“Mengakrabi Tubuh Sendiri” (Bag. 3): Jangan Resah Jika Basah

Di tulisan sebelumnya, saya sudah membahas pengenalan terhadap tubuh secara umum dan ringkasan anatomi vagina. Bagi yang belum membaca, silakan baca dulu atau mau loncat ke bagian ini juga boleh.

Jika kamu pernah membaca novel Djenar Maesa Ayu berjudul ‘Nayla’, ada beberapa kutipan menarik di novel itu menyangkut isu seksualitas perempuan, termasuk tentang vagina. Kutipan tersebut berkaitan dengan mitos yang dipercayai perempuan tentang kondisi vagina yang harus selalu kesat (dan cenderung kering) agar menjadi vagina cantik yang didamba kaum lelaki. Begini sebagian kutipannya :

Akhirnya perempuan berusaha keras mengatasi kelebihan cairan dan kelenturan otot vagina. Mereka minum jamu. Mereka ikut senam seks dan body language. Mereka memasukkan tongkat madura kedalam vagina sebelum melakukan hubungan seksual selama lima menit. Mereka merendam vagina kedalam air daun sirih. Dan paling parah dari semua itu, perempuan takut terangsang. Perempuan menahan rangsangan supaya bisa”mengelabui” reaksi tubuh agar vagina tak terlalu mengeluarkan banyak cairan. Alhasil, perempuan melakukan apapun hanya untuk dinikmati tanpa diberi kesempatan untuk menikmati.

Dan saya kira hal tersebut memang sesuai dengan realitas yang ada di kalangan kebanyakan perempuan saat ini. Lalu dari mana sih mitos yang sangat dipercayai tersebut berasal? Ada yang berasal dari warisan para leluhur (dengan segala perangkat tabunya) dan iklan. Sudah familier kan dengan tiap iklan pembersih kewanitaan yang selalu menuliskan tag line : vagina bersih dan indah itu selalu harum, rapat, dan kesat. Keharuman dan kekesatan itu bisa didapat dari ramuan, jamu atau pencuci mengandung sirih yang mereka jual. Para wanita begitu mempercayai khasiat ramuan-ramuan ini, dan tergiur untuk menjadikan alat kelamin mereka sekesat, serapat, dan seharum mungkin, dengan sabun-sabun khusus. Karena vagina basah justru dikhawatirkan akan membuat para lelaki tidak menyukainya. Atau karena mungkin itu satu-satunya yang  mereka tahu; dari iklan-iklan itu saja, dan dari warisan leluhur saja, tanpa peduli pada efek lanjutannya.

Karenanya, saya tulis judul : ‘jangan resah jika basah’ berkenaan dengan satu hal mendasar yang harus diluruskan mengenai vagina; bahwa sewajarnya, vagina sehat dan normal itu haruslah basah ketika sedang mengalami rangsangan seksual. Tidak ada yang perlu ditakuti dan diresahkan dari vagina yang basah. Sebutan mengenai ‘becek’ yang biasa kita dengar itu merupakan mitos saja, seperti yang di tulis di situs ini. Kepercayaan terhadap vagina indah yang kering, kesat, dan rapat ini juga dimiliki laki-laki yang mendapatkan pengetahuannya dari tontonan pornografi mengenai alat kelamin perempuan, karena konten pornografi cenderung memperlihatkan vagina yang putih dan kesat.

Sebagian besar, penggunaan ramuan, jamu, atau cairan mengandung sirih untuk vagina itu mungkin begini awalnya : para perempuan memiliki kekhawatiran berjamaah terhadap kondisi vagina tapi jarang yang mau mempelajarinya secara detil dan menyeluruh. Karena kekhawatiran tersebut seolah diturunkan dari generasi ke generasi semenjak pubertas, kekhawatiran yang mengakar pada sebuah kata : keputihan. Setiap perempuan cenderung mengalami keputihan (seperti yang sudah saya sebutkan di post sebelumnya) sesuai hormon dan kondisi fisiknya, misal karena kecapean, stress, menjelang dan pasca menstruasi, dan kurang minum, atau dimana fisik sedang tidak nyaman banget. Biasanya keluarlah cairan putih kental dalam kondisi seperti itu. Padahal, keputihan ini wajar saja kok asal masih dalam tahap yang normal, seperti yang disebutkan di situs ini (baca ya biar kamu tahu jenis-jenis keputihan).

