Tentang Respek

Ini adalah cerita tentang seorang Pria Baik Hati

Beberapa tahun yang lalu ada seorang lelaki dan perempuan muda yang berteman baik. Belum lama mereka bertemu, tapi sudah cukup akrab walau mereka tinggal sangat berjauhan. Si lelaki mengatakan bahwa perempuan itu terlalu baik dan kadang-kadang naïf. Sebaliknya, si perempuan menganggap bahwa lelaki itu pandai mengucapkan kata-kata manis, penuh perhatian, dan mudah akrab sehingga menjadi idola banyak wanita.

Tidak lama berselang, perempuan itu jatuh suka pada si lelaki. Walaupun dia tidak mengatakannya secara langsung, tapi karena pada dasarnya perempuan itu sangat ‘plain’, si lelaki mengetahuinya. Lalu tanpa mengatakan apa-apa, si lelaki menjauh dari komunikasi-komunikasi personal. Tidak pernah lagi menelpon, tidak pernah menjawab sms. Semua terputus begitu saja. Sampai si perempuan larut dalam kesedihan dan kekecewaan karena merasa ditinggalkan tanpa alasan.

Si perempuan sangat berduka, bukan hanya karena tahu cintanya tak berbalas tapi juga karena kehilangan kawan dekat tempatnya bergantung cerita dan harapan-harapan manis. Kadang dia menganggap si lelaki sebagai orang yang jahat karena seolah sengaja datang dengan sejuta pesona membuat dirinya terjerat, lalu ditinggalkan begitu saja setelah dirinya terlanjur suka. Dia bertanya-tanya, mengapa si lelaki tak membalas cintanya, apakah dia kurang menarik, atau ada kurang-kurang lainnya?

Tapi, setelah beberapa tahun berlalu, dalam proses recovery-nya, si perempuan menemukan suatu hal yang membuat kepercayaan dirinya bangkit dengan cepat dan meyakini bahwa tidak ada yang salah dalam dirinya.

Belakangan si perempuan tahu bahwa ternyata lelaki itu sangat memberi perhatian kepada perasaan cintanya. Lelaki itu mengatakan bahwa alasannya pergi adalah karena dia tidak ingin menumbuhkan harapan-harapan palsu, karena dia sangat tahu bahwa jika dirinya tetap berada di dekat perempuan itu, si perempuan akan tetap bergantung dan terikat padanya, akan tetap berharap karena kebaikan-kebaikannya.

Pada dasarnya si lelaki memang tidak merasa ‘klik’ kepada si perempuan, dan dia juga menganggap bahwa hubungan yang akan terjalin nanti tidak akan berakhir kemana-mana. Pada saat kejadian tersebut, si lelaki memang tidak ada niat untuk menjalin hubungan serius dengan perempuan tersebut. Karena itu, saat si lelaki tahu bahwa perempuan itu mengharapkan hubungan serius sampai jenjang pernikahan, dia tidak ingin memberikan janji-janji palsu ataupun sekedar harapan-harapan (baik secara verbal maupun sikap) karena sedikitpun kebaikan/perhatian yang diberikan pada si perempuan, tentu akan membuat harapan dari pihak perempuan itu terus tumbuh menyubur. Dan itu akan membuat perasaan si perempuan tersakiti lebih lama. Dia sadar betul bahwa si perempuan akan tenggelam dalam harapan-harapan semu. Karena dia juga sudah sangat tahu, sifat dasar kebanyakan perempuan yang mudah menaruh harapan pada kebaikan-kebaikan seorang lelaki di dekatnya.

Maka si lelaki memilih cara yang ekstrim untuk pergi, tanpa pernah muncul lagi di dekat si perempuan sambil berjanji untuk lebih hati-hati dalam ‘mengakrabi’ para perempuan agar tak ada lagi (atau meminimalisir) yang salah paham dan tersakiti perasaannya.

