PNS Guru, Dulu dan Sekarang

Ada satu pertanyaan yang tidak sempat saya tanyakan kepada Bapak, yaitu kenapa Bapak gigih sekali ingin menjadi seorang guru bagi anak-anak SD.

Dulu Bapak sering bercerita tentang kehidupan masa mudanya saat berjuang agar bisa sekolah SR (sekarang setingkat SD) dan kondisi awal-awal semasa Bapak resmi menjadi guru pemerintah (PNS) sekitar tahun 1958.

Pada tahun itu, tentu belum ada sistem tes CPNS seperti sekarang. Orang-orang tidak berminat menjadi guru. Negara bahkan mencari orang-orang yang mau menjadi guru. Guru PNS biasanya berasal dari sebuah sekolah khusus guru yaitu SGB. SGB itu semacam sekolah ikatan dinas yang sepenuhnya dibiayai pemerintah, asrama, serta diberikan sedikit uang saku.

Setelah lulus SR (setingkat SD kalau sekarang), Bapak mendaftar beasiswa SGB karena orangtua beliau tidak sanggup membiayai sekolah. Bahkan Bapak membiayai sendiri saat masih sekolah di SR (dan mungkin karena beliau memang bercita-cita menjadi guru).  Bapak lulus tes.

Sewaktu di SGB, Bapak tinggal di asrama yang disediakan pemerintah dan mendapat uang saku. Pada waktu itu, asramanya mungkin terbilang sederhana. Satuan uang pada waktu itu bernama ketip dan benggol (dalam bahasa sunda, saya tidak tahu apakah ada bahasa Indonesianya atau tidak). Setelah lulus SGB, Bapak langsung ditempatkan di sebuah desa di pedalaman Ciamis, tepatnya di Desa Masawah yang pada tahun itu menjadi salah satu tempat paling genting dalam kasus (yang dalam sejarah dikenal sebagai) pemberontakan DI/TII dan PKI. Bapak mengajar di sana dengan harus menyiapkan nyawa untuk ditembak setiap saat. Tapi karena seorang guru, Bapak luput dari sasaran penembakan.

Gaji awal Bapak sangat kecil. Satuannya saya lupa, tapi gaji sebesar itu bisa dibelikan beberapa kilogram beras dan beberapa potong ikan asin. Penghasilan Bapak sebulan pada saat itu bahkan lebih kecil dari penghasilan tukang ojek sehari. Makanya, tidak ada orang yang mau menjadi guru walaupun ada program gratis di SGB. Orang-orang memilih jadi buruh, berdagang atau petani. Bapak sering diejek oleh para tukang ojek karena penghasilannya, sampai pernah nyaris menangis dan mengundurkan diri, tapi akhirnya Bapak bisa bertahan tetap menjadi guru SD. Tahun 1979, Bapak mendapatkan gaji 100 ribu rupiah sebulan, hanya cukup untuk membeli beberapa kilogram beras saja.

Dulu tidak ada istilah CPNS atau heboh-heboh ribuan orang berebut untuk menjadi PNS (terutama guru). Bahkan orang menolak jadi guru PNS karena gajinya yang begitu kecil. Tidak ada kehidupan yang glamor. Sedangkan sekarang sebaliknya. Orang-orang berlomba jadi PNS karena bergengsi, apalagi di kota-kota kecil, menjadi PNS merupakan sebuah kebanggaan. Ditaksir para lelaki/perempuan untuk dijadikan pasangan karena ada jaminan pensiunan, dalam waktu yang relatif singkat bisa mengumpulkan kekayaan seperti rumah, kendaraan,  dan tanah. Banyak jaminan kesejahteraan dan tunjangan ini-itu.

Sekarang, Bapak sering bersyukur karena akhirnya pemerintah memperhatikan nasib guru. Begitulah yang sering beliau katakan sambil mengenang masa-masa sulitnya dahulu. Setiap tahun ada kenaikan gaji, semakin banyak tunjangan, dan kemudahan-kemudahan lainnya. Seperti adik, yang mengalami fase pengangkatan menjadi PNS dengan cara-cara yang sangat berbeda dengan apa yang pernah Bapak alami dulu.

Sekarang, menjadi guru SD PNS itu bergengsi sekali. Mendapatkan gaji yang memadai, tunjangan, banyak acara ini-itu, sesi pra jabatan di tempat yang keren di luar kota, dan lain sebagainya. Plus tentu nanti akan mendapatkan gaji pensiunan. Mayoritas PNS sepertinya memang seperti itu.

Walau kemudian Bapak bertanya-tanya, apakah kemakmuran seperti itu masih sebanding dengan kualitas sekolah dan guru-gurunya? Apakah para guru masih seperti guru-guru angkatan dahulu di jaman perang yang betul-betul mengabdi dan berjuang untuk mendidik anak-anak walau dalam kondisi sulit? Ataukah gengsi-gengsi menjadi PNS Guru itu sudah bergeser atas nama motivasi materi?

Bapak mengajukan pensiun dini tahun 1990. Padahal masa kerja Bapak harusnya 9 tahun lagi. Alasan pensiun dini itu sebagai bentuk protes nurani Bapak saat ditawari menjadi kepala sekolah dengan syarat membayar sejumlah uang, dan Bapak tidak lagi memahami sistem. Bapak merasa tidak lagi bisa menjadi guru yang baik karena terpaksa harus mengikuti sistem. Mungkin itu tidak sejalan dengan niatnya sedari awal perjuangannya dahulu saat pertama menjadi guru.

Tapi Bapak tetaplah menjadi seorang ‘pak guru’. Kami semua di keluarga dan orang-orang yang mengenalnya selalu memanggilnya ‘pak guru’ bahkan hingga kini. Sayang, saya tak pernah sempat tahu bagaimana cara Bapak mengajar. Sekarang saya sudah tak bisa lagi mendengar atau meminta beliau bercerita soal itu🙂

2 thoughts on “PNS Guru, Dulu dan Sekarang

  1. bapak yg keren, manusia langka.

    jabatan kepsek dibeli itu tradisi sejak lama lho, justru sekarang dibabat jokowew di dki, mau dilelang berdasarkan kompetensi. sampai2 para kepsek dendam dan janji pilih prabowo atau siapapun yg penting bukan joko.

    Like

  2. Sungguh.. Aku ingin menangis membaca tulisan Anda. Saya merasa Anda benar-benar beruntung memiliki Bapak, yang skeligus guru yang memiliki integirtas yang tinggi dalam “misi kemanusian” dalam mengentaskan kebodohan di Indonesia..

    saya sering merasa ironi dengan guru-guru kekinian, yang entah seberapa besar persentasinya, yang mengganti kiblatnya menjadi ke arah materi. Bukan pada esensi utama sebagai Guru.

    Indonesia membutuhkan guru-guru Seperti Bapak Anda.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s