Permainan Anak-Anak Tradisional Jaman Jadul

Saya termasuk anak-anak angkatan jaman dulu dimana teknologi belum seheboh sekarang, tepatnya saya lahir di angkatan tahun 80-an. Memang tidak terlalu jadul juga sih (biar terkesan muda:mrgreen: ). Mungkin di kawasan lain, pada waktu yang sama, anak-anak sudah bisa mencicip kecanggihan teknologi. Tapi di perkampungan atau pedesaan, teknologi yang bisa dinikmati hanya televisi. Itu adalah media penghiburan paling canggih bagi warga kampung. Channelnya terbatas, karena parabola masih sangat jarang, apalagi tivi kabel. Sampai sekarang pun tivi kabel masih jarang di sini.

Tapi namanya masa kanak-kanak, pada jaman apapun mereka akan tetap menemukan kesenangan dengan caranya sendiri. Sekarang anak-anak sudah bisa memainkan smartphone, menonton tivi kabel, menonton video edukasi dari para orangtua, bermain playstation, menggilai internet dengan segala isinya, dan ragam produk perkembangan teknologi lainnya. Ini hal yang bagus asalkan tentunya semua digunakan sesuai dengan semestinya, seimbang, dan sesuai dengan usia anak-anak.

Dulu saya dan teman-teman di kampung punya cara tradisional untuk menikmati berbagai macam jenis permainan mengasyikkan. Saya yakin jika kamu termasuk angkatan jadul dan senang bermain di luar akan tahu permainan ini. Permainan apa saja sih? Berikut ini saya ingatkan lagi jenis permainan favorit saya dan teman-teman dulu :

1. Ucing Sumput/Bancakan

Permainan kucing-kucingan. Dimulai dari menentukan siapa yang jadi ‘ucing’ atau satu anak yang harus mencari anak-anak lainnya yang bersembunyi. Permainannya memang sangat sederhana.  Ketika semua sudah ditemukan sambil meneriakkan ‘hong si anu’, maka akan ditentukan siapa yang jadi ucing berikutnya.

Anak yang jadi ucing harus menempati sebuah tanda (bebas apa saja) di sebuah tempat yang merupakan wilayah teritorinya. Dia harus menunggu sampai semua anak bersembunyi (sambil tutup mata). Dia harus menjaga tanda teritori itu agar tidak direbut oleh anak lain yang sedang bersembunyi. Kalau ada anak yang bisa merebut tanda teritori itu tanpa diketahui, maka si ucing kalah dan akan jadi ucing lagi. Merebut di sini dalam artian tanda teritorinya disentuh oleh anak yang bersembunyi. Oya, bancakan ini diambil dari kata ‘bancak’ yang diucapkan apabila seorang anak yang bersembunyi bisa merebut tanda teritori si ucing.

2. Baren

Anak-anak dibagi dalam 2 kelompok. Mereka akan menjadi musuh satu sama lain. Setelah ditentukan kelompok mana yang jadi ‘ucing’, tugas ucing adalah menangkap tiap anggota kelompok lain dan menjadikannya tawanan. Di sini juga ada tanda teritori yang harus dijaga dan tidak boleh direbut kelompok lawan.

Setelah anggota ucing berhasil menangkap anggota kelompok lawan, si tawanan boleh mencari cara agar bisa ditolong oleh teman-temannya yang masih bebas. Biasanya mereka akan membuat barisan yang memanjang seperti kaitan rantai, jadi semakin panjang akan semakin mudah membebaskan tawanan.

3. Mencari Jejak

Nyaris sama seperti permainan ucing. Permainan ini biasanya dilakukan oleh maksimal 3 orang anak saja. Anak yang menjadi ucing harus mencari anak-anak lain yang menjelajah ke tempat sesukanya dengan meninggalkan jejak-jejak khusus. Jejak itu biasanya dedaunan atau tali rapia. Permainan yang sangat cocok untuk menjelajahi seluruh kampung.

4. Sapintrong/Lompat Tinggi

Merupakan permainan andalan saya karena saya nyaris selalu menang hehe. Anak-anak dibagi dalam 2 kelompok yang akan mengadu keterampilan meloncat memakai karet gelang yang sudah disusun memanjang seperti rantai. Sapintrong adalah permainan yang didominasi loncat-loncatan dengan 25 level (kalau tidak salah). Semakin tinggi, level akan semakin sulit. Kami biasanya menyebutnya mi dua, mi tilu, mi opat, dan seterusnya.

