Menangis

Semasa kuliah, ada seorang perempuan yang saya kenal baik dan selama bersama dengannya tidak pernah sekalipun saya lihat beliau bersedih secara berlebihan sampai menangis. Saya berpikir bahwa beliau amatlah tangguh, keren, dan mungkin tidak suka mengumbar perasaan-perasaan sentimental. Tetapi beberapa waktu berlalu, dan tiba-tiba suatu hari beliau datang kepada saya dengan hanya mengatakan bahwa beliau ingin berbicara berdua, semacam curhat.

Saya mengatakan bahwa saya tidak berjanji untuk bisa memberikan solusi karena tidak tahu permasalahannya, hanya bisa mendengarkan saja. Beliau berkata, bahwa saat itu dia tidak butuh solusi, hanya ingin berbicara. Dan menangis. Lalu mengalirlah seluruh apa yang dirasakannya. Dan beliau menangis sejadi-jadinya.

Menghadapi orang menangis juga ada seninya tersendiri. Kadang seseorang tidak butuh diberikan kalimat apapun, juga tidak butuh diberi support standar yang, menurut saya, kadang menyebalkan seperti ‘sabar saja ya’ dan blabla lainnya. Kadang mereka sudah tahu apa yang akan mereka lakukan dan kita tidak perlu mengatakan apapun untuk memberikan petunjuk tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Sebab mungkin mereka hanya ingin menangis saja.

Ya, kadang-kadang sebagian perempuan memang begitu, sebagaimana pun tangguhnya beliau. Seperti yang ditulis di artiker ini.

Jika ingin menangis, ya menangis saja, jika itu bisa membuat perasaan menjadi lebih baik. Walau tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya ada sesuatu yang lepas. Karena kadang, menangis bisa terjadi begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ya, mungkin sebenarnya ada alasan, tapi biasanya hanya ketika mengingat hal-hal yang bisa membuat sedih.

Bahagia dan haru juga bisa bikin menangis. Tapi menangis lebih banyak disebabkan karena kesedihan. Di sini, sana, dikatakan bahwa menangis itu sehat, juga alasan mengapa manusia menangis. Masuk akal, tapi selayaknya hukum alami ‘segala sesuatu yang berlebihan akan menjadi hal yang buruk’ itu juga berlaku bagi perilaku menangis. Menangis terus menerus, apalagi sampai seharian, bisa menyebabkan beberapa efek buruk :

  1. Secara fisik, wajah jadi jelek, bengkak kayak ditonjok preman satu kota, jadi cepat tua
  2. Buang-buang waktu dan energi. Yang tadinya waktu bisa dibikin duit malah terbuang untuk guling-guling seperti orang kerasukan jin dan meraung-raung tidak jelas. Setelah itu, badan akan terasa lelah melebihi kerja rodi paling berat dan akan langsung tidur dalam beberapa menit.
  3. Secara psikologis akan terganggu juga, penuh kecemasan dan bisa kena bipolar, yaitu perubahan emosi yang meluap-luap dan mood yang fluktuatif melebihi seramnya perempuan PMS. Hiii, seram sekali.

Menangislah. Tapi tidak berlebihan. Lalu setelah itu, berpikirlah dengan lebih jernih tentang apapun masalah yang sedang dihadapi, dan beristirahatlah lebih lama sebelum mengambil keputusan. Jangan mengumbar kesedihan dan menggali sumber-sumbernya sekecil apapun.

Ada yang bilang begini ‘kamu akan baik-baik saja, dan tetap hidup’. Jadi, menangis bagaikan salah satu lubang pelepasan saja agar kesedihan segera hilang secepat mungkin. Agar menangisnya juga menjadi sehat dan wajar. Karena seperti yang ditulis di salah satu artikel di atas bahwa “…It’s one of the things that sets us apart from other species. It’s what makes us human. It’s what makes us real”.

Dan ‘Each Tear’ dari Mary J Blige ini diberikan seorang kawan pada saya :

In each tearthere’s a lesson,

Makes you wiser than before

Makes you stronger than you know

In each tear

Brings you closer to your dreams

No mistake, no heartbreak, Can take away what you’re meant to be

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s