Hubungan Tanpa Label

Teringat isi twit mbakrimah mengenai seksualitas ketika saya mengajukan pertanyaan “by saying that we can ask someone we love just to have sex, does it mean we’re being sex friend/friend with benefit?”, beliau mengatakan “those are labels, it depends what kind of labels you want to put on yourselves. Me, I dont like labels”.

Label. Dalam kasus yang saya maksud di sini untuk hubungan antara lelaki dan perempuan. Dengan label tersebut kita menamai hubungan yang terjalin antara lelaki-perempuan itu sehingga hubungan bisa didefinisikan dan diketahui dengan jelas mengenai hal-hal apa saja yang melekat di dalamnya, termasuk aturan main dan larangan atau keharusan bagi pihak yang menjalani. Ini semacam aturan tak tertulis layaknya adat istiadat di masyarakat. Kecuali tentunya label yang memiliki kekuatan hukum lebih kuat karena ada bukti hitam di atas putih, yaitu pernikahan. Hak-hak dan kewajiban atau aturan main bagi pelaku pernikahan sudah jelas dibahas sepaket dengan pernikahan itu sendiri.

Siapa pencetus penamaan/label hubungan? Entah. Siapa yang membuat semua aturan dalam hubungan-hubungan tersebut? Saya tidak tahu juga. Sering kita dengar tentang label-label (di Indonesia) : pacar, teman tapi mesra, hubungan tanpa status, teman mesum, dan sebagainya. Bahkan dalam kamus bahasa Inggris, bentuk hubungan tersebut lebih banyak macamnya dengan definisinya masing-masing.

Tampak rumit ya?

Di hollywood, bentuk hubungan tanpa status atau teman mesum pernah menjadi tren, dan bermunculanlah film-film bertema nyaris sama semisal ‘No String Attached’ dan ‘Friend With Benefits’. Tapi biasanya film tersebut memiliki alur cerita yang sama saja, semuanya klise dan penuh kisah muluk yang dibuat happy ending untuk memuaskan penonton saja. Happy ending yang bagaimana? Ya semuanya akan berakhir pada satu kesepakatan yang awalnya dihindari mati-matian lalu pihak pelaku hubungan terjebak dalam kata suci dan agung : Cinta.

Tapi, ada satu film sejenis ini yang berbeda dan menurut saya cukup realistis. Judulnya ‘500 Days of Summer’. Kisah mengenai Tom Hansen dan Summer Finn yang tidak akan pernah berakhir seperti omong kosong film-film lain yang saya sebutkan di atas.  500 Days of Summer berkisah mengenai dua orang muda yang saling tertarik, menjalin hubungan tanpa ikatan dengan seks rutin di dalamnya, lalu salah satunya harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa ‘takdir mempertemukan belahan jiwa’ atau ‘seseorang yang ditakdirkan’ hanyalah dongeng belaka.

Summer Finn di mata Tom Hansen adalah seorang perempuan yang nyaris sempurna; perpaduan kecantikan, kecerdasan, sedikit cuek, dan supel dalam pergaulan membuat siapapun bisa dengan mudah menyukai Summer Finn, dan Tom Hansen mengira bahwa pertemuan dengan seorang gadis semacam Summer Finn diantara ratusan juta perempuan di kota itu merupakan skenario takdir, dan bahwasanya dia telah bertemu dengan perempuan yang tepat untuk menjadi pasangannya. Tom Hansen tertarik pada gadis itu, dan tampaknya Summer Finn menyambut PDKT lelaki itu dengan baik. Maka mereka pun berteman.

Obrolan yang nyaris selalu nyambung, beberapa minat yang sama, selera musik yang mirip, pertemuan rutin di kantor (karena mereka sekantor) membuat keduanya semakin dekat. Hari-hari dilewati Tom Hansen dengan penuh sukacita dan energi yang meluap-luap. Keduanya makin dekat dan intim, hingga suatu ketika sebelum hubungan seks pertama mereka, Summer Finn berkata “sebenarnya aku sedang tidak ingin menjalin hubungan serius”. Walaupun tampak berusaha untuk tidak sedikit kaget (mungkin juga kecewa), Tom Hansen menjawab, “tidak apa-apa”. Summer Finn bertanya lagi, “benarkah? Apa itu tidak tampak aneh? Sebab orang-orang biasanya akan menganggapnya hal yang aneh jika kita tidak menjalin hubungan yang serius tapi bisa se-intim ini”. Tom Hansen menggeleng dan menjawab dengan hati-hati, “tidak apa-apa, kita jalani saja dulu”.

