Masalah Real dan Non Real

Seorang kawan bercerita begini ‘ketika seseorang telah menikah, biasanya yang dihadapi adalah masalah-masalah real, seperti kehamilan, kesehatan anggota keluarga, merawat anak-anak, biaya pendidikan, ekonomi rumah tangga, dan sebagainya, yang lebih real atau nyata sehingga penyelesaian-penyelesaiannya pun bersifat material/berbentuk wujud fisik’.

Ini membuat saya berpikir bahwa permasalahan-permasalahan yang kita hadapi sebenarnya dibagi dalam 2 kategori umum, yaitu masalah real dan non-real.

Sederhananya, masalah-masalah real ini tampak nyata dan terlihat wujud fisiknya sehingga penyelesaiannya pun bersifat real juga, bisa melibatkan orang-orang disekitar karena mereka juga dapat melihatnya sebagai suatu masalah (yang membedakan adalah persepsi tentang besar/kecilnya masalah atau berpengaruh atau tidaknya masalah tersebut dalam kehidupan masing-masing). Sedangkan masalah non-real biasanya hanya bersarang di otak, melibatkan perasaan yang tidak berwujud sehingga tak siapapun bisa dilibatkan dalam persoalan ini, dan penyelesaiannya benar-benar hanya bisa dilakukan oleh diri kita sendiri yang sedang memilikinya.

Agar lebih jelas, mungkin saya langsung memberikan contoh. Masalah real misalnya, ketika kita atau keluarga kita sakit berat di bagian tubuhnya (apapun jenis sakitnya), maka penyelesaiannya adalah pergi berobat ke dokter dengan sejumlah uang. Maka dokter dan uang ini adalah penyelesaian yang berbentuk materi. Orang lain bisa membantu menyembuhkan atau membantu mengantar kita ke dokter, memberikan saran-saran obat, memberikan pinjaman uang dan lain sebagainya.

Masalah non real, misalnya seseorang yang galau karena sakit hati ditinggal pacarnya, atau kegelisahan menghadapi masa depan yang tidak pasti, atau kebimbangan menghadapi 2 pilihan calon suami, atau kegelisahan karena belum menikah. Nah, tak seorang bisa melihat bentuk wujud dari permasalahan-permasalahan ini karena hanya berada dalam otak dan pikiran kita saja. Semua melibatkan perasaan. Jadi solusinya pun berhubungan dengan otak : memanipulasi otak untuk berpikir secara berbeda, dan tak ada seorangpun yang bisa membantu menyelesaikan permasalahan ini selain diri kita sendiri yang harus mengobatinya atau menentukan langkah yang lebih menenangkan pikiran kita sendiri.

Membuat pelampiasan secara fisik juga memang bisa –misalnya dengan berjalan-jalan bersama teman satu geng atau meyibukkan diri secara fisik, tapi itu biasanya hanya temporer, karena biasanya kegelisahan/kegalauan tersebut akan muncul kembali di sela-sela waktu kita. Dan pada akhirnya, pelampiasan ini sebenarnya adalah bentuk pengalihan kita dari tenggelam dalam masalah non real menjadi menyibukkan diri dengan masalah-masalah real. Misal, kita membuat pelampiasan sakit hati ditinggal pacar atau gelisah menghadapi masa depan dengan lebih fokus pada memperhatikan kesehatan diri sendiri dengan melakukan olahraga rutin atau mencari sumber penghasilan yang lebih maksimal untuk memenuhi kebutuhan hidup secara lebih mapan.

Konon, orang yang sudah dewasa, salah satunya adalah orang-orang yang sudah bisa membuat prioritas untuk lebih fokus pada masalah-masalah real. Persoalan gundah gulana yang melibatkan perasaan-perasaan pribadi tidak lagi menjadi sesuatu yang besar atau penting bagi orang-orang dewasa. Mereka, konon, lebih fokus pada peningkatan kualitas hidup dirinya dan orang-orang di sekitarnya yang bersifat lebih real. Misal menciptakan bisnis sendiri, terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, fokus pada orang-orang di sekelilingnya yang juga memerlukan perhatian dan bantuannya dan lain sebagainya. Sedangkan untuk persoalan personal seperti sakit hati, kegelisahan belum menikah dll hanya menjadi konsumsi dirinya sendiri dan mereka sudah bisa mengatasi itu tanpa melibatkan orang lain dan bahkan orang lain pun tidak akan tahu persoalan-persoalan dirinya tersebut. Atau bahkan, dia tidak sempat/punya waktu untuk mengurusi hal-hal seperti itu lagi karena terlalu sibuk dengan masalah-masalah real.

Nah, apakah kedua bentuk masalah tersebut ada yang lebih besar/penting satu dari yang lainnya? Tidak. Semua memiliki kadar dan porsinya masing-masing. Setiap orang memiliki masalah dalam hidupnya, dan saya yakin bahwa manusia selalu punya energi untuk menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri. Mereka yang kreatif dan bertekad untuk berubah, adalah yang bisa bertahan dan terus maju menyongsong kehidupan selanjutnya.

Semoga saja, dengan mengenali masalah-masalah yang sedang dihadapi sendiri saat ini, kita menjadi lebih mudah untuk menentukan langkah mengenai apa yang akan dilakukan dengan masalah tersebut dan mengusahakan penyelesaiannya dengan lebih optimal. [Sunday, June 16, 2013]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s