Little Red Riding Hood (Bagian 1)

(Cerita ini adalah gubahan seenaknya dari judul dongeng yang sama karya Hans Christian Andersen. Sebagaimana Jin Roh – The Wolf Brigade, sebuah anime psikologis yang juga menyisipkan kisah itu dengan amat cantik. Saya sangat suka cerita –cerita Andersen, terutama Gadis Penjual Korek Api)

Anak perempuan itu bernama Merah. Dia percaya, bahwa sejak lahir dia telah dipersiapkan untuk menguasai dunia. Dia belum tahu kenapa begitu, tetapi dia tetap akan menerimanya. Dia mencintai hidupnya dengan tulus, dan dunianya adalah apa yang bisa dia lihat di sekelilingnya saat itu. Kehidupan memang seperti ini, pikirnya. Jadi dia pun akan menjalaninya seperti yang telah dijalani orang-orang. Dia sangat suka sekolah, dan dia mempercayai para guru.

Suatu hari, saat dia sudah cukup umur untuk bepergian sendiri, dia meminta ijin kepada orang tua dan gurunya untuk melakukan perjalanan panjang mengunjungi neneknya di kota sebelah. Kota yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Sebelum pergi, gurunya memberikan sebuah kain merah yang kemudian disampirkan di atas kepalanya. “Jangan dilepas, ini adalah dirimu. Kau adalah Merah, dengan ini kau akan mudah dikenali” kata gurunya. Kain merah itu adalah identitasnya, dan bersenyawa dengannya seumur hidup.

Lalu, gurunya memberikan sebuah buku tebal, “mapping kehidupan”kata gurunya. “Dengan buku ini kau tidak akan tersesat dalam perjalanan. Di situ ada peta, keterangan –keterangannya, dan segala macam aturan serta petuah menghadapi para penjahat kehidupan. Kau adalah seorang wanita. Di luar sana, banyak pemangsa ganas yang akan mengincarmu”lanjut sang guru. Merah sangat girang, “ah iya, aku butuh ini agar bisa selamat” sahutnya dengan kegirangan khas orang-orang muda.

“Dan ingat satu hal penting, saudariku”gurunya menatapnya tajam. “Ingatlah satu nama yang tidak boleh sekali –kali kau mendekat padanya : serigala”.

“Serigala? Kenapa?”tanya Merah dengan penuh minat.

“Serigala adalah makhluk pemangsa yang kejam. Jika kau bertemu dengannya di hutan, kau akan dimangsa olehnya. Oleh Karena itu, berhati –hatilah. Jangan sampai tersesat, agar kau tidak bertemu dengannya”

“Apakah dia sejahat itu? Adakah makhluk sejahat itu di dunia ini?”

“Iya. Jadi berhati –hatilah. Jangan terpisah dari rombongan, ya. Carilah teman yang  banyak di jalan. Mereka akan melindungimu”.

Merah mengangguk mantap. Baik, tetap pada rombongan. Tetap pada jalan lurus agar tidak tersesat, tetap mengenakan kain merah ini, tetap berpanduan pada buku ini, maka selamatlah aku sampai rumah nenek. Tampaknya tidak terlalu sulit, Merah berkata –kata dalam hatinya.

Tapi, pikirnya kemudian, serigala itu, seperti apakah gerangan dia?  Tiba –tiba saja sebuah sensasi aneh melandanya.

Merah akhirnya berangkat dengan segala perlengkapan, petuah dan kain penanda yang diberikan gurunya. Dia berangkat dari terminal di kotanya, bersama serombongan orang dalam bis besar.

Dia banyak bertemu orang baru di bis itu. Banyak pengamen, pengemis, tukang jualan, dan lain –lainnya. Tapi karena dia tetap waspada dan sangat berhati –hati, dia hanya mengobrol dengan orang yang tampaknya baik. Dia mendapatkan banyak teman baru. Orang –orang yang beragam. Sebagiannya mengejutkan dia. Dia merasa menjadi mengecil seperti sebutir pasir saat mengetahui bahwa dunia lebih besar dari apa yang ada dalam pikirannya selama ini.

Sepanjang perjalanan dia membaca buku pemberian gurunya, menghapalkan peta, dan menerapkan aturan –aturan dalam perjalanan. Semua tampak begitu menyenangkan, begitu benar, begitu sempurna.

Lalu Merah turun di terminal luar kota, dan berganti transportasi beberapa kali. Maklum neneknya tinggal di sebuah dusun yang sangat terpencil sekali. Dia harus melewati sebuah hutan kecil di pinggir kota, dan jarang ada transportasi yang lewat di sana. Merah pun berjalan kaki melintasi hutan, bersama sekelompok buruh yang baru pulang dari pabrik. Sambil sesekali mengabari keluarganya, dia mengobrol dengan kelompok buruh itu. Mereka berkata padanya, “jangan menjauh dari kami, Merah. Tetaplah bersama –sama, agar aman”.

Lama –lama, Merah merasa sangat lelah. Perjalanan itu seperti tak ada akhirnya. Dia mulai  bosan mendengarkan cerita –cerita mereka. Langkahnya makin pelan saja, sementara mereka terus berjalan menjauh darinya. Pada mulanya, beberapa dari mereka menunggunya sampai ia bisa menyusul, bahkan menarik tangannya untuk terus berjalan. Tetapi karena Merah sering sekali berhenti, akhirnya ia makin tertinggal di belakang. Terus tertinggal.

Dan dia baru sadar bahwa kini ia sendirian saat hari mulai gelap.

