Manusia Kecil

Oleh : Ismawati

Apakah balita yang sudah bisa belajar berjalan dan berbicara akan juga bisa memahami apa yang dikatakan orang dewasa kepadanya ketika diajari kebiasaan-kebiasaan baik? Kalau itu bisa, bagaimana cara memberitahu para balita ini untuk melakukan berbagai kebiasaan baik tersebut? Kebiasaan-kebiasaan baik ini misalnya selalu menggosok gigi, mandi dan keramas rutin, menjaga kebersihan kaki dan tangan setelah bermain di luar, membersihkan tangan ketika akan dan setelah makan, makan dengan rapi, tidak memungut makanan yang sudah jatuh, membersihkan alat kelamin setelah buang air, dan lain sebagainya.

Saya sering memperhatikan keponakan, seorang perempuan cantik berusia 2,5 tahun yang sudah pintar berbicara dan sangat aktif. Dari berbagai interaksi dengannya, saya menyimpulkan bahwa memang balita memiliki kemampuan luar biasa dalam belajar dan meniru berbagai macam hal yang dia lihat maupun dia dengar. Balita adalah manusia kecil yang dapat menjadi pembelajar cepat, peniru ulung, dan pengingat super. Apapun yang dilihat atau didengarnya akan menempel kuat di otaknya, untuk kemudian ditiru. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika balita yang masih sangat aktif menyerap segala hal baru di sekitarnya ini berada dalam lingkungan orang-orang yang, misal suka berkata kasar atau menghabiskan waktu di depan televisi menonton tayangan yang tidak mendidik, lama-lama balita akan bermutasi menjadi manusia dengan watak sama seperti itu di kemudian hari.

Keponakan saya sering meneriakkan dua buah kata yang, menurut pandangan saya tidak patut untuk diucapkan manusia sekecil dia, yaitu (maaf) alat kelamin dipadukan dengan satu kata dalam bahasa jawa. Dia mengucapkannya secara spontan di depan siapa saja ketika sedang bermain, mungkin seperti orang-orang dewasa mengucapkan banyolan dalam bahasa yang vulgar. Selain itu, karena sering menonton sebuah sinetron bersama kakak-kakaknya, ada gerakan dalam sinetron tersebut yang bisa dia tiru lengkap dengan nyanyiannya.

Ibunya lalu bercerita tentang asal muasal dua kata yang sering diucapkan ponakan. Menurut Ibunya, dulu ada seorang tetangga yang berkunjung ke rumah mereka dan mengatakan dua kata tersebut, lalu sengaja memberitahu ponakan saya yang masih 2 tahun itu sambil menyuruhnya mengatakan kata-kata tersebut. Akibatnya, sampai saat ini kata-kata itu masih membekas dan dia sudah terbiasa mengucapkannya tanpa tahu apa yang diucapkannya tersebut.

Saya memikirkan bagaimana caranya memberitahu ponakan agar menghentikan kebiasaannya tersebut. Tapi ternyata tidak semudah yang saya kira. Bagaimana cara saya mengatakannya dalam bahasa yang bisa dipahami oleh anak sekecil itu? Tentu saya tidak bisa begitu saja mengatakan “berkata seperti itu tidak baik, nak”, ya saya pernah mencobanya dan sepertinya dia tidak paham. Atau mungkin karena memang sudah menjadi kebiasaan jadi diucapkan begitu saja.

Ketika bergaul cukup lama dengan ponakan tersebut, selain kebiasaan mengucapkan dua kata itu dan menari gaya sebuah sinetron, beberapa kebiasaan lainnya juga sudah bisa saya amati. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk sejak dia pertama kali bisa meniru berbagai kata atau sikap yang dilihat, didengar, atau diajarkan keluarga dalam satu rumah.  Salah satu yang tidak dia sukai adalah mandi dan keramas, kecuali jika dibujuk-bujuk dengan pemberian makanan, jajanan, atau akan diajak bermain ke suatu tempat. Saya pikir, bujukan-bujukan seperti ini tidak memberikan efek yang baik bagi balita dan akan menjadi sebuah kebiasaan. Bujukan-bujukan seperti ini juga berlaku ketika merayu balita agar segera tidur dan tidak rewel, misal dengan mengatakan bahwa “jika tidak tidur, akan didatangi hantu, kalong wewe, orang gila anu” dan lain sebagainya yang bersifat menakut-nakuti dengan kebohongan-kebohongan berbahaya.

Pernah ketika sedang bermain rumah-rumahan dan ceritanya kami sudah masuk jam tidur, ponakan mengatakan kepada saya bahwa saya harus segera memejamkan mata untuk tidur agar tidak ada hantu atau semacamnya (biasanya dia mengatakan nama fiktif seseorang entah siapa yang dia dengar dari Ibunya, untuk menakut-nakuti). Persis seperti yang dilakukan Ibunya ketika mereka akan tidur. Saya miris sekali mendengarnya, dan ingin mencoba meluruskan pengetahuannya itu. Saya katakan kepadanya dengan terus terang, seperti berbicara dengan orang dewasa, bahwa tidak ada hantu yang datang ataupun nama fiktif yang dia sebutkan itu. Ponakan tampak marah dan mungkin kesal karena saya tidak menurut dan mempercayai apa yang dikatakannya.

Apakah saya sudah bertindak berlebihan pada anak kecil ?

Tapi kebohongan dan cara menakut-nakuti seperti itu bisa membuat anak jadi penakut nantinya. Anak sudah diajari berbohong, hanya agar bisa tidur dengan tenang.

