Kenapa ‘Taaruf’ Jadi Berasa Masuk Akal

Iya, tiba-tiba metode kenalan sebelum menikah berlabel ‘taaruf’ dalam islam menjadi masuk akal. Tapi tentu levelnya bisa ekstrim (syar’i full) seperti kalangan ikhwan/akwhat, atau sekedar meminjam istilah untuk tahap perkenalan/penjajakan yang lebih moderat dan terbuka sebagai nama lain dari pacaran.

Ceritanya begini.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang survey iseng di sini. Apakah pernikahan bagi sebagian perempuan itu karena motivasi untuk menikah saja atau menikah dengan si x (yang dicintainya), begitulah kira-kira. Hasilnya, sebagian besar perempuan di sekitar saya gagal menikah dengan lelaki yang mereka cintai sejak awal.

Tapi itu tentu tidak berarti bahwa pilihan mereka salah. Secara personal saya selalu menyayangkan bagi para perempuan yang terlalu terburu-buru menikah hanya karena desakan keluarga, takut dibilang perawan tua, takut sama penilaian masyarakat sehingga tidak memberi kesempatan pada pacar yang dicintainya. Tapi memang kalau motivasinya untuk menikah secara serius, tentu dibutuhkan ketegasan dan kepastian untuk menuju ke arah sana. Take it or leave it lah mungkin begitu.

Lalu saya sempat berpikir, apakah menikah dengan orang yang benar-benar kita cintai dan saling mencintai lalu pernikahan tersebut juga dibangun dengan logis tanpa buru-buru seperti alasan di atas, apakah cuma utopia saja? Sehingga ungkapan “menikah karena saling cinta” menjadi menyebalkan bagi sebagian orang tua karena anak gadisnya menunda terus untuk menikah.

Ternyata tidak. Dan itu nyata terjadi di depan mata saya sendiri. Ada seorang perempuan yang lebih tua dari saya, baru saja melangsungkan pernikahan setelah sebelumnya berbisik ke saya “aku sedang jatuh cinta”. Dan tentu saja dia jatuh cinta pada suaminya yang juga memujanya, dan happy ending. Dulu perempuan ini selalu percaya bahwa kelak dia akan bertemu dengan seseorang yang tepat dan mereka akan menikah karena mereka punya passion untuk bersama menghabiskan sisa hidup dan belajar bersama dalam segala hal. Dia pernah bilang “passion hidup aku sederhana kok, aku cuma ingin bertemu dengan seorang lelaki yang kucinta dan mencintaiku lalu kita membangun keluarga bersama dan dikelilingi anak-anak yang baik”.

Cerita hidup beliau tentu tidak selalu sehappy yang saya gambarkan di atas. Sebagaimana perempuan indonesia lainnya, umur menjelang matang belum jua menikah, membuat keluarga gelisah, masyarakat resah dan gundah. Tapi dia tidak pernah peduli dengan penilaian orang lain. Sebab dia yakin itulah hidupnya. Sebelumnya dia pernah gagal dalam cinta sehingga butuh bertahun-tahun untuk sembuh. Tapi begitu sembuh, dia jadi manusia bebas yang sangat bahagia. Lalu terus berkarya dan bertemu banyak pria baik, tapi ketika berkenalan dan tidak cocok, dengan tegas dia tidak menjalin hubungan apapun dengan para pria itu dan mencari yang lain.

Sampai akhirnya dia bertemu seorang pria pada saat hati dan jiwanya betul-betul netral dari segala keterkaitan rasa, lalu dia jatuh cinta, dan pria itu juga ternyata mencintainya. Mereka berpacaran selama beberapa bulan. Sudah tahu sama tahu untuk serius membina rumah tangga, lalu menikah. Kisahnya bagi saya ajaib sebab saya bersama dengannya selama bertahun-tahun dan menyaksikan bagaimana kebahagiaan sejati itu sampai padanya seperti hadiah atas kesabarannya selama ini. Dia selalu yakin akan bertemu seorang pria baik yang akan dinikahi dan menikahinya, dan itu memang terjadi.

Lalu apa hubungannya sama taaruf?

Iya, karena taaruf (kurang lebih seperti yang dijalankan teman saya di atas) lebih menjaga para pelakunya dari rasa sakit hati akibat ‘tidak terpilih’ untuk dijadikan pasangan hidup. Tidak ada ikatan emosional yang terjalin, jadi siapapun mungkin akan lebih mudah menerima kenyataan kalau ternyata gagal melaju ke jenjang pernikahan.

Kalau diibaratkan mah begini : saya misalnya ditawari/dicomblangi untuk berkenalan dengan A, temannya teman yang tidak saya kenal atau orang yang sebelumnya sudah saya kenal. Tentu tujuannya sudah sama-sama tahu : menikah (walau tidak buru-buru, sesuai kesepakatan saja).