Namun, walaupun wajar, para perempuan merasa kalau cairan keputihan itu terlalu menjijikkan, menganggu keindahan, dan lain sebagainya, lalu mencari cara teraman untuk menghilangkannya. Selain mengikuti tips-tips pencegah timbulnya keputihan, para perempuan pun menggunakan ramuan-ramuan kewanitaan yang dipercaya mencegah timbulnya keputihan. Terutama bagi para wanita yang sudah menikah, karena vagina sering dipakai untuk masuknya benda asing, jadi kesehatan vagina harus sangat dijaga. Bagaimana caranya agar vagina yang sering dipakai itu jadi tetap kesat, rapat, dan harum? Ya, iklan bermain di situ. Pakai sabun-sabun mengandung sirih, spa vagina, dan lain sebagainya. Untuk apa semua itu? Ya seperti yang Djenar Ayu bilang di atas : cenderung untuk kepuasan pasangan. Untuk dinikmati oleh pasangan.

Penggunaan ramuan-ramuan tersebut juga bisa disebabkan oleh faktor lain, misal pasangan yang tidak tahu kalau basah itu normal sehingga protes pada perempuannya dan membuat perempuan tersebut menjadi gelisah, tidak percaya diri lagi.

Faktanya adalah, vagina yang kesat atau kering itu tidak normal dan akan menganggu aktivitas seksual. Maka penggunaan ramuan-ramuan yang menjanjikan kering/kesatnya vagina itu harus dihindari, seperti yang dibahas di situs ini. Situs lain mengatakan kalau sirih mengandung sifat adstringens yang menghalangi lubrikasi (pelendiran) pada vagina, padahal pelendiran itu sangat penting dalam hubungan seksual. Kalau sudah kering begitu, apakah kamu akan merasa nyaman? Mungkin dalam kondisi keseharian, awalnya akan terasa nyaman. Tapi kalau sudah berkaitan dengan kehidupan seksualitas kamu nantinya, kondisi vagina yang basahlah yang akan bisa membuat kamu menikmati seks dengan suami atau pasanganmu. Bukan cuma si pasangan yang menikmatinya.

Sebenarnya, wajar jika kamu khawatir dengan keputihan. Jika sudah tidak normal, kamu harus ke dokter. Tapi jika masih normal, kamu tak perlu memakai ramuan ini-itu segala untuk vagina kamu. Sebagaimana halnya menjaga higienisnya tubuh kita yang lain, yang perlu kamu lakukan dengan vagina kamu, jika masih keputihan normal, adalah menjaga kebersihannya. Itu saja sih.

Nah, supaya kamu bisa lebih pede tanpa sabun sirih dan menyakinkan diri sendiri kalau area kewanitaanmu sudah higienis dan sehat, berikut ada beberapa tips untuk mencuci/membersihkan vagina. Sebagiannya saya ambil dari sini dan situ.

