“Mengakrabi Tubuh Sendiri” (Bagian 1) : Lihat Lebih Dekat!

Tak kenal maka tak sayang, begitu salah satu ungkapan sejuta umat yang sering kita dengar. Mungkin ini ada benarnya juga. Ketika kamu hanya sedikit mengenali sesuatu, biasanya kamu tidak akan terlalu peduli, tidak perhatian, bahkan tidak sayang pada sesuatu tersebut. Tapi ketika sudah mengenalnya dengan baik, kamu akan begitu perhatian. Dari perhatian akan muncul rasa sayang, lalu setelah sayang biasanya akan ada usaha untuk menjaga sesuatu itu dengan sebaik-baiknya.

Dan, ini juga sangat berlaku buat tubuh kamu sendiri.

Coba sekarang dijawab dengan jujur, apakah kamu sudah mengenali tubuh kamu dengan baik? Sudahkah kamu kenali setiap bagian-bagiannya, dan apakah kamu memperhatikan bentuk-bentuknya? Dalam pelajaran biologi, kamu sudah dikenalkan dengan anatomi tubuh manusia terkait bentuk standar tubuh lelaki maupun perempuan. Tapi pernahkah kamu mencoba melihat tubuh kamu sendiri dengan cermat dan lebih detil untuk setiap bagian-bagiannya, terutama untuk bagian alat kelamin ?

Jika tidak pernah, maka kamu sekarang akan memerlukan sebuah cermin besar!

Menurut sebuah survey di sini , disebutkan bahwa 84% perempuan tak paham akan tubuhnya sendiri. Berarti sedikit sekali perempuan yang sudah memahami tubuhnya. Jika tidak paham, maka dipastikan juga mereka tidak tahu bagaimana reaksi tubuh terhadap berbagai macam perlakuan dari luar, terutama yang terjadi di bagian alat kelamin. Bahkan lebih parah, berdasarkan pengamatan singkat saya di sekeliling, ada sebagian wanita dewasa yang tidak familier dengan bentuk alat kelaminnya  sendiri. Untuk yang merasa tersindir, tidak usah khawatir, kamu tidak sendirian. Kepedulian muncul dari pengetahuan, dan itu akan memerlukan proses yang tidak sebentar. Tapi percayalah, prosesnya akan menjadi sesuatu yang sangat amat menyenangkan.

Pada dasarnya rasa ingin tahu terhadap segala hal menyangkut tubuh mulai muncul dalam kurun usia dimulainya pubertas (sekitar usia 12 tahun). Tapi ada beberapa kasus rasa ingin tahu, terutama pada alat kelamin, yang mandeg atau terkekang tanpa disadari. Itu bisa jadi dikarenakan pola pendidikan dini dalam keluarga, pemahaman mengenai tradisi turun temurun yang kemudian menjadi kultur di masyarakat, pergaulan atau sosialisasi, atau pengaruh agama dan keyakinan yang menimbulkan rasa ketakutan tersendiri. Bahkan untuk membicarakannya saja dianggap sebuah hal yang terlarang dan bermuara pada satu kata : tabu. Walaupun pada beberapa lingkungan masyarakat modern hal ini sudah bukan suatu hal yang dianggap tabu lagi.

Soal seks atau beberapa hal yang berhubungan dengan alat kelamin, misalnya. Biasanya hanya dokter, seksolog, gineakolog dan yang memiliki latar belakang keilmuan di bidang itu yang lebih sering berbicara soal seks dan alat kelamin, dan dianggap bukan konten pornografi. Sedangkan sebagian besar lainnya lebih merasa takut atau malu karena soal-soal seperti itu akan menjadi sesuatu yang porno jika dibahas oleh mereka, karena seharusnya seks dan alat kelamin dibahas dalam lingkup tertutup, secara sembunyi-sembunyi, bukan untuk diumbar di ranah publik. Atau bahkan bisa menjadi pemicu perilaku berdosa. Nah, pemahaman seperti inilah yang membuat para newbie malas untuk belajar. Atau mereka malah belajar dari sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab, misalnya dari video-video porno yang penuh tipuan.

Jadi, tidak ada yang salah jika kamu memiliki rasa ingin tahu dengan tubuhmu sendiri. Malah itu wajar dan harus. Yang terpenting adalah bagaimana kamu akan memperlakukan rasa ingin tahumu itu, dan sumber-sumber pemuas rasa ingin tahumu.

Pernah di suatu ketika, ada beberapa orang wanita muda di sebuah kos yang berkumpul untuk berdiskusi mengenai pengetahuan mereka pada tubuh mereka sendiri, yaitu payudara dan malam pertama. Mungkin cara seperti ini bisa membantu para pemalu yang terlalu malu untuk belajar atau terlalu takut pada berbagai label tabu. Orang-orang yang berpikiran terbuka dan memiliki berbagai macam pengalaman biasanya lebih enak untuk dijadikan sumber inspirasi bertanya dan berbagi hal-hal yang selama ini terkungkung oleh bahasa tabu tadi.

