Pasien TB : Kenali Penyakitnya, Bukan Jauhi

Ketika saya mengatakan pada beberapa orang teman bahwa saya terinfeksi tuberkulosis kelenjar dan sedang dalam pengobatan, reaksi mereka macam-macam. Ada yang memberikan support dan menemani saya tiap berobat, ada juga yang agak ketakutan begitu mendengar kata ‘tuberkulosis’ sambil mengatakan “eh, nanti menular gak nih?”. Terus terang saya sekilas merasa agak tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Tapi saya kemudian berpikir, mungkin dia tidak tahu mengenai TB yang sebenarnya sehingga merasa terlalu khawatir.

Sejak saat itu saya berhati-hati saat menghadapi teman yang sakit. Karena saya sempat tidak nyaman dengan sebuah perlakuan atau perkataan terkait penyakit TB, maka pasti orang lain juga akan merasakan hal yang sama kan?

Sebenarnya, perlakuan diskriminatif yang tidak menyenangkan terhadap pasien TB telah lama terjadi di dunia. Masyarakat memberikan cap/label atau stigma pada mereka yang terkena TB sehingga memperburuk kondisi mental dan fisik orang yang bersangkutan. Coba saja sekarang, jika kalian mendengar kata tuberkulosis, apa yang muncul di benak kalian pertama kali? Sesuatu yang mengerikan bukan? Pasti kalian membayangkan seseorang yang ceking, batuk berdarah-darah, bisa menyebarkan kuman yang berbahaya sehingga ditakuti dan dijauhi, dan pertanda kelas ekonomi lemah sehingga penyakit ini begitu memalukan bagi penderitanya. Nah memang seperti itulah penilaian kebanyakan masyarakat dari dulu hingga sekarang.

Di beberapa negara termasuk Indonesia, banyak mitos-mitos yang berkembang berkaitan dengan TB. Mitos ini telah mempengaruhi masyarakat sehingga mereka memperlakukan penderita TB dengan tidak seharusnya. Berikut ini adalah mitos-mitos tersebut yang saya kumpulkan dari beberapa sumber :

  1. Penyakit kiriman atau guna-guna. Padahal sudah jelas bahwa TB merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman.
  2. Penyakit keturunan. Padahal TB tidak diturunkan secara genetik melainkan bisa menular melalui udara.
  3. Penyakit ini sulit disembuhkan. Mitos ini begitu kental dipercayai masyarakat di Indonesia sehingga mereka yang terjangkit malas untuk berobat dan cenderung pasrah saja.
  4. Ketika seorang pasien TB batuk, maka orang-orang di dekatnya akan langsung tertular. Ini mitos. Faktanya, kuman TB tidak semudah itu menginfeksi orang-orang yang berada di sekitar pasien. Orang akan terinfeksi jika sudah kontak secara lebih lama dengan pasien, misal dalam hitungan berjam-jam atau hari.
  5. TB merupakan penyebab kanker paru-paru. Faktanya, TB tidak secara langsung menjadi penyebab kanker, tapi dapat meningkatkan resiko perkembangan kanker tersebut.
  6. Orang yang terinfeksi kuman TB (TB laten) atau orang dengan penyakit TB adalah sama. Padahal faktanya, sangat berbeda. Orang yang terinfeksi TB merupakan orang yang sudah terkena kuman tapi kumannya tidak aktif dan tidak akan menularkan pada orang lain. Mereka tidak akan tahu kalau sudah terinfeksi karena memang tidak ada tanda-tandanya. Sedangkan orang dengan penyakit TB sudah jelas merupakan pasien dengan kuman aktif yang bisa menular.
  7. Orang yang terinfeksi kuman TB dipastikan akan menjadi sakit TB. Ini juga salah. Faktanya, hanya orang-orang dengan sistem imun/kekebalan tubuh yang lemah yang bisa menjadi sakit TB (kumannya aktif). Misalnya orang yang memiliki kanker dan pasien HIV akan menjadi sakit TB ketika terinfeksi kumannya.
  8.  Ketika kita tidak mengalami gejala-gejala sakit TB, berarti kita memang aman dari TB. Ini juga keliru. Faktanya adalah, kita harus tetap mengenali gejala-gejala penyakit TB dengan benar. Apalagi bagi orang yang sudah pernah kontak dalam jangka waktu lama dengan pasien TB. Untuk memastikannya, kita bisa melakukan tes mantoux. Ketika hasil tes mantoux positif, bukan berarti kita positif terkena penyakit TB, tapi hanya terinfeksi saja.
  9. Hanya orang yang sakit TB saja yang mengkonsumsi antibiotik. Faktanya, orang yang terinfeksi kuman TB dan tidak aktif juga harus mendapatkan pengobatan sebelum menjadi sakit TB. Sebaiknya segera berkonsultasi dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan perawatan yang seharusnya.

