Belajar Dengan Menyenangkan

Anak –anakku yang baik,

Kalian bukan anak –anakku,

Bukan juga anak –anak orang tua kalian

Tetapi kalian adalah milik peradaban. Kalian akan melesat jauh meninggalkan kami dengan dunia kalian sendiri, yang tak kan pernah bisa kami jangkau.

(terinspirasi dari kutipan Kahlil Gibran).

Saya bukan seorang guru sekolah ataupun dosen di intansi-instansi resmi, tapi dulu saya pernah mengajar anak-anak TK dan SD membaca huruf-huruf hijaiyah dan buku Iqra di sebuah TKA/TPA kecil di Kabupaten Bandung Barat. Pada awalnya saya hanya membantu teman-teman sebagai pengajar bantuan yang dijadwalkan untuk menggantikan mereka selama 3 hari dalam seminggu.

Sebenarnya saya tidak terlalu percaya diri pada waktu itu karena saya belum pernah memiliki pengalaman mengajari anak-anak. Apalagi saya mengganggap kalau anak kecil kadang-kadang bisa sangat merepotkan. Tapi setelah rutin menemani teman-teman berinteraksi dengan anak-anak, saya belajar banyak hal baru yang menakjubkan.

Selain mengajar anak-anak, saya juga menjadi mentor anak-anak remaja (SMP/SMA) di tempat lain. Walaupun hanya sebentar dan hanya seminggu sekali, tapi saya merasa bahwa para remaja bisa menjadi teman yang menyenangkan asal kita tahu bagaimana cara berkomunikasi dan memperlakukan mereka dengan tepat.

Mungkin banyak orang menganggap bahwa anak-anak atau remaja itu susah diatur. Apalagi anak TK. Saya juga sempat kewalahan di awal karena mereka tidak mau mendengarkan perkataan saya. Mereka bersikap seperti itu karena belum mengenal saya, dan mereka lebih suka diajar oleh pengajar-pengajar lama. Saya merasa agak sedih dan merasa tidak akan sanggup mengajar mereka dengan baik. Waktu saya mengenalkan diri dan mulai berbicara, mereka sibuk berlari-lari dan bermain. Saya tidak dianggap!

Kemudian saya berpikir bagaimana caranya agar bisa menarik perhatian mereka. Akhirnya saya mendapatkan tips dari teman-teman yang sudah lama mengajar dan juga berdasarkan eksperimen saya sendiri, bahwa pertama-tama saya harus mengambil perhatian mereka dengan berbicara penuh semangat, lantang, ceria, tapi bukan berarti berteriak-teriak atau melarang dan memaksa mereka untuk diam. Saya perkenalkan mereka dengan cara-cara baru memulai pelajaran. Misalnya dengan membuat lingkaran dan memberikan permainan singkat.

Dan itu berhasil.

Percayalah, anak-anak tidak akan pernah memperhatikan kita jika kita hanya mendiktekan sesuatu atau duduk saja sambil meminta mereka membaca buku Iqra. Mereka tidak akan patuh semudah itu. Anak-anak usia TK dan awal SD lebih suka bermain dan bercerita. Mereka harus banyak bergerak dan aktif sambil tetap diberikan motivasi untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan baik. Akhirnya, saya berubah menjadi pengajar bebas di akhir minggu yang lebih terkonsentrasi pada permainan, cerita-cerita, dan kerajinan tangan.

Tiap akhir minggu, anak-anak membuat kerajinan tangan dengan penuh semangat, bermain tebak-tebakan edukatif, permainan konsentrasi yang edukatif, dan belajar membangun kerjasama tim.

Ketika diperlakukan dengan tepat, anak-anak bisa menjadi sangat menyenangkan.

Foto milik pribadi (2007)

Foto milik pribadi (2007)

Lain halnya dengan remaja. Ketika menjadi mentor, pada awalnya saya mendengarkan dan mengoreksi bacaan ayat suci. Tapi kemudian mereka meminta saya untuk meluangkan waktu beberapa menit untuk sesi bercerita dan mengobrol/curhat.

Ya, para remaja itu senang sekali bercerita. Mereka senang didengarkan dan bersemangat sekali mempelajari hal-hal baru. Mereka bercerita tentang sekolah, teman-teman sekolah, keluarga, dan cowok-cowok yang mereka taksir. Tugas kita adalah menjadi pendengar yang baik dan memberikan afirmasi-afirmasi positif tanpa menghakimi.

Saya kemudian menyadari satu hal penting: bahwa cara paling tepat memberikan pengajaran adalah mengajak anak-anak didik kita untuk belajar dengan cara yang menyenangkan. Ini berlaku untuk semua orang, bukan untuk anak-anak saja. Kita semua tentu lebih senang dengan metode belajar yang menyenangkan daripada hanya berada di kelas dan mendengarkan para guru mendiktekan buku teks dengan membosankan.