  1. Cucilah vagina minimal sehari sekali. Mencucinya tentu tidak asal, tapi cuci sampai ke bagian vagina eksternal (yang sudah saya bahas sebelumnya) misal di lipatan klitoris, urethra, dan labia dalam. Bau-bauan yang kurang sedap biasanya berasal dari area itu, jika kurang dijaga kebersihannya. Karena area ini sangat sensitif, kamu harus hati-hati dan pelan saat mencucinya. Saya tidak menyarankan pemakaian sabun sirih atau ramuan semacam itu. Cukup pakai air bening biasa seperti kamu mandi. Coba saja cuci setiap hari secara rutin, kamu akan berasa lebih bersih dan tidak bau. Keputihan yang sering muncul juga akan berkurang, dan kamu akan merasa tetap bersih sepanjang hari dengan celana dalam yang tetap bersih juga. Pada pencucian awal, jika kamu tidak terbiasa mungkin akan membutuhkan waktu agak lama (itu jika kamu tidak biasa dengan sensitivitasnya).
  2. Gunakan air hangat saat mencuci karena area yang akan kamu cuci itu sangat rentan terhadap interaksi dari luar. Arahkan pencucian dari vagina atas ke anus, jangan sebaliknya. Katanya ini untuk mencegah agar bakteri dari anus dan sekitarnya tidak menyebar ke vagina kamu.
  3. Gunakan tangan yang bersih saat mencuci, tidak perlu menggunakan alat-alat lain semacam lap atau sapu tangan.
  4. Sediakan cermin kecil atau sesuai kebutuhan. Kamu sudah bisa membayangkan fungsi cermin itu kan? Kamu tidak mungkin bisa melihat benda yang sedang kamu cuci tanpa melihatnya. Jadi gunakanlah cermin, hehe.
  5. Saat menstruasi, biasanya area vagina menjadi lebih sensitif dan lebih rentan terhadap bakteri. Justru pada saat seperti itu, kamu harus lebih rajin mencucinya. Kamu bisa tetap mencucinya seperti biasa. Tapi jika masih tidak kuat dengan sensitivitasnya, kamu bisa mencuci semampunya saja, tidak usah dipaksakan.
  6. Ganti pembalut sesering mungkin ketika sedang menstruasi. Apalagi jika kulit vagina terlalu sensitif dengan segala jenis pembalut. Saya sendiri tidak terlalu kuat untuk terus menerus memakai pembalut selama masa menstruasi yang panjang. Ketika darah mens yang keluar sudah sangat sedikit dan yakin tidak akan menembus celana dalam, biasanya saya tidak memakai pembalut. Asalkan sering ganti celana dalam dan langsung dicuci. Noda-noda akan langsung hilang, tanpa bekas sama sekali.
  7. Jangan memakai pantyliner, kecuali dalam kondisi darurat. Itupun tidak boleh terlalu lama. Misal sedang dalam trip atau perjalanan panjang dan tidak memungkinkan sering ke toilet, atau dipakai saat sedang menstruasi saja jika darahnya sudah sedikit sekali.
  8. Gunakan celana dalam yang kering, terbuat dari bahan yang menyerap keringat, ganti sehari 2 kali, langsung cuci ketika mandi.
  9. Mandi sehari dua kali, terutama setelah selesai olahraga dan penuh keringat. Ketika akan tidur, tubuh kamu harus dalam kondisi bersih. Selain akan membuat ketek kamu higienis tanpa bau walau tidak pakai deodorant, juga akan membuat area vagina kamu juga tetap bersih.
  10. Setiap setelah mencuci vagina dengan air (setelah mandi, buang hajat), selalu keringkan bagian luar vagina kamu dengan tisu. Ini untuk menjaga agar area sekitar luar vagina tidak lembab dan celana dalam kamu pun akan tetap kering. Kelembaban akan memicu tumbuhnya bakteri.
  11. Minum air putih sesuai kebutuhan orang dewasa perharinya, dan jaga kondisi psikis kamu agar tidak stress melulu. Banyak minum air putih itu bikin enak ke semua badan.

Itu beberapa tips dari saya. Jika kamu punya tips lain, boleh ditambahkan, dengan senang hati. Tips itu akan membuat vagina kamu terasa bersih walau tidak memakai sabun sirih atau ramuan-ramuan untuk vagina. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi dengan vagina basah ketika terangsang secara seksual. Minimal, jika kamu mau memakai sesuatu untuk area vagina, kamu bisa berkonsultasi lebih dahulu dengan melihat berbagai referensi. Karena vagina itu area penting yang memang kompleks sekali, iya kan?:mrgreen:

Selamat bebersih!

4 thoughts on ““Mengakrabi Tubuh Sendiri” (Bag. 3): Jangan Resah Jika Basah

  1. waaaaah😀
    mencerahkan sekali mbak😀 soalnya jarang yang mengangkat tema beginian, sering dianggap tabu. padahal kan kita harus tahu biar tubuh sehat dan pikiran tidak tercekoki dengan mitos2 yang berkembang🙂
    terima kasih sekali mbak😀

    Like

    • Terima kasih kembali mbak. Memang jarang dibahas, makanya isu-isu begini sebaiknya banyak disebar kepada wanita ataupun pria. Menurut mbak sendiri gimana soal sirih ini, mungkin ada pendapat lain? Atau mungkin ada sumber referensi lain yang bisa menguatkan kesotoyan saya? Hehe.

      Like

      • Saya juga awam mbak mengenai masalah seperti ini, duh maaf (-/.\-) hehehe
        tapi to mbak kadang dianggap gimana gitu kalo kita nyebarin pngetahuan gini di lini massa😥 *curcol*
        padahal ini kan pengetahuan ya mbak ya huhuhuhu

        Like

  2. waaaaahhh topik’a bagus bangett kak, bener” pengetahuan baru.. sebener’a ini pengetahuan penting tapi banyak yang enggan mempelajarinya karna dianggap tabu atau apalah..
    hmm
    sukses buat blog’a kak,
    siip (y)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s