Mereka pun menjalaninya dengan natural saja. Seperti sepasang kekasih dimabuk asmara. Jalan-jalan berdua, makan bareng, nonton, dan tentu saja berhubungan seks. Orang-orang pasti menyangka, dengan keromantisan begitu rupa, mereka sedang berpacaran. Baik Tom maupun Summer hanya menjalani apa yang mereka ingin lakukan pada waktu itu tanpa berpusing-pusing soal label atau mendeklarasikan kebersamaan mereka dengan nama jenis hubungan dan mengumumkannya pada dunia. Sekilas, dalam beberapa lama hubungan seperti itu tampak indah dan tidak ada masalah.

Masalah muncul kemudian karena, seperti yang dikatakan kawan saya Na, Summer Finn melakukan kesalahan besar. Wanita cantik ini pernah menceritakan pada Tom suatu kisah pribadi di masa lalunya dan dia berkata “aku tidak pernah mengatakan hal ini pada siapapun”. Bagi Tom yang mulai dilanda asmara, hal itu lantas memberikan sugesti bahwa mungkin Summer Finn menganggapnya seorang yang spesial juga. Dari sinilah Tom mulai dipusingkan dengan status hubungan mereka –dia pun akhirnya terjebak dalam wacana yang biasanya dipikirkan para wanita “kita ini sebenarnya apa sih?”. Tom mulai mencari-cari kemungkinan bahwa Summer menyukainya dan berusaha melabeli hubungan mereka, misal dengan mengharapkan bahwa Summer Finn akan menyebut acara nonton bersama sebagai kencan. Dia bertanya sebelum pergi nonton, “apa yang akan kita lakukan?”. Summer Finn menjawab dengan cuek, “kita akan menonton film bersama” dan bukan kata ‘kencan’ seperti yang diharapkannya.

Tom Hansen makin menyimpan harapan pada Summer Finn saat disadarinya bahwa gadis itu TIDAK PERNAH BERHUBUNGAN MESRA/MELAKUKAN SEKS DENGAN PRIA LAIN selama pertemanan mereka yang intim itu. Tapi ternyata harapan hanyalah tinggal harapan. Sebab kisah mereka berakhir saat Summer Finn pindah kerja, pindah kota, dan tidak lagi menjadi menjadi teman mesumnya. Hal ini membuat Tom Hansen emosi, menjadi orang yang sedikit maksa, dan berusaha membawa kembali Summer Finn untuk bersamanya. Tapi Summer Finn menolaknya dan pria itu tak pernah tahu alasannya (tak perlu alasan apapun untuk mengakhiri sebuah hubungan tanpa label kan? Selain mungkin karena bosan). Tom Hansen menjadi setengah gila dan hidupnya menjadi sangat kacau, apalagi saat Summer Finn akhirnya memilih lelaki lain.

Tom Hansen berusaha keras menerima kenyataan bahwa Summer Finn bukanlah ‘the one’ atau ‘miss right’ yang merupakan jodohnya sehingga ungkapan ‘kalau jodoh takkan kemana’ itu menjadi utopia saja. Banyak penonton yang menyebut Summer Finn sebagai Bitch yang mempermainkan dan memanipulasi perasaan pria setulus Tom Hansen. Tapi buat saya sendiri, Summer Finn adalah wanita keren karena dia tidak seperti perempuan pada umumnya : dia tidak berperasaan, haha! Dan satu lagi kerennya dia adalah, dia bisa setia pada jenis hubungan apapun. Dia betul-betul hanya berhubungan dengan Tom Hansen walau mereka tidak pernah meresmikan hubungan, padahal dia bisa menarik lelaki manapun yang dia inginkan.