Merah ketakutan. Ia berlari. Lalu jatuh di pinggir jalan. Saat ia mengangkat muka, di depannya terbentang 2 jalan. Rupanya jalan itu bercabang, dan masing –masingnya nyaris sama. Gawat, pikirnya. Tadi orang –orang itu lewat mana? Apakah lurus saja atau belok ? Dia segera membuka ensiklopedi pemberian gurunya. Menurut perkiraannya, seharusnya dia lurus saja. Tapi tiba –tiba dia penasaran, ada apa dengan jalan satunya lagi? Apakah itu akan mengantarkannya ke tempat yang sama dengan rute yang berbeda, atau justru akan menyesatkannya?

Sedang kebingungan seperti itu, samar –samar dia melihat sesosok bayangan di hadapannya. Tepat di arah belokan jalan.

Itulah dia. Seorang laki –laki dengan kulitnya yang putih bersih laksana salju. Matanya bercahaya dalam kegelapan dengan seringainya yang mewah. Seperti sihir. Berdiri dengan penuh wibawa. Memperhatikan dia.

Merah terpana menyaksikan sang pria tanpa prasangka sedikitpun. Akhirnya ada orang! Serunya dengan gembira, dalam hati.

Tapi tiba-tiba dia teringat perkataan gurunya. Bagaimana jika dia orang jahat? Bagaimana kalau terjadi hal yang buruk ?

“Kelihatannya kau tersesat”suara sang pria bergaung dalam sunyinya hutan.

Merah mengangguk dengan hati-hati sekali. “Saya sedang dalam perjalanan ke rumah nenek saya di desa seberang. Maaf, anda siapa?”.

“Saya juga sedang dalam perjalanan. Apa kau sendirian?”

“Saya bersama teman –teman. Mereka ada di depan, saya akan segera menyusul mereka”jawabnya dengan waspada.

“Baguslah. Segeralah susul teman –temanmu. Dan berhati –hatilah. Semoga kau baik –baik saja dan selamat sampai tujuan. Tadi kulihat mereka melewati jalan itu”lelaki itu menunjuk ke jalan lurus di depan Merah.

“Terima kasih, Tuan”Merah menganggukkan kepalanya. Dia tidak tahu apakah lelaki itu jahat atau tidak. Tapi mungkin aku bisa percaya pada dia, pikirnya. Saat laki –laki itu membalikkan tubuh hendak meninggalkannya, dia memanggilnya.

Laki –laki itu menoleh.

“Tuan, apakah anda tahu jalan yang satu lagi itu menuju ke mana?” rasa penasaran membelenggu akal sehatnya. Dia ingin tahu, dengan amat sangat.

Laki –laki itu menatapnya dengan tajam. “Kau lihat jalan yang belok ini, kau tak akan pernah tahu apa yang ada di ujungnya kan? Atau apa yang bisa kau temukan di sisi –sisinya”

“Saya sebenarnya ingin tahu akan berakhir dimana jalan yang belok itu. Mungkin saya bisa ke rumah nenek lebih cepat, dan saya bisa menemukan banyak hal baru di jalan nanti. Saya sudah agak bosan dengan pemandangan di sini. Tapi saya ingin memastikan bahwa jalan tersebut aman untuk saya”.

“Aku tidak bisa bilang kalau kau boleh memilih jalan pintas. Kau bisa tersesat, dan itu akan membuatmu semakin lama tiba di rumah nenekmu. Dan, jika kau tersesat, kau mungkin akan menemukan sesuatu yang berbahaya. Aku rasa sebaiknya kau memilih jalan yang sudah biasa dilalui orang-orang. Hal paling buruk adalah kau tidak akan menemukan jalan pulang. Jangan mencoba sesuatu yang tidak kau yakini keamanannya, sebab resikonya besar. Kau masih terlalu muda”.

Lelaki ini berkata benar, pikir Merah. “Maksud anda, sesuatu yang berbahaya itu adalah serigala?“

“Mungkin saja?” lelaki itu tersenyum kecil.

“Tapi sebenarnya, saya ingin tahu sebenarnya serigala itu seperti apa” katanya. Dan satu langkah yang mendekat pada pria itu adalah satu keputusan besar yang akan mengubah hidupnya. Ketakutan adalah sumber sensasi anehnya yang tiba –tiba meliar. Ada sesuatu yang menariknya,melebihi dari apa yang bisa dipikirkannya. Keterpesonaan yang menyesatkannya pada langkah pertama menuju belokan.

Gurunya memberinya peringatan untuk berhati –hati pada serigala. Ada suatu ketertarikan justru pada peringatan itu, seperti apa jika ia sudah bertemu dengannya? Ia ingin ditemukan olehnya.

Tapi Merah tak bisa mengejar langkah si pria berkulit putih yang telah jauh meninggalkannya. Dia akan mengikuti jejak kakinya, tapi ia hanya menemukan jejak kaki serigala. Ia berdiri di tengah hutan, tercenung menemukan dirinya telah tersesat pada kecintaan yang tak masuk akal. Itu sesuatu yang baru, dan ia tak bisa mengendalikan dirinya.

Sejenak dia berhenti berjalan, membalikkan tubuh ke arah jalannya semula. Ia merindukan kebaruan. Tapi ia tak pernah benar –benar yakin telah dekat pada kebenaran. Ia sendiri belum tahu. Ia harus memutuskan untuk kembali, agar bisa sampai ke rumah neneknya, atau melanjutkan langkah untuk ditemukan oleh serigala-nya.

Sedangkan malam mulai turun.

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s