[Hasil Survei Iseng] Menikah saja atau menikah dengan si X ?

Tadinya mau bikin semacam catatan buat seorang teman yang tanggal 25 nanti akan melangsungkan pernikahan. Tapi saya sudah terlalu sering bikin catatan ini-itu soal pernikahan buat teman-teman, jadi saya menulis yang lain saja. Tapi tetep soal pernikahan juga:mrgreen:

Konon katanya, jatuh cinta memang bisa terjadi tanpa alasan. Tapi untuk berkomitmen dan menikah, jelas harus ada alasan yang logis/masuk akal.

Iseng-iseng saya melakukan survei terselubung (dan tidak diniatkan survei sebenarnya) pada beberapa wanita yang ada di sekitar saya. Saya ingin mengetahui motif dan alasan-alasan mereka menikahi lelaki yang sekarang sudah menjadi suami mereka. Hasilnya bagaimana? Mungkin sebenarnya ini bukan hal yang aneh dan orang-orang sudah mengetahuinya sih, tapi ini membuat saya merenung panjang. Kok saya baru menyadari suatu hal yang menarik.

Apa hal menarik itu?

Dari hitungan kasar, sekitar 90% perempuan tersebut menikah bukan dengan orang yang dicintainya sejak awal. Pola mereka nyaris sama, yaitu mereka saling mencintai dengan pacar tapi tidak mendapat kepastian (untuk menikahi) lalu putus dan beralih pada lelaki lain yang dianggap lebih pasti menikahi (tentu dengan kriteria sesuai harapan) walaupun tidak mencintai lelaki tersebut.

Saya tidak mengatakan kalau mayoritas perempuan seperti itu. Mungkin ini hanya perempuan-perempuan di sekitar saya saja yang mengalami pengalaman nyaris sama. Mereka adalah perempuan-perempuan yang memang bertujuan untuk menikah. Jadi apapun alasannya, pasti mereka akan mencari jalan untuk mewujudkan tujuan itu.

INGAT. Bedakan antara tujuan ‘menikah’ dengan ‘bersama/menikah dengan si x’. Sebab jika tujuannya adalah menikah, maka ketika ketemu sama cowok yang tidak satu tujuan (dan tidak pasti) walaupun saling cinta, tetap dia akan beralih mencari cowok lain yang satu tujuan (jadi tidak ada patokan harus menikah dengan siapa, yang penting bisa berhasil menikah). Akan tetapi, jika tujuannya adalah ‘bersama/menikah dengan x’ maka dia akan menunggu untuk tetap bisa menikah dengan si x sebab tujuannya adalah agar bisa bersama dengan si x.

Dari orang yang saya survey, rata-rata mereka tidak jadi menikah dengan pacarnya karena tidak diberi kepastikan untuk menikah. Saya tidak tahu apa alasan sang pacar tidak memberikan kepastian. Bisa jadi karena belum siap mental, finansial, masih ragu untuk memilih si perempuan, atau mungkin yang lainnya. Apalagi orang tua si perempuan juga ingin kepastian yang sama. Bukan berarti kemudian si perempuan ini selingkuh sih. Tapi mereka minta putus dan kemudian memilih cowok lain yang datang dan memberi janji untuk segera menikahi, walau tidak cinta pada si cowok tersebut dan masih mencintai sang mantan.

Lalu apa yang terjadi pada para perempuan tersebut setelah menikah? Macam-macam. Tapi kebanyakan dari mereka tidak pernah bisa melupakan sang pacar yang telah ditinggalkan. Ada yang masih teringat pada kenangan-kenangan lampau, ada yang sudah bisa move on dan berdamai dengan dirinya sendiri, ada yang sempat selingkuh dengan mantan pacar meskipun sudah bertahun-tahun menikah, ada juga yang tertekan oleh suami yang sudah dipilihnya tersebut.

Saya sempat gemas sekali dengan beberapa perempuan ini. Maksud saya begini. Menurut saya mereka perempuan yang beruntung, saling mencintai dengan seseorang dan mungkin hanya tinggal bersabar saja untuk bisa melangkah ke jenjang pernikahan. Walaupun tidak ada kepastian, tapi kan mungkin bisa saling support, toh tujuan utama hidup kan bukan hanya pernikahan tho?  Siapa tahu nanti ada perkembangan baik, jika memang keduanya betul-betul saling suka dan ingi bersama. Menikah tak harus buru-buru tho? Apalagi kalau saling suka. Sudah saling suka lho !

Atau mungkin saya aja yang tidak tahu kalau sebenarnya cowok mereka memang main-main dan tidak berniat menikahi? Ah, saya tidak paham. Tapi ya akhirnya kembali pada motivasi dan tujuan hidup masing-masing. Karena tujuannya memang menikah, ya mungkin perasaan cinta yang mutual pun tidak berlaku. Yang ada adalah alasan logis nan rasional untuk menentukan sikap, yaitu memilih lelaki yang memang mau segera melangsungkan pernikahan (alias lelaki yang memberi kepastian), sudah mapan, berpenghasilan, dan berkarakter baik. Mungkin tidak cinta menggebu-gebu tidak menjadi masalah. Karena hidup tidak hanya bisa bermodalkan cinta.

Ini tentu akan berbeda kalau tujuan perempuan-perempuan itu bukan pernikahan. Iya sih. Kecuali pada kasus perselingkuhan, timbunan cadangan, atau melanggar perjanjian. Kalau sudah berjanji saling setia dengan pacar, tapi juga menerima lelaki lain dan memilih lelaki yang lebih lebih kaya raya dan penuh kepastian, apa itu namanya ya?

