Dampak TB Pada Tingkat Kematian dan Beban Ekonomi Masyarakat

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan WHO Tahun 2013, TB masih menjadi permasalahan utama kesehatan di dunia. Lebih lanjut disebutkan bahwa di tahun 2012 diperkirakan 8,6 juta orang mengidap TB dan 1,3 juta orang meninggal karena penyakit tersebut (termasuk 320,000 ribu diantaranya merupakan pasien dengan HIV positif).

Fakta lain tentang TB yang dikeluarkan WHO adalah :

  1. Lebih dari 95% kasus kematian terjadi di negara dengan pendapatan mengengah ke bawah dan merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga bagi perempuan berusia 15 sampai 44 tahun.
  2. Tahun 2012, diperkirakan 530,000 anak mengidap TB.
  3. TB merupakan pembunuh utama bagi para pengidap HIV positif dengan perbandingan satu per lima.
  4. Multi-drug resistant (MDR-TB) terjadi di seluruh negara yang telah disurvei.
  5. Jumlah perkiraan kasus TB memang memperlihatkan penurunan tiap tahun, meskipun sangat lambat, yang berarti bahwa dunia sedang menuju pencapaian  Millennium Development Goal untuk mengendalikan penyebaran TB sampai tahun 2015.
  6. Angka kematian TB menurun 45% dari tahun 1990 hingga 2012.

Indonesia sendiri menjadi negara peringkat empat pada kasus TB tertinggi di dunia. Setiap tahun terdapat 67.000 kasus meninggal atau sekitar 186 orang per hari. TB juga menjadi penyakit  peringkat 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia (SKRT 2004). Selain itu pada usia 5 tahun ke atas, TB merupakan penyebab kematian nomor 4 di perkotaan setelah stroke, diabetes dan hipertensi. Di pedesaan, TB menjadi penyebab kematian nomor 2 setelah stroke (Riskesdas 2007). Kemudian ada sekitar 460,000 kasus baru sehingga beban TB di Indonesia masih sangat tinggi, seperti yang disebutkan di situs ini.

Menurut situs kompas, stroke, tuberkulosis, dan kecelakaan lalu lintas jadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Lebih lanjut mengenai profil TB dan perkembangannya di Indonesia dapat dilihat dari tabel di bawah ini :

Lebih jelasnya lihat di https://extranet.who.int/sree/Reports?op=Replet&name=%2FWHO_HQ_Reports%2FG2%2FPROD%2FEXT%2FTBCountryProfile&ISO2=ID&LAN=EN&outtype=html

(Lebih jelas dapat dilihat di sini)

Selain berpengaruh terhadap angka kematian, TB juga berdampak pada kondisi ekonomi para penderitanya. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Secara global, menurut situs ini, kerugian ekonomi yang timbul akibat penyakit TB diperkirakan mencapai Rp8,5 triliun per tahun (data tahun 2008). Angka ini dihitung berdasarkan hari produktif yang hilang karena sakit, hari yang hilang karena meninggal dunia lebih cepat dan biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan.

Perhitungan beban biaya ekonomi akibat penyakit TB yang biasa timbul baik dari pasien yang diobati maupun tidak diobati adalah 1) biaya medis dari pasien yang dirawat ; 2) beban biaya rumah tangga untuk pasien yang diobati ; 3) kerugian produktivitas akibat disabilitas; serta 4) kerugian produktivitas akibat kematian prematur.

Secara pribadi berdasarkan pengalaman saya sendiri, walaupun sudah ada fasilitas obat gratis dari pemerintah, tapi TB menjadi beban tersendiri baik dari segi materi maupun produktivitas kerja yang berakibat pada penurunan pendapatan. Saya sempat tidak bisa bekerja dengan maksimal pada awal-awal pengobatan karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan. Apalagi seperti yang saya sebutkan di atas, kasus TB yang tinggi terjadi pada masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Para pasien harus menanggung beban tambahan selain beban-beban hidup lainnya. Jadi masih banyak kasus yang tidak tertangani karena alasan tidak ada biaya untuk berobat.

Proses pengobatan dan pengecekan kesehatan yang rutin berkesinambungan tiap bulan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika dilakukan di lembaga kesehatan swasta yang lebih mahal terutama untuk cek laboratorium (cek darah, dahak, rontgen dan biopsy) dan vitamin-vitamin tambahan yang disarankan dokter sebagai pengiring obat.

Sebagai informasi tambahan, berikut ini profil ekonomi TB di Indonesia menurut WHO :

Lebih jelasnya dilihat di https://extranet.who.int/sree/Reports?op=Replet&name=%2FWHO_HQ_Reports%2FG2%2FPROD%2FEXT%2FTBFinancingCountryProfile&ISO2=ID&outtype=html

 (Selengkapnya bisa dilihat di sini)

Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua. Dan tetaplah jaga kesehatan serta bersemangat dalam membantu mengurangi penyebaran TB di Indonesia.

 

One thought on “Dampak TB Pada Tingkat Kematian dan Beban Ekonomi Masyarakat

  1. Pingback: Mari Berpartisipasi Dalam Penanggulangan TB | Yang Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s