Pengalaman Pertama Nyoblos

Tahun 2014 ini akan menjadi tahun diselenggarakannya pemilu. Sepertinya saya semakin sulit untuk menganggap momen pemilu sebagai hal yang penting, apalagi sampai sekarang saya belum punya gambaran akan memilih siapa/apa. Iklan politik yang bertebaran nyaris semua menjijikkan. Nah, daripada pusing terlalu lama tentang pilihan-pilihan pemimpin yang semakin sulit untuk dipilih, saya akan cerita sedikit soal pengalaman di masa lalu. Flashback soal kegiatan pemilu pertama saya. Oya tulisan ini sebenarnya posting ulang dari sebuah situs politik yang sekarang sudah tidak eksis lagi.

Setiap orang memiliki alasan untuk menjadi voter atau non –voter pada setiap kegiatan pemilihan umum (Pemilu). Jika sekarang anda mencoba memutar rekaman ingatan pada belasan tahun silam, misalnya 10 tahun yang lalu, atau lebih tua dari itu, bagi anda yang memutuskan untuk berperan aktif dalam pemilihan umum (menjadi voter) dapatkah anda mengingat pengalaman pertama saat memasuki TPS dan mencoblos salah satu partai yang sesuai pilihan anda?

Mungkin pada saat itu anda masih sangat muda, sedang lucu–lucunya, atau masih lugu dan polos? Tentunya dong.

Berdasarkan pengalaman pribadi, entitas pertama yang mengenalkan saya pada kehidupan politik –dalam hal ini pemerintahan dan yang berkaitan dengannya, adalah keluarga. Contohnya, ya terlibat dalam pencoblosan dalam pemilihan umum itu. Walaupun Bapak saya tidak secara langsung menyarankan saya untuk berpartisipasi dalam pemilu, tetapi waktu itu secara otomatis saya sudah terdaftar jadi pemilih saat sudah cukup umur. Akhirnya, saya berpikir kenapa tidak mencoba ikut-ikutan mencoblos seperti orang lain. Segala urusan administratif menyangkut pemilu sudah diurus Bapak sehingga saya bisa mendapatkan kartu pemilih pertama kalinya –waktu itu saya juga baru mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) pertama saya.

Tempat Pemilihan Suara (TPS) –saya hampir keliru menyebutnya TPU tadi, tertanya TPU mah Tempat Pemakaman Umum! –waktu itu lapangan badminton sebelah rumah. Dengan berdebar –debar saya duduk menanti di kursi antrian sambil berpikir –pikir partai apa yang akan saya coblos? Itulah bagian paling sulit dari pencoblosan pertama saya : bingung memilih partai karena varian-nya banyak sekali !

Jauh sebelum pemilu pertama, saat masih kecil, saya mengira bahwa Bapak adalah seorang aktivis sebuah partai. Beliau sering mendapat kiriman kaos. Waktu itu jenis partai cuma ada 3, dan tiap pemilihan umum pemenangnya itu–itu saja. Jadi ibarat sebuah kompetisi formalitas yang pemenangnya sebenarnya sudah diketahui khalayak. Karenanya proses pemilihan umum menjadi aneh bagi saya. Kok yang menang kuning melulu? Dan kenapa Bapak saya juga sepertinya beraliran kuning? Saat ditanya pada beliau, beliau hanya menjawab: PNS kan harus memilih kuning, tidak bisa tidak. Itu harga mati.

Waktu itu saya belum berpikir bahwa suatu saat saya akan memilih juga pada pemilu.

Lalu tiba –tiba, jumlah partai meledak menjadi banyak sekali. Dan saya tidak pernah punya waktu untuk mempelajari partai –partai itu. Mengikuti pemilu hanya seperti rutinitas saja; saya tidak berpikir bahwa kegiatan tersebut akan membawa perubahan pada kehidupan. Ya begitu –begitu saja. Hanya proses pergantian pemimpin. Dan karena disebut ‘pesta demokrasi’, selayaknya pesta–pesta pada umumnya, tentulah biayanya sangat mahal pula. Berfoya –foya? Bisa jadi. Dan apa ada yang berubah?

Beberapa hari sebelum memasuki kamar TPS, pembahasan tentang partai sudah mulai menghangat di rumah. Yang membahagiakan adalah, Bapak tidak pernah berusaha mempengaruhi saya untuk memilih partai yang dipilih juga oleh beliau. Dan pada akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba ikut mencoblos hanya karena ingin mencoba saja bagaimana rasanya mencoblos pada pemilu (saya tidak cukup peduli pada kehidupan bernegara dan tidak merasa sebagai warga negara yang baik).

Coblosan pertama yang membingungkanpun sukses membuat saya tertawa –tawa. Melihat logo –logo partai yang berderet –deret dan foto –foto calonnya tidak membuat saya cukup cerdas untuk bisa mengetahui siapa diantara mereka yang lebih layak untuk menjadi pemimpin yang baik. Pada saat itu, saya berada pada kesadaran yang sangat bebas, tidak memihak pada apapun, tidak pernah di-kampanye-i oleh siapapun, tidak diberi uang sogokan oleh siapapun, kaos, atau memakai atribut apapun, hanya satu tujuan: ingin tahu bagaimana rasanya berada di kamar TPS, melihat bentuk kartu pemilih dan mengetahui seluruh proses itu secara detail.  

Saya agak menyesal juga tidak mempunyai kesadaran dini untuk minimal mengenal sebagian partai itu agar saya bisa memilih dengan alasan yang jelas.  Tidak hanya memilih satu partai hanya karena calonnya agak mirip dengan ponakan saya! Lalu keluar dari TPS sambil memamerkan jari yang sudah dicelup tinta, lalu mengatakan pada Bapak tentang partai apa yang baru saja saya coblos. Ha!

Well, sekarang saya sudah lebih banyak belajar untuk melakukan sesuatu dengan kepahaman. Dan andaikan saya memutuskan untuk tetap menjadi seorang voter, itu karena saya tetap punya harapan bahwa Indonesia akan memiliki seorang pemimpin yang baik di masa depan. Itu saja.

Jadi teringat Bapak lagi, hehe. Terima kasih, Bapak yang baik.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s