Pernikahan, bentuk hubungan ‘hidup bersama’ yang paling professional?

Anda pernah memperhatikan atau membaca Buku Nikah secara detil? Saya iseng membaca uraian di dalam buku nikah secara keseluruhan. Lalu saya menyimpulkan bahwa Buku Nikah adalah semacam surat perjanjian atau surat kontrak kerjasama untuk hidup secara bersama-sama antara sepasang manusia, yang tentunya kerjasama tersebut haruslah saling menguntungkan kedua belah pihak sebagaimana tag line Buku Nikah itu sendiri : “Membina Keluarga Bahagia”.

Jika Anda pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, Anda tentu pernah menandatangani surat perjanjian kerjasama atau kontrak kerja dengan pihak perusahaan kan? Biasanya, sebelum benar-benar setuju untuk bekerja di sebuah perusahaan, Anda akan mempertimbangkan banyak hal. Misalnya status bonafide atau tidaknya perusahaan, gaji yang ditawarkan, berbagai macam kesejahteraan yang dijanjikan, jaminan keamanan dan kenyamanan di tempat kerja, dan lain sebagainya. Anda tidak mungkin begitu saja menerima sebuah pekerjaan tanpa melihat faktor-faktor tersebut, TAPI tentunya itu berlaku jika Anda MEMILIKI NILAI JUAL. Sebuah nilai jual yang akan membuat sebuah perusahaan berani mengambil resiko menerima Anda untuk bekerja di perusahaannya.

Anda juga tidak akan lupa untuk membaca surat perjanjian kerjasama terlebih dahulu sebelum betul-betul mulai bekerja. Karena di dalam surat itulah semua hak dan kewajiban masing-masing pihak tercantum dengan jelas, harus ditaati, dan ada sangsi jika dilanggar. Biasanya, sangsi adalah pemutusan hubungan kerjasama. Surat tersebut memiliki kekuatan hukum, ditandatangani di atas materai, dan Anda atau klien Anda bisa menggugat melalui proses hukum dengan bukti tertulis lembaran perjanjian jika suatu hari nanti ada permasalahan-permasalahan menyangkut hubungan kerjasama tersebut.

Ya, setiap kerjasama manusia yang bersifat komersil selalu melibatkan surat perjanjian. Itu merupakan salah satu tanda profesionalisme. Karena masing-masing tidak mau dirugikan dengan sifat pelupa dan pengingkaran janji setia manusia. Perjanjian yang hanya diucapkan saja, seperti janji ‘jadian’ dalam pacaran itu tidak mengandung kekuatan hukum. Tanpa bukti hitam di atas putih, Anda tidak bisa melakukan apa-apa selain merasa sakit hati dan marah karena dikhianati.

Termasuk juga pernikahan. Padahal katanya, menikah itu salah satunya berlandaskan cinta dan kasih sayang. Tapi mengucapkan janji cinta dan kasih sayang tidak cukup. Anda harus professional, yaitu menuangkan janji-janji itu dalam lembaran akta tertulis berkekuatan hukum. Apa itu berarti pernikahan di sisi lain juga mengandung unsur komersil? Mungkin juga. Karena dalam pernikahan pun, seperti halnya dalam pekerjaan, jika Anda memiliki nilai jual tinggi (fisik rupawan, materi berlimpah, kepintaran, kesalihan, ya tergantung selera), Anda akan menjadi idaman para pengejar partner menikah.

Jika kebanyakan orang begitu detil mempelajari kontrak kerjanya, apa mereka juga pernah mempelajari Buku Nikah, terutama bagi yang hendak melangsungkan pernikahan? Walaupun sebagian orang menganggap pernikahan sebuah hal yang suci sebagai janji kepada Tuhan, ibadah, dan sunnah rasul, tapi tetap saja fakta yang dapat dilihat adalah sebentuk Buku Nikah yang ditempeli materai sebagai kesepatakan pasangan yang sah secara hukum negara itu.

