Menyoal Teori Gelas

Pernah mendengar teori gelas? Dua orang penulis seksi, Sarjo dan Sarmet, menjelaskan pada saya tentang teori ini.

Secara sederhana, teori gelas menggambarkan tentang hubungan lelaki dan perempuan dengan menggunakan analogi gelas. Pssst, menurut mereka, teori gelas biasanya dipraktekkan oleh para lelaki. Teori gelas diaplikasikan dalam hubungan-hubungan komitmen ataupun non komitmen sehingga menjadi salah satu alternatif agar tidak terjebak dalam kesakitan berlebihan yang diakibatkan oleh hubungan tersebut. Mungkin begitu.

Adakah yang baru dalam teori ini? Tidak juga. Teori ini sebenarnya sama dengan sistem cadangan dalam berpacaran, cocok bagi yang tidak ingin terlalu serius dan tidak terlalu terikat secara mendalam dengan satu orang saja, ajang balas dendam, atau hanya bersenang-senang saja dan mendapatkan lebih banyak benefit dari hubungan tersebut. Hubungan yang lebih serius atau komitmen juga bisa menerapkan teori gelas, tapi tentu harus dilakukan oleh para profesional.

Apa isi teori gelas ini? Akan saya jelaskan secara singkat saja.

Ibaratkan bahwa ada sebuah gelas kosong di depan anda. Gelas itu merupakan hubungan dengan orang yang anda sukai/cintai/kasihi atau apapun lah. Dan ibaratkan perasaan anda sebagai air. Ketika anda menyukai seseorang tersebut, seolah-olah anda menuangkan air itu ke dalam gelas. Setiap perasaan bertambah kuat, semakin banyak air yang tertuang ke dalam gelas. Begitu seterusnya. Lalu, kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Semakin lama air akan semakin penuh, sampai mencapai batas maksimumnya. Dalam posisi air yang sangat penuh, goncangan sedikit saja akan membuat air tumpah ruah keluar, iya kan? Gelas menjadi sangat rentan. Yang lebih buruk,  jika air terus dituang dalam satu gelas itu, lama-lama akan meluber bukan? Tidak terkontrol. Membanjir kemana-mana. Gelas itu tidak mungkin sanggup menampung airnya. Sayang kan, air diboroskan sampai membanjir dan malah menimbulkan masalah?

Dapatkah kita memperbesar gelas dengan paksa supaya bisa menampung air sebanyak apapun? Tidak kan?

Nah, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegar air itu membanjir sia-sia adalah dengan MENYEDIAKAN GELAS YANG LAIN. Air yang terus mengalir bisa dialihkan pada beberapa gelas lain, supaya di gelas yang pertama airnya tetap terjaga dan tidak meluber kemana-mana. Gelas dan airnya akan tetap aman dengan goncangan sebesar apapun, karena airnya masih dalam batas normal, setengah gelas saja, atau bahkan seperempatnya.

Demikian saja penjelasan teori gelas. Anda bisa mempratekkan teori gelas dengan syarat utama: jadilah pemain yang punya skill hebat agar tetap bisa mengontrol semua kondisi hubungan, apalagi untuk hubungan-hubungan komitmen.  

Saya sendiri tidak setuju dengan teori gelas. Apa sebab? Saya bertanya-tanya, dimana letak kontrol diri sendiri jika air yang banyak disediakan gelas yang banyak pula? Karena toh sebanyak apapun gelas, jika airnya tidak dikontrol dari sumbernya, tetap akan ada kemungkinan banjir dan luber. Mungkin banjir dalam bentuk yang lain.

Kita juga tidak bisa memaksa memperbesar daya tampung gelas karena mungkin itu malah merusak gelas itu sendiri. Solusi yang saya pilih adalah, tetap fokus pada satu gelas saja, tapi pikirkan berbagai macam cara untuk bisa mengontrol aliran air agar bisa tetap sesuai kadarnya. Pasanglah alarm agar bisa mengingatkan kita saat aliran air mulai deras dan muncul bunyi peringatan banjir. Itu tandanya kita harus mengusahakan semaksimal mungkin agar air mengecil atau diatur sedemikian rupa agar tidak meluber melebihi kapasitas gelas.

Menjaga satu gelas saja, dan mengontrol aliran air untuk bisa muat sesuai kapasitasnya saja. Daya tampung 1500 liter, ya masukkanlah air sesuai takaran, atau lebih bagus kalau kurang sedikit. Yang penting masih dalam posisi aman. Goncangan dan gerakan dari luar tidak akan membahayakan gelas dan airnya.

Mungkin, gelas-gelas itu juga tidak akan peduli kalau kita menjadikanya sebagai gelas cadangan atau bukan, toh mungkin gelas-gelas tersebut juga mempraktekan teori yang sama. Semua menyatu dalam lingkaran permainan. Tapi saya tetap yakin bahwa setiap orang punya potensi dan kapasitas masing-masing yang mencukupi, hanya kadang potensi-potensi tersebut belum keluar semua. Kita bisa membantu mengeluarkannya. Yang lebih penting lagi, seperti yang saya tulis di atas, mengendalikan diri sendiri. Bahkan pun untuk jenis hubungan non komitmen.

Sebab, saya kadang berpikir, bagaimana kalau salah satu gelas itu ternyata sangat serius dan tidak menganggap hubungan tersebut sebagai permainan saja, tentu akan sangat sakit baginya. Saya membayangkan berada dalam posisi salah satu gelas itu, tentu tidak nyaman sekali. Maka mungkin gelas itu juga merasakan hal yang sama.

Jadi bagaimana, berapa gelaskah yang sekarang anda miliki?

Terima kasih pada Sarjo dan Sarmet, para pakar gelas profesional yang perkasa :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s