Ilusi Move On

Beberapa kutipan yang saya comot dari diskusi di sebuah grup tentang #move on.

Edwin The Crow said :

You think you’ve moved on.

You don’t.

Time is not a linear thing as you think it is. We all imagine time as a straight line, where things move forward. With this kind of perspective, when your mind linger to a past event you’re called ‘unable to move on’.

However, time and all events it contains is not a linear line at all. To understand time, try to imagine it as the earth’s atmosphere. You live within it. You are it. Everything that you’ve experienced is you. Throw away one tiny detail and you won’t be you.

This is why you don’t move on. You can’t.

Everything out there helped shaping you into what you are now, and what you will be, which are actually one same thing. You may think you’ve moved on, but that’s just it. YOU THINK. Whatever thinks you want to leave behind still lives within you.

THAT’S WHY I DON’T FORGET.

AND I DON’T FORGIVE.

NEITHER DO YOU. YOU SIMPLY TOLERATE.

You learn to live with it.

You learn to accept it.

Kalau menurut Denny Baonk Monoarfa begini :

#Move on itu diciptakan, supaya Hollywood bisa bikin film komedi romantis.

Dalam perspektif umum yang dipakai, waktu akan menyembuhkan.

The truth : engga la yau.

Tapi nipu, manipulasi. Kesadaran kan memang satu cara efektif untuk survive. Tapi kadang orang harus bersandar pada ‘time will heals’ atau sejenisnya.

Sebetulnya, apa yang terjadi ketika move on itu diperkenalkan dan dipopulerkan dalam budaya sekarang.

Untuk apa? Bikin manusia lebih sehat? Mental lebih baik?

Satu hal pasti, sekedar kata move on ini dipopulerkan ya untuk dagangan.

Jadi, gimana caranya menginfiltrasi-mendoktrin orang supaya move on jadi penting. Angkat kisah cinta, bumbui haru biru, bagaimana perjuangan orang untuk melupakan kegagalan cinta, untuk bangkit, bungkus dengan ending yang happy.

Dyar. Jadilah manusia sekarang ngomyang soal soulmate, move on, etc. Dan sinetron korea laku, komedi romantis laku. Yang beragama gak mau kalah ambil kesempatan. Kasi dong basis berpikir agamis. Jling! Jadilah ayat-ayat cinta.

So?

Ya konon katanya, beberapa luka memang tidak akan pernah sembuh. Bahkan mungkin tiap luka memang tidak ada yang bisa sembuh. Karena itu sudah menjadi bagian dari orisinilnya diri kita walaupun kita sudah menghilangkan luka tersebut dengan operasi plastik hehe. Yang terpenting, seperti yang saya simak dari kuliah di atas, adalah menerima kenyataan. Terus hidup dengan membawa seluruh luka. Karena lama-lama kita pun akan terbiasa. Itu tidak akan menjadi hal yang penting lagi.

Tapi yaaa istilah move on tetap dibutuhkan untuk mendramatisasi hidup kan? Dan untuk jualan di buku-buku novel drama percintaan:mrgreen:

 

 

8 thoughts on “Ilusi Move On

  1. benar banget itu, teh! memang istilah moveon itu marketing belaka.
    tapi ya tetap kita harus belajar dari pengalaman, jangan kelamaan nongkrong ditempat hanya utk meratapi kepedihan basi, sudah sundul itu kena pantat. geser dikit lah.

    Like

  2. Justru yg bilang move on is just an illusion atau dagangan belaka yg bullshit.

    Diam di tempat, it’s a complete waste of time. Who cares about what morons do with their moronic lives? Hell yeah!

    Don’t waste time on such rubbish, move on :p

    Like

    • Blablabla, whatever.

      How could a person so addicted to her/his own sadness. Males banget berasa sama tembok, hare gene masih ada katak dalam tempurung, siyal amat.

      *kasar ya? sengaja, depan publik lagi. Consider it a slap in back head. U may hate, not an issue, coz I don’t like bullshit.

      Like

  3. Apa yang dikatakan the crow itu benar, whatever happened to our life helped shaping the person into what he/she is now. Tapi itu yang namanya efek dari pengalaman tentunya.

    Mengenai ilusi, saya rasa itu cuma semacam kamuflase atau pembenaran untuk mereka yang belum yakin akan ke-move-on-nannya itu.

    Jadi kesimpulannya, kalo kamu berhasil terus maju ke depan tanpa meratapi hal yang lalu, itu tandanya kamu move on beneran. Bukan ilusi. Tapi kalo kamu sudah terus maju menjalani hidup tapi masih memikirkan “what if” or “how if” soal masa lalu, dan dilain waktu meyakinkan diri kmu sudah move on, ya itu bisa dibilang masih dalam tahap ilusi move on.

    Jadi soal tahapan aja ternyata.. *baru sadar sendiri*

    Like

  4. Pingback: Moving Forward Ala Al-Qarni | Yang Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s