Si Cantik Yang Rajin Mandi

Ya, double post😀

Sepertinya saya bakal ketagihan menulis tentang keponakan saya yang sedang dalam usia keemasannya meniru dan mengimitasi setiap hal di sekelilingnya. Bahan pelajarannya banyak banget, hanya dari sesosok toddler berusia 3 tahun.

Namanya Naila. Usianya 3 tahun. Cantik, enerjik, ingatannya super, dan pinter ngomong. Saya sekarang betul-betul yakin kalau toddler itu manusia kecil yang memang ajaib. Jadi betul bahwa lingkungan keluaraga, orang tua, tetangga sekitar itulah yang akan membentuk dia dengan karakter yang akan terus terbawa sampai dewasa. Anak-anak kecil itu bisa dicetak. Sesuka hati kita. Karenanya betul, bahwa peranan orang tua, terutama ibu yang akan senantiasa berada mengawasi sang anak, menjadi penentu bagaimana karakter anak akan terbentuk di masa depannya.

Saya jadi berpikir, misalnya ada negara yang baru dibangun dengan sepasang manusia cerdas. Lalu mereka beregenerasi melahirkan anak-anak cerdas, tentu negara makmur loh jinawi itu bisa tercipta. Dari kelas-kelas kecil semacam keluarga, akan menyumbang manusia-manusia yang akan berkiprah sampai ke level pemerintahan lokal dan dunia.

Nah, Naila juga begitu. Sayangnya ya….dia meniru semua hal; baik yang positif maupun negatif. Karena anak seumuran beliau belum bisa membedakan sendiri tentang baik dan buruk. Bentakan dari ibunya membekas, menangis keras menjadi senjata menaklukan orang tua karena sejak awal orang tuanya tidak konsisten, diasapi rokok para tetangga dan kakaknya, saudara-saudara yang tidak tahu bagaimana caranya berbicara sopan dan berkebiasaan baik, teman-temannya sang kakak yang berbicara vulgar dan kasar. Semua racun itu bisa ditelan sekaligus oleh seorang toddler. Sayangnya, saya tidak setiap saat bisa mengawasi Naila. Saya hanya bertemu dengannya sesekali saja.

Tapi sedikitnya saya ingin mengajari dia kebiasaan yang menurut saya baik. Yaitu : membuang sampah pada tempatnya, berterima kasih pada kebaikan orang lain, meminta ijin menggunakan barang orang lain (tidak asal ambil), buang hajat di tempatnya beserta ceboknya, berbicara dengan lembut/sopan, dan mandi rutin sehari 2 kali. Baru itu yang bisa saya ajarkan sebagai eksperimen kecil-kecilan.

Yang sudah terlihat ada perubahan adalah buang air di kamar mandi dan cebok, cuci tangan setelah kotor-kotoran, dan mandi rutin. Saya ingat, waktu  masih 2 tahun, beliau susah sekali mandi. Dimandiin pasti mengamuk. Saya tidak bisa menghandlenya. Tapi sekarang beliau sudah 3 tahun dan mulai bisa memahami banyak hal. Saya membujuk beliau mandi rutin dengan hal sederhana : membelikannya sabun mandi khusus bayi dan shampoonya sodara-sodara! Haha!

Saya bilang ke beliau : ini sabun dan shampoo untuk Naila saja. Bisa dipakai setiap mandi. harum lho. Tidak pedih.

Lalu mendadak dia minta mandi terus. Malah bisa sehari 3 kali ahahaha. Sekarang mandi dan keramasnya semangat banget. Apalagi kalau ada saya. Yes lagi, mission accomplished!

Iya, mungkin usia 3 tahun adalah usia dimana anak membentuk self defense dan personal choice dalam dirinya. Terlihat sekali lho perbedaannya dengan sebelum usia 3 tahun. Sejak umur 2 tahunan sebenarnya Naila juga punya self defense. Beliau bisa menolak apa yang beliau tidak suka/tidak mau. Jadi segala sesuatu harus ditanyakan dulu dan meminta persetujuannya. Agar anak melakukan hal-hal berdasarkan keinginannya sendiri dan tidak mengamuk karena merasa dipaksa.

Beliau juga sudah bisa memilih sendiri apa yang dibutuhkannya, misal sandal atau baju. Tiap akan dibelikan sandal, harus ditanyakan dulu mana yang dia suka. Dia akan menunjuk sendiri sesuai keinginannya.

Usia 3 tahun, Naila menjadi lebih mudah mengerti dengan apa yang kita katakan. Beliau bisa menceritakan tentang kondisi rumahnya, tetangga yang dikenal, ayam-ayam, dan saudara-saudarnya di rumah. Beliau sering meminta bermain dengan saya : bibi ayo kita main. Itulah rajukannya. Biasanya kami bermain tebak warna atau gambar, main rumah-rumahan, games kucing di hp android, dan ucing sumput. Terus main sampe saya tepar kecapean haha. Malah saya yang kewalahan dengan energinya. Apa-apa ditanyain. Cerewet dan gemar mengobrol apa saja. Orang asing lewat di atas motor juga mesti ditanyain : bibi, itu siapa? Walah…

Dan yang lebih amazing lagi, saya tidak pernah mengajari Naila sembahyang. Tapi mungkin beliau selalu memperhatikan ibunya sembahyang 5 kali sehari sehingga sudah hafal. Ketika saya mau sembahyang dan memakai mukena, tiba-tiba beliau juga ingin ikut. Beliau leyeh-leyeh atau sujud doang di atas sajadah hanya dengan memakai pashima saya, hehe. Lucu deh.

Saya jadi kangen beliau….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s