Saya jadi berpikir, persiapan calon pengantin itu tak cukup hanya persoalan biaya atau kehidupan seksual (seperti yang sudah saya bahas di posting terdahulu), tapi juga mempelajari buku nikah terlebih dahulu! Ya, karena kehidupan kedua mempelai disahkan dengan pernyataan-pernyataan di dalam Buku Nikah. Kalau dilanggar, perjanjian di depan penghulu dan wali/saksi menjadi batal. Makanya, Anda harus mengetahui apa saja yang bisa membatalkan perjanjian hidup bersama tersebut.

Jadi apa saja yang ada di Buku Nikah? Ada ayat-ayat suci, nasihat untuk kedua mempelai dari menteri agama, akta nikah (yang ditempeli materai), janji suami mengenai talak, dan kutipan pasal ‘Hak dan Kewajiban Suami Istri” dalam Undang-Undang Perkawinan.

Ada kalimat seperti ini dalam nasihat untuk mempelai:

Adapun dasar-dasar perkawinan ialah persetujuan keluarga kedua belah pihak, serta kebulatan tekad kedua calon mempelai untuk hidup bersama, membina rumah tangga bahagia, hidup rukum damai, harmonis dan ideal, memikul tanggung jawab, baik untuk mereka berdua maupun untuk keturunan mereka sebagai tunas-tunas muda amanat Allah yang harus dipelihara.

Di dalam Undang-Undang Perkawinan yang dicantumkan di halaman terakhir Buku Nikah, tercantum perihal kewajiban yang harus dilakukan suami, kewajiban istri, harta bersama, dan lain sebagainya. Seperti juga dalam perjanjian kerjasama di perusahaan. Jadi, walaupun menikah atas nama cinta yang menggebu-gebu, tetap harus mengetahui apa saja yang tercantum di Buku Nikah. Jadi sewaktu-waktu ada permasalahan, bisa menggugatnya secara hukum. Karena ternyata pernikahan tidak melulu soal menyatukan perasaan saling cinta dan rasa-rasa lainnya. Kecuali sangat yakin kalau pasangan tidak akan berubah, atau memang sudah ikhlas dan akan menerima semua perlakuan pasangan nantinya.

Lalu soal Hak dan Kewajiban. Kerjasama tertulis dalam bentuk apapun selalu mengacu pada Hak dan Kewajiban. Hitung-hitungannya sangat jelas. Jadi dalam kondisi apapun, Anda wajib melakukan tugas, lalu Anda akan mendapatkan hak anda. Saya sudah berpengalaman menjalani kontrak kerja di perusahaan dan lama-lama itu menjadi beban untuk saya. Wajib. Wajib. Wajib. Karena lama-lama saya mengerjakan pekerjaan tersebut hanya penggugur kewajiban saja. Yang penting dapat uang, sebagai hak. Kewajiban pun menjadi tekanan hidup. Jika tidak disiasati dengan kreativitas mengubah kejenuhan kerja atau mencuci otak dengan motivasi-motivasi tentang mencintai pekerjaan, bisa-bisa saya membosan dan membatalkan kerjasama.

Demikian halnya dalam kerjasama pernikahan. Kalau hanya dipandang sebagai Hak dan Kewajiban seperti dalam pernyataan di undang-undang perkawinan, maka lama-lama itu akan membebani Anda. Anda wajib begini begitu dalam pengaturan rumah tangga. Jadi bagaimana agar tidak terjebak dalam pola hidup bersama yang hanya mengacu pada hak dan kewajiban? Bagaimana agar kehidupan rumah tangga jadi tetap menyenangkan walau sudah berjalan sangat lama?

Mungkin itu harus dibahas dan didiskusikan bersama oleh kedua calon pengantin sebelum acara pernikahannya dilaksanakan. Membahas poin-poin dalam Buku Nikah bersama si calon sepertinya kegiatan yang menyenangkan, ya. Haha.

Jangan-jangan, jangan-jangan, pernikahan adalah bentuk kehidupan bersama yang paling professional? *shock*

Hei, tapi kan perjanjian pernikahan tidak sama dengan kontrak kerja. Pernikahan akan menghasilkan anak. Jadi tidak sesederhana itu perbandingannya.

Memang tidak. Dan kesimpulan ini pun ngaco:mrgreen:

Tapi saya belum sempat berpikir lagi.

 

One thought on “Pernikahan, bentuk hubungan ‘hidup bersama’ yang paling professional?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s