Pemilik Rahim

Untuk Euis Maemunah.

Beliau dipanggil Emak sejak kecil, lalu menjadi Mamah setelah kedua anak terakhirnya semakin membesar. Entah kenapa. Mungkin karena Emak terasa terlalu kampung. Tapi beliau tetaplah seorang perempuan yang lugu dan berusaha semampunya menyesuaikan diri dengan jaman yang terus berubah, berusaha untuk memahami pola pikir anak-anaknya yang telah meretas jauh menuju peradaban yang tak dapat beliau jangkau lagi.

Pada masa-masa keemasan masa mudanya, beliau mewarisi cara-cara yang dianggap baik dari para orang tua sebelumnya untuk menghadapi kehidupan. Banyak hal telah berubah, dan beliau menyadari ketuaan yang pelan-pelan menggerogoti waktu hidupnya dan sepanjang yang saya tahu, kehidupannya sebagai perempuan utuh yang mandiri –ketika beliau hidup untuk dirinya sendiri, amatlah singkat. Pada usia sebelum 15 tahun, beliau harus menghadapi apa yang disebut garis kehidupan yang diajarkan para orang tua untuk tetap bertahan hidup dengan cara melangkah pada fase-fase kehidupan perempuan pada umumnya sepanjang yang mereka tahu : menikah dan membesarkan anak-anak, dan terus mengantarkan mereka menuju peradaban baru walaupun mereka tak akan pernah melihatnya sendiri.

Pada saat itulah, beliau tidak hidup untuk dirinya sendiri. Tapi sepertinya, beliau hanya ada untuk anak-anaknya saja.

Beliau hanya mengecap pendidikan sampai sekolah dasar, lalu beliau berkewajiban menunaikan tugas-tugas kehidupan perempuan pada jamannya, sampai saat ini. Pada usia yang demikian muda, beliau tidak pernah hidup untuk dirinya lagi, dan sebagian besar waktunya adalah untuk mengantarkan keluarganya pada kehidupan yang lebih baik dan bertahan hidup dengan cara-cara yang beliau anggap baik, termasuk juga saya. Saya lahir dari rahimnya, dan sejak saat itu sampai saat ini, saya telah menjadi manusia yang senantiasa menyibukkan pikirannya tanpa pernah mengeluh sedikitpun dengan apa yang telah saya perbuat di masa lalu.

Lalu sekarang usia beliau sedemikian tua, jaman telah berubah, perbedaan generasi yang terpaut jauh membuat pikiran-pikiran anaknya terus berkembang sedangkan beliau tetap memandang kehidupan dengan seluruh latar belakang pada masa mudanya yang diwariskan pula dari para orang tuanya. Tapi beliau tetap berusaha keras untuk menjadi seorang perempuan yang bisa menjadi tumpuan anak-anak pada segala jaman –beliau mungkin tak pernah bisa sepenuhnya mengubah karakter bawaan, tapi pelukan dan segala perasaannya tak pernah berubah sepanjang masa. Anak-anak tetaplah dapat pulang tanpa dosa dalam pelukannya.

Beliau tidak tahu internet, tidak bisa mengoperasikan telpon selular, tidak akan paham dengan buku-buku yang kami, anaknya-anaknya, baca sebagai makanan bagi otak, mungkin juga anak-anaknya selalu berpikir bahwa pikirannya akan selalu kolot dan dunia yang diketahuinya hanyalah sebatas desa dan para tetangga di sekelilingnya. Tapi dengan seluruh keterbatasan itu beliau berusaha menggapai apa yang anak-anaknya pikirkan di masa kini dengan segala kerendahan hati dan berbicara pada kami dengan cara-cara yang beliau ketahui. Karena hanya dengan cara itu saja yang beliau tahu untuk mengungkapkan rasa sayangnya; adalah dengan setumpuk nasi di piring yang tersedia tiap pagi dan tiap kami merasa lapar, adalah dengan mendengarkan cerita-cerita yang mungkin beliau tak pernah bisa paham, memijit kepala dan kaki ketika kami mengeluh bahwa tubuh kami sakit, memberikan saran tentang pilihan-pilihan hidup kami.