Lalu suatu ketika, saya mencoba bereksperimen lagi yaitu berbicara pada ponakan dengan sangat jelas seperti saya berbicara dengan orang dewasa. Waktu itu ponakan yang sedang bermain di halaman rumah mengatakan ingin buang air kecil. Dia sedang bermain dengan kakak-kakaknya. Saya sedang berada di tengah rumah. Saya pikir kakaknya akan membawa dia ke kamar mandi dan mengawasinya buang air kecil di sana. Tapi ternyata tidak ada yang mendengarkan perkataan ponakan, hanya samar-sama saya dengar kakaknya mengatakan “ya silakan”. Saya segera menghampiri ponakan untuk melihat apa yang dilakukannya, sekaligus mengajaknya ke kamar mandi. Ternyata dia sedang jongkok di halaman, buang air kecil di sana. Lagi-lagi saya merasa miris. Hal seperti itu pastilah diajarkan oleh keluarganya, untuk boleh buang air kecil di mana saja atau dibiarkan saja buang air di manapun, asal tidak di dalam rumah atau di atas tembok.  Mungkin karena dia dianggap masih kecil.

Ya. Itulah. Dianggap masih kecil sehingga banyak permakluman untuk semua sikap dan kebiasaannya. Untuk beberapa hal, memang itu diperlukan. Tapi untuk hal-hal lain yang sangat mendasar seperti buang air di atas, saya rasa balita pun perlu diajarkan seperti layaknya orang dewasa, tentu dengan diberi contoh langsung terlebih dahulu. Padahal seperti yang telah disebutkan tadi, balita tetaplah manusia, karenanya saya menyebutnya sebagai manusia kecil. Dia bisa berpikir dan berubah jika diarahkan, hanya ukurannya saja yang masih kecil.

Ponakan sama sekali tidak bereaksi saat saya mengatakan bahwa dia harus pergi ke kamar mandi saat ingin buang air kecil. Setelah buang air kecil, dia langsung berlari-lari bermain. Dia tidak berinisiatif untuk membersihkan kemaluannya setelah buang hajat. Apakah ini juga dipengaruhi pola didik di keluarganya? Saya segera menghampirinya, dan memutar otak untuk mencari cara bagaimana mengajak ponakan agar mau bersih-bersih setelah buang air kecil. Tanpa harus diiming-imingi apapun atau ditakut-takuti dengan kebohongan. Saya mencoba beberapa kali berbicara padanya dengan lembut dan bahasa yang sederhana, walau awalnya saya ragu apakah dia bisa memahami apa yang saya katakan.

Pertama-tama, dia tidak mendengarkan sama sekali. Ketika saya menghampiri dan bertanya apakah dia sudah buang air, dia mengangguk. Lalu saya katakan  bahwa sesudah buang air kecil kita harus membasuh kemaluan bekas buang air agar sehat, agar tidak ada kuman. Dia tidak mendengarkan. Dia berusaha mengalihkan perhatian dengan menunjuk beberapa benda lain, lalu berlari-lari menjauh. Saya tidak putus asa. Saya terus kejar dia (saya bersumpah waktu itu untuk bisa berhasil mengajaknya ke kamar mandi dan bersih-bersih). Dia terus saja cuek. Terhitung 5 kali saya terus mengatakan hal yang sama, bahwa dia harus membersihkan bekas buang airnya, agar tidak terkena penyakit dan agar bersih, agar nyaman, dan sebagainya. Saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa agar tidak terjebak dalam kebohongan. Saya mengatakannya dengan selembut mungkin, sambil fokus pada dirinya sepenuhnya. Saya pegang tangannya, dan menariknya pelan untuk berjalan ke kamar mandi.

Dan, ajaibnya, dia bersedia! Tiba-tiba saja dia menatap saya tanpa berkata apa-apa. Tidak senyum, tidak juga marah. Saya tidak tahu apa artinya itu. Tapi dia menuruti apa yang saya minta tanpa pemberontakan sama sekali. Dengan penuh semangat, dia berjalan di samping saya menuju kamar mandi, sambil berpegangan tangan. Dan misi itupun berhasil. Sepanjang perjalanan ke kamar mandi, dan membantunya membersihkan daerah genitalnya, saya terus mengatakan kepadanya tentang keharusan menjaga kebersihan tubuh dan buang air kecil di tempat yang tepat, yaitu kamar mandi. Dia hanya menatap saya tanpa berkedip tanpa mengatakan apa-apa. Entah mengerti, atau bagaimana. Mission accomplished!

Saya berharap, dia sedikit mengerti dengan contoh-contoh yang sudah saya perlihatkan itu, dan bisa mengulanginya terus nanti. Dan dari kejadian itulah saya semakin meyakini bahwa pada dasarnya balita adalah manusia seperti pada umumnya. Manusia yang kecil bentuk fisiknya. Ketika kita mengajaknya berkomunikasi, dengan penuh perhatian, terus menerus serta dikombinasikan praktek langsung, sepertinya dia pun akan memahami apa yang kita maksudkan. Karenanya, tidak perlu lagi iming-iming materi, ditakuti atau dibohongi hanya agar balita menuruti apa yang kita inginkan, atau agar mereka bisa bersikap seperti apa yang kita harapkan. Tidak pula perlu membentak atau mengomeli mereka karena susah untuk menuruti apa yang kita maksudkan, karena otak mereka sedang dalam proses belajar dan menyerap, jadi pasti butuh kerja keras dan usaha ekstra saat menyampaikan maksud kita.

Mereka perlu diajari kebiasaan-kebiasaan baik dengan cara yang tidak menyakiti mereka secara fisik maupun intelektual.

(Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis artikel untuk bloger dan pendidik dengan tema “Mendidik Dengan Akhlak” yang diselenggarakan oleh blog Sekolah Akhlak dan Guru Berakhlak).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s