Itulah beberapa mitos yang sampai saat ini mungkin belum banyak diketahui masyarakat awam. Kepercayaan pada mitos ini telah menimbulkan banyak masalah, termasuk pengaruhnya dalam penanggulangan TB secara global. (Sumber dari sini, sini, sana)

Selain itu, penilaian yang terbentuk dari penyakit ini juga telah menyebabkan penderitanya terisolasi dan dapat dicap dengan berbagai label negatif, bahkan dapat menyebabkan para perempuan diceraikan suaminya atau tidak layak untuk dinikahi. Walaupun faktanya memang TB banyak terjadi di negara-negara berkembang, tapi bukan berarti penilaian itu dapat dibenarkan karena orang yang hidup di negara maju pun dapat terjangkit. Tapi stigma ini memang sulit dilepaskan, terutama anggapan bahwa penderita TB merupakan bagian dari HIV,  orang yang hidup dalam kemiskinan, penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol, riwayat kehidupan di penjara, hingga pengungsi. (Sumber dari sini)

Bahkan di India, orang yang sakit TB memiliki ketakutan ketika penyakitnya diketahui karena akan menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri, kontrol emosi yang rendah, depresi, keluar dari pekerjaan bahkan hingga bunuh diri lho. (Sumber dari sini)

Secara garis besar, menurut saya pengaruh utama dari keberadaan mitos-mitos dan stigma yang beredar akan menyebabkan beberapa kerugian bagi penderita, yaitu :

  1. Adanya perlakuan diskriminatif dan isolasi dalam kehidupan sosial di berbagai aspek, sehingga orang-orang takut bergaul dengan pasien TB. Ini akan berdampak pada kehidupan pasien secara menyeluruh. Perlakuan diskriminatif bisa terjadi misalnya di tempat kerja, misalnya karena sering absen sakit sehingga tidak mendapatkan promosi yang seharusnya.
  2. Pasien TB menjadi tidak percaya diri dan menyembunyikan penyakitnya karena rasa malu dan takut. Ini akan menyebabkan terhambatnya proses pengobatan sehingga pasien TB terlambat diobati atau menjadi resisten obat.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir penyebaran  mitos dan stigma ini? Mungkin bisa dilakukan dengan cara mempelajari penyebab munculnya mitos tersebut terlebih dahulu. Nah, apa saja faktor pemicu munculnya mitos? Berikut ini poin-poinnya yang saya ambil dari sini :

  1. Ketidak tahuan masyarakat terhadap TB, kaitannya dengan HIV, diagnosis dan cara pengobatan yang tepat. Karena itu masyarakat harus terus diberikan informasi mengenai TB dari berbagai sumber.
  2. Terkait dengan penilaian-penilaian yang sudah ada dan generalisasinya, yaitu soal HIV, kemiskinan, penggunaan obat terlarang, gizi buruk, dan gaya hidup yang tidak higienis. Walaupun kondisi-kondisi tersebut sangat rentan terhadap TB, tapi toh tidak setiap orang yang sakit TB disebabkan oleh kondisi itu. Karenanya, masyarakat harus terus diberi informasi yang jelas untuk meluruskan mitos-mitos yang telah mereka percayai selama ini.
  3. Orang sakit TB dianggap bertanggung jawab atas kondisi dirinya yang ‘apes’ terkena TB dan menularkannya pada orang lain. Hai, padahal kita semua tahu kan kalau tak seorang pun ingin sakit? Siapa sih yang ingin sakit? Siapa sih yang ingin menularkan penyakit kepada orang lain? Menjadi sakit mungkin memang karena kita teledor dalam menjaga kesehatan tubuh, tapi terjangkitnya kuman itu sendiri di luar kuasa kita. Walaupun kita sudah hati-hati, tapi selalu ada kemungkinan buruknya yaitu menjadi sakit.
  4. Kurangnya fasilitas pengobatan atau akses untuk berobat.

Jelas bahwa masalah TB salah satunya adalah kurangnya penyebaran informasi yang tepat dan cepat kepada masyarakat terutama yang rentan terkena penyakit ini. Dan seperti yang telah saya tulis di atas, tidak ada satupun dari kita yang menginginkan sakit, betul kan? Kadang kita menjadi sakit bukan karena kuasa kita sendiri walaupun kita sudah berusaha sebaik-baiknya menjaga kesehatan. Karena itu, pasien TB bukanlah makhluk bersalah dan menjijikkan yang harus dijauhi. Kalian dan kita semua tidak akan tertular jika tahu bagaimana caranya menjaga kesehatan dan selalu berhati-hati dengan kondisi sekeliling kita. Lalu ketika ada yang sakit TB, segera obati dengan benar.

Bagi yang masih sehat, selalu upayakan yang terbaik agar tidak terjangkit TB dan memberikan dukungan pada mereka yang sedang sakit. Bagi yang sakit, tidak usah putus harapan dan tetaplah bersemangat untuk sembuh, serta selalu jaga orang-orang tersayang di dekat kita agar tidak tertular.

Tulisan ini sekaligus penutup bagi rangkaian seri tentang TB yang sudah saya mulai beberapa waktu lalu. Tapi tentu ini bukan akhir. Karena saya akan tetap menulis soal TB dan membaginya kepada kalian. Karena saya pernah merasakan bagaimana sulitnya berjuang untuk sembuh dari penyakit ini, semoga apa yang saya tulis dan pengalaman-pengalaman saya bisa bermanfaat. Jangan sungkan untuk sharing jika ada hal-hal baru mengenai TB ya🙂

Tetap semangat !

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s