Mungkin, saya terlalu menuntut berlebihan untuk beliau ketika menghakimi bahwa kadang beliau tidak pernah memahami anak-anaknya yang sudah tumbuh membesar dalam kehidupannya sendiri. Karena kami sudah bisa menentukan apa yang terbaik menurut kami sendiri, dan kami ingin dipahami dengan apapun yang kami pilih. Padahal, kini saya tahu, bahwa beliau tak pernah berusaha untuk memaksakan apapun, hanya berusaha untuk mendengarkan dan memberikan sedikit suara karena kami lahir dari rahimnya, karena beliau ingin tahu kehidupan seperti apa yang kelak akan kami jalani, dan beliau harus memastikan kami akan baik-baik saja dalam apapun yang kami pilih.

Dengan cara yang beliau tahu. Ya, sesederhana itu. Dengan cara yang beliau tahu. Karena hanya cara seperti itulah yang beliau tahu : segala bentuk komunikasi yang kadang tidak seimbang, cara berbicara yang sering kami cela karena terlampau menyakitkan, dan segala karakter bawaan yang berbenturan sebagaimana layaknya manusia yang berbeda-beda. Tapi dengan seperti itu beliau sudah berusaha sebisanya untuk memasuki jaman kami yang telah terlampau jauh berada di depan. Dengan segala keterbatasan informasi yang beliau pelajari pada masa mudanya.

Beliau hanyalah perempuan biasa. Yang senang membeli baju baru atau berseri-seri saat dibelikan sebuah sandal sederhana, yang bertanya kabar tanpa lelah, yang selalu khawatir jika hujan turun dan saya masih di luar apabila tidak membawa payung, yang ingin tahu baju baru seperti apa yang baru saya beli, yang memasak makanan kesukaan jika ada di rumah, dan bertanya-tanya dengan antusias apakah anak gadisnya sedang berhubungan serius dengan seorang lelaki. Tangannya semakin mengkerut menua tapi beliau tetap perempuan yang paling saya kenal sepanjang kehidupan, yang berdiri menyambut saya di pintu ketika pulang ke rumah. Beliau tak pernah cemburu atau mengeluh walaupun kami sering melupakannnya dan terlampau sibuk dengan masalah kami sendiri, bahkan pun ketika masalah itu diceritakan pada beliau, beliau akan tetap ada untuk mendengarkan.

Saya kira, beliau akan selalu terbuka pada komunikasi. Dengan caranya sendiri. Karena itulah caranya mempertahankan eksistensi dalam dunia anak-anaknya yang mungkin terlampau sulit beliau masuki. Berkomunikasi, dengan cara yang beliau tahu, ketika beliau paham walaupun butuh waktu yang amat panjang, maka saya yakin ide-ide dasar pilihan hidup anak-anaknya akan sampai dengan baik pada beliau. Dan dengan cara beliau sendiri, beliau akan selalu men-support pilihan itu. Karena pada dasarnya, beliau tetap sayang walaupun kita memilih kehidupan yang berbeda dari apa yang beliau harapkan pada awalnya.

Dan untuk segala kerja keras itu, terima kasih. Saya telah menjadi manusia yang dihantarkan ke dunia ini melalui rahimmu dan tumbuh membesar melalui tangan serta pelukan hangatmu, yang tak pernah berubah walau saya telah menua dengan pembangkangan yang mungkin sulit engkau mengerti. Dan engkau tidak pernah meminta sedikitpun balasan, karena dengan senyum bahagia anak-anak telah menjadi pelipur seluruh kesulitan yang kami timbulkan pada hidupmu selama ini.Terima kasih.

Saya menyayangimu

[6/10/13 8:56 PM]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s