Berempong-rempong Ria Dengan Excel

Kalian punya usaha atau organisasi kecil yang masih dikelola swadaya oleh keluarga atau kolaborasi teman-teman? Jika ya, saya yakin kalau salah satu kendala utama yang dihadapi adalah pencatatan keuangan, betul tidak?😀

Masih acak-acakan lah, tidak rapi, uang pribadi masih menyatu dengan uang organisasi, tidak ada cash opname (penghitungan fisik uang organisasi tiap hari) dan lain sebagainya. Itu memang penyakit utamanya. Pada organisasi non laba seperti yayasan atau organisasi sosial, masalah utama lainnya yang sering terjadi adalah berubahnya niat pengelola yang tadinya murni untuk sosial tanpa komersialisasi kegiatan ataupun sistem upah berubah menjadi komersil sana-sini dan memanfaatkan organisasi sosialnya untuk memperkaya diri.

Tapi yang akan saya bahas bukan itu sih, hehe.

Kembali ke ruwetnya merapikan pencatatan keuangan (pengeluaran-pemasukan) dan membuat laporan keuangan yang minimal sesuai standar yang berlaku di Indonesia sekaligus bisa dibaca/dipahami dengan mudah oleh semua pihak (eksternal dan internal).

Enaknya sih memang memakai software yang kompatibel dan sederhana sesuai keperluan organisasi kita. Tapi sebagaimana yang kita tahu, software itu mahal dan saat ini saya belum menemukan software lokal yang cocok untuk organisasi non laba seperti yayasan sosial. Dari luar negeri sih ada, baik yang berbayar ataupun gratisan (yang gratisan tentu jumlahnya tidak seberapa). Tapi itupun masih belum tentu bisa sesuai dengan kebutuhan kita. Apalagi jika operatornya susah paham sama bahasa inggris, bisa nambah-nambah pusing mereka.

Beneran lho, saya belum nemu softaware keuangan sederhana untuk yayasan atau organisasi non laba. Saya pengen bikin siiih, biar sambil belajar juga. Tapi saya baru punya skill sistem akuntansinya doang, dan belum punya skill pemrograman seperti mysql dll yang biasanya dipakai untuk membuat software. Untuk mempelajari pemrograman secara otodidak memang bisa, tapi tentu butuh waktu yang tidak sebentar. Sedangkan to-do-list sudah menempel di jidat dan laporan keuangan sudah harus berbentuk seperti umumnya laporan dalam waktu yang sangat cepat.

Jadi saya pakai excel dulu. Dengan alur dan template yang paling sederhana (tapi bikinnya sih gak sederhana). Ini juga bisa membantu orang-orang yang tidak paham alur akuntasi agar setidaknya bisa tahu alurnya dulu secara sederhana. Tapi resikonya, semua dikerjakan secara manual dalam beberapa file, dan tiap rumus hanya berlaku dalam beberapa kasus saja. Intinya tidak secanggih software khusus lah, karena kita harus menelusuri tiap alur secara manual dan memasukannya dalam template yang sudah kita buat sendiri.

Kebayang kan rempongnya? Tapi ya mau gimana lagi, karena pencatatan harus tetap rapi dan laporan keuangan harus keluar dalam bentuk sesuai standar. Rencana jangka panjang, saya pengen berkolaborasi dengan ahli pemrograman untuk membuat software sederhana (misal pakai excel), tapi belum ketemu waktunya aja nih. Dan belum bertemu ahli pemrogramannya yang bisa diajak belajar.

Sebagai gambaran mengenai bentuk laporan keuangan organisasi non laba yang sudah sesuai standar, kalian bisa membacanya di PSAK No.45 yang dikeluarkan sama IAI (Ikatan Akuntan Indonesia), sudah banyak sumber download gratisnya di internet. Bentuk laporan yang sudah jadi beserta informasinya sih tidak terlalu rumit, tapi prosesnya yang rumit mit mit mit sampai sudah hampir 2 bulan ini saya terus trial and error sama temen dan hasilnya masih belum valid, hahaha.

Btw, alur yang sudah saya buat di excel untuk pembukuannya adalah : buku kas harian/buku bank harian — jurnal (semua jenis jurnal, yaitu jurnal umum dan penyesuaian) —- buku besar/konsolidasi—laporan keuangan akhir. Ini lumayan juga, format laporan keuangannya sudah keluar sesuai PSAK dan mudah dipahami sama pihak yang berkepentingan (mudah-mudahan!).

Coba lihat, simpel sekali kan? Cuma 4 alur, dan templatenya juga hanya segitu saja. Bisa ditambah laporan lain sesuai kebutuhan (misalnya kalau ada beberapa divisi). Tapi pengerjaannya tidak simpel karena semuanya manual, terutama saat memasukkan transaksi dari jurnal ke buku besar. Karena tiap satu transaksi yang terjadi harus ada buku besarnya (kecuali untuk transaksi yang sama, itu dimasukkan ke dalam buku yang sama). Itu berguna untuk membuat laporan keuangan (yang jadi tujuan akhir) dan memudahkan kita untuk menelusuri jika ada data yang tidak valid, sekaligus mengetahui berapa sisa masing-masing rekening akun terutama yang ada sangkut pautnya dengan pihak lain (misal utang, piutang, dan saldo bank). Dengan adanya satu buku untuk masing-masing jenis akun itu, mudah bagi kita mengeceknya. Kalau pas butuh informasi ‘berapa sih sisa hutang si anu ke kita’, nah itu tinggal lihat aja di buku besar.

Simpel yang bikin rempong, atau kalau kata di sunda mah ‘matak jangar sirah’ hehe. Tapi rempong ini harus tetap dilakukan, karena : pertama, sebagai bekal utama agar usaha atau organisasi kita menjadi besar secara ‘serius’, kedua, akan memudahkan kita untuk evaluasi dan migrasi data nanti saat sudah punya software yang akan digunakan.

Selain harus belajar pemrograman buat bikin software akunting (pinginnya sih opensource seperti gnucash gitu yang bisa editable sama semua orang dan gratisan….eh dan saya belum review gnucash, jadi keingetan!), saya harus belajar web design juga karena bakal bikin web dan mengelolanya. Saya benar-benar butuh waktu buat belajar yang begituan. Programmer ganteng datanglaaah *halah*

 

One thought on “Berempong-rempong Ria Dengan Excel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s