Kontemplasi Biru

Once we were standing still in time

Chasing the fantasies that filled our minds

You knew how I loved you, but my spirit was free

[Do you know where you’re going to. Mariah]

Bertahun lampau, ketika masih berusia sekitar 12 tahun, saya bertemu seorang anak lelaki yang mengenalkan saya pada rasa-rasa terhadap lain jenis. Mungkin orang bilang sebagai cinta monyet, sebuah rasa yang disucikan dari hasrat purba dan keinginan memiliki. Dunia seperti menjelma menjadi tempat paling indah untuk ditinggali dan peningkatan semangat hidup untuk segera menghadapi hari esok dan melakukan banyak hal dengan optimis. Tidak peduli pada rasa dia, tapi yang menjadikan indah adalah rasa yang ada pada diri sendiri. Dan itu saja sudah cukup.

Kesenangan itu timbul dari hal-hal yang kecil saja; bila melihat dia, bila bisa bertegur sapa. Hanya itu saja. Tidak pernah memikirkan hal yang lebih dari itu. Pada saat itu, saya tak pernah banyak cerita pada siapapun, dan mungkin memang sudah sewajarnya bila seorang anak perempuan menyukai anak lelaki di dekatnya. Dia menarik karena tampak cerdas (saya kemudian sadar bahwa saya seringkali tertarik pada orang-orang yang cerdas), dan dia laksana arjuna diantara ribuan lelaki kampung yang biasa-biasa saja. Bersinar sendirian, seperti cerita-cerita di sinetron tentang seorang lelaki kota yang bertandang ke sebuah kampung kecil dan menjadi rebutan gadis-gadis kampung yang lugu. Tapi saya terlalu tidak percaya diri dan menyimpan kekaguman itu untuk dinikmati sendiri. Ini persoalan saya dan diri saya sendiri.

Kemudian, apa yang paling membahagiakan selain mengetahui bahwa ternyata dia memiliki rasa yang sama? Saat itu saya berpikir, ternyata begitulah rasanya. Senang, tapi tidak dapat memikirkan apa-apa selain mengeluarkan rona-rona merah sambil mengutuki jantung yang sering berdebar tak karuan jika dia muncul di hadapan. Tetapi semua berjalan sederhana saja, tidak ada gombalan cinta, janji-janji, atau komitmen apapun yang tidak saya pahami. Mungkin karena kami masih kanak-kanak jadi perasaan itu hanyalah sekilas penghangat hati dan penghiburan otak.

Kami berteman baik. Karena dia melanjutkan sekolah di tempat yang sangat jauh, saya jarang bertemu dengannya. Pada saat itu belum ada HP atau alat komunikasi jarak jauh yang saya miliki, jadi semua komunikasi terputus. Kami hanya bertukar foto (sekarang saya tersenyum-senyum jika mengenangnya). Tapi tiap setahun sekali pada liburan idul fitri dia datang ke rumah. Kadang sendirian, kadang bersama kakak perempuannya. Dia mengobrol bersama kedua orang tua saya. Dan saya juga mengenal baik ibunya dan seluruh saudara-saudaranya. Mereka selalu mengundang saya untuk datang jika berada di kampung, dan mengobrol layaknya sahabat lama.

Setelah bertemu, saya sering merasakan rindu. Tapi seluruh perasaan itu tak pernah membabi buta, saya hanya merasakan semangat hidup untuk menjadi seseorang yang berbeda dan menjadi hebat seperti dirinya. Saya juga tak pernah menunggu dia, tapi selama hampir sepuluh tahun saya tak pernah menyukai anak lelaki lain. Saya tidak paham kenapa ini bisa terjadi, tapi saat pada akhirnya berada di Bandung –kota tempat tinggalnya, saya tak pernah bertemu dengannya lagi. Dan kenangan masa kecil kami membias dalam lembaran-lembaran usang saat kami mendewasa.

Pada akhirnya, setelah hampir sepuluh tahun, saya bertemu dengannya untuk pertama kali setelah kami menjadi lebih dewasa. Rasa panik dan grogi masih ada, tapi rasa-rasa di masa kecil itu sudah tak ada lagi. Bagi saya, dia seorang lelaki yang hebat, dan saya bisa tersenyum mantap saat melihat wajahnya –sebuah keberanian yang baru muncul setelah saya benar-benar tak lagi menganggapnya sebagai lelaki pujaan hati impian masa kecil yang tak kan pernah saya lupakan. Sekarang wajahnya semakin memudar, tapi saya senang karena dia sudah berbahagia. Dia sudah menikah, dan dia mengatakan bahwa saya pun harus berbahagia juga.

