29 Oktober 2013

Waktu telah menyiramiku dengan berbagai kesulitan, sehingga

Panah-panah yang menancap di kepalaku menjadi pelindung,

Kalau sekarang aku tertembak sebatang panah,

Mata panahnya akan masuk membelah panah lainnya,

Sekarang aku hidup tanpa peduli dengan kesulitan

Karena aku tak mendapat manfaat apapun dengan mempedulikannya.

(Al Mutanabbi. Don’t be sad. hal 157)

Tanggal 29 Oktober 2013, sedari pagi saya sudah bersiap-siap untuk kembali ke Bandung. Di luar rumah masih penuh sisa-sisa pesta pernikahan tetangga dengan panggung dan hiasan-hiasan berwarna ungu. Mamah, seperti biasa terus mengatakan agar saya segera menyelesaikan segala ritual dandan dan semacamnya agar tidak terlalu siang berangkat ke Bandung. Hiruk pikuk pagi di saat saya kembali ke luar kota memang selalu begitu sejak pertama kali saya meninggalkan rumah bertahun-tahun lampau.

“Naik angkot saja” kata Mamah waktu itu.

“Saya mau pesan ojek langganan saja, Mah. Biar cepet”.

“Soalnya Bapak mau mengantar ke terminal”.

Saya agak heran mendengarnya. Sudah beberapa tahun belakangan Bapak tidak pernah mengantar saya jauh-jauh ke terminal kota Ciamis. Biasanya Bapak hanya mengantar saya sampai pertigaan yang tak jauh dari rumah untuk menunggu angkot. Atau hanya mengantar sampai teras rumah jika saya memilih naik ojek langganan. Itu karena saya sudah meminta Bapak untuk tidak repot-repot mengantar saya terlalu jauh sampai ke terminal, ketika saya bepergian jauh. Alasan saya, saya sudah bukan anak kecil lagi jadi seharusnya Bapak tidak terlalu khawatir lagi. Saya sudah terbiasa bepergian jauh sendirian. Oh, OK, memang baru terbiasanya hanya ke Bandung saja. Tapi tetap saja saya merasa bahwa Bapak terlalu berlebihan jika terus mengantar saya saat akan pergi.

Kedua, kondisi Bapak sudah tidak sekuat dulu lagi, dan mulai sangat pelupa karena usia. Justru saya yang khawatir kalau Bapak mengantar saya ke terminal, saya khawatir ada apa-apa di jalan saat Bapak kembali ke rumah sendirian. Jadi jalan teraman adalah saya sendirian ke terminal dengan menggunakan ojek.

Saya pernah bertanya pada Bapak mengapa beliau selalu ingin mengantar saya pergi. Bapak mengatakan bahwa hal tersebut bisa membuat hatinya tenang. Beliau selalu ingin melihat detik-detik kepergian saya secara langsung, dan melihat kendaraan yang saya tumpangi mulai bergerak pergi. Saya tidak tahu kenapa Bapak ingin melihat momen itu, dari dulu saya tak pernah memahaminya. Mungkin itu karena beliau selalu khawatir dengan saya, ingin memastikan saya selalu dalam kondisi yang baik, dan memang itu ungkapan kepeduliannya kepada saya sebagai puterinya.

“Kok tumben Bapak mau antar ke terminal lagi, Mah? Biasanya juga tak perlu diantar”.

“Ya mungkin karena sudah lama aja. Tidak apa-apa, Bapak sudah sehat sekarang. Biarkan dia mengantarmu ke terminal”.

Saya melihat Bapak sudah bersiap-siap untuk pergi. Beliau mengenakan baju batik mengkilat berwarna kuning dan bercorak coklat muda yang selalu dipakainya dalam acara-acara resmi di kampung kami. Misalnya untuk ke kondangan, sholat berjamaah ke masjid, atau bepergian ke kota. Celananya berwarna krem muda, serta kopiah hitam yang selalu dipakainya untuk bepergian jauh.

