Korelasi TB-HIV Dan Tantangannya Di Masa Depan

Dulu ketika masih dalam masa pengobatan TB Kelenjar, petugas kesehatan meminta saya untuk melakukan tes darah khusus sehubungan dengan HIV. Saya sempat kaget dan bertanya-tanya, jangan-jangan saya dicurigai mengidap virus HIV! Tapi kemudian mereka memberikan penjelasan bahwa tes HIV merupakan salah satu prosedur standar dari pemerintah untuk seluruh pasien TB, karena TB dan HIV memiliki keterkaitan. Orang yang mengidap HIV sangat rentan terkena TB juga. Saya merasa lega mendengarnya. Tes tersebut dilakukan dengan sangat personal dan terjaga privasinya, dan ini membuat saya sedikit banyak tahu tentang HIV berdasarkan penjelasan tersebut.

Memangnya apa kaitan antara TB dan HIV?

Sebagaimana sudah diketahui bahwa TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberkulosis. Ketika seseorang terinfeksi kuman tersebut, dia tidak langsung sakit TB karena kumannya tidak aktif atau tertidur di dalam tubuh. Faktor-faktor yang dapat memicu aktifnya kuman TB diantaranya adalah penurunan sistem imun atau kekebalan tubuh. Ketika sistem kekebalan tubuh menurun, ini akan memicu aktifnya kuman TB sehingga orang yang terinfeksi tadi akan menjadi sakit TB aktif.

Nah karena HIV merupakan salah satu penyakit yang menyerang sistem imun tubuh manusia sehingga menurunkan kekebalan tubuh, maka HIV menjadi salah satu penyebab aktifnya kuman TB yang tertidur tadi. Secara global, HIV menjadi salah satu penyebab meningkatnya beban dan permasalahan TB. Munculnya epidemi HIV dan AIDS di dunia telah meningkatkan resiko kejadian TB. Bahkan tuberkulosis ini menjadi penyebab utama kematian pada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Sekitar 60% ODHA yang terinfeksi kuman TB akan menjadi sakit TB selama hidupnya.

Dari sinilah munculnya ko-infeksi, yaitu pasien TB yang positif mengidap virus HIV atau ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang positif mengidap TB. Dan ini tentu menjadi permasalahan baru dalam pemberantasan TB secara menyeluruh di masyarakat. Ko-infeksi TB-HIV menjadi sangat berbahaya mengingat fakta-fakta yang dikeluarkan WHO bahwa saat ini perkembangan epidemi HIV di Indonesia merupakan salah satu yang tercepat di Asia. Dari tahun 2005 sampai 2013 diperkirakan ada sekitar 108.600 kasus HIV d Indonesia. Untuk ko-infeksi sendiri, diperkirakan ada sekitar 3 juta penderita di Asia Tenggara. (Sumber-sumber data dari Wiki, TB Indonesia, Detik, dan Spiritia).

Karena itulah, pemerintah kemudian mengadakan program untuk tes HIV/AIDS pada setiap penderita TB seperti yang saya alami, agar diketahui apakah telah terjadi ko-infeksi atau tidak. Karena ketika seorang pasien HIV mengalami infeksi lain seperti kuman TB, maka hal tersebut akan menyebabkan virus HIV berkembang lebih cepat. Program tersebut sesuai dengan Permenkes No. 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia.

Mengapa penting sekali untuk mengetahui apakah penderita TB juga positif mengidap HIV? Ini tentunya untuk menentukan tindakan dan pengobatan yang tepat untuk pasien ko-infeksi. Setelah diketahui adanya ko-infeksi, maka tindakan selanjutnya adalah proses diagnosis dan pengobatan TB yang lebih cepat untuk pasien HIV atau mempercepat diagnosis dan pengobatan HIV pada pasien TB.

Mengingat keterkaitan antara dua penyakit ini yang akan sangat berpengaruh satu sama lain, pada saat ini pemerintah telah mencanangkan program kolaborasi untuk menanggulangi TB dan HIV secara bersamaan seperti yang telah direkomendasikan oleh WHO. Program yang terus dikembangkan tersebut meliputi :

  1. Kegiatan kolaborasi TB-HIV, diantaranya dengan cara memperkuat mekanisme kordinasi program TB dan program HIV di semua tingkatan. Tindakan nyata yang sudah dilakukan adalah pembentukan Forum Komunikasi TB-HIV Tingkat Nasional. Selain itu, pemerintah juga melaksanakan surveilans HIV pada pasien TB, melakukan perencanaan bersama kegiatan TB-HIV, serta monitoring dan evaluasi terhadap program-program yang sudah dilakukan tersebut.
  2. Menurunkan beban TB pada HIV, yaitu dengan cara intensifikasi penemuan kasus TB pada ODHA, pengobatan pencegahan dengan INH, memastikan pencegahan dan pengendalian TB di layanan HIV.
  3. Menurunkan beban HIV pada pasien TB, yaitu dengan cara menyediakan layanan tes HIV pada pasien TB dan konseling, menyediakan layanan pencegahan HIV, serta pengobatan pencegahan dengan kotrimoksasol dan pemberian ARV pada pasien TB-HIV.
  4. Pemerintah juga melakukan pengadaan mesin Xpert MTB/RIF di setiap propinsi untuk mempercepat diagnosis TB pada ODHA

(Sumber tulisan dari TB Indonesia dan Spiritia)

Meskipun program ini diharapkan dapat dilaksanakan secara maksimal dengan sosialisasi dan tata laksana sesuai prosedur, tentunya penanggulangan ko-infeksi TB-HIV ini tetap akan mengalami kendala dan tantangan di masa depan. Kira-kira tantangan apa saja yang akan dihadapi terutama di Indonesia ?

  1. Meningkatkan jejaring layanan kolaborasi antara program TB dan program HIV di semua tingkatan, komitmen politis, dan mobilisasi sumber daya.
  2. Meningkatkan akses tes HIV atas inisiasi petugas kesehatan yang ditujukan bagi pasien TB dan bagaimana membangun jejaring pelayanan diagnosis dan pengobatan.
  3. Memastikan bahwa pasien TB-HIV mendapatkan pelayanan optimal, dukungan pengobatan yang cepat, dan mendapatkan obat kotrimoksasol dan ARV.
  4. Mengadakan pendekatan layanan kepada pasien melalui sistem one stop services.
  5. Monitoring dan evalusi kegiatan kolaborasi TB-HIV
  6. Melakukan ekspansi ke seluruh lembaga kesehatan di Indonesia
  7. Melakukan sosialisasi dan penyebaran informasi secara optimal mengenai ko-infeksi TB-HIV kepada masyarakat.

Tentunya tantangan-tantangan tersebut akan sukes dihadapi jika didukung oleh semua pihak terkait, termasuk masyarakat Indonesia, yang bekerjasama tanpa lelah untuk menyebarkan seluruh informasi ini kepada siapapun. Selain itu juga adanya perbaikan layanan kesehatan secara umum, agar kegiatan-kegiatan ini berkembang secara berkesinambungan.

Jadi sekali lagi, jika kalian mendapati gejala-gejala TB atau ada orang-orang di sekitar yang sakit TB, segera datangi lembaga kesehatan untuk mendapatkan informasi dan penanganan sesuai prosedur yang benar. Sekecil apapun partisipasi kita tentu akan sangat membantu pemerintah dalam menyukseskan program-program terkait TB.

(Sumber tulisan dari TB Indonesia)

2 thoughts on “Korelasi TB-HIV Dan Tantangannya Di Masa Depan

  1. Pingback: Mari Berpartisipasi Dalam Penanggulangan TB | Yang Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s