Mengajari Balita, Sulitkah?

Keponakan saya masih balita, perempuan, berusia 2,5 tahun. Kalau sedang baik, dia senang sekali mengobrol dan bersikap sangat menyenangkan. Apalagi ke sesama anak-anak atau balita lain, meskipun baru kenal tapi tidak pelit dan mau diajak bermain. Saya memperhatikannya dengan senang hati berbagi biskuit dengan anak yang lebih tua, bahkan mengambilkannya biskuit baru. Padahal sebelumnya, anak yang lebih tua itu sangat pelit dan sama sekali tidak mau berbagi apapun padanya. Tapi, dengan orang-orang dewasa sikapnya sangat berbeda. Jika belum kenal, dia sangat pendiam, tidak menjawab pertanyaan sama sekali, dan tidak mau diajak bermain. Hanya menempel pada ibunya saja. Jika sudah kenal, dia akan sibuk mengajak ngobrol dan memanggil-manggil nama kita.

Saya sendiri butuh waktu seminggu lebih untuk bisa dikenal oleh keponakan yang cantik ini, karena saya jarang sekali bertemu dengannya.

Saya pikir, mungkin memang tiap anak punya semacam kemampuan mengenali mana yang sama seumurannya, anak yang lebih tua, dan orang-orang dewasa. Rasa malu dan pendiam ketika saat bersama orang dewasa asing apakah memang sifat dasar anak-anak atau tergantung dari pola pendidikan dini dari orang tuanya, ya? Karena saya pernah menemukan beberapa balita yang mudah akrab dengan orang dewasa, tidak pemalu atau takut mengkerut bertemu orang dewasa asing, jadi saya berkesimpulan hal itu dipengaruhi pendidikan awal oleh orangtuanya.

Sayangnya, sikap yang menyenangkan ini diiringi dengan kebiasaan mengamuk yang buat saya pribadi lama-lama cukup menjengkelkan. Entah mungkin karena manja atau apa, tapi dia selalu mengamuk jika ada hal-hal yang dia inginkan tapi tidak dikabulkan oleh ibunya saat itu juga. Misal, jika ingin jajan dan tidak dikabulkan, jika bangun tidur dan tidak ada ibunya di sampingnya, jika diabaikan untuk hal apapun (walaupun tentu bukan sengaja diabaikan dan ibunya sudah mengatakannya pada si anak). Amukannya berupa jeritan setinggi langit yang bikin pening kepala. Dia akan terus menjerit nyaring (sampai saya kuatir dengan leher dan pita suaranya)  dan tidak akan pernah berhenti sebelum ibunya mengabulkan apa yang diinginkannya. Tak ada yang bisa menangani jika sudah begitu, kecuali orang tuanya.

Nah, tidak mau sama orang lain selain ibunya juga sepertinya bikin repot. Mengajaknya bicara juga sia-sia saja jika sedang mengamuk begitu rupa.

Walaupun anak-anak, terutama balita, kadang banyak dimaklum/wajar jika manja dan mengekspresikan perasaan atau pikirannya dengan menangis,  tapi kalau keseringan manja, mengamuk mengerikan, tentu sudah tidak wajar lagi kan? Mengharapkan anak-anak untuk selalu so sweet dan selalu paham dengan perkataan orang dewasa (terutama orangtuanya) juga tidak mungkin, tapi bukan berarti bisa membiarkan balita-balita menggemaskan ini mengamuk tiap kali merasa terabaikan. Kalau menangis karena jatuh, merasakan sakit, atau diganggu saudaranya atau anak-anak lain mungkin juga masih wajar, tapi mengamuk tiap kali ada keinginan yang tidak tercapai akan menjadi kebiasaan buruk. Selain suara yang bising, juga bikin pening satu kampung.

Jadi bagaimana mengajari balita supaya lebih cool dan mengerti bahwa tak perlu menangis menjerit sekerasnya jika ibunya terlambat mengabulkan kemauannya? Atau tidak mengabulkannya karena alasan-alasan tertentu? Apakah balita bisa diajak berkomunikasi perlahan-lahan? Mungkin dengan memberikan contoh bersikap yang baik setiap kali akan melakukan berbagai kebiasaan di rumah?

Saya yakin, sebenarnya balita itu bisa memahami apa yang dimaksudkan ibunya. Walaupun butuh waktu lama, tapi pasti bisa jika ibunya lebih sabar mengajarinya. Saya pernah menemukan balita yang sangat aktif, tidak pemalu, mengerti jika ibunya meminta tunggu dulu, dan biasanya hanya menangis jika jatuh, sakit, atau diganggu kakak laki-lakinya. Misal, dia sama sekali tidak rewel atau mengamuk ketika ibunya meminta untuk tidak main di luar dan bermain sendiri di dalam rumah, sedangkan ibunya sibuk di dapur. Dia mau menunggu saat bilang ingin mamam (makan) dan ibunya menyiapkan dulu makanan untuk kakak laki-lakinya. Ibunya sudah menerapkan pola komunikasi yang disiplin dan dilakukan terus menerus, dengan kesabaran, dan selalu dengan suara lembut. Tidak membentak-bentak. Sehingga balita itupun terbiasa dengan komunikasi seperti itu. Bahkan, balita ini bisa menunggu diam dan hanya berjalan kesana-kemari di sekitar ibunya ketika ibunya bilang akan sembahyang dulu.

Namun, saya membayangkan, pasti dibutuhkan kesabaran yang super dahsyat dari para ibu untuk bisa menghadapi dan mengajari balita agar bisa sampai semenyenangkan itu. Makanya, tiba-tiba saja saya kagum dengan para ibu yang sudah meluangkan seluruh waktu dan tenaganya untuk membentuk karakter-karakter anak yang lebih baik. Karena dari hal-hal yang tampak sepele saja, misal agar balita tidak mengamuk aneh, itupun membutuhkan kesabaran level atas. Para ibu harus mengendalikan emosi agar tidak marah-marah pada anaknya atau mencubiti mereka karena terlalu kesal. Pun untuk tidak membentak dan berkata kasar. Itu luar biasa. Karena saya sendiri, baru sampai level menghadapi amukan saja sudah pening berkunang-kunang.

Sebuah tantangan bagi para ibu dan bapak nih, atau yang masih calon. Saya juga merasa tertantang:mrgreen:

Update : gejala ini ternyata namanya tantrum. 

PS. Re-post seperti biasanya, karena (lagi-lagi) setelah berasik-asik di tempat lain malah harus balik kemari gara-gara mau ikutan lomba blog, karenanya saya harus rajin apdet blog ini (karena umur blognya) =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s