Sesuai aturan taaruf, saya akan bertukar biodata dengan A, kalau cocok maka kenalan dengan bertemu langsung, kalau cocok ya tinggal dilanjut dengan terus saling mengenal, sampai akhirnya menikah (kecuali ada sebab-sebab lain sehingga batal). Kalau tidak cocok, ya dengan tegas menolak. Mau jadi teman boleh, tidak juga tidak apa-apa. Tapi biasanya walaupun jadi teman, sulit untuk jadi teman akrab. Paling hanya jadi kenalan saja. Tapi ya itu tak masalah. Tergantung gimana baiknya saja.

Saya sih tak pernah akrab dengan orang yang ngajak taaruf terus sayanya mundur. Karena saya tidak mau dikira memberikan harapan dengan melayani keakraban dari yang ditaarufi. Atau ya memang males saja😀. Anehnya, saya tak pernah merasa sakit hati atau apapunlah itu yang bikin menderita. Malah saya jadi tak terbebani dengan hal apapun. Kalau ada yang mau kenalan ya hayu, cocok ya lanjut, tak cocok ya mundur. Hehe.

Aturan pertama taaruf yaitu alurnya sudah saya sebutkan di atas. Aturan kedua : tidak menerima calon/target lain ketika sedang berproses dengan satu orang. Jadi selesaikan dulu dengan yang pertama. Kalau misal sudah final tidak cocok dan mundur serta sudah diinformasikan kepada calon, baru beralih ke calon baru.

Aturan tiga : segala hal yang bersifat personal menyangkut calon yang pernah taaruf dengan kita, menjadi kewajiban kita untuk menyimpannya. Itu rahasia, dan masing-masing orang harus menjaganya.

Aturan empat : biasanya, ketika sudah level bertemu langsung dan berinteraksi lama, seharusnya para calon sudah fix akan lanjut ke pernikahan, atau kemungkinannya untuk menikah sudah 90%. Jika sedari pertama bertemu sudah cenderung ragu, katanya sebaiknya tidak dilanjut. Ini untuk menghindari ada pihak yang merasa dirugikan dan sakit hati. Tapi menurut saya pribadi, sebagian orang mungkin tidak merasakan chemistry menikah dalam sekali pertemuan. Ketika sudah saling mengenal lama dan berteman baik, biasanya baru ada hasrat pada seseorang. Jadi jika dalam proses berkenalan yang lama itu merasa ternyata tidak cocok, ya tidak usah memaksakan diri untuk lanjut. Persoalan ada yang sakit hati, itu sebagian dari resiko juga. Toh dari awal sudah sama-sama tahu bahwa perkenalan yang dilangsungkan adalah serius untuk menuju pernikahan hanya jika cocok dan disepakati bersama.

Nah, menurut saya taaruf bisa mencegah orang dari iseng-iseng memacari banyak orang, memberikan harapan pada mereka, dan memilih salah satu yang terbaik. Coba bayangkan perasaan orang yang tak terpilih, pastinya sakit hati. Istilahnya, jadi cadangan doang. Jadi tukang tambal ban doang. Sebab semua tahu, sebagian pasangan saling tidak percaya dan mereka lebih percaya kalau pasangannya tersebut punya cadangan lain.

Jadi taaruf memaksa orang untuk tegas dengan 2 pilihan : mau nikah sama saya? Hayo kita kenalan dulu, kalau sama-sama cocok ya tinggal rencanakan pernikahan. Kalau tidak cocok, ya silakan mundur with no hard feeling. Tujuannya sudah jelas. Tidak ada yang dirugikan baik materi, fisik, waktu, maupun perasaan.Tanpa harus merasa rugi karena hanya menjadi cadangan yang bisa ditendang ketika mendapat barang yang lebih bagus.

Apakah taaruf dengan demikian sama sekali tidak bermasalah? Masalah sih tentu ada. Namanya juga hubungan antar manusia. Yang merasa sakit hati juga pasti tetap ada, atau merasa dibanding-bandingkan. Atau misalnya salah satu pihak mundur setelah berkenalan agak lama dengan alasan ini itu, padahal sudah ada kaitan emosi dan rasa. Belakangan diketahui kalau si calon itu ternyata taaruf lagi dengan orang lain. Bisa saja kan? Tapi ya minimal dalam aturan bakunya ada kepastian dan ketegasan. Bagi yang melaksanakan aturan itu, maka tidak ada yang dirugikan dalam hal apapun.

Ini tentunya untuk orang-orang yang berniat menikah saja lho ya. Dan menjalankan aturan taaruf dengan tepat. Kecuali jika anda memang tidak bertujuan menikah dan menjalani hidup dengan style sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s