Mendidik konon katanya adalah seni membentuk manusia. Para orangtua memberi kepercayaan pada lembaga-lembaga seperti sekolah, universitas, majlis taklim, pesantren dan sebagainya untuk membentuk anak-anak mereka. Dan apakah ini berhasil? Tidak selalu. Menurut saya, lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia hanya sukses mencetak manusia-manusia cerdas secara akademis dan nilai-nilai fisik dalam bentuk angka tapi kadang gagal dalam membentuk karakter yang kuat dan kecerdasan emosi. Padahal itulah modal penting yang seharusnya dimiliki anak-anak dalam menghadapi kehidupan mereka di masa depan.

Karena itulah, bagi saya, sekolah lebih sering menjadi tempat yang membosankan ketimbang menyenangkan untuk tumbuh dan berkembang.  Seharusnya, lembaga pendidikan dan para pendidiknya bisa menjadikan tempat-tempat belajar itu menjadi sarana yang menyenangkan untuk tumbuh dan berkembangnya anak–anak, dimana mereka bisa mendapatkan ilmu yang bisa menggali potensi mereka dan meningkatkan kualitas diri mereka. Agar lembaga pendidikan bisa menjadi tempat untuk bersosialiasi dan tempat bermain sebagaimana adanya mereka sebagai anak–anak, intinya, menjadi tempat yang bisa membuat anak–anak bahagia.

Guru atau pengajar, adalah salah satu faktor yang bisa menciptakan kondisi menyenangkan pada anak saat belajar. Dan ini membuat saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diharapkan seorang murid dari gurunya? Seperti apakah sosok seorang guru yang bisa membuat anak–anak merasa senang, nyaman, dan bisa menerima setiap pengajaran dengan baik ?

Mengutip dari penjelasan A.S Neil (pendiri Summerhill School yang inspiratif), bahwasanya anak–anak itu egois dan dunia ini adalah milik mereka. Jadi saya pikir, wajar jika anak banyak menuntut agar begini atau begitu pada gurunya. Mungkin yang kita bisa adalah berusaha memahami mereka dan mencari cara-cara terbaik yang disukai mereka dalam belajar. Tentu bukan berarti membiarkan mereka berbuat semaunya, tapi berkreasi dan lebih kreatif dalam memberikan pemahaman pada mereka, dengan cara yang lebih mudah mereka pahami.

Bagi yang mengenal sosok Onizuka Eikichi dalam sebuah komik tentang sekolah dan guru, ada sebuah filosofi Onizuka yang mungkin bisa ditiru. Tentunya, kita tak bisa se–ekstrim Onizuka yang menempuh cara-cara kontroversial dalam mendidik anak-anaknya. Tapi ada satu kutipan menarik dari guru nyentrik tersebut, “aku ingin membuat anak–anak mencintai sekolah dan kembali ke sekolah” (kira –kira begitulah makna yang dapat saya tangkap). I’ll make this school fun!”.

Bagaimana bisa murid–murid begitu mencintai seorang guru yang sama sekali tidak punya latar belakang dan pengalaman dalam mengajar? Itulah. Saya pikir, salah satunya adalah karena guru tersebut memahami muridnya. Inilah yang membuat Onizuka dicintai. Dia tidak hanya memposisikan diri sebagai guru yang menjejali murid dengan mata pelajaran akademis, tapi dia bisa menjadi ayah, kakak, guru, sekaligus teman bermain bagi muridnya. Sekolah bukanlah tempat untuk duduk di kelas dan mendengarkan pelajaran seperti halnya robot yang sedang diprogram. Mereka menghabiskan lebih dari setengah hari di sekolah, ketika para orangtua sibuk sendiri-sendiri. Karenanya yang dibutuhkan anak-anak adalah juga teman bercerita, bukan jejalan nasehat. Mereka ingin di dengar dan di perhatikan.

Dan cara bergaul seperti itu, secara teknis, tidak diajarkan pada para calon guru. Kita biasanya hanya terjebak dalam teori–teori yang menjemukan. Dan pada kenyataannya, ketika kita menerapkannya langsung di lapangan, kadang teori –teori itu menjadi teramat sulit. Dan yang diperlukan adalah–saat kita ingin menjadi seorang guru yang baik, kita belajar langsung dari murid kita sendiri.

Masuklah dalam dunia anak–anak dan remaja secara pelan–pelan. Dengarkan mereka secara hati–hati. Maka mereka tidak akan lari, mereka justru akan mencintai. Dan ketika mereka sudah merasa bahwa belajar itu ternyata menyenangkan, mereka akan menerima para gurunya dengan suka cita.

 

(Untuk anak-anakku di Tanimulya, KBB. Apa kabar kalian? Pasti sekarang kalian sudah besar-besar)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s