Lompat tinggi juga sama. Hanya saja, keterampilannya adalah melompati rantai karet gelang, dari mulai setinggi tumit kaki sampai setinggi-tingginya di atas kepala. Yang berbadan tinggi tentunya beruntung karena bisa bikin level paling tinggi yang susah ditandingi anak-anak pendek, haha.

 5. Ucing Tidur

Bagian dari permainan ucing. Seorang yang menjadi ucing harus menangkap anak-anak peserta permainan, menepuknya sambil berkata ‘tidur’. Anak yang tertangkap harus tidur alias tidak bergerak sama sekali, tidak boleh ketawa atau mengobrol sampai teman-temannya yang lain menolongnya dengan menepuknya sambil berkata ‘bangun’. Setelah ditolong bangun, baru dia boleh bergerak lagi. Kalau peraturan dilanggar, dia akan menjadi ucing baru.

6. BP (Bongkar Pasang) atau Rumah-Rumahan

Kalau sekarang mungkin semacam boneka-boneka kertas yang bisa dipasang baju. Dulu saya mengoleksi banyak sekali boneka kertas. Rumah-rumahan untuk boneka itu dibuat dari bekas tempat rokok atau bekas-bekas kardus kecil lainnya. Atau benda apapun yang sekiranya bisa digunakan sebagai isi rumah.

Atau bermain rumah-rumahan dengan cara membuat rumah dari pelepah daun kelapa. Saling berkunjung dengan tetangga, memasak, membuat kue dari tanah, dan lain sebagainya. Saya selalu menjadi kelinci percobaan jika ada teman (yang lebih tua usianya) mengadakan hajatan dan harus mendandani pengantin. Saya selalu jadi pengantin yang didandani.

7. Congklak

Permainan menggunakan alat yang disebut congklak dan batu kerikil kecil yang dimasukkan dalam lubang-lubang kecil di daerah sendiri dan daerah lawan. Siapa yang paling banyak mengumpulkan kerikilnya, dialah yang menang. Dimainkan oleh 2 orang dan bergiliran. Giliran akan berhenti jika kerikil terakhir masuk di lubang yang kosong di daerah lawan/sendiri. Ada istilah ‘nembak’ yaitu jika kerikil terakhir masuk ke lobang kosong dimana di atasnya adalah daerah lawan yang lobangnya berisi kerikil. Kerikil yang tertembak akan menjadi milik penembaknya.

 8. Dam-Daman

Agak mirip catur, yaitu menggunakan bidak kotak-kotak. Tapi bidaknya bisa kita buat sendiri. Dimainkan oleh dua orang yang beradu strategi untuk mendapatkan batu paling banyak.

 9. Bekles

Permainan dengan bola karet kecil yang dipantulkan dan kewuk (cangkang kerang kecil). Bisa dimainkan oleh beberapa orang secara bergiliran. Di sini kita mengadu keterampilan untuk mengambil kewuk dalam sekali pantulan bola. Ada beberapa level (saya lupa tepatnya).

10. Pecle

Permainan dengan cara melompati area yang sudah digambar kotak-kotak di atas tanah. Sebelumnya kita melemparkan semacam batu atau benda lain ke dalam kotak dan harus tepat masuk ke salah satunya. Setelah tepat masuk, baru bisa main. Bisa dimainkan beberapa orang secara bergiliran.

Dan masih banyak lagi, saya sudah hampir lupa. Sepertinya anak-anak sekarang sudah jarang memainkan permainan-permainan ini. Di kampung juga kebanyakan anak-anak perempuan sibuk berkumpul saja sambil membawa boneka dan mengobrol seperti layaknya orang dewasa. Anak-anak kota mungkin lebih senang bermain game PS di komputer, internet, atau smartphone.

Lalu permainan apa yang pernah kamu lakukan di jaman kanak-kanak dulu? Masih ingat? Share dongs😀

2 thoughts on “Permainan Anak-Anak Tradisional Jaman Jadul

  1. Interesting blog! Is your theme custom made or did you download it from somewhere?
    A theme like yours with a few simple tweeks would
    really make my blog jump out. Please let me know where you got your design.
    Appreciate it

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s