Seorang Perempuan dan Sebatang Pohon

Ada seorang Perempuan muda yang berjalan sendirian melewati sebuah hutan besar. Dia terus berjalan melalui rute yang biasa digunakan oleh warga kampung. Hutan itu gelap dan sepi. Pohon-pohonnya besar dan tinggi penuh lumut dengan ukuran yang nyaris sama. Perempuan itu berpikir bahwa semua pohon di hutan itu memiliki bentuk dan warna yang sama. Tapi ketika melewati sebuah tikungan terakhir, dia melihat sebatang pohon yang berbeda.

Pohon itu menjulang tinggi seperti pohon lainnya. Sekilas tidak ada yang istimewa dengan pohon tersebut. Tapi Perempuan itu melihat seberkas cahaya keluar dari seluruh batang pohon yang membuatnya seperti dilapisi platina. Pohon itu dikelilingi batu-batu besar di dekat akarnya. Sang Pohon berbicara pada batu-batu itu sambil sesekali bercanda dengan burung-burung yang hinggap di ujung batang-batangnya.

Perempuan itu memandang Sang Pohon dengan penuh kekaguman. “Halo” sapanya.

Pohon itu melihat ke arahnya, lalu tersenyum lembut. “Halo, Nona. Wah jarang sekali aku bertemu manusia di sini” sahutnya.

“Saya kebetulan sedang lewat dan melihat cahaya dari seluruh tubuh anda.”

Sang Pohon tertawa kecil. “Kadang kita harus berhati-hati dengan segala sesuatu yang kita lihat.”

Perempuan itu memandangi Sang Pohon dengan penuh minat. Perkenalan mereka dimulai. Lalu mereka berbicara beberapa hal. Dalam waktu singkat, Perempuan itu menyukai Sang Pohon yang menurutnya sangat ramah dan punya banyak cerita mengagumkan tentang kehidupan yang belum pernah dia dengar.

Setiap hari Sang Perempuan berjalan melewati hutan itu, dan mereka mengobrol mengenai hal-hal baru. Setiap hari, dalam tiap cerita yang dikeluarkan Sang Pohon, Perempuan itu mendekat satu langkah kepadanya. Seperti ada sebuah kekuatan magis yang mendekatkannya tanpa sadar. Setiap satu hari berlalu, mereka akan mengobrol dalam durasi yang lebih lama. Begitulah seterusnya.

Dalam ratusan hari, keduanya berteman. Setiap kali langkah Perempuan itu makin dekat, Sang Pohon berkata, “hati-hatilah dengan langkahmu. Biar kukatakan satu hal yang tidak pernah kamu tahu. Tubuhku seperti magnet. Ketika kamu makin mendekat padaku, maka kamu akan terus menempel pada tubuhku. Tidak ada yang bisa melepaskannya. Aku juga tidak. Sifat tubuhku berada di luar kuasaku. Karena itulah aku tidak mau kamu terlalu dekat. Tak ada manusia manapun yang boleh terlalu dekat padaku”

Perempuan itu tidak mempercayainya. Dia penasaran untuk menyentuh batang pohon tersebut.

“Sesuatu yang terlalu dekat menimbulkan keterikatan. Setelah terikat, kamu akan sulit untuk keluar” Pohon itu mengingatkannya lagi.

“Tapi menyentuh sedikit mungkin tidak akan menimbulkan apa-apa. Lagipula aku belum tahu bagaimana rasanya menjadi pohon” kata Perempuan itu dengan keras kepala.

“Kamu harus hati-hati”

Sampai akhirnya, Perempuan itu benar-benar merapat pada Sang Pohon. Tubuhnya melekat erat, menyatu dengan batang pohon. Dia seolah terkungkung di dalam tubuh Sang Pohon. Setiap dia berusaha keluar, kulit tubuhnya yang menempel seperti terkelupas dan berdarah-darah. Perempuan itu baru menyadari bahwa dirinya sudah menjadi satu dengan pohon itu.

Lalu dia menangis. “Kenapa jadi begini? Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Kenapa kamu tidak menolongku? Apa yang harus kulakukan?” katanya dalam rintihan kesakitan.

‘Sudah kukatakan padamu” Sang Pohon menggelengkan kepalanya. “Aku tak punya kuasa apapun atas tubuhku. Aku tak bisa menolongmu sama sekali. Kamulah yang harus menolong dirimu sendiri.”

“Bagaimana caranya? Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Lepaskan sekaligus. Kamu akan terluka sangat parah, bahkan mungkin mati. Tapi jika kamu tak sanggup melepaskannya, kamu akan hidup selamanya di dalam tubuhku”

Hidup selamanya sebagai sebatang pohon? Perempuan itu menjerit ketakutan. Dia menangis lagi. Berhari-hari dia berbicara pada Sang Pohon sambil berharap kelak ada seseorang yang bisa melihatnya dan menolongnya. Memang ada beberapa orang yang melewati hutan itu, tapi tak ada satupun yang mendengar teriakannya. Bahkan mereka seperti tak melihat pohon itu.

Perempuan itu meratap. Kamu menipuku! Kamu sengaja memerangkapku di sini, katanya.

Sang Pohon menggeleng, “aku tidak pernah bermaksud begitu. Aku sudah mengatakannya padamu kan?”

Selama ratusan hari Perempuan itu merenungi kesalahannya. Lalu dia memutuskan untuk melepaskan diri walaupun dia bisa mati karena usahanya itu. Dia mengerahkan tenaganya dan menarik tubuhnya keluar dari dalam batang pohon itu. Kulit-kulitnya meregang dan mengelupas, tersobek-sobek bermandikan darah. Sampai habis seluruh tenaganya. Dia berhasil keluar dengan tubuh tanpa kulit. Dia menjelma menjadi makhluk baru. Dalam sisa-sisa tenaganya dia melihat Sang Pohon menyelimutinya dengan daun-daunnya yang berguguran.

“Kamu akan tetap hidup. Aku percaya pada kekuatanmu. Berhatilah-hatilah lain kali. Dan maafkan aku. Apakah kamu membenciku sekarang?”

“Tidak” Perempuan itu menggeleng tanpa melihatnya. Dia berjalan tertatih-tatih menjauhi Sang Pohon. Lalu dia berhenti sebentar. “Terima kasih atas pelajaranmu. Kamu adalah kawan yang hebat.”

Akhirnya Perempuan itu bisa melepaskan diri, dengan separuh nyawa dan tubuh yang tetap terbenam di dalam tubuh Sang Pohon. Dia sudah berubah; dia bukan lagi dirinya yang dulu. Akan tetapi dia masih tetap ingin hidup. Dia berjalan meninggalkan hutan dan tidak pernah kembali lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s