Islam Yang Kuinginkan

Beberapa hari kemarin saya membaca beberapa halaman dari buku tebal Hadis Arbain (kumpulan hadis shahih dalam Islam yang digunakan sebagai rujukan oleh para ulama dan umat Islam secara umum). Rasanya baru kali itu saya membaca Hadis Arbain dalam bentuk kumpulan buku, bukan bagian parsial yang biasanya disebutkan dalam tiap pengajian.

Secara tidak sengaja saya membuka halaman tentang tidak halalnya darah manusia kecuali beberapa jenis (tidak halal di sini artinya tidak boleh dibunuh. Jadi jika dihalalkan darahnya berarti boleh dibunuh). Beberapa manusia yang halal darahnya itu adalah : orang dewasa yang telah menikah lalu melakukan hubungan seks selain dengan pasangan resminya (dibunuh dengan cara dilempari batu berukuran sedang/rajam), orang yang membunuh sesama muslim secara sengaja, orang-orang kafir kecuali kafir-kafir yang berada dalam perlindungan muslim dan melakukan perjanjian dsb, orang islam yang murtad (keluar dari islam).

Dengan membaca itu saja, saya lalu memutuskan berhenti lanjut. Saya merasa kalau iman saya tidak bertambah sedikitpun dengan membacanya. Dan yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan seperti biasa, yang sering muncul sejak beberapa tahun yang lalu.

Ya. Memang, ada beberapa hal dalam agama yang saya anut ini yang tidak pernah saya pahami hingga kini. Saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, selain pernyataan bahwa dalam beragama kita harus menerima beberapa hal yang memang tidak bisa diperdebatkan dan tidak dapat diterima secara logis. Terima saja, karena itulah agama. Bagian dari beragama adalah menerimanya tanpa harus bertanya, tanpa harus dipikirkan, karena itu bukan tugas kita. Itu di luar pikiran manusiawi kita. Tugas seorang pemeluk agama adalah mencari hikmah dan makna dari semua hal yang tidak logis itu, dan menjalankan hidup sesuai tugas yang diberikan sang pencipta.

Jadi, saya bersedia menerima agama sepaket dengan hal-hal yang tidak perlu lagi dipikirkan dan dipertanyakan itu.

Tapi mungkin saya tidak akan bisa dihentikan untuk bertanya mengenai agama yang saya anut. Bertanya saja, bukan untuk memperdebatkannya. Misalnya tentang hadis penghalalan darah manusia. Entah kenapa ketika membayangkan bahwa saya melakukan apa yang ada dalam hadis itu, saya merasa kehilangan sisi manusiawi saya sendiri.

Islam rahmatan lil alamin. Yang artinya adalah kasih sayang atau cinta bagi seluruh dunia dan tentu semua isinya. Jika islam ada, harusnya semua makhluk hidup merasakan kasih sayang itu kan? Baik makhluk tersebut islam atau bukan islam.

Bagaimana seharusnya menjadi rahmatan lil alamin itu sebenarnya?

Di dalam al-qur’an saya pernah membaca bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, bahwa manusia diciptakan berbeda-beda supaya saling mengenal satu sama lain. Tapi seringnya pelajaran dari para ulama yang saya terima adalah sebaliknya. Orang-orang menafsirkan tiap ayat dengan berbeda, tiap hadis juga dengan berbeda-beda. Katanya itu sengaja dibuat agar manusia bisa berpikir dan menggunakan akalnya.

Tapi jika kita memilih jalan yang salah atau tidak sesuai dengan apa yang diyakini mayoritas orang, berdasarkan apa yang kita pikirkan, Tuhan tetap akan memberikan hukuman. Katanya begitu.

Untuk apa kiranya Tuhan memberikan firman yang penafsirannya bisa berbeda-beda seperti itu, jika pada akhirnya manusia terpecah dan islam tak pernah bisa bersatu?

Jika saya bisa menawar untuk mengartikan dan memeluk islam dengan apa yang ada dipikiran saya sendiri, saya inginkan islam yang bisa menghargai perbedaan, yang tidak merasa marah jika kemudian ada kalangan islam sendiri yang memutuskan untuk berpikir dengan cara yang berbeda. Yang tidak memberikan label kafir dan menghargai hidup seluruh makhluk. Yang tidak mudah tersinggung pada pemikiran-pemikiran lain yang dianggap merugikan islam toh Tuhan sendiri berjanji untuk menjaga agama ini. Yang tidak mudah berprasangka pada pihak lain, yang tidak menebarkan kebencian berjamaah.

Dan masih banyak lagi yang saya inginkan.

Tapi itu nanti saja. Terlalu panjang dan banyak. Kapan-kapan disambung lagi.

2 thoughts on “Islam Yang Kuinginkan

  1. Mbak artikel ini sama seperti yg saya pikirkan. Saya suka berpikir. Dulu saya mengaji di pesantren. Hampir semua isi kitab-kitab yg diajarkan saya setuju dgn isinya. Tapi pas ada poin yg mengatakan bahwa kalo ada orang kafir (non-Islam) masuk ke rumah kita itu najis, pikiran saya pun langsung berontak menggunakan seluruh logika akal. Waktu itu saya tidak mendebat ustad saya di pesantren, tapi sampai sekarang saya tetap tidak menyetujuinya dgn mencari referensi-referensi yg mendukung pemikiran saya karena dalam Islam pun kita dituntut memahami ilmu mantiq (ilmu berpikir) dalam memahami sebuah hadist. Artikel ini menarik sekali karena “Islam yg mbak pikirkan mirip seperti Islam yg saya inginkan =)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s