Jadi Petani Keren

Ketika masih kanak-kanak dan ditanya ‘apa cita-cita’ oleh guru, apakah ada yang menyebutkan ingin jadi petani? Petani, yang memiliki sawah dan ladang yang sangat luas dan mereka mengolahnya sendiri. Sepertinya tidak ada, ya😀. Dulu petani terkesan kampung banget dan tidak elit. Termasuk saya. Dulu saya bilang pada Bapak dan Ibu kalau saya tidak mau berakhir seperti kebanyakan tetangga yang bekerja di sawah dan ladang.

Padahal sebenarnya, menjadi petani itu tidak sama dengan buruh tani. Lagipula sekarang, banyak para petani keren.

Itulah mengapa Ibu saya agak heran waktu saya bilang pengen beli banyak tanah, sawah, dan kebun kalau kelak punya banyak uang. “Tumben” kata Ibu. Saya berpikir kalau menjadi petani itu menyenangkan. Ide ini didapat ketika berkunjung ke rumah teman yang juga bercita-cita jadi petani keren dan kami membicarakan soal lahan-lahan yang bisa dijadikan area pertanian. Untuk padi, kebun, apotek hidup, sayur-mayur, dan lainnya.

Teman saya itu menginginkan kondisi lingkungan seperti pedesaan yang jauh dari polusi, dikelilingi pepohonan, dan banyak suara-suara khas binatang sawah. Sampai-sampai halaman belakang rumah orang tuanya yang baru dibangun di daerah Bandung disulap seperti kawasan pedesaan. Ada kolam-kolam yang dibuat pancuran, sayur-mayur, singkong, apotek hidup, dan pohon lainnya. Rumah orang tua saya malah tidak perlu disulap segala, karena memang sudah dekat dengan kolam dan pesawahan. Kolam dan sawah punya tetangga tapinya😀

Menjadi petani itu bikin makmur, kayaknya sih. Asal tidak terkena serangan hama. Btw, kemarin saya berkunjung ke desa tempat kakak saya, dan banyak pesawahan yang terkena hama wereng. Padinya belum sempat matang sudah menguning dan kosong. Dipastikan banyak petani merugi karena tidak bisa panen. Yang berhasil dipanen dipastikan hanya sebagian kecil saja.

Saya pengen punya sawah, ya minimal beberapa meter (kalau di sunda, nama satuannya adalah ‘kotakan’ atau ‘bata’). Sekarang harga sawah sedang mahal, terutama di daerah yang terkenal bagus hasilnya dan bisa panen dua kali sekali musim. Untuk pengolahan bersifat fisik seperti mencangkul dll bisa mengupah orang lain. Jadi kita tinggal mengurus manajemen serta mendanai kebutuhan taninya saja. Biasanya, pemilik sawah bekerja sama dengan pihak lain dalam sistem ‘gadai’ juga dan nanti hasilnya dibagi 2. Menyenangkan kalau punya persediaan padi untuk konsumsi sehari-hari.

Selain itu, pengen punya kolam untuk beternak ikan (untuk konsumsi sendiri juga), kebun untuk apotek hidup, sayur-mayur, dan buah-buahan sejuta umat seperti pepaya atau pisang. Dari dulu punya cita-cita pengen mengonsumsi pangan yang dihasilkan dari kebun sendiri. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan lebih mudah jika sudah punya tempat tinggal sendiri.

Banyak sekali jenis tumbuhan liar yang saya temukan di sawah, dan kakak saya bilang kalau tumbuhan-tumbuhan itu bisa dikonsumsi. Kakak mengetahuinya dari Bapak (maklum Bapak sejak dulu lebih banyak mengonsumsi pangan tumbuhan yang dihasilkannya sendiri). Walaupun saya belum sempat mengecek apakah ada efek dari tumbuhan-tumbuhan itu (sejauh ini sih belum menemukan kasusnya), tapi rasanya asyik kalau bibit tumbuhan tersebut bisa ditanam di kebun sendiri.

Ketika berada di rumah, rasanya saya bisa selalu menerapkan gaya makan yang sederhana yang lebih saya sukai. Apalagi di rumah kakak saya. Tiap berkunjung, pasti makan besar dengan lalap-lalap yang dipetik sendiri dari kebun. Sayur dan lalap selalu ada tiap hari. Ada sambel yang enak. Itu sudah seperti di surga (ya iyalah, tinggal makan dan gak perlu menyiapkan sendiri, hehe). Di sekeliling rumah kakak ada pohon coklat, pisang, pepaya, jeruk nipis yang ranum banget, sawo, putat, mareme, sayur mayur.

Di halaman rumah orang tua saya juga ada sih, tapi tidak sekomplit itu.

Menjadi petani ternyata bisa keren banget. Gaya hidup seperti mereka yang sederhana, tapi gaya berpikir tetap bisa modern dan terbuka, terutama tidak gagap teknologi. Sehingga para petani pun bisa ngeblog, ngesosmed, dan membagi tips-tips bertani sukses, halalah toyyiban, makmur nan sejahtera \^0^/. Saya ingin jadi petani seperti itu.

Sawah di desa kakak saya. Banyak padi kena hama😦

Makan siang di belakang rumah kakak, di atas dipan. Sambil menikmati semilir angin😀

Halaman belakang rumah temen saya.

Halaman belakang rumah temen saya.

Sawah di belakang rumah saya. Punya tetangga :D

Sawah di belakang rumah saya. Punya tetangga😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s