Lelaki itu menjelaskan alasan perubahan dirinya dalam sebuah tulisan yang sangat panjang. Dengan lugas dan tegas, tanpa permintaan maaf atau perasaan bersalah. Sebuah ungkapan yang jujur disertai pemilihan sikap yang tegas untuk pergi agar tidak lagi menimbulkan masalah berkelanjutan pada perasaan si perempuan.

Dan ternyata memang terbukti. Sepeninggal lelaki itu, si wanita memang sedih dan terluka, sekaligus seperti dijatuhkan dari awan yang tinggi, tapi kemudian dia sembuh kembali dengan lebih cepat. Karena lelaki itu tak lagi ada di ‘dekatnya’ dan ungkapan jujur si lelaki dalam tulisannya. Itu membuat dirinya lebih mudah dalam menerima kenyataan. Ketegasan yang membuatnya sadar. Dia sudah terlepas bebas, bahkan ketika si lelaki menikah dengan perempuan lain beberapa tahun sesudahnya, tidak ada jejak rasa sakit sedikitpun. Dia merasa, apa yang dilakukan lelaki itu sudah cukup untuknya. Lelaki itu menolaknya, tapi tanpa membuat dirinya merasa rendah diri atau ‘down’. Dia berpuas diri karena tertolak bukanlah hal yang buruk, dan bahwa perasaannya tidak dianggap sepele. Bahkan lelaki itu sangat memperhatikan perasaannya atau efek-efek sakit hati yang mungkin timbul di masa depan.

Dengan demikian cerita ini sudah selesai.

Apakah ada sesuatu hal yang menarik yang berkenaan dengan respek di situ? Memang karakter orang berbeda-beda. Mungkin kita juga tak bisa menilai/judging orang hanya dari satu unsur sifatnya saja yang menguntungkan bagi kita sendiri. Dalam kasus itu, si lelaki bisa saja tidak berbuat seperti itu karena toh masalah ‘cinta bertepuk sebelah tangan’ bukan kesalahannya. Dia tidak ada urusan dengan rasa sakit hati si perempuan, karena toh dia hanya berusaha bersikap baik selayaknya teman.

Tapi keputusan si lelaki untuk pergi dengan alasan-alasan di atas itulah yang membedakan dirinya dalam satu sifat ‘respek’. Pergi atau tidak, itu tidak akan menimbulkan efek apa-apa pada diri si lelaki. Tapi dia justru memperhatikan efek keberadaannya pada si perempuan, karena mungkin dia menganggap perempuan itu seorang kawan baik dan dia tak ingin melihatnya sakit hati atau sedih disebabkan hal-hal yang dipicu oleh dirinya.

Memang kita tidak bisa terpaku pada rasa sakit hati orang lain yang disebabkan oleh pilihan sikap kita, toh itu bukan salah kita, tapi ini adalah pengingat bahwa dalam setiap relasi antar manusia, semua tindakan pasti ada dampaknya bagi pihak lain.

Satu hal penting lagi, tidak semua orang akan bersikap seperti itu. Kita tak bisa selalu menerima perlakuan ‘manis’ dari orang lain seperti kasus di atas, atau mengharapkan diperlakukan manis oleh orang lain.  Karenanya, yang bisa kita lakukan adalah, pertama-tama harus respek atau memberi perhatian kepada diri kita sendiri. Karena itu adalah salah satu manifestasi cinta kita terhadap diri sendiri, jika kita masih menganggap diri kita keren dan penuh potensi.

Memberi respek dan perhatian pada diri sendiri, salah satunya adalah dengan menguatkan sinyal di dalam diri dan otak kita untuk memfilter hal-hal apa saja yang boleh kita ‘keep’ untuk diri kita dan hal mana yang harus ditinggalkan. Hal yang harus ditinggalkan, salah satunya, adalah sumber-sumber rasa sakit. Kita pasti tahu jika diri kita mulai merasakan sakit, maka segera cari sumbernya dan perbaiki atau tinggalkan. Toh kita sendiri yang paling tahu mengenai kondisi keseluruhan diri kita. Seharusnya sih begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s