Film ini merupakan salah satu contoh dari hubungan tanpa label dengan segala manis-pahitnya. Mungkin, hubungan semacam ini akan berhasil bagi orang-orang yang sudah berpengalaman sebelumnya (berpengalaman seks maupun berpacaran). Apa keuntungan yang bisa didapat? Ya, bebas melakukan apapun dengan pria/wanita lain karena tidak pernah ada janji untuk saling setia dan blah blah lainnya yang biasa mengikat pasangan yang mendeklarasikan hubungan mereka. Jadi, saat ‘ya kita berpacaran’ itu mungkin sudah sepaket dengan aturan-aturan tak tertulis yang sudah saya sebutkan di atas. Masing-masing orang harus punya tanggung jawab untuk menjaga hubungan tersebut, jika sudah tidak bisa dipertahankan, maka bubarnya pun diresmikan. Satu hal penting lagi, dalam hubungan resmi berlabel, kita akan punya objek untuk dibully atau dibenci saat hubungan gagal karena berbagai macam hal. Kita bisa menyalahkan pasangan jika hubungan retak karena selingkuh, misalnya. Kalau hubungan tanpa label, jika ada perasaan sakit, siapa yang bisa disalahkan? Itu derita sendiri =))

Jadi, saya menyimpulkan bahwa walaupun label bagi sebagian orang menjadi tidak penting, tapi itu akan berlaku sukses bagi orang-orang yang sudah bisa mematikan rasa atau orang-orang yang sudah benar-benar menyayangi pasangannya dengan tulus. Maksud saya begini, jika kita benar-benar menyayangi seseorang maka kita tak akan peduli kalaupun orang tersebut akan membalas perasaan kita atau tidak, apakah akan menjadikan kita sebagai pasangan resminya atau tidak. Dan pada saat itu, kita tidak merasa sakit atau kecewa karena toh kita tak mengharapkan apa-apa, juga tak memaksa mau memiliki. Tapi kira-kira ada tidak ya orang yang seperti itu?😀.

Lalu kenapa orang bisa memilih berhubungan tanpa label tapi intim, seperti Summer Finn? Mungkin karena tidak ingin merepotkan diri dengan ‘keharusan ini-itu’ seperti jika dengan pacar (terkekang kewajiban kepada pacar), atau tidak ingin menghadapi resiko yang banyak timbul dari hubungan resmi berlabel. Atau hanya untuk bersenang-senang saja, berlepas diri dari segala tuntutan dan tanggung jawab yang harus dipikul saat meresmikan hubungan. Tapi, kenapa tidak ada orang yang mencoba untuk berhubungan resmi tapi bersepakat untuk tidak banyak tuntutan/resiko layaknya hubungan yang biasa terjadi? Mungkin masyarakat akan memandangnya suatu hal yang aneh ya?

Mestinya hubungan berlabel apapun harusnya dibuat menjadi tempat bersenang-senang juga bukan? Terserah pelaku mau membuat hubungan tersebut dengan citarasa sesuai seleranya, tapi tentu harus dengan orang yang memang satu visi juga untuk menjalani pola hubungan seperti itu, agar tidak ada yang merasa tersakiti. Dengan demikian, tidak perlu takut dengan hubungan berlabel karena bisa menimbulkan resiko kan? Mungkin pengalaman akan menimbulkan ketakutan dan ‘kapok’ yang berlebihan karena kejadian yang terus berulang tanpa perbaikan, tapi menurut saya, hal itu bukan untuk dijauhi dan ditakuti secara berlebihan tapi dirombak saja sesuai kebutuhan. Eh, bisa tidak ya? Jadinya seperti bermain-main dan tidak serius ya? Ya memang baiknya tidak selalu serius karena hanya akan menjadi beban, beban rasa takut banyak tuntutan dari pasangan.

Whateverlah. Semuanya tergantung dari pilihan masing-masing, pada akhirnya. Dengan menimbang segala resiko buat diri kita dan juga untuk orang yang terlibat dalam pilihan kita tersebut.

Saya jadi bertanya-tanya, mungkin ternyata hanya sedikit saja orang-orang yang menjadi pasangan resmi atau apalagi menikah karena betul-betul saling suka dengan tulus. Mereka hanya tersugesti dan berilusi bahwa mereka menikah karena cinta, dan mereka tidak menyadarinya. Mungkin sih. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s