Tiga Jenis Wanita Menurut Rumi

Saya bukan penggemar Jalaludin Rumi, sebetulnya. Belum pernah baca karya-karyanya, karena ketika saya mendengar soal sufisme yang kental dari Jalaludin Rumi, langsung membuat saya berpikir bahwa pasti orang ini jenis orang yang sering berpikir sangat rumit dan membuat kalimat-kalimat yang rumit dan melangit. Jadi saya malas untuk membacanya. Dan juga karena tidak punya bukunya sih.

Lalu beberapa hari yang lalu, saya menemukan buku kecil berisi sebagian cerita yang dibuat oleh Jalaludin Rumi, di kosan seorang kawan. Di halaman awal, saya membaca sebuah kisah yang menarik, tapi saya tidak mengerti apa isinya, hehe. Tapi karena cerita tersebut menyangkut wanita, maka saya menyalinnya di kertas. Lalu sekarang saya menyalinnya juga untuk para pembaca yang budiman. Oya, tulisan ini juga saya maksudkan untuk seseorang yang sudah mengirimi saya email terkait sebuah informasi yang berharga. Entah kenapa, rasanya senang sekali diperhatikan seperti itu, oleh orang yang sebenarnya tidak saya kenal. Karena saya tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih, maka saya tulis ini sebagai penghiburan buat beliau. Baru kali ini saya menulis seperti ini  (dan saya dengan pede sekali, merasa yakin kalau kamu pasti membaca tulisan ini, haha).

Rumi menulis seperti ini di sebuah buku berjudul “Kerinduan” yang konon katanya merupakan syair pilihan dari karya masterpiece-nya, “Mathnawi”. Jangan tanya apa itu Mathanwi, saya juga tidak mengerti.

“Ada tiga jenis wanita di dunia ini : dua jenis pertama adalah Duka Cita, jenis yang lain adalah harta bagi jiwa. Jenis yang pertama, jika kamu menikahinya, segalanya akan jadi milikmu. Jenis kedua, akan menjadi separo milikmu, dan yang ketiga sama sekali bukan milikmu.

Kemurnian cinta pertamamu sepenuhnya menjadi milikmu. Itu akan membuatmu bahagia dan kamu akan merasa sungguh-sungguh bebas. Seorang janda tanpa anak adalah yang kedua, separo darinya akan menjadi milikmu. Sedangkan yang ketiga, yang sama sekali bukan milikmu, adalah wanita yang telah menikah dan mempunyai seorang anak. Dia mempunyai anak dari suami pertamanya, dan seluruh cintanya diberikan kepada anak itu. Dia tidak akan mempunyai hubungan apapun denganmu. Sekarang, berhati-hatilah.”

Sekilas, sepertinya Rumi memang mengatakan hal yang tepat. Jenis pertama, mungkin akan membuat keterikatan yang terlalu lekat sehingga rasa bahagianya sekaligus bercampur dengan duka cita. Begitu juga dengan jenis kedua, tapi levelnya mungkin sedikit lebih ringan. Dan yang ketiga, malah sepertinya tidak mengikat sama sekali karena sudah ada anak di atas segalanya. Tapi, kenapa jenis pertama bisa membuat kita sungguh-sungguh bebas?

Yah, tapi kan, semua tergantung pribadi masing-masing orang juga. Mungkin Rumi bermaksud mengatakan hal yang lebih rumit dari itu. Entah apa.

Begitulah. Sekian dan terima kasih:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s