya-biaya pendidikan? Berapa jarak usia anak jika akan memiliki anak lebih dari 1? Apakah akan memerlukan asisten rumah tangga untuk membantu tugas istri? Mau tinggal dengan mertua atau di rumah sendiri? Kapan akan mulai program memiliki anak? Apakah istri boleh bekerja? Bagaimana dengan masalah privasi? Bagaimana dengan me time? Dan lain sebagainya yang pasti lebih buanyaaak lagi. Ini sih dalam bayangan saya saja.

Dan yang tak kalah pentingnya, tentu saja adalah pola komunikasi suami-istri. Suami, walaupun dalam agama disebutkan sebagai pemimpin keluarga, tidak berarti suami seperti raja yang punya kekuasaan absolut. Segala hal sebaiknya dikomunikasikan agar nyaman, jangan dipendam sendiri.

Masih ada yang takut sama suami dan tidak berani mengungkapkan keberatan jika ada hal-hal yang tidak setuju. Misal kalau suami ingin anak lagi padahal istri belum siap. Atau terlalu taklid pada ungkapan ‘banyak anak banyak rejeki’ yang menyesatkan beberapa orang karena pemahamannya yang sempit. Menurut saya, jumlah anak juga haruslah direncanakan dan disesuaikan dengan kemampuan fisik serta finansial orang tua. Bukankah banyak orang tua yang berharap kelak anak-anak akan mendapatkan kehidupan yang lebih berkualitas? Kalau mampu membesarkan anak dalam jarak dekat dan jumlahnya banyak, silahkan. Tapi kalau memang kenyataannya belum mampu, jangan dipaksakan. Kehadiran anak harus dibarengi/diimbangi dengan energi besar untuk mendidik dan mengasuh mereka dengan benar, memberikan biaya dalam segala aspek hidupnya sampai kelak mereka bisa dilepas sendiri.

Kehidupan rumah tangga atau berkeluarga tentu tidak mudah sih, seribu satu masalah dan bahkan lebih banyak dari itu bisa muncul. Mulai dari suami melirik tetangga bohay sampai kecapekan dengan pekerjaan rumah tangga, dll, dll. saya melihatnya seperti sebuah dunia baru yang memerlukan energi berlipat daripada kehidupan single. Tapi tentu sensasi dan pelajaran yang didapatnya juga akan sangat berbeda. Plus sepaket dengan segala resiko dari pilihan yang sudah dijalankan. Apakah kebahagiaan yang didapat akan sebanding dengan resikonya? Itu tergantung bagaimana para pelaku menyikapi setiap momen dalam rumah tangganya.

Jangan berhenti belajar dan berusaha untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, itu yang penting. Kalau dirasa ada sesuatu yang tidak nyaman, maka ada yang harus diubah. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa berubah. Setuju? ^_^

5 thoughts on “Merencanakan keluarga

  1. Pernikahan itu membutuhkan komitmen yang sangat besar bagi para pelakunya. Di sinilah dibutuhkan kesiapan mental untuk menikah. Kalau memang belum siap, jangan sekali-sekali dipaksakan untuk menikah. Kesiapan itu ya termasuk aktif menjadi individu yang berkembang, matang, dan lebih baik. Juga aktif mencari tahu perihal tentang pernikahan, relationship, parenting, dan hal-hal lain yang terkait. Ibarat akan pergi berperang, kita harus siapkan dulu senjata dan pelurunya. *halah*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s