Banyak pria-pria yang saya anggap keren pada masa-masa dimana saya hanya memikirkan pendidikan. Energi saya terkuras habis untuk pencapaian hidup yang menyingkirkan keinginan untuk direpotkan dengan hubungan-hubungan yang pada waktu itu sering saya tertawakan. Hampir seluruh teman perempuan menceritakan pahit-manisnya berpacaran, dan saya selalu menertawakan mereka dengan bersumpah bahwa saya tak punya waktu untuk itu. Saya juga ingin, tapi saya lebih suka menjadikannya sebagai penghiburan semata dan lebih suka bebas menyukai siapa saja yang saya anggap keren pada saat itu. Pria-pria keren itu mungkin tak pernah tahu atau mengenal saya yang menyukai mereka, tapi masa bodoh, saya tak memikirkan apakah mereka akan menyukai saya juga. Saya tertawa, dan kelak ternyata saya akan termakan oleh tertawaan diri sendiri karena berurusan dengan hasrat purba dan keinginan memiliki seseorang.

Sampai pada suatu saat ketika saya merasa semakin dewasa dimana tiba-tiba saya menjelma menjadi seseorang yang selalu berpikir rumit, terutama tentang masa depan dan sosok lelaki yang saya inginkan, saya bertemu seorang lelaki yang saya sebut sebagai lelaki jahat tukang tebar pesona yang mana saya terjerat oleh selintas pesonanya. Sebuah pengalaman yang aneh, pertemanan yang singkat, dan tiba-tiba semua menjadi sebuah drama yang mengubah hidup saya keseluruhannya. Saya menyukai dia, secara sepihak, dan itu sungguh merepotkan penuh tangisan. Saya mulai berkeinginan untuk menerima perasaan yang sama, dan saya pun terbelenggu. Kebebasan yang dulu saya dapat saat menyukai seseorang tanpa tendensi apa-apa, sekarang telah berubah.

Saya jatuh meraung-raung saat dia meninggalkan saya begitu saja, karena dia tahu saya menyukainya dan dia pergi untuk menghindari hal-hal yang lebih parah lagi. Pergi begitu saja, tanpa pernah berkomunikasi lagi, sehingga saya merasa dia amat kejam dan tidak berperasaan. Lama berselang, dia pernah menulis hal itu dengan amat panjang, dan saya pun akhirnya bisa merasa tenang seperti semula dengan menulis sebuah surat kepadanya. Itulah pembebasan jiwa saya, dan sampai saat ini saya berpikir bahwa dia tidaklah jahat. Saya bisa mengerti. Dia justru seseorang yang baik –dia pergi karena tidak ingin membuat saya lebih menderita dengan harapan-harapan kosong jika kami masih berdekatan.

Saya tak bisa menyebut rasa-rasa itu sebagai cinta. Entah apa, tapi kadang sebagiannya sangat menyenangkan. Saya tak pernah menyukai seseorang yang menggombali saya dengan hujanan kata-kata cinta atau berbagai janji manis seperti kampanye para calon pemimpin, bahkan karena sudah terbiasa dengan hal itu, kadang saya geli dengan kawan-kawan di sekeliling saya yang memanggil kekasih-kekasih mereka dengan ‘sayang’ atau ‘cinta’, entah kenapa terasa begitu muluk. Lagi-lagi, kelak saya akan termakan oleh pemikiran saya sendiri.

Dan, sekarang saya tahu bagaimana rasanya menginginkan seseorang sedemikian rupa sehingga menghilangkan akal sehat serta seluruh ideologi yang menempel di kepala sejak kecil. Seperti seorang perempuan bernama Echo dalam mitologi Yunani yang mengikuti Narsisus –lelaki yang hanya mencintai dirinya sendiri, sampai hilang raganya dan tinggal suaranya saja memanggil Narsisus yang tak pernah mempedulikannya. Seperti mengejar sebuah bayangan dengan keras kepala, dengan sebuah rasa yang sudah tak sehat lagi. Mungkin umur bisa mempengaruhi seseorang sedemikian keras kepala, atau mungkin terlalu banyak menonton film drama korea dan membaca manga Jepang? Haha!

Saya tak pernah menyesal dengan apapun rasa-rasa itu, karena rasa sesal akan menghabiskan energi lain dengan sia-sia. Tapi saya berterimakasih kepada orang-orang hebat yang pernah hadir dalam hidup saya dan mengajarkan berbagai macam hal. Masa kecil yang ajaib, masa muda yang hampir saja saya lupakan tanpa sempat berhura-hura, dan masa-masa kini yang banyak mengubah pemikiran serta cara pandang saya terhadap kehidupan. Semua ini belumlah selesai, proses masih terus berlanjut, dan apapun langkah yang saya pilih adalah tanggung jawab saya sendiri.

Maka jika saya tak juga berubah, saya patut menertawakan diri sendiri. Jika masih mengeluh, maka saya hanyalah orang bodoh yang jatuh ke lobang yang sama berulang kali. Kapan akan berubah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s