Hal-Hal Baru Itu Menyenangkan

Hal-hal baru itu menyenangkan.

Mungkin, salah satu kesenangan hidup yang paling saya gemari adalah mencoba hal-hal baru. Ketika ada kesempatan yang datang untuk melakukan berbagai hal yang belum pernah saya lakukan, sebagian besarnya selalu ingin dicoba. Karena dengan melakukannya, banyak hal yang bisa diceritakan.

Jadi, kemarin itu saya bekerja di bidang yang sama sekali belum pernah saya coba sebelumnya : jadi tukang wawancara via telpon. Saya belum pernah mewawancarai orang dengan gaya formal, bahasa baku dan logat khas mirip para mbak-mbak di call center atau customer care perusahaan. Pada awalnya, agak sulit juga tapi ternyata dalam beberapa minggu sudah mulai fasih menghapal teks pertanyaan dan memberi respon spontan pada responden. Walaupun hal ini sepertinya akan cepat membosankan di masa depan, tapi ternyata mengobrol dengan responden yang notabene orang asing dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia itu ternyata cukup menyenangkan juga. Asal tidak dikejar-kejar target jumlah kesuksesan wawancara, maka wawancara tersebut akan mengalir begitu saja, bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri sambil mendengarkan nyanyian entah siapa yang ada di telpon tiap harinya.

Apa yang menjadikan wawancara jadi menyenangkan? Buat saya ada beberapa poin yang secara pribadi menjadi pelajaran baru :

  1. Menghadapi seribu satu macam karakter pembicaraan orang  di telpon. Tiap responden memiliki respon yang berbeda-beda saat kita berbicara dengannya, walaupun seringnya empati dan kepedulian pada mereka sangatlah palsu. Terutama ketika menghadapi responden yang baik hati dan senang mengobrol dan kita sedang berada dalam mood yang bagus, rasanya senang sekali bisa mengobrol soal-soal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita dalam kehidupan nyata. Saya senang sekali saat mendapat responden yang benar-benar peduli terhadap wawancara, membuat saya pun sepenuh hati mendengarkan mereka menceritakan pengalamannya sesuai dengan topik wawancara. Asal tidak kebablasan, karena terlalu ngalor-ngidul juga bikin kesal.
  2. Mengalami berbagai hal lucu saat wawancara, baik karena menghadapi responden yang emosional, responden yang lemot dalam mencerna pertanyaan, dan tipe-tipe responden lainnya.
  3. Belajar berpikir lebih cepat dalam merangkum seluruh pembicaraan responden, membuat catatan hasil-hasilnya, dan memberikan respon spontan pada tiap reaksi mereka dengan tepat dan sopan. Karenanya ketika wawancara harus selalu fokus dan menghadirikan keseluruhan diri kita di situ agar dapat mendengar semua pembicaraan dengan jelas dan merekamnya di kepala. Bisa melatih daya ingat juga.
  4. Belajar menggunakan bahasa formal saat berkomunikasi. Ini penting saat kita akan sering bersinggunggan dengan rekan kerja atau partner/klien yang dituntut untuk selalu bersikap professional, terutama dalam berbicara dengan mereka secara langsung maupun melalui telpon.
  5. Bercuap-cuap di telpon itu ternyata tidak semudah yang saya kira. Banyak etika dan SOP yang harus dituruti sesuai standar yang buat oleh perusahaan dimana kita bekerja/klien yang bekerja sama dalam wawancara. Tapi ini bisa memperlancar komunikasi secara umum juga, karena sebelumnya saya tidak terlalu fokus jika harus berbicara formal bersama orang lain.
  6. Bercuap-cuap juga ternyata melelahkan juga, hehe. Tapi saya menjadi belajar bagaimana merancang strategi agar kegiatan ini tetap menjadi menyenangkan, sehat, dan tentunya menghasilkan duit buat saya.

Apa lagi ya. Yang sempat terpikir saat ini baru segitu.

Lalu apa yang harus diperhatikan agar wawancara menjadi menyenangkan? Dan wawancara yang sesuai standar itu sebenarnya bagaimana? Itu sepertinya saya bahas di tulisan selanjutnya aja.

Yang kedua, saya tiba-tiba mendadak editor di penerbitan. Editor, yay! Walaupun masih latihan dan relawan, tapi ini juga hal baru yang menyenangkan. Saya belum pernah jadi editor di manapun. Ada seorang yang berbaik hati memberikan kesempatan agar saya belajar jadi editor. Karena baru mulai dan baru satu naskah yang sedang saya garap sekarang, jadi hal yang menyenangkan jadi editor adalah karena bisa membaca karya-karya orang lain secara gratisan dan mengemukakan pendapat mengenai karya tersebut (dengan final result-nya adalah layak atau tidaknya karya tersebut untuk diterbitkan). Sedangkan tidak menyenangkannya adalah, karena sebagai editor kita harus ‘memakan’ semua jenis karya, baik yang jelek minta ampun ataupun yang bagus kebangetan:mrgreen:

Dan pekerjaan pertama saya adalah membaca sampai tamat sebuah teenlit remaja penuh nuansa romance yang iuh banget lah. Haha. Seumur-umur saya tidak pernah menyukai teenlit apalagi tentang cinta-cintaan ala sinetron. Setelah tamat baca, saya harus menyelesaikan tugas-tugas selanjutnya sebagai editor amatiran. Dan ini merupakan sebuah tantangan baru.  Tiba-tiba 24 jam sehari semakin singkat.

Tapi saya pasti bisa melakukannya.

Selamat menemukan dan mengerjakan hal-hal baru yang menyenangkan!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s