“Padahal saya tak perlu diantar, Pak. Ojek juga kan tidak apa-apa” kata saya lagi.

Bapak tersenyum. “Bapak mau antar sampai ke terminal saja” jawab beliau.

Akhirnya kami berdua pergi. Di dalam angkot, Bapak bertemu beberapa orang sahabat lamanya dan mereka mengobrol akrab. Rasanya, tiap ketemu orang asing, Bapak pasti mengenal mereka. Bapak memiliki banyak kenalan di mana-mana, karena tiap bertemu orang-orang beliau selalu menyapa dengan ramah. Siapapun bisa langsung akrab dengan Bapak karena beliau senang berbicara apa saja.

Bapak membayarkan ongkos angkot kami. Lalu kami menunggu di agen bis langganan sambil mengobrol. Saya biasa bertanya tentang kondisi terminal terkini, atau kondisi kerabat-kerabat yang tak sempat saya jumpai lagi di kampung.

Hari itu, bis langganan datang terlampau cepat. Tidak sampai menunggu 20 menit, bis sudah datang. Saya menyalami dan mencium punggung tangan Bapak seperti biasa ketika akan pergi. Bapak mengusap bagian belakang kepala saya dengan tangan kirinya yang keriput. Lalu saya masuk ke dalam bis, dan langsung mendapatkan tempat duduk. Bapak berdiri di dekat pintu masuk bis sambil memegangi daun pintunya, seperti hendak menutupkan pintu itu. Tapi sopir bis berseragam hijau seperti bersimpati dengan usia Bapak dan mengatakan bahwa pintunya tidak usah ditutup, nanti ada kondektur yang menutup pintu tersebut.

Bapak berjalan di pinggir bis, melongok ke dalam bisa mencari-cari sosok saya. Saya berdiri agar Bapak bisa melihat saya dengan mudah sambil mengangkat tangan. Ketika bis itu melaju pelan-pelan, Bapak melambaikan tangan dan saya membalasnya sampai bis berbelok dan sosok beliau hilang dalam pandangan.

Selalu seperti itu setiap saya bepergian jauh, terutama kembali ke Bandung. Setiap itu pula dada saya selalu sesak dipenuhi keharuan, dan agak sedih mengingat Bapak yang saya tinggalkan di terminal. Lalu saya berjanji dalam hati, bahwa kelak saya akan secepatnya kembali lagi untuk melihat senyum dan mencium punggung tangan beliau lagi seperti biasanya.

Namun, itu terakhir kalinya saya melihat beliau. Sebelum saya sempat pulang lagi, pada tanggal 10 Nopember 2013, Bapak meninggalkan saya selamanya tanpa sempat saya melihat atau berbicara padanya sedikitpun.

Ledakan kesedihan yang tak pernah saya alami seumur hidup saya, walaupun saya tak bisa menjelaskannya dengan baik bagaimana rasanya, namun pikiran saya terus berkata-kata bahwa masa-masa dengan Bapak sudah berakhir. Benar-benar berakhir, dan tidak akan pernah ada kesempatan kedua untuk bertemu. Kepedihan tersebut benar-benar nyata. Senyata tangisan Mamah tiap kali beliau teringat laki-laki yang telah puluhan tahun hidup bersama setiap detik dan menitnya. Kami begitu terikat dan bergantung pada Bapak. Ikatan yang sudah tersambung bahkan sejak saya masih berada dalam rahim.

Namun, kepedihan tak boleh bersemayam terlalu lama. Sebagaimana yang sering Bapak katakan pada saya, bahwa yang beliau inginkan dari saya adalah agar saya senantiasa berbahagia. Hanya berbahagia dengan apapun yang telah saya capai dalam hidup. Sebab hidup terlalu sebentar untuk digunakan memeluk kesedihan yang telah berlalu.

Bapak, nyenyakkah tidurmu sekarang? Semoga tak ada lagi rasa sakit. Selamat malam, Pak. Sleep well.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s