The art of making sambel [bonus track : gula merah kawung]

Update

Ibu-ibu dan sebagian besar perempuan di desa saya bilang ‘salah satu keberhasilan perempuan dalam kehidupan rumah tangga itu dinilai dari masakannya, terutama sambel! Jadi kalau sambelnya enak, maka masakannya juga enak dan bisa memuaskan suami’. Mitos apalagi ini ya?

Saya sempat tidak mempercayainya. Kalaupun tidak bisa bikin sambel yang enak, ya tinggal belajar bikin masakan-masakan lain yang sehat, enak, dan penuh variasi. Sambel boleh tak enak tapi masakan lain bisa jadi enak. Lagipula kenapa penilaiannya, lagi-lagi, hanya untuk perempuan? Kalau laki-laki yang sambelnya tak enak kenapa tidak dipermasalahkan juga ya?

Ya memang sih, kemarin saya bikin kelepon dan gagal lagi! *gigit-gigit kaki meja*

Tapi kemudian, setelah dipikir ulang ternyata ngomyangnya ibu-ibu itu ada sisi positifnya juga. Minimal, saya jadi ketagihan untuk pindah ke dapur dan belajar memasak, terutama menantang diri sendiri bikin sambel. Manfaatnya apa? Yaa…. Jadi bisa bikin makanan sendiri, tak usah beli, berhemat dan bisa memilih bahan-bahan yang lebih sehat sesuai selera. Mungkin kemarin-kemarin saya terlalu fokus berguru pada sang guru cantik di Bandung soal ‘wanita harus mahir bercinta biar bisa harmonis dalam rumah tangga’ (intinya sama kayak memasak itu tadi kan?). Sekarang, berhubung saya malah LDR dengan sang guru, jadi agar tidak kesepian saya menyesatkan diri di dapur.

Tapi (lagi), yang harus dirombak dari kalimat-kalimat di atas adalah soal ‘memuaskan suami’ itu. Mungkin memuaskan suami nomor dua, nomor satu baik masak ataupun seks itu ya untuk memuaskan diri sendiri. Memuaskan suami hanyalah bonus saja wakwakwakwak. Eh, ya mari kita kembali ke topik.

Jadi, bagi penggemar sambel seperti saya, makan tanpa sambel itu rasanya kurang afdol. Walaupun tidak harus selalu ada sambel, tapi kalau ada sambel aktivitas makan jadi semakin penuh semangat. Sambel-sambel yang biasanya saya cicip di warung kebanyakan kurang begitu enak. Nah, di Sunda, tepatnya di daerah saya, sambel bisa dibuat dengan berbagai jenis bahan berbeda-beda.

Ada sambel kemiri (muncang), sambel tomat, sambel terasi, dan sambel kacang. Sambel ini bisa digoreng dulu atau langsung dimakan setelah diulek. Tapi lebih mantap yang langsung dimakan, tanpa harus digoreng dulu. Cara membuatnya sama, bahan-bahan dasarnya juga sama. Bahan pelengkap saja yang berbeda, sesuai namanya.

Bahan utama sambel : cengek (cabe hijau kecil kayaknya ya), garam, bawang merah, tomat, gula merah kawung (ini namanya sambel tomat). Semuanya ditumbuk sampai halus, lalu langsung dicocol lalapan deh. Tingkat kepedasan bisa disesuaikan dengan jumlah cengeknya. Tapi sebaiknya jangan terlalu pedas lah, beri toleransi pada kemampuan perut. Agar lebih mantap, semua bahan itu digoreng atau dibakar dulu sebentar. Baru diulek.

Untuk sambel  kemiri, bahan dasar di atas ditambah kemiri secukupnya. Sambel terasi, ya ditambah terasi. Sambal kacang juga hanya tinggal menambah kacang tanah yang sudah digoreng.

Terus, soal gula merah.

Setelah saya perhatikan sejak jaman dulu mengenai bumbu utama masakan, ada perbedaan mendasar antara gula untuk pemanis masakan yang dipakai ibu di rumah dengan yang digunakan orang-orang saat di Bandung. Orang-orang kebanyakan memakai gula pasir, tapi ibu saya selalu memakai gula merah kawung, kecuali untuk sayur sop. Saya juga tidak tahu alasannya. Tapi yang saya rasakan, masakan dengan gula merah kawung selalu lebih enak dan terasa campuran rasa manis dan asin garamnya.

Ibu juga memilih gula merah kawung, bukan gula merah kelapa karena katanya kawung lebih enak dan lebih mantap rasanya. Memang harganya juga lebih mahal karena proses bikinnya lebih lama serta penyadapan yang ribet dari lahang kawung. Dari dulu saya berpikir, kenapa lidah saya agak berbeda ketika memakan masakan di Bandung dibandingkan saat di rumah. Ternyata itu karena saya terbiasa dengan masakan memakai gula merah kawung.

Soal enak atau tidaknya, sebenarnya soal selera ya. Tapi buat saya, memakai gula merah kawung itu lebih enak. Untuk masakan yang digoreng atau bakar, gula merah kawung memang akan menimbulkan efek agak gosong seperti caramel, tapi justru di situ letak enaknya:mrgreen:

Sedikit tambahan informasi mengenai gula merah kawung bagi kalian yang ingin mencobanya, gula jenis ini bisa dibeli di pasar-pasar terdekat. Saya dan Ibu biasa beli di pasar tradisional. Belum pernah nemu di supermarket. Harga di pasar tradisional ciamis sekitar 12 ribu rupiah satu bonyor (ukuran satuan gula kawung). Entah kalau perkilo-nya berapa ya hehe. Ciri-ciri gula kawung adalah :

  1. Bentuknya bulatannya lebih besar daripada gula merah kelapa, bisa 2-3 kali lipat.
  2. Warnanya lebih gelap atau coklat pekat/tua daripada gula merah kelapa.
  3. Biasanya, gula kawung dikemas secara tradisional dengan janur kuning tua/daun kelapa tua yang sudah kering. Satuan bungkusnya bernama bonyoran dalam bahasa sunda, berisi 10 buah gula. Tapi mungkin kemasan sekarang sudah berbeda. Sekarang Ibu biasa beli satuan saja jadi ya tidak pakai bungkus apa-apa.
  4. Rasa manisnya lebih kuat dan enak/gurih.

gulakawung1

Perbedaan warna antara gula kawung dan gula kelapa. Gula kawung yang lebih tua warnanya (sayang persediaan gula kawung yang utuh bulat sudah habis)

gulakawung2

Struktur bagian dalam gula kawung

Semoga saya tidak galau lagi gara-gara gak bisa bikin sambel. Selamat makan!

3 thoughts on “The art of making sambel [bonus track : gula merah kawung]

  1. Posting ini akan lebih lezat kalau ditampilkan foto gula kawung berikut info tempat beli dan harganya.

    Btw jika tumbuk diganti blender atau ulekan apa rasa akan berubah?

    Like

  2. @tipatul & Gen :
    Sudah saya apdet. Silakan.

    @tipatul :
    Ya memang diulek. Mestinya diblender juga bisa dan rasanya harusnya tidak berubah. Tapi saya belum pernah nyoba bikin sambel dengan blender sih, karena biasanya bikin sambelnya juga sedikit. Jadi diulek doang juga tidak repot.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s