Pada dasarnya, memang tidak bisa disama-ratakan karena kasus per kasus akan menimbulkan sudut pandang yang berbeda. Yang pasti, kalau tujuan adalah menikah tentu harus tepat sasaran. Jika tidak tepat sasaran (atau memilih orang yang salah), ya timbul konflik. Sudah sekian saja, kalau lebih dari itu saya tidak bisa memahaminya =))))

P.S. Happy wedding buat Nona Eve. Selamat menikah dengan pria yang dicinta dan menuju pada stage baru dalam kehidupan keperempuanan, ya *lalu galau dan ngiri* =))))))

6 thoughts on “[Hasil Survei Iseng] Menikah saja atau menikah dengan si X ?

    • jeng oel butuh sesi japri? saya available lhooo…hihi sini sini ;p

      jeng oel ini beruntung, semua perempuan yg perasaannya mutual itu beruntung lho. kalian gak bertepuk sebelah tangan *eh
      sebenarnya perempuan2 menjadi seperti itu kebanyakan krn tekanan dari luar maupun dari dlm dirinya sendiri. keluarga lah, masyarakat, gak mau dibilang perawan tua, umur udh makin bertambah sedangkan alat reproduksi ada batas kadaluarsa…ya yg semacam itulah. been there done that. yg akhirnya menjadikan kita perempuan selalu ingin segera menikah. beruntung klo bs menikah sama kekasih tercinta, kalaupun engga, bagi sebagian perempuan akhirnya meninggalkan orang2 yg mereka suka (yg menyukai mereka juga) demi pernikahan.

      hal tsb diperparah doktrin bahwa menikah tanpa cinta itu ga masalah (terutama dr pihak perempuan) krn seiring berjalannya waktu, konon cinta akan tumbuh jg. lha terus dlm masa2 cinta blm datang kita rela menderita dulu? ya bagus utk perempuan yg bs lekas lupa dan menerima, tp kalau engga? ya rugi sendiri. temen2 banyak yg mengalami itu. mereka memang hidup adem ayem bersama keluarga, tp dlm curhatan2nya sebenarnya mereka pernah memendam sesuatu, dan itu hrs mereka tanggung setidaknya selama beberapa thn sebelum benar2 bs melepaskan diri dr bayangan masa lalu. sementara di kehidupan nyata ada anak dan suami yg hrs diurus.coba bayangkan gmn perasaan terpendam yg hrs dibersihkan selama itu? sy gak mau hidup dgn cara seperti itu. kasian kan? makanya krn banyak kasus begitu, sy pikir perlu menulis ini di blog.

      menikah itu kan bukan hal mudah sih klo buat saya. klo sedari awal udh dimulai dgn kebimbangan krn ada hal yg gak selesai sama seseorang, bukankah itu malah akan bikin orang lain dan diri kita sendiri jd menderita? rugi banget. nikah kan supaya bahagia tho?😀

      jadi klo saya sih lebih baik berada dlm kondisi benar2 netral dulu sebelum menikah. tidak ada keterkaitan rasa, janji dll dgn siapapun. lalu menikah dgn lelaki yg, setidaknya, ada kecenderungan hati kita padanya. atau yg kita cinta. mungkin akan lbh adil bagi semua. makanya prosesnya ga bs buru2. menikah lbh baik jgn dibawah tekanan apapun. jadi sedari awal menikah emg sudah bener2 hepi sama sang suami.

      ya seperti temen sy nona eve itu. dia percaya klo dia bs menikah sm org yg dia cinta dan yg mencintainya. dan itu terjadi kok. usianya udh 34 thn tp toh dia menikah ga keburu umur dan bukan krn tekanan keluarga. dulu dia pernah gagal dlm cinta sampe menderita berthn2. gak bs membuka hati. lalu lama2 dia berhasil netral dan gak sembarangan gaul sama lelaki krn tujuannya emang nikah dgn yg dicinta. dia ga memberi harapan atau gak menumpuk cowo2 buat cadangan. tp ya hidup scr bebas tak terikat sama siapapun baik rasa ataupun janji. barulah dia ketemu seseorang? jatuh cinta lagi dan kali beruntung krn mutual. nikah dgn bahagia bgt deh dia sekarang hehe.

      wedew panjang bgt ya sy ngomong:mrgreen:

      Like

  1. Ini tentu akan berbeda kalau tujuan perempuan-perempuan itu bukan pernikahan. Iya sih. […] Kalau sudah berjanji saling setia dengan pacar, tapi juga menerima lelaki lain dan memilih lelaki yang lebih lebih kaya raya dan penuh kepastian, apa itu namanya ya?

    NGOAHAHAHAHA,,, :rofl: :rofl:

    aduh, suka banget deh bagian yang ini. nah. tuh. gadisgadis, dengerin tuh. tuh!

    *masih ngakak guling-guling*

    Like

    • tulisan ini bukan buat ngebela kamyu atau lelaki lainnya kok :p
      semuanya tergantung masing2 personal orang. sy gak tau gimana dr sudut pandang lelaki. tapi kayaknya lelaki ya sama aja kan? krn ada juga kok lelaki2 yg punya standar tertentu buat menikahi seorang cewe, dan standar cewe yg hanya untuk bersenang2 (atas nama jenis hubungan apapun). kalau sudah begitu ya balik ke personal orangnya. tp tentunya, bakal ada yg sakit hati dgn sikap kita yg gak hati2.

      Like

  2. Quote lawas yang sering nongol di novel chicklit memang (kadang) ada benarnya juga:

    Perempuan terkadang lebih mencintai ide pernikahan itu sendiri daripada lelaki yang akan menikahinya

    Like

  3. Pingback: Kenapa ‘Taaruf’ Jadi Berasa Masuk Akal | Yang Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s