Kenapa sih sebegitu pentingnya mengenali tubuh sendiri? Ya seperti yang sudah saya uraikan di atas, agar kamu sayang pada tubuh kamu sendiri, dan merawatnya dengan baik. Bukan untuk pamer atau gaya-gaya saja, tapi untuk kebaikan kamu sendiri. Kalau kamu sehat, terawat, dan bersih, bukankah orang pertama yang akan merasakan efek dari semua itu adalah diri kamu sendiri? Ketika kamu tahu cara yang tepat bersenang-senang dengan tubuh kamu sendiri, maka yang pertama kali akan diuntungkan adalah diri kamu sendiri juga. Yang lain-lainnya cuma bonus saja.

Dan mungkin, akan banyak hal-hal yang bisa kamu ketahui dan pelajari melebihi dari apa yang sudah kamu pelajari dari pelajaran biologi.

Dari sedikit pengalaman dan pengetahuan yang bisa saya jelaskan, ada tiga hal penting yang bisa disimpulkan dari keuntungan mengenali tubuh sendiri :

Pertama,  ketika sudah mengetahui setiap detil tubuh sendiri, tiap lekuk dan bagian yang mudah dilihat sampai yang tersembunyi, kamu akan mengetahui apakah ada sesuatu yang tidak beres di bagian tersebut. Misalnya nih, jangan-jangan ada tonjolan merisaukan di lipatan pantat, atau di belakang telinga. Atau jangan-jangan ada kudis atau koreng secuil di bawah punggung yang biasanya susah dijangkau dan susah dilihat. Atau kutil kecil di selangkangan, dan lain sebagainya. Kalau sudah merajalela, akan sangat mengerikan sekali kan? Makanya harus rajin-rajin dilihat secara detil dan dekat. Supaya kamu tahu setiap perubahan yang terjadi pada tubuh kamu.

Kedua, mudah bagi kamu untuk merawat setiap bagian tubuh. Sebagian perempuan memang ada yang sangat peduli pada tubuhnya, terutama yang memposisikan tubuh sebagai asset penghasil uang. Tapi tentu harus cerdas dalam memilih cara serta tool dalam perawatan tubuh. Sebab tubuh tak bisa dirawat secara instan seperti layaknya kebutuhan para artis pada tubuh bagus demi jualan, tapi merawat tubuh di sini artinya kita membuat tubuh tetap higienis dan sehat. Misal, bagaimana kamu menjaga kebersihan payudara, ketek, alat kelamin, dan seluruh bagian tubuh yang tersembunyi.

Ketiga, kamu bisa bersenang-senang dengan tubuhmu sendiri. Tubuh terdiri atas begitu banyak syaraf, dan pada bagian-bagian tertentu syaraf itu akan memberikan efek yang berbeda bagi kamu. Ini akan berhubungan dengan kehidupan seksual nantinya, tapi sayangnya justru bagian inilah yang selalu dianggap tabu dan tidak dianggap penting. Kita biasanya hanya langsung percaya pada anggapan bahwa sesuatu menyangkut seksual itu akan terjadi secara alamiah nanti ketika berhubungan badan. Padahal ketika kita mengetahui banyak hal mengenai tubuh sebagai tool dalam berhubungan seksual, tentu hasilnya akan lebih maksimal.

Jadi, hilangkan rasa malu. Ambil cermin dan lihatlah bagian-bagian tubuh kamu. Jangan cuma detil kulit wajah yang dilihat untuk mencari jerawat atau membuang komedo karena tubuhmu bukan cuma muka. Lihat bagian-bagian lain seperti dada, perut, punggung, bahu, lipatan-lipatan tubuh seperti ketek, selangkangan, pantat, belakang lutut, alat kelamin dan kaki.

Dari keseluruhan bagian tubuh itu, sepertinya sebagian besar perempuan tidak terlalu berani atau malu untuk melihat dan mempelajari alat kelaminnya sendiri dengan beberapa alasan yang sudah saya sebutkan di atas. Dan itu akan saya bahas pada bagian selanjutnya.

Nah bagaimana dengan kamu? Sudah kenal dengan tubuh sendiri? Ayo dikenal lebih dekat, sebelum kamu mengenali tubuh orang lain nanti:mrgreen:

Sedikit catatan, saya menulis di sini bukan sebagai seseorang yang ahli, expert atau memiliki latar belakang keilmuan yang berhubungan dengan anatomi tubuh atau alat kelamin. Tapi saya hanya berbagi sedikit pengalaman saja untuk mengajak kamu belajar bersama. Saya juga masih belajar. Jadi kalau misalnya ada pernyataan yang tidak tepat, silakan dikoreksi.

2 thoughts on ““Mengakrabi Tubuh Sendiri” (Bagian 1) : Lihat Lebih Dekat!

  1. Pingback: “Mengakrabi Tubuh Sendiri” (Bag. 2): Berkenalan Dengan Vagina | Yang Ketiga

  2. Pingback: “Mengakrabi Tubuh Sendiri” (Bag. 3): Jangan Resah Jika Basah | Yang Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s