Mari Berpartisipasi Dalam Penanggulangan TB

Seperti yang sudah dijelaskan di tulisantulisan saya sebelumnya, sampai saat ini TB masih merupakan salah satu penyakit menular yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia. Indonesia sendiri berada pada peringkat keempat sebagai negara dengan beban TB tinggi di dunia.

Sebenarnya, saya sendiri baru mengetahui fakta tersebut setelah mengalami sendiri. Lalu saya pontang-panting mencari informasi mengenai seluk beluk penyakit ini dan, terutama, cara pengobatan yang tepat dan paling ekonomis. Ya memang begitulah. Kadang kita baru menyadari suatu hal yang besar sedang terjadi di sekitar kita, bahkan di lingkungan kita yang paling dekat, setelah kita mengalaminya sendiri. Iya kan? Saya baru peduli dan ngeuh setelah menjadi pasien TB, padahal sebelumnya sama sekali buta terhadap informasi penyakit ini.

Dalam kampanye WHO, mereka menyebutkan bahwa “Every year 9 million people get sick with TB. 3 million don’t get the care they need. Help us to reach them.” Jadi setiap tahun sekitar 9 juta orang terjangkit TB. 3 juta diantaranya tidak  mendapatkan pengobatan yang seharusnya, atau belum tertangani, termasuk di Indonesia.

Trus, kenapa sepertiga penderita TB itu belum terjangkau?

poster2-large

Seperti yang ditulis di situs ini, hal tersebut disebabkan faktor sosial, ekonomi dan perilaku atau gaya hidup masyarakat itu sendiri. Jadi selama kondisi sosial/ekonominya masih belum berubah, sepertiga itu ya bakal terus ada.

Jadi kalau dirunut secara sederhana, bisa dijelaskan seperti ini : TB ini adalah penyakit yang lebih banyak timbul karena penderitanya tidak peduli sama kebersihan dan kesehatan diri maupun lingkungkannya. Dan mohon maaf, gaya hidup yang kurang bersih/sehat ini biasanya terjadi pada masyarakat kelas ekonomi ke bawah (ya wajar jika disebutkan kalau TB rentan menyerang negara berkembang dan miskin).

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan masyarakat menengah ke bawah sangat rentan terjangkit TB. Sebagian informasi di bawah ini saya ambil dari sini.

  1. Faktor sosial, misalnya keadaan rumah, kepadatan hunian, lingkungan perumahan, lingkungan dan sanitasi tempat kerja yang buruk.
  2. Status gizi, misalnya kekurangan gizi/kekurangan kalori, protein, vitamin dan zat lainnya akan menyebabkan tubuh rentan terkena penyakit.
  3. Faktor ekonomi, misalnya pendapatan yang rendah. Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak bisa menerapkan pola hidup sehat yang layak dan tidak mampu berobat.
  4. Terbatasnya informasi, terutama media internet. Segala hal menyangkut informasi kesehatan dan penyakit mayoritas dapat ditemukan di internet. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah jarang bisa mengakses internet.
  5. Telat melakukan pengobatan. Bisa jadi ini karena faktor informasi yang kurang atau tidak ada biaya untuk berobat.

Sudah lebih jelas kan sekarang? Saya yakin masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan informasi mengenai TB. Ataupun jika akses informasi sudah mudah, mungkin kasusnya akan seperti saya, yaitu merasa tidak perlu tahu dan tidak begitu peduli karena mungkin belum mengalami atau belum pernah berinteraksi langsung dengan penderita TB.

Bagi masyarakat yang melek informasi dan memiliki akses yang lebih mudah terhadap informasi terutama internet (seperti saya), sebenarnya informasi mengenai TB sudah ada di mana-mana, hal ini menandakan bahwa pemerintah sudah bergerak sejak lama dalam memberantas TB. Kita bisa akses situs-situs dari Indonesia seperti TB Indonesia, StopTBIndonesia, Depkes, atau PPPL. Ada juga situs internasional seperti CDC, WHO, KNCVTBC, dan FHI. Tapi bagaimana nasib masyarakat yang tidak melek informasi atau kondisi sosial ekonomi yang tidak layak?

Sebagai reka ulang dari tulisan saya sebelumnya, sebetulnya, apa sih hal paling penting yang perlu diketahui masyarakat awam soal tuberkulosis? Menurut saya ada 3 :

  1. Mengenali ciri penyakit TB sehingga mereka tahu bahwa di dalam tubuhnya sedang ada infeksi yang berbahaya. Saya kuatir bahwa masih banyak masyarakat yang tidak tahu kalau mereka sedang sakit TB.
  2. Cara pengobatan yang tepat, termasuk mendapatkan obat yang sesuai standar, mengonsumsinya sesuai petunjuk, dan berobat sampai tuntas.
  3. Tempat berobat murah (atau gratis seperti yang sedang dijalankan pemerintah dalam program obat gratis TB).

Salah satu rumah sakit paru di Bandung tempat saya berobat sudah menjalankan tiga poin tadi, dan saya sendiri mendapatkan banyak informasi dari petugas kesehatan di sana. Informasi seperti inilah yang harus terus sampai kepada masyarakat di seluruh pelosok Indonesia, bahkan bagi mereka yang tidak terjangkau media (terutama internet).

Lalu untuk menjangkau sepertiga yang belum mendapatkan pengobatan itu bagaimana caranya? Apakah kita sebagai masyarakat biasa dapat ikut membantu pemerintah melawan penyebaran TB ini? Tentu saja bisa. Masyarakat dapat membantu dengan hal sekecil apapun untuk menyebarkan informasi seperti ini. Mungkin tindakan nyata yang dapat kita lakukan adalah :

  1. Ikut menyebarkan informasi semaksimal mungkin melalui media apapun, misalnya di blog atau media sosial. Terutama mengenai pengobatan gratis.
  2. Jika bisa membantu secara materi, kita bisa membantu misalnya dengan donasi untuk pengobatan.
  3. Aktif dalam kegiatan atau organisasi sosial yang khusus menanggulangi penyebaran TB di masyarakat, dan turun langsung memberikan edukasi/penyuluhan terutama kepada masyarakat yang sulit menjangkau media seperti internet.
  4. Melakukan edukasi/penyuluhan mengenai kesehatan, sanitasi, dan gaya hidup sehat kepada masyarakat. Menurut saya, bahkan membuang sampah pada tempatnya juga sudah merupakan salah satu upaya membuat lingkungan kita tetap sehat dan bersih sehingga tubuh kita pun terjaga dari segala jenis penyakit menular.

Demikian. Semoga bermanfaat. Mungkin kalian mau menambahkan juga? Silakan share ya🙂

 

 

 

 

2 thoughts on “Mari Berpartisipasi Dalam Penanggulangan TB

  1. Hai mba. Maaf ganggu..
    Kebetulan saya juga sama mba kena TB kelenjar. Uda pengobatab 1 bulan di rumasakit swasta tp mahal bgt utk konsul aja 110rb. Pdhal obat nya sy ambil yg gratis dr pemerintah. Kalo pindah ke puskesmas berobat nya bisa ya mba?

    Oyah mba sy jg ada benjolan di leher. Berobat kmarin sbnernya bnjolan itu idah menyebar & banyak. Mu tanya mba hilang total ga bnjolan nya ato masih tersisa kecil2?
    Gimana dgn di paru2 nya mba? Terinfeksi juga ga?

    Nuhuun mba. Punten banyak nanya

    Like

    • 1. Iya bisa pindah. Minta rekomendasi dari dokter/rumah sakit sebelumnya buat pindah pengobatan. Dulu saya juga pindah dan dipermudah kok pindahnya.
      2. Ga hilang total
      3. engga, paru-paru mah aman

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s